Perayaan Tahun Baru Imlek di ibu kota tahun ini tampil berbeda. Bukan sekadar pesta budaya, tetapi juga panggung besar penguatan ekonomi kreatif. Kementerian Ekonomi Kreatif memberikan apresiasi tinggi terhadap Festival Imlek Jakarta 2026 yang dinilai mampu memadukan nilai tradisi, pariwisata, hingga peluang ekonomi dalam satu ruang publik yang inklusif.
Festival resmi dibuka di Bundaran Hotel Indonesia oleh Pramono Anung bersama Rano Karno. Hadir pula Wakil Menteri Ekraf Irene Umar yang sekaligus menjabat Ketua Panitia Imlek Nasional, menandai perayaan sebagai bagian dari rangkaian Harmoni Imlek Nusantara yang berlangsung di berbagai kota.
Menurut Irene, perayaan Imlek kini tidak lagi bersifat lokal, melainkan jaringan perayaan nasional yang menghubungkan kota-kota budaya seperti Solo, Palembang hingga Singkawang. Jakarta berperan sebagai pusat konsolidasi yang memperlihatkan bagaimana tradisi dapat hidup berdampingan dengan industri kreatif modern.
Ia menekankan bahwa festival ini bukan hanya pertunjukan visual, melainkan ekosistem ekonomi. Pelaku kreatif mendapat ruang promosi merek lokal, kolaborasi lintas sektor, hingga peluang transaksi langsung dengan publik. Bahkan pada 22 Februari hingga 1 Maret 2026 akan digelar bazar Imlek dan buka puasa bersama Ramadan — sebuah simbol akulturasi yang jarang terjadi di negara lain.
Pramono Anung menyebut festival ini sebagai langkah awal menuju Jakarta sebagai kota global yang inklusif. Ia menyoroti kontribusi komunitas Tionghoa terhadap budaya Betawi yang selama ratusan tahun membentuk identitas kota. Perpaduan tradisi itulah yang membuat Imlek di Jakarta tidak sekadar ritual, tetapi perayaan bersama seluruh warga.
Selama lima hari penyelenggaraan, ruang kota berubah menjadi panggung budaya. Pertunjukan Simfoni Imlek Jakarta membuka rangkaian acara, disusul instalasi cahaya, laser show, parade barongsai dan dragon dance. Ornamen lampion dan pohon plum menghiasi Harmony Lantern Walk yang dipadati warga untuk berfoto.
Kemeriahan meluas ke berbagai titik, mulai dari festival pecinan di Taman Mini Indonesia Indah, pertunjukan di Monumen Nasional dan Lapangan Banteng, hingga Jakarta Light Festival di Kota Tua Jakarta. Puncaknya akan ditutup dengan Cap Go Meh di kawasan Pecinan Glodok yang dikenal sebagai salah satu pusat perayaan tertua di Indonesia.
Pemerintah pusat, Pemprov DKI, BUMD, dan sektor swasta terlibat dalam penyelenggaraan ini. Kolaborasi tersebut menjadi contoh model baru pengembangan pariwisata berbasis budaya: tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menggerakkan UMKM kreatif, industri kuliner, fesyen, hingga pertunjukan seni.
Festival Imlek Jakarta 2026 pada akhirnya menunjukkan wajah baru perayaan tradisi di Indonesia — bukan hanya ritual komunitas, melainkan ruang perjumpaan budaya dan ekonomi. Di tengah kota metropolitan yang serba cepat, harmoni justru lahir dari keberagaman yang dirayakan bersama. XPOSEINDONESIA/IHSAN foto : Biro Komunikasi Kemenekraf



