Selamat Ulang Tahun, Oele Pattiselanno

Panjang Umur serta Single dan Album Baru…

Lahir di kota Malang, pada 22 April 1946. Berarti usianya kini sudah menginjak 80 tahun! Wah, 80 tahun? Incredible! Ya, menakjubkan. 80 tahun dan masih aktif bermusik. Main regular. Menenteng gitarnya sendiri. Dan merokok, rokok elektrik! Itu adalah seorang Oele Pattiselanno.

He must be all the time happy man. Kelihatannya begitu. Jadi, tetap saja sehat dan segar. Makanya tetap bisa bermain musik terus, tanpa “gangguan” berarti. Melanjutkan berkarya di musik. Hati yang gembira, adalah obat, bukan? Pak Oele tersenyum dan mengangguk sambil berkata pelan, “Ya, Amin.”

Julius Sjoerd Pattiselanno, begitu nama lengkapnya saat lahir. Memiliki darah musisi turunan langsung dari sang ayah, yang bermain di grup Hawaiian, saat di Surabaya. Jadi ceritanya, masa kanak-kanak dan remaja Oele muda dihabiskan di Surabaya. Remaja beranjak dewasa, dihabiskan di kota Bandung, dari 1968 ke 1970. Barulah ke Jakarta, sejak tahun 1970 itu, dan menetap seterusnya di ibukota.

Oele terlahir dari pasangan Piet dan Nini Pattiselanno. Dengan kedua adiknya, Jacky Pattiselanno dan Perry Pattiselanno juga musisi, yang aktif bermain regular sampai akhir hayat mereka. Kedua adik kandungnya telah tiada.

Perry meninggal dunia pada November 2005. Ia menjadi salah satu korban tewas saat tragedi bom yang diledakkan teroris di kota Amman, Jordania. Dan Jacky meninggal dunia di Jakarta pada 12 September 2017, karena sakit. Ketiganya pernah membuat grup band “keluarga”, The Pattiselanno Brothers atau The Pattiselanno’s, yang sempat tampil di beberapa konser dan festival jazz di tanah air.

Oele menyebut nama Jack Lesmana (dulu, Jack Lemmers) sebagai guru musiknya yang utama. Sejak ia di Surabaya. Guru yang ngemong dan cukup sabar mengajarkan.

“Setelah beberapa tahun bertemu dan belajar dengan Jack Lesmana, lalu aku pindah ke Bandung. Dari Bandung, pindah ke Jakarta dan bertemu lagi dengan Jack Lesmana. Nerusin belajar sebenarnya…,” cerita Oele.

Tapi kemudian Jack Lesmana mengajaknya rekaman. Sampai juga ikut manggung, terutama di Taman Ismail Marzuki. Ia antara lain akhirnya mendukung rekaman Margie Segers dan Rien Djamain. Dari dirinya, lalu kedua adiknya juga berguru dengan Jack Lesmana.

Salah satu kesempatan bagus di awal saat di ibukota, Oele dan Perry pernah ikut mendukung pergelaran yang terbilang “bersejarah”. Konser Jazz Masa Lalu dan Kini, yang diadakan Jack Lesmana, tentu dibantu istrinya, Nien Lesmana, di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki, Mei 1976.

Perlu diketahui, pada acara tersebut, yang direkam dan diedarkan rekaman live-nya dalam format kaset, “diperkenalkan”-lah Indra Lesmana muda. Masih muda banget, 10 tahun lho. Indra tampil bermain piano elektrik, memainkan All In Love is Fair. Ia bermain dipangku, karena kakinya belum bisa menyentuh pedal piano saat itu. Dipangku Broery Pesolima (tapi ada juga yang menulis, Indra dipangku Bubi Chen).

Konser bersejarah tersebut menampilkan nyaris seluruh musisi jazz terkemuka saat itu, antara lain The Jazz Riders, kelompok jazz legendaris. Juga dua vokalis perempuan, Mona Sitompul dan Rien Djamain. Selain Abadi Soesman, Kiboud Maulana, Dullah Suweileh, Benny Likumahuwa dan lainnya. Menjadi bersejarah karena baru kali itu dilakukan perekaman langsung. Dan hasil rekaman dijual kemudian, dalam format kaset. Album tersebut adalah rekaman live pertama di Indonesia.

Kembali ke seorang Oele Pattiselanno, yang mengaku memang menyukai betul jazz. Juga menyukai gitar model hollow-body. Gitaris idolanya sejak dulu adalah Jim Hall dan Joe Pass. Ia juga banyak menyimak rekaman dari Wes Montgomery. Saat ini gitarnya adalah salah satu gitar legendaris (untuk jazz), Gibson ES 335. Ia juga punya satu gitar akustik merek Dragon.

Menurut Oele, ia sekian lama mengidam-idamkan gitar legendaris lain, Gibson juga. Tapi tipenya ES 175.

