
Dalam kunjungannya ke Jawa Timur, Jumat 22 Mei 2021, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno menggelar dialog dengan pelaku Ekraf juga para pengusaha di bidang pariwisata di Museum Panji, di Tumpang Malang.
Sandiaga dalam sambutannya menyebut Pandemi Covid 19 telah banyak memberi tekanan kepada pelaku Ekraf. Maka Kemenparekraf akan terus mengapresiasi semangat masyarakat, dan hadir dengan program program baru yang dapat meningkatkan ketrampilan pelaku usaha.
“Khususnya di bidang digital juga pelaksanaan protokol Kesehatan. Kita ingin mereka mampu mengambil peluang agar menjadi pengusaha yang naik kelas di masa depan!” ungkap Sandiaga
Yang kedua, menurut Menteri, Pandemi Covid 19 ini telah memaksa kita untuk hadir dengan kebijakan yang berkeadilan, langsung menyentuh dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Ekraf.
Dalam kerangka hadir dengan kebijakan berkeadilan tersebut, Kemenparekraf bersama Pemerintah telah menyusun beberapa program, antara lain Dana Hibah Pariwisata, Program Bantuan Insentif Pemerintah, Program Pelatihan dan Pendampingan.
“Saya akan memastikan bahwa semua program itu akan tepat sasaran, berkeadilan, dan ditujukan untuk masyarakat yang betul betul membutuhkan, sehingga mereka bisa membuka lapangan kerja seluas luasnya. Kami juga minta pada masyarakat untuk mengawal program tersebut,” ujar Menteri.
Deputi Industri dan Investasi Kemenparekraf, Fajar Utomo, menambahkan, bahwa Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) sebetulnya merupakan program lama yang sudah tiga tahun dilaksanakan.
Tahun ini total anggaran BIP berkisar sekitar 60 Milyar, dan akan diberikan untuk 5 sub sektor, serta usaha yang ada di desa wisata.
“Insya Alllah di awal bulan Juni, kita sudah bisa launching. Tentunya ini diberikan secara selektif dan setelah melalui proses kurator!” kata Fajar
Pariwisata Era Baru=Serba Digital.
Menteri Sandiaga menyebut datangnya Pademi Covid 19 telah memaksa kita semua untuk bisa menyesuaikan penyelenggaraan pariwisata dengan era baru “Personal life, costumize, look life dan small ring size. Justru kuantitasnya lebih sedikit, tapi kualitasnya lebih meningkat,” ungkap Menteri.
Sementara itu Fajar Utomo menyebut, dengan adanya serba keterbatasan karena Covid, “Kita tidak bisa menghentikan semua kegiatan, tetapi melaksanakan kegiatan dengan sembrono, juga bukan pilihan baik. Karena itu satu satunya pilihan adalah menjalankan kegiatan dengan kehati-hatian sesuai pelaksaaan protokol CHSE. “
Sementara itu Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf Muhamad Neil El Himam mengajak pelaku ekraf, terutama UMKM untuk segera masuk ke digital dan memanfaatkan plafform e commerce, seperti yang telah dilakukan di Danau Toba lewat #BelikreatifDanauToba.
“Kami memberikan pedampingan, pelatihan sehingga pelaku Ekraf benar benar bisa dapat memasarkan produknya dengan lebih baik!”
Neil mengakui pada tahap awal memasuki dunia serba digital, tentu belum bisa berjalan 100 persen sempurna. Untuk bidang pariwisata, misalnya. “Karena adaptasi baru, kami pernah punya program interaktif virual tourism, di mana pelaku pariwisata, terutama pemandu wisata, bisa memandu wisatawan dengan gadget. Wisatawan bahkan juga bisa bertanya pada pemandu. Namun saat uji coba di Labuan Bajo, pelaksanaannya belum bisa lancar karena persoalan jaringan yang membuat komunikasi masih sering terputus-putus!” XPOSEINDONESIA Teks dan Foto : Dudut Suhendra Putra