What a Duo! Harp meet Guitar… What a Duo

Ini adalah cerita mengenai duet dua instrument. Sekilas, Nampak bukan hal biasa-biasa saja. Bahasa kerennya, “Eh ini bukan duo kaleng-kaleng sih…”

Jadi mari kita membayangkan sebuah duo. Lumayan menggoda kuping nih. Tak sebatas telinga tergoda, bisa sampai ke hati lho! Jadi beginilah, dimana alunan suara merdu dari harmonika.meningkahi suara khas dentingan dawai gitar. Alhasil, perpaduan yang memang mungkin tak umumlah Tapi so pasti, menarik. Dan, menyenangkan.

Syahdan, adalah harmonika di tangan seorang Muhamad Reyhan Naufal. Pemuda gagah, kelahiran Jakarta, 15 Desember 1997. Dan tak pernah belajar musik formal sebenarnya. Yes, ga pernah studi musik formal. Ia lulusan dari Coventry University, United Kingdom. Rey, begitu panggilan akrabnya, lulus Bachelor of Arts of Economics dari perguruan tinggi yang kampus utamanya di West Midlands, Inggris tersebut.

Ternyata jalan hidupnya berkata lain. Rey lha malah bertumbuh kembang kemudian sebagai seorang musisi, pemain harmonika, sekaligus juga educator dan adjudicator. Ia tampil maju ke depan bergiat memperkenalkan advancing diatonic harmonika dalam musik contemporary jazz, blues and other improvised music.

Well, berikutnya nih. Adalah kemudian gitarisnya adalah, nama yang tak asing lagi. Asal Bali, I Wayan Balawan. Kelahiran Gianyar, pada 9 September 1972. Balawan, mengenyam studi musik di Australian Institute of Music, di kota Sydney. Selesai studi program diploma, pada tahun 1997. Dari situ, iapun memulai pengembaraan musiknya di Indonesia. Jadi, usai sekolah, ia balik ke tanah air. Kemudian bolak-balik Jakarta – Denpasar.

Ia membentuk Batuan Ethnic Fusion, yang musiknya berlandaskan pada eksplorasi musik percampuran barat dan timur. Menggunakan perangkat musik tradisi Bali, dengan Balawan tampil dengan electric guitar dan memperkenalkan touch tapping style, yang di sini belum populer saat itu.

Lantas bagaimana bisa, Rey kemudian bekerjasama dengan Balawan. Acara apakah, yang mempertemukan mereka berdua? Rey pun bercerita, mereka bertemu di kota London. Tepatnya di SOAS Auditorium. Ruang besar itu terdapat di SOAS University, di Bloomsbury, central London. Balawan tengah melakukan performance di sana ketika itu, Rey memberanikan diri maju untuk melakukan jammin.

Sebuah kolaborasi spontan seru tak disengaja sebetulnya. Dan dari  pertemuan tersebut, mereka kemudian merasa mempunyai kecocokan. Ada kesamaan visi dan misi bermusik, tentunya juga kesesuaian pada soal taste bermusik. Penampilan berikutnya, secara berduaan berlanjut pada Seoul International Harmonica Festival berturut-turut pada 2018, 2019, 2023.

Mereka kemudian tampil lagi di Melbourne di tahun 2019. Selanjutnya,  duo tersebut kemudian tampil di perhelatan besar , yaitu Asia Pacific Harmonica Festival di kota Jiangyin, China, pada Juli 2026 silam. Dan mereka berdua berencana melanjutkan lagi perjalanan kebersamaan bermusik mereka, dengan kembali tampil di berbagai kesempatan acara musik. Termasuk festival.

Terakhir ini, pada awal Oktober kemarin, mereka berdua bersama grup bandnya, tampil meramaikan The Papandayan Jazz Festival, yang telah masuk kali ke 14 penyelenggaraannya. Penampilan mereka di malam terakhir, memperoleh sambutan antusias penonton.

Saat itu, dengan didukung juga keyboardist, Doni Joesran (keys), Dharrian Emilio (drums), Jonathan (bass). Ikut tampil juga ber-jam session beberapa musisi lain, antara lain ada Aria Indra (violin). Diajak naik pentas juga, the legendary, Hari Pochang (harmonika). Serta drummer, Dion Subyakto.

Penampilan 60 menit yang impresif dan berkesan bagi penonton di Hari Minggu malam itu, dimana keduanya berkolaborasi menyatukan rasa, menghasilkan perpaduan musik yang menyenangkan. Apalagi ada selipan gimmick interaktif, seperti Balawan mengajak penonton bersama-sama membuat lagu misalnya.

Pada bentuk konkritnya, tak lagi hanya pertemuan dua instrument, gitar dengan harmonika saja. Tidak berhenti pada gitar sebagai lead, memainkan melody. Harmonika bertugas semata, menjadi seolah latar belakang. Tidak berhenti di situ. Karena terjadilah dialog, saling isi-mengisi yang harmonis. Keduanya bersikap menjadi lebih responsif.

Maka jadinya, tontonan yang segar. Karena dialog terjadi, atas dasar bak “saling menghormati” gitar dengan harmonika. Dilatari bass dan drums, juga ditingkahi nuansa sound kibor. Interaksi yang terjadi tentu menjadi menarik. Tidak perlu menentukan siapa yang akan mendominasi. Kan memang dialog dan interaksi? Pada setiap lagu, permainan keduanya seperti saling memancing satu sama lain, bergantian, untuk mengisi dengan proporsi yang pas. Itulah sisi menarik dari kolaborasi ini.

Rey dalam hal ini membuktikan, peralatan “mungil”nya itu, sejatinya bisa menyelusup kemana-mana. Harmonikanya bisa merespon apapun bunyian yang ada. Dan bisa “bertanya-jawab” dengan instrument apapun. Bahkan lebih dari musik klasik, satu jenis musik yang pada awalnya  dianggap jenis musik yang paling sesuai untuk harmonika.

Di kesempatan lain, Rey lalu bercerita bahwa alat musik kecilnya, yang gampang betul dibawanya kemana-mana, bisa masuk saku itu, telah makin berkembang. Pemain harmonika bertumbuh terus. Iapun ikut memmipin sebuah komunitas pemain harmonika, bersama tokoh harmonika senior, musisi legendaris, Hari Pochang. Dan pemain harmonika cantik asal Bandung juga, Sarah Saputri.

Dalam waktu dekat ini ia juga akan tampil dalam sebuah kolaborasi pemain chromatic harmonica kenamaan asal Inggris, Adam Glasser. Mereka akan tampil dalam kesempatan konser online, Harmica Summit. Pada hari Minggu, 25 Oktober 2026.

Lalu kembali pada duo Rey dan Balawan, mereka direncanakan akan tampil akhir Oktober 2026 ini. Kali ini mereka dijadwalkan tampil di acara Music China di Shanghai New International Expo Centre. Menurut Rey dan Balawan,  acara tersebut sendiri berlangsung pada 28 – 31 Oktober 2026.

Good luck and success, bro Rey and Balawan! XPOSEINDONESIA/Gideon Momongan

spot_img

Must Read

Related Articles