Tradisi hajatan khitanan atau supitan menjadi inspirasi bagi Sanggar Ori asal Gunungkidul, Yogyakarta, dalam menghadirkan pertunjukan teater berjudul GRES!. Karya yang mengangkat dinamika keluarga dan kehidupan masyarakat pedesaan tersebut membuka rangkaian pementasan 13 kelompok terpilih dalam program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 di Galeri Indonesia Kaya.
GRES! dipentaskan dua kali pada 7 November 2026. Pertunjukan ini menjadi hasil proses pengembangan karya yang telah dilalui para peserta, mulai dari roadshow, workshop, pitching proposal, mentoring, hingga produksi. Seluruh kelompok terpilih mendapat kesempatan menampilkan karya mereka sepanjang November hingga Desember 2026.
Melalui GRES!, Sanggar Ori membawa penonton menyelami kehidupan sebuah keluarga yang mendadak harus mempersiapkan hajatan khitanan setelah Alif, anak berusia 12 tahun, mengalami insiden tak terduga saat mengenakan celana. Peristiwa tersebut berkembang menjadi rangkaian kejadian yang menghadirkan kekacauan sekaligus kelucuan.
Di tengah situasi itu, Siti dan Seno, orang tua Alif, harus memikirkan biaya pelaksanaan supitan beserta slametan yang ingin diselenggarakan sesuai adat setempat. Dari persoalan keluarga tersebut, GRES! menggambarkan bagaimana tradisi, tuntutan lingkungan, dan tekanan sosial menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kampung.
Menggunakan pendekatan teater realis yang dibalut komedi keluarga, pertunjukan ini menghadirkan suasana kehidupan masyarakat Gunungkidul melalui karakter, dialog, dan situasi yang dekat dengan keseharian. Sebanyak 10 pemain terlibat dalam pementasan, didukung elemen artistik berupa latar lingkungan rumah pedesaan, musik, serta tata cahaya yang memperkuat dinamika cerita dan perubahan emosi setiap adegan.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan Ruang Kreatif Seni Pertunjukan merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat ekosistem seni pertunjukan Indonesia dengan memberikan kesempatan kepada pelaku seni dari berbagai daerah.
“Dengan adanya program ini, kami ingin memberi kesempatan kepada para pelaku seni dari berbagai daerah untuk mengembangkan gagasan, memperkuat kapasitas kreatif dan pengelolaan produksi, serta membawa karya mereka bertemu langsung dengan penonton. Kami berharap kesempatan ini tidak hanya menjadi ruang bagi para seniman untuk menampilkan karya, tetapi juga memperluas perspektif dan mendorong lahirnya praktik seni pertunjukan yang semakin beragam dan relevan dengan kehidupan masyarakat,” ujar Renitasari.
Ia juga menyoroti GRES! sebagai salah satu karya yang mengangkat realitas kehidupan masyarakat Gunungkidul dan mengolahnya menjadi pertunjukan yang menghibur sekaligus bernilai bagi penonton.
Sutradara Sanggar Ori, Jevi Adhi Nugraha, menjelaskan bahwa tradisi hajatan supitan masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di lingkungan mereka. Tradisi tersebut menyimpan banyak cerita mengenai dinamika keluarga dan masyarakat di balik penyelenggaraan sebuah hajatan.
Melalui GRES!, Sanggar Ori ingin mengajak penonton melihat realitas tersebut dari sudut pandang yang lebih ringan, tetapi tetap menyisakan ruang refleksi.
Jevi menyebut proses pengembangan karya melalui Ruang Kreatif Seni Pertunjukan memberikan banyak pembelajaran bagi kelompoknya, terutama dalam mempertajam gagasan dan menerjemahkannya menjadi pertunjukan yang lebih terstruktur. Pendampingan mentor kreatif dan manajemen juga membantu kelompok memahami kesiapan produksi, pembagian peran, serta cara mewujudkan visi artistik dengan sumber daya yang tersedia.
Berdiri sejak 13 September 2013, Sanggar Ori atau Oyod Ringin merupakan ruang pendidikan alternatif sekaligus wadah pengembangan seni dan budaya di Gunungkidul. Komunitas ini mengembangkan praktik kreatif lintas disiplin, mulai dari teater, film, musik, hingga seni rupa. Dengan semangat gotong royong, Sanggar Ori berupaya menghadirkan karya yang berangkat dari realitas lokal dan menyampaikan kritik sosial melalui sudut pandang yang dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan.


