Selasa, Januari 6, 2026

Maya Hasan dengan Mimpinya di 2025. Dan Pengharapannya di 2026

Apakah pengharapan spesial seorang Maya Hasan di tahun 2026 ini? Di antara 3 dunia yang dijalaninya selama ini, berbarengan. Baik sebagai seorang pemain harpa. Juga seorang aktris. Dan sekaligus seorang music-healer.

Tapi sebenarnya, boleh sedikit melenceng ya? Bagaimana anda, Maya Hasan, menjaga kecantikanmu? Juga tetap mampu menjaga kebugaran tubuhmu? Maya, melempar senyum. Ia menyodorkan “resep”, selalu optimis dan positif saja.

Menurut harpist jelita bernama lengkap Haris Maya Christina Hasan, sebenarnya tak ada  formula khusus. Semua berjalan bertahap, untuk ketiga dunia yang dijalaninya saat ini. Eh, ia menambahkan, masih  plus single mom dengan 3 anak.

Maya Hasan
Maya Hasan (Fotografer: Meyta Rizki Sari)

Ia pada tahun 1990an mengawali dengan teater, lewat EKI (Eksotika Karmawibhangga Indonesia). Bahkan kemudian di teater sempat menjadi sutradara dan penulis naskah, lewat kertelibatannya dengan sanggar yang berbeda. Sementara film perdananya, Koper, dirilis tahun 2006. Namun untuk film, ia sempat 14 tahun vakum, tidak bermain film.

Lalu soal musik, sebetulnya di awal 1990  Maya memulai perjalanan musiknya. Di 1993, ia memulai karirnya sebagai harpist professional di tanah air, sekembalinya dia dari studi di Willamette University , Oregon, USA. Iapun lantas  bermain dengan pelbagai orkestra dan ensemble di tanah air. Bermain juga dengan berbagai konduktor ternama tanah air.

Selain itu, ceritanya, iapun selama 20 tahun-an telah belajar music for healing. Di tahun 2013 mendapat lisensi untuk menjadi semacam professional bersertifikat sebagai healer via musik. Maka iapun kemudian membuka Grotto. Dimana dipakailah “tagline”, A Home for Harmonious Body and Mind Function, a Holistic Healing Boutique by Maya Hasan. Klinik Grotto dibuka di kawasan Jalan Terogong Raya, Pondok Indah, sejak tahun 2020.

Jadi 3 hal itu dijalaninya beriringan saat ini. Dengan 2 assisten. “Aku sangat terbantu dengan asisten-asistenku yang mengatur waktuku. Tapi juga aku sangat mempercayai Tuhan. Tuhanlah yang sebenarnya menentukan waktu-waktu ku dan tentu kehidupanku”.

Kembali sebagai sebagai harpist. Makna panggung adalah dulunya, panggung adalah tujuanku, terutama saat memulai karir di 1993 dulu di Indonesia. Sekarang di stage aku feel so comfortable. Sebuah kebutuhan yang seperti ikan dicemplungin ke dalam di air. Dapat bernafas lega, bergerak kesana-kemari.. Cintaku terhadap musik, panggung dan harpa kalau dihitung sebagai angka, ada di angka 10 saat ini. Mutlak dan yang paling utama.

Maya Hasan saat berada di Esplanade Singapura, bersama Maestro Muhay Tang (kiri) dan Donny Dong (kanan), komposer lagu Dreaming of Fengpu.
Maya Hasan saat berada di Esplanade Singapura, bersama Maestro Muhay Tang (kiri) dan Donny Dong (kanan), komposer lagu Dreaming of Fengpu.

Selama tahun 2025, Maya bersyukur, ia merasakan banyak berkat. Ada satu mimpi utamanya, jadi kenyataan. Ia bisa tampil di Espalanade Singapura. Ia diundang untuk tampil dengan Shanghai Nine Trees Philharmonic Orchestra, dipimpin sang maestro Muhay Tang. Merekaberkolaborasi dengan Singapore Strait Ensemble, pada konser di Oktober tersebut.

Saat itu, cerita Maya Hasan, entah kenapa ternyata harpistnya tetiba resign. Muhay Tang kemudian mencari-cari harpist untuk bisa ikut tampil, dan sang maestro bertemu Ibu Melyana Tjahyadikart. Lewat Ibu Melyana tersebut, akhirnya tawaran datang pada Maya. Walau waktu terbilang sangat mepet, ia tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Iapun menyambut tawaran untuk bergabung. Maya lantas menjadi satu-satunya musisi Indonesia tampil pada kesempatan konser tersebut. Maya tampil di sesi International Premiere.

Dimana pada session tersebut, Maya bermain untuk sebuah komposisi spesial, “Dreaming of Fengpu”. Komposisi tersebut ditulis oleh Danny Dong.  “Tentu saja aku sangat bersyukur, miracles still happen to all. Bahkan saat saya sudah di saat ini. Aku berharap ini bisa menginspirasi semua, bahwa Impian bisa tercapai tiada peduli pada usia berapapun.”

Sambung Maya, “Miracles yang berupa impianku bermain dengan sebuah international philharmonic orchestra dan di Esplanade pula, datang sekaligus. Dan akupun akhirnya bisa mengalami pengalaman yang aku impikan sekian lama itu.”

Apa Maya masih main harpa? Pertanyaan itu pernah aku dengar, lanjut Maya. Ya alhasil, tawaran tampil di Esplanade itu sekaligus pembuktian. Bahwa ia masih bermain harpa Sejatinya, tawaran itu sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.

“Aku hanya bisa merasakan merinding dan terharu. Aku bawa joy dan positive energy saja. Aku mensyukuri dan aku sangat menikmati. Walau saat itu unfortunately, ketiga anakku ga bisa ikut. Bahkan managementku juga tak bisa mendampingi. Tapi the show must go on….

“Pada setiap pagi, aku reminding my mind, myself. Itu rutin aku lakukan selalu. Kemudian belakangan aku juga melatih lagi berbagai lagu-lagu klasik, sekaligus melatih otot-otot tanganku. Otot-otot besar dan kecil. Aku harus tetap melatih determinasi dan menjaga konsistensi.”

Sambung Maya kemudian, itu membuatnya hidup. “Setiap sel-sel dalam tubuh kita, berresonansi, bervibrasi. Ada yang selaras, ada yang tidak. Nah yang tidak, diselaraskan kembali dengan musik dan getaran juga. Terus dilakukan….”

Maya lantas berpesan, “Selalu berpeganglah pada mimpi. Cari mimpi, pegang, bawa dalam doa dan do your best always. Mimpimu akan dikabulkan Tuhan, yakinlah. Itupun seperti yang aku tanamkan dan menginspirasiku memasuki tahun 2026 ini”.

Ada beberapa hal ingin dia lakukan terus, emalnjutkan hidupnya. Musik dan Film, teristimewa. Semoga lancar semuanya, begitu harap wanita kelahiran 10 Januari 1972 ini. XPOSEINDONESIA /DM Fotografer: Meyta Rizki Sari

Must Read

Related Articles