SWAG Event Edisi ke-161 Perkuat Skena Musik Independen, Hadirkan BINDS!, Hage Rudolf, dan Daniel Rumbekwan

Start With A Gig (SWAG Event) kembali menghadirkan panggung bagi musisi independen melalui penyelenggaraan edisi ke-161 pada Selasa, 3 November 2026. Berlangsung di Twin House Coffee & Eatery – Kala di Kalijaga, Blok M, Jakarta Selatan, acara ini mempertemukan musisi, komunitas, promotor, dan pelaku industri musik dalam suasana pertunjukan yang intim dan terbuka.

Edisi kali ini menghadirkan penampil yakni HAGE Rudolf, BINDS!, Daniel Rumbekwan, dan Overdrive . Acara berlangsung pukul 19.00 hingga 22.00 WIB dengan tiket masuk gratis. Rangkaian pertunjukan dan perbincangan dipandu oleh Eno Dimedjo bersama Ncek Gaul.

Bagi SWAG, panggung musik bukan sekadar tempat bagi band atau solois untuk tampil. Program yang dikenal dengan nama lengkap Start With A Gig ini merupakan perhelatan musik independen yang digagas Dhiche Stage sejak 2022. Sejak awal penyelenggaraannya, SWAG dibangun sebagai etalase bagi musisi lintas genre dan generasi, baik pendatang baru maupun musisi yang telah memiliki perjalanan panjang, untuk memperkenalkan karya kepada publik.

Konsistensi penyelenggaraan setiap Selasa malam menjadikan SWAG sebagai salah satu ruang pertemuan dalam ekosistem musik independen Jakarta. Tidak hanya mempertemukan musisi dan penonton, kegiatan ini juga membuka kesempatan interaksi dengan wartawan musik, event organizer, kurator festival, talent scout, label rekaman, hingga komunitas musik.

Format tersebut terasa dalam penyelenggaraan edisi ke-161. Selain penampilan musik, host mengajak para musisi berbincang mengenai perjalanan karier, proses kreatif, identitas musikal, dan rencana berkarya. Suasana obrolan yang santai membuat penonton dapat mengenal lebih dekat sosok di balik karya yang mereka dengarkan.

Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah perbincangan bersama BINDS!, trio asal Jakarta yang terdiri dari Nandika sebagai vokalis, Iwang pada bass dan synth-bass, serta Buggy sebagai drummer. Nama BINDS! sendiri merupakan singkatan dari nama ketiga personelnya, sekaligus mengandung makna yang melibatkan para pendengar karya mereka.

Memulai perjalanan pada akhir 2025, BINDS! mengembangkan karakter musik pop, indie, dan synth-pop dengan sentuhan modern funk serta nu-disco. Perpaduan tersebut menjadi dasar eksplorasi musikal mereka dalam menghadirkan komposisi dengan warna pop modern dan karakter ritmis yang khas.

Dalam sesi wawancara, personel BINDS! menceritakan awal terbentuknya band yang berangkat dari keinginan sejumlah musisi untuk membangun proyek baru dengan arah musikal berbeda dari pengalaman sebelumnya. Mereka kemudian mengembangkan materi yang dikumpulkan dalam EP perdana bertajuk Tune Up.

EP Tune Up berisi lima lagu, yaitu “Wonderland”, “Echoes Dream”, “Crushes”, “Let It Glow”, dan “Currents”. Melalui rilisan tersebut, BINDS! memperkenalkan identitas musikal sekaligus menunjukkan arah eksplorasi yang ingin mereka kembangkan.

Dalam proses kreatifnya, para personel terlibat dalam pengembangan materi dan menentukan karakter setiap lagu. Mereka juga membicarakan rencana untuk terus menghasilkan karya baru. Setelah memperkenalkan EP Tune Up, BINDS! berharap dapat melanjutkan perjalanan dengan merilis single dan membuka kemungkinan menghadirkan album berikutnya.

Perbincangan berikutnya menghadirkan Adnan dari Hage Rudolf. Berbeda dari BINDS!, Hage Rudolf mengembangkan karakter musik instrumental dengan konsep rock futuristik yang memadukan berbagai warna musikal.

Karakter tersebut dibangun melalui cabikan gitar bernuansa fuzz, synthesizer tebal, serta dentuman drum yang megah. Menariknya, Hage Rudolf tidak hanya mengandalkan elemen rock, tetapi juga mengeksplorasi harmoni etnik lokal, surf rock ala Amerika, hingga nuansa Timur Tengah. Perpaduan tersebut menghasilkan atmosfer musik yang dinamis, dengan karakter sinematik yang kuat.