Dalam proses pengembangan GRES!, Sanggar Ori mendapatkan pendampingan dari mentor kreatif Rangga Buana dan mentor manajemen Pradetya Novitri. Keduanya membantu kelompok mempertajam gagasan artistik sekaligus memperkuat kesiapan produksi.
Rangga Buana menilai salah satu kekuatan GRES! terletak pada keberanian kelompok menjadikan realitas kehidupan masyarakat sebagai bahan penciptaan. Tantangannya adalah mengolah pengalaman sehari-hari menjadi pertunjukan dengan sudut pandang dan bahasa artistik yang kuat.
Sementara itu, Pradetya Novitri menekankan pentingnya keselarasan antara gagasan kreatif dan perencanaan produksi. Pendampingan manajemen diarahkan untuk membantu kelompok menyusun pembagian tanggung jawab, pengelolaan waktu, serta pemanfaatan sumber daya agar proses produksi berjalan lebih terstruktur tanpa menghilangkan semangat kolaborasi.
Selain Sanggar Ori, terdapat 12 kelompok seni lainnya yang terpilih dalam Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026. Seluruh karya akan dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya dengan jadwal sebagai berikut:
| Tanggal | Judul Karya | Kelompok |
|---|---|---|
| 7 November 2026 | GRES! | Sanggar Ori – Gunungkidul, Yogyakarta |
| 8 November 2026 | Pempek: Rasa yang Menari | Dams Dance Studio – Palembang, Sumatera Selatan |
| 14 November 2026 | Teater Band – Sabda Serangan | Riuh Records – Makassar, Sulawesi Selatan |
| 15 November 2026 | Denting di Tanah Kehidupan | Sanggar Seni Pusako Panai – Sijunjung, Sumatera Barat |
| 21 November 2026 | I Baluan | Gerhana – Gianyar, Bali |
| 22 November 2026 | Mengejar Bayangan Elang | Soca Niskala Sunda – Subang, Jawa Barat |
| 28 November 2026 | Dialog dari Dalam Rumah | Sakatoya – Bantul, Yogyakarta |
| 29 November 2026 | Traces of Body | Komunitas Ngobrak – Padang Panjang, Sumatera Barat |
| 5 Desember 2026 | Pekik Lara Pincala | Teater Generasi Medan – Medan, Sumatera Utara |
| 6 Desember 2026 | Kalimbuar | Tepian Kolektif – Berau, Kalimantan Timur |
| 12 Desember 2026 | Mahyoung: Tubuh yang Menjaga Pasang | Sanggar Seni Jagakarsa – Bintan, Kepulauan Riau |
| 13 Desember 2026 | Tubuh Antui “Perjalanan Menuju Kedewasaan” | Ukar Dance Project – Jambi |
| 19 Desember 2026 | Teater Musikal – Nyimas Tjai Wangi | Ngajagi Kreasi Nusantara – Sukabumi, Jawa Barat |
Ruang Kreatif Seni Pertunjukan merupakan program Bakti Budaya Djarum Foundation yang dirancang untuk memperkuat kapasitas komunitas seni pertunjukan di Indonesia. Program yang pertama kali diselenggarakan pada 2016 ini kembali hadir dengan pendekatan yang mencakup penciptaan karya, penguatan manajemen artistik, perluasan jejaring, serta peningkatan profesionalisme pelaku seni.
Melalui program tersebut, komunitas dan sanggar seni dari berbagai daerah mendapat ruang untuk mengembangkan karya berbasis nilai budaya dan kearifan lokal, baik dalam bentuk tari, musik, teater, sastra, maupun pertunjukan kontemporer.
Masyarakat yang ingin menyaksikan rangkaian pementasan Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 dapat memperoleh informasi mengenai jadwal dan program mendatang melalui IndonesiaKaya.com. Seluruh rangkaian ini menjadi kesempatan untuk melihat keberagaman gagasan dan ekspresi seni pertunjukan yang tumbuh dari berbagai daerah di Indonesia. XPOSEINDONESIA/IHSAN



