Print this page

Perjalanan Menantang ke Geopark Belitung

08 August 2019
Perjalanan Menantang ke Geopark Belitung

Pulau Belitung merupakan bagian dari Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang memiliki pukau dan keelokan wisata alam yang tak kalah dari daerah lain di Indonesia.  Karena daya pikat semua itu, pemerintah pun menetapkan Belitung sebagai satu dari 10 destinasi wisata baru setelah Bali.

Salah satu keunikan Pulau Belitung ialah adanya bebatuan granit yang berusia ratusan juta tahun. 

Ada pula berbagai peninggalan sejarah, khususnya pertambangan timah. Faktor-faktor tersebut membuat pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, menyetujui penetapan Geopark Belitung sebagai geopark nasional.

Geopark Pulau Belitung memiliki 12 geosite yang terletak di dua kabupaten, yakni Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. 

Salah satu yang paling populer ialah Open Pit Nam Salu, Kelapa Kampit, di Belitung Timur, dengan latar belakang sejarah pertambangannya.

Beberapa waktu lalu, XposeIndonesia ikut dalam Famtrim Exploring Bangka Belitung 2019 bersama berbagai media dan agent travel,  dan melihat  dari dekat bekas tambang timah  jaman Belanda itu. Terlihat danau berwarna hijau,   yang suguh menarik dan jarang kami temukan. 

Untuk mencapai geosite di kaki Gunung Kik Karak itu, kami menyusuri lereng gunung sejauh 400 meter dengan berjalan kaki yang masih berbatu dengan posisi menanjak. Dalam keadaan jalan santai  dibutuhkan  waktu  lebih kurang 30  menit utuk mencapai puncaknya.

Dari papan informasi yang terpasang di pinggir jalan, termuat  mengenai sejarah Open Pit.  Kita tinggal  menempelkan  handphone, dan  kemudian  melakukan scan barcode, untuk membaca informasi yang tertera di sana. 

Dari sejarahnya, Open Pit adalah penambangan timah  terbuka dan terdalam pertama, bukanya hanya di Pulau Belitung, melainkan juga di Indonesia.

Setelah mendapat kilasan sejarah Open Pit, kami melanjutkan perjalanan. Berbagai tumbuhan dan rindangnya pepohonan menyertai perjalanan kami. Jalanan rusak yang menanjak ditambah medan bebatuan berwana kuning kemerahan yang licin, membuat  kami wajib harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset. Ini memang perjalanan menantang, dibutuhkan kesiapan fisik prima untuk menaklukannnya.

Sampai di bagian puncak, terasa  putaran angin bertiup sangat kencang. Dibutuhkan kehati-hatian ekstra untuk  berdiri di posisi ini. Di kanan kiri terpasang rantai pengaman, agar wisatawan  tidak  terpeleset.

Awalnya, tambang ini dibuka oleh perusahaan tambang kongsi Tiongkok pada 1906 di era NV Billiton Maatschappij (BM).  

Penambangan pertama  tercatat sedalam 51 meter  dan ditemukan urat timah baru.  Dalam masa dua tahun pertama, tambah ini menghasilkan 1.617 pikul timah.

Kemudian, sejak 1945 operasi penambangan dilakukan Perusahaan Pertambangan Timah Belitung (PPTB) milik Pemerintah RI berkedudukan di Tanjung Pandan. Namun, berakhir pada 1985 dan kini menyisakan ceruk luas yang menganga dan menjelma danau.

Hermanto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung mengatakan salah satu keunggulan pariwisata di Belitung adalah keberadaan geopark sebagai daya tarik wisata alam.

“Potensi geopark Belitong juga didukung oleh penetapan wilayah Tanjung Kelayang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Oleh karenanya, upaya pengembangan destinasi di kawasan Geopark Belitong harus menjadi kesatuan pembangunan kepariwisataan berbasis konservasi maupun edukasi di Belitung,” katanya. XPOSEINDONESIA/Foto : Dudut Suhendra Putra.

More Pictures

Last modified on Thursday, 22 August 2019 16:06
XPOSE INDONESIA
Login to post comments