Sustainability di industri berat kini tidak lagi cukup dibicarakan sebagai komitmen terhadap lingkungan. Ketika operasional bergantung pada alat berat, energi, dan sumber daya dalam skala besar, keberlanjutan juga berkaitan langsung dengan efisiensi, produktivitas, pengelolaan equipment, hingga kemampuan perusahaan mempertahankan nilai bisnis dalam jangka panjang.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series Engineering Week 2026 yang berlangsung pada 9 hingga 12 September di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Sustainability for Industrial Transformation”, gelaran ini menghadirkan enam hybrid stages, 26 sesi seminar dengan 206 thought leaders, serta dukungan 49 asosiasi dan partner dari berbagai sektor industri.
Salah satu pembahasan berlangsung melalui Mining Sustainability Forum bertajuk “Accelerating Performance and Sustainable Value Creation” di stage GPN JIExpo. Forum yang diselenggarakan CBQA Global tersebut mempertemukan perspektif mengenai bagaimana praktik sustainability dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kinerja operasional dan penciptaan nilai bagi industri.
Head of Sustainability CBQA Global William CD Manurung mengatakan, tantangan sustainability di industri pertambangan kini bukan hanya menetapkan target atau menjalankan program, tetapi juga memastikan pencapaiannya dapat dibuktikan dengan data yang kredibel. Perusahaan perlu memiliki baseline yang jelas, memahami bagaimana data dihitung, serta memastikan hasilnya dapat diverifikasi secara independen.
Menurut William, kebutuhan tersebut semakin penting karena isu seperti emisi, efisiensi energi, biodiversitas, dan reklamasi kini mulai berkaitan dengan akses pasar, pembiayaan, regulasi, hingga daya saing perusahaan. “Karbon tidak lagi hanya menjadi angka lingkungan, tetapi semakin menjadi angka bisnis. Intensitas karbon dapat memengaruhi akses pasar, pembiayaan, kebutuhan pelanggan, dan pada akhirnya daya saing perusahaan,” ujarnya.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam aktivitas operasional sehari-hari. Jawabannya mulai terlihat ketika pembahasan sustainability bergeser dari ruang seminar menuju area pameran Mining Indonesia 2026, tempat berbagai produsen equipment menunjukkan teknologi yang diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pengelolaan sumber daya.
Salah satunya ditampilkan Shandong Heavy Industry Indonesia (SDHI), yang membawa sejumlah solusi equipment dalam satu ekosistem. Shantui sebagai salah satu brand di bawah naungan SDHI menunjukkan bahwa sustainability pada industri alat berat tidak hanya ditentukan oleh sumber energi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan equipment dalam menunjang produktivitas dan efisiensi sepanjang masa penggunaannya.
Alexander Tangestu dari PT Shantui Equipment Indonesia menjelaskan, efisiensi bahan bakar menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan equipment. Teknologi yang dikembangkan selama sekitar satu dekade diarahkan agar alat dapat bekerja lebih efisien, sekaligus membantu perusahaan mengendalikan biaya operasional.
“Efisiensi bahan bakar menjadi salah satu perhatian kami. Teknologi yang telah dikembangkan Shantui selama sekitar sepuluh tahun terakhir diarahkan supaya pengoperasian alat lebih efisien. Dalam biaya operasional, efisiensi bahan bakar tidak hanya berkaitan dengan penggunaan energi, tetapi juga bagaimana perusahaan dapat menekan biaya sepanjang masa penggunaan equipment,” ujarnya.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri dituntut menghasilkan output lebih besar dengan penggunaan sumber daya yang semakin terukur. Dalam kondisi seperti ini, equipment tidak lagi sekadar dipandang sebagai aset produksi, tetapi menjadi bagian dari keputusan strategis perusahaan dalam menjaga efisiensi dan keberlanjutan operasi.
Perubahan juga terlihat dari semakin berkembangnya teknologi elektrifikasi untuk industri berat. Di area pameran, SANY menampilkan sejumlah solusi yang mengarah pada elektrifikasi dan efisiensi energi, termasuk equipment dengan teknologi listrik dan hibrida.
SANY bahkan membawa armada rendah karbon berupa electric heavy truck dengan kemampuan fast charging sekitar 50 menit. Teknologi tersebut diarahkan untuk menekan emisi karbon pada aktivitas logistik tambang skala besar sekaligus menjawab tantangan operasional di lokasi yang memiliki keterbatasan infrastruktur listrik.
Director of Government Affairs and Deputy General Manager SANY Indonesia Saanjay Shamdasani mengatakan, penerapan teknologi tersebut juga menawarkan efisiensi dari sisi biaya. Menurutnya, biaya operasional dapat ditekan hingga 60 persen dan biaya perawatan hingga 50 persen dibandingkan unit konvensional.
