Dominasi Tenun Sumba Timur pada Festival Sandalwood 2019

15 July 2019

Festival Sandalwood 2019 yang resmi dibuka pada Kamis (11/7) menghadirkan warna warni tenun Sumba. Beragam motif ditampilkan seperti motif tenun Kaliuda dan Kambera. Suasana semakin kental dengan kehadiran 200 penenun dari Kambera dan Kanatang yang memenuhi Lapangan Pahlawan, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Beragam motif tenun bisa dijumpai di setiap sudut venue, karena seluruh stand memajang tenun. Tak hanya penjual dan peserta yang hadir , namun mayoritas pengunjung mengenakan tenun khas Sumba.

Prosesi pembukaan diawali dengan Tari Ninggu Harama yang menjadi gerak tari penyambutan para tamu. Ada juga sajian lagu-lagu khas Sumba Timur dengan iringan Jungga. Setiap aksi budaya tersebut disambut dengan Kalakak yakni yel-yel khas Sumba. 

Lalu ada juga penampilan Fashion Show bermotif tenun oleh 12 orang milenial Sumba Timur.

“Festival Sandalwood 2019 menjadi event bersejarah. Sebab, beragam tradisi budaya ditampilkan. Saat ini tenun Sumba Timur terus menjadi daya tarik wisata. Tenun Sumba Timur makin maju dengan tradisi yang dilestarikan. Apalagi, masyarakat Sumba Timur sudah menenun sejak lama,” kata Bupati Sumba Timur, Gidion Mbiliyora.

Memberikan pendapatnya, Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Event (CoE), Esthy Reko Astuti mengatakan bahwa tradisi budaya Sumba masih dipertahankan dengan sangat bagus di sini, seperti tenun. Tenun Sumba Timur sangat terkenal karena motifnya sangat unik. Secara historisnya juga sangat mengispirasi,” terangnya.

Sumba Timur memiliki sekitar 5 motif tenun, dan beberapa diantaranya merupakan motif yang sakral. Sebab, pada zaman dahulu motif tenun ini hanya boleh digunakan oleh raja atau kaum bangsawan seperti Kaliuda dan Kambera. 

Motif Kaliuda memiliki ciri utama warna merah, meski juga dikembangkan dasar biru dn corak utamanya simbol Sumba, seperti Njara (Kuda) dan Manu (Ayam).

Dalam perkembangannya, Motif Kaliuda juga mengadopsi corak Penyu. Corak Penyu menjadi simbol kebesaran. Untuk corak Njara menggambarkan kekuatan dan karakter tegas masyarakat. Corak Manu menjadi simbol penghidupan. 

Motif Kaliuda menggunakan pewarnaan alami. Warna merah diambil dari akar Mengkudu (Kombu) yang diramu dengan daun Loloba. Ada juga penggunaan minyak kemiri dan dicampur kulit mangga. Setelah direndam lagi, bahan baku tenun lalu dijermur dan ditreatment serupa.

Sementara motif sakral lainnya adalah Kambera yang pada zaman dahulu, motif ini hanya boleh dikenakan raja dan bangsawan. Secara umum ada 3 corak, seperti Rusa, Ayam, dan Patularatu. Untuk corak Patularatu melambangkan kebesaran dari karakter raja dan para bangsawan. Lalu, motif Kambera didominasi oleh warna biru. Warna ini diperoleh dari Daun Nila (Wora). Kambera banyak dijumpai di daerah Marada, Lambatapu, Kalu, dan Prailiu.

Untuk atraksi unik lainnya, wisatawan bisa melihat dari dekat proses pembuatan tenun di Festival Sandalwood 2019, juga bisa ikut belajar. - XPOSEINDONESIA Teks dan Foto :  AM

More Pictures

 

Last modified on Monday, 15 July 2019 18:31
Login to post comments