Desa Wisata Cibuntu : Wisata Asri & Indah di Bekas Tambang 

30 August 2020

Di hari kedua kegiatan Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf)  bertajuk  ‘Press Tour & Seminar Series: Bandung, Kuningan & Cirebon‘ terjadwal berkunjung ke Desa Wisata Cibuntu, di Kecamatan Pasawahan, Kuningan (28/8). 

Kabupaten Kuningan memiliki beberapa tempat wisata alam yang indah, sejuk dan menarik dikunjungi. Salah satunya  Desa Wisata Cibuntu, yang merupakan  Desa Wisata berbasis komunitas terbaik di Indonesia.  

Desa ini awalnya merupakan bekas penambangan pasir yang dibiarkan penambangnya,  setelah tidak memiliki nilai ekonomis. Di bawah komando Kepala Desa, Haji Awam, area yang dilintasi sebuah kali itu disulap jadi tempat wisata yang  kini banyak dikunjungi wisatawan domestik.

Saat Rombongan  Forwaparekraf  berkunjung Jumat  lalu, H. Awam menyambut dengan hangat. Anak-anak dari Sanggar Desa Cibuntu bergantian menari, main angklung dan terakhir menarikan tetenong besar, alat masak di kepala.

Keramah tamahan warga desa langsung terasa dengan sambutan serta minuman sereh dan umbi-umbian sebagai snack.

Dalam sambutannya, H. Awam mengatakan bahwa kondisi alam dan peninggalan leluhur yang ada di desa ini adalah berkah bagi mereka. Dan menjadi kebanggaan seluruh warga. Karena kondisi itu pula Cibuntu mendapatkan predikat desa wisata terbaik kedua di Indonesia dari Kementerian Pariwisata.

Menurut Awam, kekuatan Desa Cibuntu adalah menampilkan kesederhanaan yang sudah ada di tanah itu sejak lama. Di sini masih banyak peninggalan bersejarah, tempat tempat keramat, arca dan lain-lain. 

“Kami bangga menjadi bagian dari Desa Wisata Cibuntu yang memiliki daya tarik, bukan sebagai hiasan. Kami juga melakukan pembinaan  berkesinambungan,” tutur Awam dalam kata sambutannya,  Jumat (28/8).. 

Menurut Awam,  komitmen komunitas masyarakatnya dalam menjaga keberadaan Desa Wisata Cibuntu jadi kekuatan utama.

Pengembangan kawasan wisata dengan luas sekitar 6 hektare tersebut, seluruhnya diperuntukkan bagi sekitar 1.000 warga, baik dari sisi investasi maupun pengelolaan.

Karena itu, komunitas pariwisata Desa Cibuntu tidak mau menerima pihak luar yang ingin menanam modal dalam pengembangan Desa Wisata Cibuntu. 

"Saya memprotect warga jika ada yang menjual tanah. Pembelinya harus warga desa sendiri. Bukannya kami menolak investasi, tapi kami harus mensejahterakan warga Desa Cibuntu," tegasnya.

Di luar itu, menurut Awam, “Masyarakat desa selalu menjaga Sapta Pesona sebagai acuan mengelola keberlangsungan Desa Wisata ini,” terangnya.

Sapta Pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah di Indonesia Sapta Pesona terdiri dari tujuh unsur yaitu , Keamanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramah Tamahan  dan Kenangan.

Program ini disiapkan sebelum RI menggelar Visit Indonesia Year 1991 dengan tujuan  untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi tuan rumah yang baik.

Sapta Pesona kini oleh Kemenparekraf ditransformasi menjadi Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE).

Menyesuaikan dengan era pandemi global di mana setiap langkah pemerintah menjadi sorotan dunia, maka Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan yang menjadi inti CHSE juga sama dengan tujuan Sapta Pesona.

Situs Bersejarah, Kandang Domba & Mata Air Kehidupan 

Untuk menuju lokasi ini, jika Anda datang dari wilayah Cirebon, rute yang dilalui adalah melalui Cirebon – Sumber (Plangon) – Mandirancan – Paniis – Cibuntu yang berjarak sekitar 30 km. 

Suasana desa asri, bersih, udara sejuk juga ramah tamah penduduknya, langsung terasa ketika Anda menginjak kaki di sini. Kondisi ini pula yang  membuat pengunjung betah berwisata ke Desa Cibuntu.

Di sini, Wisatawan dapat menyaksikan kesenian dari bambu seperti angklung, calung, seruling di saung di Pojok Awi. 

Bisa juga melihat dari dekat peternakan domba. Karena  Desa Cibuntu memang memiliki Kampung Domba.  Dengan kendang-kandang yang tertata rapih. Dari jauh,  kendang itu sepintas mirip rumah-rumah penduduk. Padahal itu kandang domba yang beratapkan genting dari tanah liat.

Selain dapat melihat situs-situs megalitikum dan situs peninggalan kerajaan, wisatawan dapat melihat dari dekat mata air “Ci Kahuripan”. Ci artinya air, Kahuripan artinya hidup. Air  itu aman diminum langsung. 

Tak jauh dari mata air tersebut, ada kawasan konservasi bambu petung. Di kawasan konservasi, wisatawan dapat menjumpai air terjun. Namun, di saat kemarau, debit airnya akan menyusut.

Jika tertarik untuk bermalam, tak perlu khawatir. Di Cibuntu ada 60 homestay yang merupakan rumah warga. Bahkan ada homestay yang mendapat penghargaan homestay terbaik tingkat ASEAN dengan biaya Rp100 ribu per orang per malam. Harga tersebut belum termasuk biaya makan.

Jika ingin merasakan berpetualangan di alam terbuka, terdapat pula camping ground, dengan sewa sebesar Rp 100 ribu per tenda. Uniknya, di areal camping ground  ini terdapat kolam renang yang airnya berasal dari Gunung Ciremai. XPOSEINDONESIA Teks dan Foto : Dudut Suhendra Putra

More Pictures

 

 

 

 

 

 

 

Last modified on Sunday, 30 August 2020 08:47
Login to post comments