Penyanyi pendatang baru Qatijaa resmi membuka perjalanan kariernya di industri musik Indonesia dengan merilis single perdana berjudul Nothing to Say pada 18 Februari 2026. Lagu bernuansa Japanese City Pop ini menjadi perkenalan awal atas karakter musikal yang ia bangun, sekaligus membawa pesan kuat tentang keberanian keluar dari hubungan yang tidak sehat dan pentingnya mencintai diri sendiri.
Di tengah persaingan industri musik yang semakin dinamis, Qatijaa hadir dengan identitas yang menonjolkan kekuatan vokal dan pendekatan emosional dalam setiap karya. Sebelum merilis single debutnya, ia telah aktif membagikan berbagai cover lagu pop dan lagu-lagu Jepang melalui kanal YouTube bersama Cita Nada Production. Melalui platform tersebut, Qatijaa memperlihatkan warna suaranya yang hangat, teknik vokal yang matang, serta kemampuan interpretasi yang menyentuh, sekaligus menjadi fondasi awal dalam membangun basis pendengar.
Passion-nya terhadap musik pop dan Japanese sound turut membentuk arah musikal yang kini ia bawa ke karya orisinal. Kehadirannya menjadi warna baru di industri musik, membuktikan bahwa pasar untuk penyanyi dengan kualitas vokal murni, estetika yang rapi, dan eksplorasi lintas genre masih terbuka luas. Meski profil pribadinya belum banyak terekspos ke publik, perjalanan musikal yang ia tampilkan menunjukkan dedikasi kuat terhadap seni bernyanyi, menjadikannya salah satu vokalis muda yang patut diperhatikan dalam beberapa tahun ke depan.
Single Nothing to Say sendiri ditulis langsung oleh Qatijaa sebagai refleksi pengalaman pribadi saat berada dalam hubungan yang penuh tekanan dan kontrol. Lagu ini mendorong pendengarnya untuk berani mengambil keputusan keluar dari situasi toxic dan memilih diri sendiri sebagai prioritas.
Diproduksi oleh Rafael Rudito di bawah label Star Creation ID, lagu ini hadir sebagai anthem pop yang cerah namun menyimpan emosi mendalam. Executive Producer Mariam Kartikatresni menilai Qatijaa memiliki karakter vokal yang unik dan energi baru yang relevan dengan perkembangan industri musik saat ini, sehingga label berkomitmen mendukung rangkaian karya lanjutan sepanjang 2026.
Secara musikal, Nothing to Say memadukan aransemen pop-band yang ringan dengan sentuhan City Pop khas Jepang. Di balik nuansa upbeat tersebut, tersimpan perjalanan emosi dari frustrasi menuju kejelasan. Pengulangan lirik “good, good, good” dan “bad, bad, bad” menggambarkan tekanan emosional dan standar ganda dalam hubungan yang melelahkan, hingga akhirnya mencapai titik di mana diam menjadi bentuk kekuatan.
Kalimat “You left me with nothing to say” menjadi simbol pelepasan, bukan kekalahan. Lagu ini menggambarkan momen ketika seseorang berhenti menjelaskan, berhenti membela diri, dan akhirnya memilih untuk berjalan pergi demi kesehatan emosionalnya.
Pendekatan visualnya juga memperkuat identitas artistik yang dibangun. Artwork single mengusung konsep modern surreal dengan teknik kolase yang menampilkan potret Qatijaa sebagai representasi berbagai lapisan emosi dan proses penerimaan diri.
Dengan kombinasi kualitas vokal, konsep musikal yang matang, serta pesan yang relevan bagi generasi muda, Nothing to Say menjadi langkah awal yang menjanjikan bagi perjalanan karier Qatijaa. Single ini kini telah tersedia di berbagai platform musik digital dan menjadi pembuka dari rangkaian karya yang akan dirilis sepanjang tahun ini. XPOSEINDONESIA/IHSAN