“Visi kami adalah mewujudkan tambang rendah karbon yang terintegrasi secara bertahap dari armada hybrid menuju full electric. Harapannya, kami dapat terus mendukung target keberlanjutan pemerintah untuk mewujudkan zero emission pada tahun 2060,” kata Saanjay.
Namun, perkembangan teknologi elektrifikasi tidak berarti seluruh equipment dapat langsung beralih ke tenaga listrik. Karakteristik lokasi operasi dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting yang menentukan teknologi paling sesuai untuk digunakan.
Sales Marketing Director PT Indotruck Utama Vincent menilai tidak ada satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk seluruh lokasi. Menurutnya, penerapan teknologi berkelanjutan harus disesuaikan dengan aplikasi dan infrastruktur yang tersedia.
“Kalau kita bicara konsep sustainability sendiri, kita percaya enggak ada satu one recipe fits for all. Kuncinya tergantung aplikasi based on infrastructure,” paparnya.
Tantangan tersebut terlihat pada lokasi pertambangan yang berada jauh dari infrastruktur listrik. Sebaliknya, kawasan urban maupun fasilitas industri tertentu memiliki peluang lebih besar untuk mengadopsi electric machine karena dukungan infrastrukturnya relatif lebih memadai.
Peluang penerapan equipment listrik juga terlihat pada sektor yang memiliki sumber energi sendiri. Hal ini tercermin dari L120 Electric Wheel Loader yang ditampilkan Volvo, dengan kapasitas bucket 3,5 meter kubik dan operating load 20 ton.
Teknologi tersebut antara lain dapat diterapkan pada fasilitas waste-to-energy maupun agroindustri yang memiliki sumber listrik dari pembangkit biomassa. Dengan pendekatan tersebut, energi yang tersedia di lokasi dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung operasional equipment.
Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blocker yang mengunjungi booth Volvo dalam peluncuran produk tersebut mengatakan, inovasi Volvo terus diarahkan oleh komitmen terhadap keberlanjutan dan keselamatan. “Inovasi kami selalu didorong oleh komitmen mendalam terhadap keberlanjutan dan keselamatan. Ini adalah langkah nyata dalam mendukung perjalanan transisi energi hijau di Indonesia,” ujarnya.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa sustainability dalam industri berat semakin bergerak dari konsep menuju keputusan teknis di lapangan. Equipment yang digunakan, tingkat efisiensi energi, sumber listrik, keandalan operasional, pengurangan downtime, hingga biaya sepanjang siklus hidup aset menjadi bagian dari pertimbangan yang saling berkaitan.
Bagi Deputy Event Director Pamerindo Indonesia Hanung Hanindito, pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika industri harus menjaga produktivitas sekaligus menggunakan sumber daya secara lebih efisien. Teknologi yang dikembangkan industri, menurutnya, perlu menjawab kebutuhan operasional saat ini sekaligus mendukung transformasi jangka panjang.
“Bagi kami, sustainability bukan hanya mengenai bagaimana mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga bagaimana equipment dapat bekerja secara lebih efisien demi mendorong pertumbuhan industri yang mampu menciptakan nilai lebih besar serta mendorong praktik-praktik yang bertanggung jawab di seluruh ekosistem. Teknologi yang dikembangkan harus mampu menjawab kebutuhan operasional hari ini sekaligus mendukung industri untuk bekerja secara lebih berkelanjutan dalam jangka panjang,” papar Hanung.
IEE Series Engineering Week 2026 sendiri mempertemukan berbagai sektor industri melalui Mining Indonesia, Oil & Gas Indonesia, Construction Indonesia, Concrete Show Southeast Asia, Water Indonesia, ADEXCO (Asia Disaster & Civil Protection Expo & Conference), serta pameran yang berlangsung bersamaan GIFA dan METEC Indonesia.
Berlangsung di area lebih dari 88.000 meter persegi, rangkaian tersebut menunjukkan bahwa sustainability tidak lagi berdiri sebagai isu terpisah dari aktivitas industri. Di sektor alat berat, keberlanjutan mulai diterjemahkan melalui keputusan yang sangat konkret, mulai dari pemilihan equipment, efisiensi energi dan bahan bakar, kesiapan infrastruktur, pengelolaan biaya, hingga bagaimana sebuah aset dapat tetap produktif sepanjang siklus hidupnya.
Pada titik inilah tema “Sustainability for Industrial Transformation” menemukan bentuknya di lapangan. Sustainability bukan sekadar tentang bagaimana industri ingin bekerja di masa depan, tetapi juga tentang bagaimana mesin dan sistem operasional bekerja secara lebih efisien mulai hari ini. XPOSEINDONESIA/IHSAN




