Ada Semburat Pelangi di  Kampung Wonosari 

29 September 2020

Warna warni  yang mencolok pada dinding ratusan rumah di pemukimam itu sangat mencerahkan mata  sekaligus menyenangkan.  Berjalan di antara gang sempit akan segera terlihat beragam gambar dan beberapa slogan heroik di  berbagai tembok. 

Bukan hanya tembok dan atap yang berwarna warni, jalanan di kampung ini pun juga diwarnai. Suasana kampung terasa lebih hidup dan menyenangkan. Perasaan inilah yang  muncul ketika  rombongan Presstour Forwarpar memasuki Kampung Pelangi di Jalan Dr. Sutomo – Semarang.

Ketua Kelompok Desa Wisata (POKDAWIS) Slamet Widodo (biasa dipanggil juga dengan Den Slawi)  saat menyambut rombongan Presstour Forwarpar menjelaskan, kampung  yang terdiri dari  dua rukun warga  (RW) dan  satu kelurahan  Wonosari Semarang Selatan  ini, dulunya sangat kumuh. 

“Karena letak perkampungan di lereng bukit, semakin terlihat jelas kumuhnya. Karena  bentuk tembok tak beraturan dan juga tidak dicat. Kondisi diperparah dengan sungai di belakang pasar  Kembang Kalisari .yang belum terurus,” kata Slamet Widodo  28/09/2020

Menurut Slamet, ketika Pemkot merevitalisasi pasar Kembang Kalisari yang  terdapat  di  bagian depan (jalan raya) menjadi cantik dan indah, di sisi lain masih  menyisakan pemandangan kumuh perkampung  yang letaknya persis  di belakang pasar Kembang. 

Slamet  yang juga guru SMK Muhammadiyah Semarang ini,  kemudian menyampaikan kepada Pemkot, “jika revitalisasi pasar bunga selesai,  saya minta kampung Wonosari dicat untuk mendukung keindahan pasar bunga,” ungkapnya  .

Dan Pemkot merespon dengan membuat program revitalisasi kampung Wonosari menjadi kampung tematik warna-warni yang belakangan disebut Kampung Pelangi. 

“Pak Hendilah (Walikota Hendrar Prihadi) orang yang pertama kali menyebut kampung pelangi saat peresmian  pada 2 Mei 2017,” kata Slamet lagi.

Slamet menyebut, Pemkot Semarang  bukan hanya membangun kampung menjadi memikat  bagi orang luar Semarang, tetapi juga memberi pelatihan kepada warga untuk membuat kerajinan, kuliner, dan pengelolaan lingkungan. 

“Tujuan utama Pemkot mengubah kampung ini selain untuk meningkatkan taraf hidup, juga untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kampung Wonosari tidak kumuh seperti dulu lagi. Tapi sudah menjadi destinasi wisata di Kota Semarang,” kata Slamet

Menurut Slamet, terbentuknya Kampung Pelangi memberi harapan untuk mengubah karakter warga yang cinta kebersihan dan keindahan. 

“Awalnya Wonosari tidak akan dicat, tapi dijadikan kampung tematik penyangga pasar bunga. Namun belakang muncul ide untuk mengecat rumah-rumah warga dengan cat warna warni,” papar Slamet.

Kampung Pelangi Saat Pandemi

Menurut Slamet, sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, banyak wisatawan datang berkunjung ke Kampung Pelangi. Mereka datang dari sekitar Semarang, bahkan juga dari luar negeri! Karena kampung ini  telah menjadi salah satu tempat favorit banyak orang untuk berfoto. Tidak heran kalau mencari #KampungPelangi di akun Instagram, ada ribuan foto yang akan muncul.  

Meski jumah wisatawan  tidak mnentu alias fluktuatif, tetapi selalu ada yang datang. Dan itu berarti memberi berkah kepada warga yang kesehariannya membuka usaha rumah tangga seperti kerajinan dan warung.

Namun dengan Pandemi Covid-19, praktis  minim sekali jumlah  wisatawan yang datang, dan pendapatan masyarakat yang selama ini banyak terbantu dari kunjungan wisatawan praktis tanpa penghasilan.  “Warga banyak beralih profesi dengan membuat bunga imitasi yang ditawarkan kepada pedagang bunga untuk asesoris karangan bunga. dan sebagian lagi warga membuat kreasi atau kerajinan dari bahan daur ulang,” ungkap Slamet XPOSEINDONESIA Teks dan Foto : Dudt Suhendra Putra

More Pictures

 

Last modified on Tuesday, 29 September 2020 09:05
Login to post comments