Kamis, Januari 15, 2026

FFH Januari 2026 Tetapkan Janur Ireng sebagai Film Terpilih, Tren Film Horor Indonesia Dinilai Masih Cerah

Festival Film Horor (FFH) kembali menegaskan posisinya sebagai ruang refleksi dan evaluasi penting bagi perkembangan film horor nasional. Memasuki edisi ke-2 yang digelar pada Januari 2026, FFH tidak hanya menghadirkan penganugerahan Nini Suny Award bagi karya terpilih, tetapi juga membuka diskusi strategis mengenai arah dan tren film horor Indonesia ke depan. Kegiatan ini berlangsung di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Berbeda dari festival film pada umumnya, FFH dirancang sebagai forum bulanan yang fokus mendorong kualitas dan keberlanjutan genre horor nasional. Setiap edisi selalu diawali dengan diskusi publik yang melibatkan pelaku industri, akademisi, hingga pembuat film lintas generasi. Pada edisi Januari ini, tema “Trend Film Horor 2026” menjadi sorotan utama, seiring meningkatnya tantangan industri setelah genre horor sempat menjadi lokomotif perfilman nasional.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang beragam, mulai dari Syaifullah Agam selaku Direktur Film Kementerian Kebudayaan, Nini L. Karim dosen psikologi Universitas Indonesia sekaligus artis senior, Arya Pramasaputra mahasiswa pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, hingga dua sutradara yang tengah menunggu penayangan film horor terbarunya, Ivan Bandhito dan Bayu Pamungkas. Kelimanya sepakat bahwa tantangan terbesar film horor saat ini bukan sekadar menakutkan, melainkan menciptakan pengalaman yang berkesan dan relevan bagi penonton.

Menurut para pembicara, film horor perlu menghormati penontonnya dengan menghadirkan cerita dan atmosfer yang mampu membekas, tidak hilang begitu saja setelah keluar dari bioskop. Karya horor yang baik, mereka sepakat, setidaknya masih diingat dua hingga tiga hari setelah ditonton. Tanpa pembaruan dan keberanian bereksperimen, genre ini dikhawatirkan akan stagnan dan kehilangan daya tarik.

Syaifullah Agam dalam paparannya mengungkapkan bahwa pada periode 2021 hingga 2023, film nasional bergenre horor dan komedi mencatatkan capaian penonton yang sangat signifikan. Totalnya mencapai lebih dari 128 juta penonton, dengan rata-rata satu judul ditonton lebih dari 450 ribu orang. Angka tersebut menegaskan posisi film horor sebagai penggerak utama industri perfilman Indonesia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, jumlah penonton film horor menunjukkan tren penurunan.

Ia menilai kondisi ini harus menjadi alarm bagi para pembuat film untuk menghadirkan terobosan baru. Tanpa inovasi, film horor berpotensi mengalami nasib serupa dengan film-film bertema Islami yang sempat berjaya namun kemudian ditinggalkan penonton akibat formula yang berulang.

Pandangan lain disampaikan Nini L. Karim yang lebih memilih menyebut genre ini sebagai film mistik. Menurutnya, film mistik atau horor tetap harus berpijak pada akal sehat dan mampu diterima secara emosional oleh penonton. Ia menekankan pentingnya keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, mengingat penonton datang ke bioskop dengan kesadaran penuh dan rela membayar untuk merasakan sensasi takut yang berkualitas, bukan sekadar kejutan kosong.

Diskusi yang berlangsung dinamis tersebut kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang Nini Suny Award edisi Januari 2026. Film Janur Ireng dinobatkan sebagai Film Terpilih, sekaligus mengukuhkan dominasinya dengan Tora Sudiro sebagai Aktor Terpilih dan Kimo Stamboel sebagai Sutradara Terpilih. Penghargaan Aktris Terpilih diberikan kepada Wavi Zihan lewat perannya dalam Qorin 2, sementara kategori DOP atau Kameraman Terpilih diraih Enggar Budiono melalui film Dusun Mayit. FFH juga memberikan penghargaan khusus atas dedikasi dan pengabdian di dunia perfilman Indonesia kepada Eppie Kusnandar.

Melalui penyelenggaraan yang konsisten dan pendekatan diskusi yang kritis, FFH terus berupaya menjaga denyut genre horor nasional agar tidak sekadar mengikuti tren pasar, melainkan berkembang secara artistik dan berkelanjutan. Dengan dinamika ide dan semangat kolaborasi yang ditunjukkan pada edisi Januari ini, FFH menilai masa depan film horor Indonesia di tahun 2026 masih memiliki prospek cerah, selama keberanian berinovasi tetap dijaga. XPOSEINDONESIA/IHSAN Foto : Dudut SP

Must Read

Related Articles