Memburu Matahari  Terbit di Nepal van Java

02 October 2020

Hari terakhir Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf)  melakukan liputan ke Jawa Tengah,  Rabu, 30 September 2020,  kami terjadwal untuk mengunjungi  kawasan wisata Nepal van Java.

Lokasi menunju Nepal van Java berada di dusun Butuh, Desa Temanggung Kali Angkrik berjarak sekitar 21,5 kilometer dari pusat Kota Magelang. Waktu tempuh dari titik ini adalah sekitar satu jam. Namun, karena rombongan kami menginap  di Jambu Luwuk Malioboro, di Yogyakarta, waktu tempuh menjadi lebih panjang.

Dan kelihatannnya, meski pandemi Covid-19 masih belum jelas kapan akan berakhir, tetapi wisatawan tetap saja terihat membanjiri kawasan ini.

Menyerap Udara Segar Pegunungan

Cita-cita untuk memotret matahari pagi di Nepal van Java membuat kami harus berangkat menuju lokasi pada pukul 03.00 dini hari.  Niat kami memang untuk menyambut matahari terbit dari kaki Gunung Sumbing, di tengah udara luar biasa segar pegungungan. Sejak awal mengikuti rombongan Forwaparekraf, saya pribadi tidak pernah membayangkan kondisi  jalan menuju titik potret  sunrise ini akan  dilalui dengan menanjak dratis,  sekaligus menukik ketika dalam perjalanan pulang. 

Sebagai fotografer, saya tertantang untuk sampai ke lokasi  pemotretan matahari terbit, yang harus dilalui dengan menyewa ojek motor trail  milik penduduk, yang mematok tarif sekali jalan Rp 20.000,- 

Bagi teman-teman yang tidak tertarik naik ke atas, bisa melakukan foto-foto di bagian pintu masuk. Latar belakang foto akan memperlihatkan pemandangan perumahan penduduk yang bertingkat-tingkat dengan latar belakang Gunung Sumbing. Untuk mendapatkan foto begini, setiap orang wajib membayar sebesar Rp 2.000,- 

Sementara itu, perjalanan saya dengan menyewa jasa ojek motor trail berjalan tidak mudah. Selain harus melewati jalan curam di beberapa titik, kondisi jalan pun tidak rata dan penuh berbatuan. 

Sebagai penumpang, kita wajib memegang erat  pinggang pengemudi ojek dan harus bisa mengimbangi ritme pengemudi, terutama saat ia berbelok atau  menanjak. 

Sementara rumah-rumah warga tampak seolah benar-benar bertingkat atau bertumpuk seperti di Nepal. Pemandangan rumah penduduk dan latar belakang kabut tetap dapat menembus Gunung Sumbing yang memiliki 3.371 m di atas permukaan laut. 

Matahari  Tercantik di Belakang Merapi

Untuk sampai ke titik pemotretan matahari terbit  atau di desa Kampung Butuh dengan ketinggian 1700 mdpl tersebut, dibutuhkan waktu 15 menit berkendara ojek. 

Jika kita datang di bulan September, atau biasanya sudah memasuki musim hujan, posisi pagi di lokasi ini akan tertutup kabut.  Suhu udara akan mencapai 13 derajat.

Sebaiknya, jika ingin nyaman mengunjungi lokasi ini, datanglah pada bulan Mei-Agustus atau musim kemarau. Di mana cuaca Nepal van Java dengan latar belakang Gunung Sumbing akan jelas terlihat dalam cuaca cerah. Langit biru di angkasa makin mempercantik pemandangan. Kombinasi indah bersanding dengan hijaunya Gunung Sumbing.

Ketika  sampai dititik pemotretan, meski saya  masih merasakan ngerinya berkendara motor trail tadi, saya tidak  membuang waktu  dan langsung memotret.  

Untungnya, posisi matahari belum sepenuhnya naik. Jadi saya bisa dengan leluasa membidiknya dari balik kamera. 

Warna cakrawala sebagian masih gelap gulita, sebagian lagi memerah jingga.Perlahan-lahan matahari menyembul  dari balik  Gunung Merapi.  Dari separuh, perlahan lahan membulat penuh. Sungguh karunia  Illahi dan tak ada dua dan tak tergantikan.

Di puncak ini, kita bisa melihat  awan berada di kaki kita dan menyelimuti rumah rumah penduduk. Sebuah pemandangan langka, yang tidak bisa kita temukan sama sekali Ketika kita berada di Ibukota. 

Usai memotret, saya wajib segera turun. Karena kabut mulai menyelusur dan menghalangi pandangan. 

Selama turun ke bawah, kita   akan bertemu dengan para penduduk yang akan melakukan aktivitas di pagi hari, di ladang mereka.

Mayoritas penduduk yang menjadi petani, rata rata telah berusia tua. Tapi tak terlihat ada kelelahan di wajah mereka. Meski mereka memanggul hasil panen dari ladang mereka yang berada  di kaki gunung. 

Hari ini pengalaman saya bertambah lengkap. Bukan hanya sekedar memotret matahari. Tapi juga memotret denyut kehidupan masyarakat di sekitar Nepal van Java.  XPOSEINDONESIA Teks dan Foto  Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Friday, 02 October 2020 17:33
Login to post comments