Identitas HAGE Rudolf juga diperkuat melalui konsep visual bertopeng. Dalam wawancara bersama Adnan, terungkap bahwa penggunaan topeng menjadi bagian dari konsep karakter band yang terinspirasi dunia spionase dan sosok misterius. Penampilan tersebut sengaja membangun rasa penasaran penonton mengenai siapa sosok di balik topeng, sekaligus menghadirkan pertanyaan apakah karakter yang ditampilkan merupakan protagonis atau antagonis.

Dalam perjalanan diskografinya, HAGE Rudolf telah merilis debut mini album atau EP bertajuk Pseudosymmetry pada 10 Januari 2025 melalui The Rudolf Entertainment. EP ini berisi lima komposisi instrumental, yakni “The Grandmaster of Mindfullness”, “Soyodora Dance”, “Mon Ami”, “Astha the Busy Bee”, dan “The Temple of Ptolemaic Kingdom”.

Proses kreatif HAGE Rudolf bertumpu pada eksplorasi komposisi dan diskusi antarpersonel. Mereka mengembangkan susunan bagian musik, dinamika, hingga perubahan atmosfer untuk membangun cerita tanpa mengandalkan lirik. Pendekatan tersebut membuat setiap instrumen memiliki peran dalam membentuk perjalanan musikal sebuah lagu.

Dalam penampilannya di SWAG Event edisi ke-161, Hage Rudolf membawakan tiga lagu. Penampilan tersebut menjadi kesempatan bagi penonton untuk mengenal karakter rock futuristik mereka, sekaligus melihat bagaimana konsep musik dan visual bertopeng diterjemahkan ke atas panggung.

Sementara itu, Daniel Rumbekwan hadir sebagai solois yang datang dari Madiun. Ia memanfaatkan panggung SWAG Event untuk memperkenalkan single terbarunya, “Rumput Liar”. Selain karya tersebut, Daniel juga membawakan beberapa lagu, di antaranya “Rindu”, “Burung Kecil”, dan “Terima Saja”.

Dalam sesi wawancara, Daniel berbagi cerita mengenai perjalanan personal dan awal ketertarikannya pada musik. Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil memiliki dua impian, yakni bermain sepak bola dan bernyanyi. Pada akhirnya, musik menjadi jalur yang dipilih untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan kreativitas.

Lahir di Balikpapan dan kini tinggal di Madiun, Daniel juga menceritakan perjalanan bermusiknya serta karya-karya yang telah dirilis. Perbincangan bersama host turut menyinggung perkembangan karier dan keterlibatannya dalam proyek musik bersama Rumah Kaca.

Di luar penampilan dan wawancara, SWAG Event edisi ke-161 juga mengajak pengunjung memberikan dukungan langsung kepada musisi melalui pembelian merchandise. Dalam obrolan bersama host, disampaikan bahwa mendukung musisi tidak hanya dilakukan dengan mendengarkan lagu dan datang ke konser, tetapi juga dengan membeli merchandise sebagai bentuk apresiasi terhadap karya mereka.

Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan Indonesian Music Video Award kepada para musisi yang hadir. Pemilik video musik diajak mencari informasi melalui kanal resmi ajang tersebut dan mengikutsertakan karya mereka. Hal ini menjadi bagian dari pembicaraan mengenai peluang promosi dan apresiasi bagi karya visual musisi Indonesia.

Kehadiran berbagai unsur industri musik dalam acara ini memperlihatkan fungsi SWAG yang lebih luas daripada sekadar panggung pertunjukan. Interaksi langsung antara musisi, host, komunitas, promotor, dan pihak yang mengikuti perkembangan talenta membuka ruang bagi pertukaran informasi serta kemungkinan kerja sama di masa mendatang.

Setelah lebih dari empat tahun berjalan sejak 2022, SWAG Event terus membawa semangat Start With A Gig sebagai ruang bagi musisi untuk memulai, memperkenalkan, dan mengembangkan perjalanan berkarya. Edisi ke-161 menjadi gambaran bagaimana panggung independen dapat mempertemukan beragam karakter musik sekaligus menjaga hubungan antara musisi dan ekosistem yang mendukung pertumbuhannya.

Informasi dan dokumentasi kegiatan SWAG Event dapat diikuti melalui akun Instagram resmi @swag.event. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles