Jakarta, 13 Februari 2026 — Di tengah arus industri musik Indonesia yang kian riuh oleh tuntutan viral dan algoritma, nama Ika Putri kembali mengemuka dengan cara yang tenang namun penuh daya. Setelah hampir satu dasawarsa hiatus dari produksi rekaman, solois yang dikenal dengan karakter vokal lembut dan emosional ini resmi melaunching single terbarunya, “Sadis”, di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Single “Sadis” merupakan karya ciptaan Bebi Romeo yang diproduksi oleh BHS Productions dan diedarkan secara digital bersama Trinity Optima Production. Comeback ini bukan sekadar nostalgia. Ika Putri, yang sejak awal kariernya dikenal menjaga kedalaman rasa dan kejernihan interpretasi, kembali dengan kesadaran penuh bahwa lanskap industri telah berubah. Platform digital, playlist kurasi, hingga TikTok kini menjadi gerbang baru menuju popularitas.
Namun alih-alih terjebak pada gimmick viral, ia justru menegaskan identitas musikalnya: pop balada dewasa dengan lirik reflektif tentang cinta, luka batin, kesetiaan, dan penerimaan.
Sejak kemunculannya di era ketika musik pop Indonesia masih memberi ruang besar bagi kekuatan melodi dan narasi lirik, Ika Putri telah merilis tiga album dan sejumlah single yang membentuk benang merah estetika yang intim. Ia bukan figur yang bertumpu pada sensasi, melainkan bertumbuh lewat karya. Lagu-lagunya seolah berbicara langsung kepada pendengar yang pernah patah hati, menunggu, atau belajar ikhlas.
Hiatus hampir tujuh tahun sempat membuat namanya meredup dari peredaran arus utama. Dalam periode tersebut, Ika Putri memilih fokus pada proyek lain dan peran profesionalnya di luar panggung. Namun justru di situlah letak diferensiasinya hari ini. Ia kembali bukan sebagai penyanyi yang terdesak kebutuhan eksistensi, melainkan sebagai perempuan profesional yang mengelola karier musiknya dengan pendekatan manajerial yang matang—menggabungkan insting artistik dan strategi bisnis secara seimbang.
“Sadis” menjadi penanda babak baru itu. Lagu ini tidak sekadar mengisahkan cinta yang kandas, tetapi menggambarkan kekerasan emosional dalam relasi—pengkhianatan yang diam-diam, janji yang dibiarkan membusuk, dan luka yang tak kasat mata. Dalam versi Ika Putri, aransemen yang digarap Irwan Simanjuntak memberi ruang sunyi yang lapang bagi vokalnya untuk bercerita. Ia tidak meledak-ledak, melainkan menekan emosi ke dalam, membiarkan lirik berjalan perlahan dan menusuk tanpa perlu meninggikan nada. Justru dari kelembutan itu, rasa “sadis” terasa lebih menghunjam.
Strategi distribusi yang ia tempuh juga menunjukkan kecerdasan adaptif. Selain melakukan pendekatan konvensional melalui kunjungan radio, termasuk launching resmi di RRI Jakarta, Ika Putri menggandeng tim muda untuk melakukan penetrasi ke playlist digital. Hasilnya terukur. Dalam waktu kurang dari dua bulan, “Sadis” menembus lebih dari 115.000 streams dan masuk ke empat Official Playlist Spotify, termasuk “Woman of Indonesia” dan “Fresh Find Indonesia”. Angka tersebut menjadi validasi bahwa kualitas vokal dan kedalaman emosi masih memiliki ruang di tengah dominasi lagu-lagu instan.
Jejak prestasinya pun bukan perkara kecil. Sejak usia remaja, Ika Putri telah mengoleksi hampir 300 piala dari berbagai festival menyanyi, termasuk mewakili Indonesia di ajang internasional seperti Shanghai Music Festival pada 2001. Di sana ia meraih penghargaan Best Performance dan favorit dalam kategori solo, serta Best Stage Performance untuk kategori duet. Pengalaman panggung global itu membentuk disiplin vokal dan kematangan interpretasinya hingga hari ini.
Dalam peluncuran “Sadis” di RRI Jakarta, Ika Putri mengungkapkan bahwa membawakan lagu karya Bebi Romeo adalah impian lamanya. Ia menyadari lagu tersebut telah memiliki versi sebelumnya, namun justru di situlah tantangannya: menghadirkan sudut pandang perempuan yang lebih personal dan emosional. Dukungan keluarga, tim produksi, serta publicist menjadi fondasi yang menguatkan langkahnya kembali ke industri.
Kehadiran Ika Putri hari ini sekaligus menawarkan tesis menarik tentang keberlanjutan karier di industri kreatif. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan pada cita rasa bukanlah sikap kaku terhadap perubahan, melainkan komitmen menjaga kualitas di tengah transformasi. Viralitas mungkin mempercepat popularitas, tetapi konsistensi rasa membangun daya tahan.
Dengan materi lanjutan yang telah disiapkan—termasuk karya-karya baru yang akan dirilis dalam waktu dekat—Ika Putri memberi sinyal bahwa comeback ini bukan satu lagu semata. Launching di RRI Jakarta pada 13 Februari 2026 menjadi tonggak awal fase kedua kariernya: lebih matang, lebih strategis, namun tetap setia pada identitas musikal yang telah membentuk namanya.
Di blantika musik Indonesia yang sering kali bising oleh tren sesaat, Ika Putri hadir sebagai pengingat bahwa suara yang tenang pun mampu bergema panjang. Kadang justru dari kelembutan yang konsisten, musik menemukan cahaya dan ketahanannya sendiri. XPOSEINDONESIA/IHSAN



