Jumat, Agustus 29, 2025

Ketika Garuda Dijaga Mantra: Tirakat Kebangsaan di Candi Kedulan

Selasa Kliwon, malam Rabu Legi, 26 Juni 2025, menjadi momen sakral bagi Srawung Paseduluran ANGGARA KASIH. Bersama kelompok STAK—salah satu dari lebih 130 ormas di Jawa Tengah dan DIY—mereka kembali menggelar Tirakat Kebangsaan “Umbul Kidung Puja Mantra II”, sekaligus memperingati HUT pertama Anggara Kasih dan merayakan kemerdekaan bangsa.

Acara langka ini mempertemukan kasepuhan, penghayat spiritual, pelaku supranatural, dan penjaga tradisi Nusantara dari berbagai daerah. Mereka berkumpul di tempat sakral, Candi Kedulan, Kalasan, Yogyakarta, untuk menyatukan doa, kidung, dan kepedulian pada budaya bangsa.

Dalam suasana khidmat, belaian angin malam menghadirkan energi semesta seakan memberi restu. Hadir pula sesepuh Anggara Kasih, Ibu Yani Saptohudoyo, serta Eyang Ratih dari DPP FKPPAI, bersama sejumlah pejabat Kabupaten Sleman.

Menurut penanggung jawab acara, Gde Mahesa, kegiatan ini lahir dari keresahan para pelaku budaya atas maraknya ketidakadilan penguasa. “Jika ormas, kelompok pergerakan, atau mahasiswa memilih berdemonstrasi, maka kami memilih berdoa. Meratap pada Ibu Bumi, Bapa Angkasa, sekaligus memanjatkan tulah kepada pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat—agar semesta menyadarkan sekaligus menghukumnya,” ungkapnya.

Di bawah langit malam yang hening, setiap kidung dan mantra bukan sekadar lantunan suara, melainkan getaran energi yang menembus sukma. Jiwa-jiwa yang hadir larut dalam satu ikatan kebangsaan yang luhur.

Umbul Kidung Puja Mantra menjadi wujud bakti pelaku budaya untuk negeri, dengan tema “Garuda Amurwa I Bhumi Nusantara.”

Garuda dipilih sebagai simbol kekuatan dan semangat kebesaran. Ia melambangkan kejayaan, persatuan dalam keberagaman, serta cita-cita luhur bangsa yang bercahaya. Garuda bukan hanya lambang negara, melainkan juga pangreksa—makhluk supranatural penjaga semesta dan kedaulatan negeri dari segala ancaman. XPOSEINDONESIA Foto Dokumentasi

Must Read

Related Articles