Seorang pianis muda, dengan wajah selalu senyum. Santai dan supel ke semua orang. Buat dia, Music if sun eh maksudnya Music is Fun, katanya. Dan ia mulai menari-narikan jari-jemarinya di atas tuts pianonya. Kerennya! Lugas, gesit, bak aerodinamislah!
Jari-jemarinya bermain begitu bebas, sebebas-bebasnya. Etapi gini ya, dengan pilihan penampilan band yang bebas, sangat bebas begitu, berapa kali latihannya sih? Pemain bassnya tersenyum lebar dan becanda bilang,”Apa itu latihan?” Latihan, ada sih jadwalnya sekali-sekali. “Tapi isinya, lebih banyak makan-makan dan ngobrol aja.” Ini ditimpali si penyanyi. Dua Perempuan di grup ini.
Kalau gitarisnya berucap begini, kudu punya nyali aja untuk main. Latihan, ya gimana ya jadi ga perlu. Perlu sih, tapi terpenting gimana nyali untuk ikut main. Si gitaris tersenyum lebar, dan menambahkan, “Itulah uniknya band ini. Dan aku sih ok.”
Drummernya, mengaku sudah bermain bareng si pianis sejak tahun 2011. Dalam sebuah acara, kita ketemu. Lalu terus main bareng. “Memang begitulah konsep mainnya band ini. Bebas aja. Hahaha, harus jeli aja mendengar pianonya kemana, jadi bisa menebak oh lagu ini. Lalu ya kita nyampur deh.”
Ok, si pianis adalah Yongkie Natanael Vincent, yang lebih populer dengan nama Yongkie Vincent. Ia lahir di Jakarta, 19 Agustus 1993. Orangtuanya adalah Peter Sie dan Ariyes Aryani. Yang bukan musisi, apalagi pianis. Bukan. Tapi orang tuanya membelikannya sebuah upright acoustic piano, waktu ia berusia 4 tahun.






Eh ayahnya Peter Sie Namanya, tapi bukan Peter Sie yang fashion designer legendaris itu. Lain orang, Namanya saja yang sama. Lanjut lagi, punya piano lalu main aja sendiri. Main-main asal, baru di umur 10 tahun-an, Yongkie belajar piano secara serius. Dan sejak itu, ia rajin belajar dengan berganti-ganti guru.
Ia menyebut antara lain belajar dengan Ferdinand Marsa, Vera Soeng. Lanjut dengan Cendi Luntungan juga. Ke Sri Hanuraga. Sampai juga ke Tjut Nyak Deviana Daudsjah. Guru-gurunya itulah yang membentuk penampilannya, juga mengarahkannya atas music yang dipilihnya untuk dimainkan.
Tapi Yongkie menyebut bahwa sumber inspirasinya untuk bermain piano, secara jazz, adalah sosok almarhum Elfa Secioria. Ia ga pernah belajar langsung dengan bang E’el itu. Ia hanya pernah satu kali bertemu, untuk diperkenalkan dengan idolanya itu, oleh Vera Soeng. Kalau tak salah sekitar tahun 2011. Vera, guru pianonya bilang ketika ia berjabat tangan dengan Elfa Secioria, “Nah ini Yongkie bang Eel. Dan Yongkie nanti harus kayak bang Eel ini ya mainnya.” Tangan keduanya disatukan dan digenggam Vera.
Pada perjalanan kemudian ia memang sangat terinspirasi Elfa Secioria. Walau kemudian ia juga mengapresiasi lalu menyukai juga permainan almarhum Idang Rasjidi. Ia juga mengagumi Bubi Chen. Dan mengaku kagum juga dengan permainan dan ide-ide bermain dari gurunya, Tjut Nyak Deviana.
Menyoal favourite musicians yang internasional, Yongkie menyebut Diana Krall, Oscar Peterson, Bob James. Juga David Foster, Sergio Mendez, Ramsey Lewis, Ia juga menyukai Dave Grusin terutama bersama GRP All-Starsnya.
Ia juga menyebut nama seorang Jamaican-American pianist legendaris, yang terkenal dengan Carribean sound – influenced yang merasuki musiknya dipadukan dengan bright swinging-feeling, Monty Alexander.