“Susah mendapatkannya. Memang juga ga murahlah. Lama banget saya mendambakan bisa punya, tapi belum berhasil juga sampai saat ini…”.

Adalah 3 sosok pemusik kawakan Indonesia yang menjadi tokoh panutan Oele. Ia menyebut nama Lody Item, yang adalah ayah dari Jopie Item. Lalu Sadikin Zuchra. Dan juga, tentunya, Jack Lesmana.

Satu nasehat dari gurunya, Jack Lesmana pada dirinya, yang diingatnya selalu. Kata Jack Lesmana, “Selalu jadilah dirimu sendiri. Tak perlu berusaha menjadi orang lain.”

Sampailah di tahun 2018, saat Oele bertemu dengan dua gitaris yang bersahabat dekat, Dewa Budjana dan Tohpati. Mereka mempunyai ide untuk mengajak Oele rekaman solo album. Rencana tersebut sempat dikerjakan, memakai studio pribadi Tohpati di rumahnya di Bintaro.

Tapi lantas terhenti. Karena kesibukan mereka masing-masing. Tak bisa dihindari, jadi rencana itu terbengkalai. Kemudian masuklah di awal 2026, mereka tetiba kepikiran dengan rencana itu. Merekapun menyolek lagi Oele. Oele menyambut hangat ajakan tersebut.

“Hayo, mumpung aku masih hidup”.

Pernyataan Oele itu yang seperti menyadarkan baik Tohpati maupun Budjana, kali ini harus selesai nih. Harus kejadian, solo albumnya. Kebetulan ada momentum ulang tahun ke-80 itu.

Rencana tersebut didasarkan atas apresiasi dan respek Tohpati dan Budjana terhadap senior mereka, yang sampai saat ini tetap eksis. Masih aktif bermain. Yang pada saat pelaksanaannya lagi, dimulai pada Maret 2026, ternyata juga disambut hangat oleh banyak musisi. Mereka bersedia ikut mendukung rekaman Oele Pattiselanno dengan sangat bersemangat.

Mereka ada para musisi orkestra, yang sebagian berdomisili di kota Yogyakarta. Lalu para musisi muda seperti Barry Likumahuwa, Rega Dauna, Odi Purba, Rio Manuel, Timoti Hutagalung. Termasuk penyanyi, Dira Sugandi. Selain itu diajak serta juga Indra Lesmana, Cendi Luntungan dan Yance Manusama. Selain perkusionis Andika Monoarfa, yang menyediakan pula studionya, Bro’s Studio untuk menjadi salah satu studio rekaman album tersebut.

Jadinya memang sebuah proyek rekaman atas nama penghormatan dan penghargaan yang sangat layak bagi seorang gitaris yang sudah lebih dari 60 tahun bermusik, dari para musisi yang datang dari generasi kemudian. Dan ternyata ini adalah solo album kedua dari Oele Pattiselanno.

Album pertama solonya adalah Oele Plays Standard, diedarkan pada tahun 2006 oleh Musikita. Label tersebut milik musisi Dwiki Dharmawan. Dalam album itu, Oele bermain bersama 4 musisi asal Belanda. Yaitu drummer Peter Ypma, pianis Erick van de Lutj, Marcus Beets memainkan contrabass, dan Ab Schaap (tenor saxophone).

Kalau mendukung proyek rekaman lain, ada beberapa lainnya sebenarnya. Antara lain bisa disebut Talks yang adalah kolaborasinya dengan Riza Arshad, yang memainkan akordeon. Lalu album Jazz Masters dari Benny Likumahuwa. Atau OST film Rumah Ketujuh dari Indra Lesmana. Ada juga album Doa dan Restumu, dimana Oele bermain dengan Arief Setiadi dan Jeffrey Tahalele.

Adapun album dari Oele Pattiselanno, yang bersama Dewa Budjana dan Tohpati tersebut bertajuk Ode to You. Pada 22 April 2026, diedarkan terlebih dahulu single berjudul “Remember March”. Dan pada album yang direncanakan diedarkan dalam bentuk CD di bulan Mei mendatang, memuat 8 komposisi.

Ada karya mereka bertiga, “Remember March” dan “Ode to You”. Selain karya Tohpati dan Budjana, ada 2 karya Oele Pattiselanno sendiri yaitu “Lullaby” dan “Song for Geva”. Terselip juga lagu standard, “Body and Soul”, oleh Johnny Green.

Meneer Oele Pattiselanno, God zij met u.

Sukses untuk albumnya, tentu juga selamat kepada Dewa Budjana dan Tohpati. Album tersebut tentu saja menjadi album yang layak betul untuk dimiliki para penggemar musik Indonesia, terlebih untuk para penyuka jazz. XPOSEINDONESIA/dM*

Must Read

Related Articles