Selasa, Februari 17, 2026

Sinergi Estetika dan Filosofi, Loman Park Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Workshop Batik Cap Weton dan Jagongan Gayeng

Komitmen menghadirkan pengalaman menginap yang sarat makna kembali ditunjukkan Loman Park Hotel Yogyakarta melalui penyelenggaraan rangkaian acara budaya bertajuk “Batik Weton” dan “Jagongan Gayeng” pada Sabtu (14/02). Mengusung semangat pelestarian kearifan lokal, kegiatan ini memadukan eksplorasi filosofi weton dengan praktik kreatif membatik cap berbasis kertas yang unik dan personal.

Workshop Batik Cap menjadi pembuka acara yang dipandu oleh seniman Nurohmad, S.Sn dari Omah Kreatif DONGAJI. Berbeda dari pelatihan batik pada umumnya, peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga diajak menyelami makna weton hari lahir dalam tradisi Jawa sebagai pintu masuk memahami karakter diri. Dari hasil pembacaan weton tersebut, setiap peserta menerjemahkannya ke dalam visual motif yang merepresentasikan identitas personal, mulai dari bentuk hewani, tumbuhan, hingga simbol-simbol filosofis.

Motif yang telah dirancang kemudian digambar di atas kertas, dibentuk menjadi alat cap mandiri, dicelupkan ke dalam malam panas, dan dicapkan ke kain. Proses kreatif ini menghasilkan karya batik yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga sarat makna personal. Atmosfer workshop terasa intim dan reflektif, memperlihatkan bagaimana tradisi dapat diolah secara kontemporer tanpa kehilangan esensi.

Suasana semakin hangat saat sesi Jagongan Gayeng bertema “Weton Iku Ora Waton” digelar di area taman hotel. Diskusi ini menghadirkan Cak Udin selaku Ketua Lesbumi bersama Nurohmad, S.Sn, dengan Iwan RS sebagai moderator. Percakapan mengalir membedah weton bukan sekadar hitungan penanggalan Jawa, melainkan panduan karakter, etika, dan laku hidup yang diwariskan turun-temurun dalam budaya Jawa.

Founder & Managing Director Loman Park Hotel Yogyakarta, Handono S. Putro, mengapresiasi antusiasme peserta yang terlibat aktif dalam seluruh rangkaian acara. Ia menegaskan bahwa hotel tidak hanya menjadi tempat bermalam, tetapi juga ruang belajar dan berinteraksi dengan nilai-nilai budaya lokal. Menurutnya, Batik Weton menjadi cara kreatif untuk merayakan identitas individu melalui tradisi yang dikemas secara ringan, personal, dan relevan bagi generasi masa kini.

Rangkaian kegiatan ini turut dilengkapi Pameran Karya Seni Batik di area lobi hotel yang berlangsung hingga 21 Februari 2026. Pameran tersebut menampilkan beragam motif batik dengan pesan filosofis mendalam dan terbuka untuk umum, sehingga masyarakat luas dapat menikmati sekaligus memahami nilai yang terkandung di balik setiap pola.

Melalui keberhasilan acara ini, Loman Park Hotel Yogyakarta semakin menegaskan perannya sebagai cultural hub yang inklusif dan kreatif di Kota Gudeg. Sinergi antara estetika dan filosofi yang dihadirkan menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang, ketika dirayakan dengan pendekatan yang segar dan bermakna. XPOSEINDONESIA/IHSAN

Must Read

Related Articles