Seorang Yongkie Vincent pada akhirnya lantas menjelma menjadi pianis yang boleh banget dianggap, extra-ordinary. Berbeda, en ga ada duanya. Ia bermain bebas dan sesuka hati. Ia sungguh menikmati musik yang dimainkannya. Moodnya membentuk karakter permainan khasnya.
Ketika pertama kali melihatnya bermain, terasa ia seperti “pengganti” seorang Idang Rasjidi. Entertain musik yang dimainkannya. Segar,, renyah, empuk. Kadang “jenaka”, diselipkan beberapa kejutan yang menyenangkan. Ketika ia bermain solo dengan lumayan efektif, Yongkie bisa menjelma menjadi seorang Elfa Secioria.
Tapi pada dasarnya, lewat perjalanan bermusiknya selama ini, perlahan tapi pasti, ia memiliki karakter bermain yang unik dan khas. Memang lantas menjadi seperti “ngeri-ngeri sedap” bermain dengannya, apalagi kalau bernyanyi dengan diiringi Yongkie dan bandnya.
Tantangannya seru juga, kata penyanyi-penyanyi yang pernah diiringinya. Yongkie sering banyak banget kejutan mainnya, kata para penyanyi. Yongkie, karena mengidolakan Elfa Secioria, mengaku sangat menyukai momen bermain bersama Elfa’s Singers. “Segar dan menyenangkan. Harus nonton dong…,”ucap dan ajak Yongkie
Bandnya saat ini, dengan Shaku Hachi (perkusionis), Sheila Permatasaka (bassist), Giovanny Gerry (drummer) dan Thomas Budi Handoyo (gitaris akustik nylon). Dan vokalisnya, bersuara merdu dan cantik wajahnya, Olive Latuputty.
Sudah berjalan bersamanya beberapa waktu. Dan ia mengaku, sudah menyukai banget teman-teman bermainnya. Sudah berasa pas dengannya. “Aku ga kepikiran ganti band, atau ganti musisi. Cukup satu ini dan terus aja. Semoga kita akan jalan bersama untuk waktu yang panjang,”harap Yongkie.
Cukup dengan kedua kakak perempuanku yang baik hati, kadang agak cerewet tapi menyenangkan kok. Yaitu “kak” Sheila dan Olive. Dengan “abang”ku, Shaku. Serta dengan “paman”ku yang orangnya tenang tapi sering lucu juga, “oom” Thomas. “Aku dan mereka bisa saling mengisi sih,”jelas Yongkie menambahkan.
Udah kayak keluarga, lebih dari sebuah band, jadinya ya? Dan memang memungkinkan Yongkie bermain bebas dan lepas. Berlari-larian kesana-kemari, memanjat , merayap. Bersuka cita. Di…Playground-nya. This is his Playground, the place that he can be play more and more. More and lots more of Fun! Yes, really interesting…
Di sela-sela showcase-nya kemarin, Yongkie sempat melempar pertanyaan, “Aku ini performer atau song-writer?” Yongkie dapat jawaban, dua-duanya sama bagusnya. Tapi sebagai performer, Yongkie juga punya keunikan tersendiri. Yang menghibur semua yang menonton…
Semoga musikku diterima ya, dimanapun aku main. Aku sendiri nyaman banget main ya dimanapun. Terutama di DSS, rumahnya Mas Donny Hardono misalnya. Mas Donny sangat mengerti musikku. Di Deheng House sini juga menyenangkan, “Karena Oom Lexi itu memberi keleluasaan untukku. Sambutan di sini menyenangkan.”
Kabarnya, Yongkie Vincent and His-Playground akan bermain rutin di Deheng House. Tapi, sambung Lexi Budiman, owner Deheng House, “Terserah Yongkie untuk waktunya. Sesuka dia. Kalau dia bisa, ya silahkan saja main di sini. Pintu di sini terbuka lebar untuk Yongkie”.
Sementara untuk penonton di malam kemarin itu, yang kebetulan sempat tampil bareng diiringi Yongkie dan bandnya, mengatakan, “Yongkie itu menyenangkan tapi ngeri juga!” Ada “habib” Hasyim Arsal, ada Hendra Sinadia, ada juga Luqi. Dan drummer yang ternyata bersuara bagus, Ferry Hk.” XPOSEINDONESIA/dM

