Semua Destinasi Wisata di Indonesia Bakal Tersertifikasi Pariwisata Berkelanjutan

26 March 2019

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menargetkan semua destinasi wisata di Indonesia bisa tersertifikasi pariwisata berkelanjutan sebagai syarat untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia.

"Target Indonesia menjadi destinasi wisata berkelanjutan kelas dunia. Untuk ini Kemenpar menerapkan program Sustainable Tourism for Development (STDev) yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan yang mengadopsi standar internasional dari GSTC atau Global Sustainable Tourism Council,” kata Arief Yahya dalam jumpa pers seusai acara peluncuran sekaligus dimulainya pendaftaran ISTA 2019 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Senin malam (18/3/2019).

Untuk mendukung target tersebut, Kemenpar kembali menggelar Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA) 2019 yang tahun ini memasuki penyelenggaraan tahun ketiga. ISTA menjadi sarana pemerintah untuk memberikan penghargaan kepada masyarakat sekaligus mengukur implementasi pariwisata berkelanjutan dalam pengelolaan destinasi wisata di Indonesia.

Ajang ISTA 2019 menawarkan total hadiah Rp1 miliar dan diharapkan menjadi sarana sosialisasi dalam mewujudkan target Kemenpar agar semua destinasi pariwisata di Tanah Air tersertifikasi berkelanjutan sebagai syarat menjadi destinasi wisata kelas dunia.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi penyelenggaraan ISTA 2019 yang menargetkan jumlah peserta semakin banyak dan hadiah yang makin besar.

Arief Yahya menjelaskan, setelah diarahkan sebagai sektor andalan penyumbang devisa negara, sektor pariwisata di Indonesia dari sisi kesiapan destinasi ditumbuhkan melalui konsep pariwisata berkelanjutan. 

“Penyelenggaraan Indonesia Sustainable Tourism Awards ini adalah langkah awal menuju sertifikasi destinasi berkelanjutan. Saya telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan yang dipimpin oleh Valerina Daniel,” kata Arief Yahya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Valerina Daniel menjelaskan, pariwisata berkelanjutan merupakan program Kemenpar yang selaras dengan tujuan pembangunan global (Sustainable Development Goals) dan sudah diadopsi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

“Saat ini Permenpar baru sebatas memberikan pedoman tentang destinasi wisata. Ke depan, akan diperkuat dengan aturan yang mencakup standarisasi berkelanjutan bagi industri, seperti hotel dan biro perjalanan. Untuk menjadi sektor andalan, pariwisata harus memberdayakan semua pihak,” kata Valerina Daniel. 

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman menjelaskan, Kemenpar telah membentuk Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC) yang bertugas melakukan sertifikasi bagi destinasi. Prosesnya akan dimulai dengan menyertifikasi destinasi pemenang ISTA 2017 dan 2018 yang dinilai telah mematuhi standar …

Menpar Sarankan Aceh Bentuk KEK Pariwisata

Sementara itu, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengusulkan agar Aceh membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata.

Usul ini disampaikan Menpar Arief Yahya kepada PLT Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan Kadisbudpar Aceh Jamaluddin saat Launching Calendar of Event (CoE) Aceh 2019 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Jumat (22/3). Usulan disampaikan Menpar dengan pertimbangan bahwa KEK pariwisata memiliki beberapa keunggulan, terutama dalam hal kemudahan perizinan bagi investor.

"Tantangan negara yang terbesar adalah dalam perizinan karena birokrasinya berbelit-belit dan KEK akan memudahkan. Lihat saja Nusa Dua Bali, prosesnya sangat mudah dan itu kelebihan dari KEK. Kelebihan yang kedua adalah pelayanan dan yang ketiga saat menjadi KEK maka infrastruktur dan fasilitas dasar akan didukung penuh oleh pemerintah," ujar Menpar. 

Usul Menpar membentuk KEK pariwisata di Aceh bukan tanpa dasar, terlebih dengan mempertimbangkan sektor pariwisata Aceh yang berkembang serta tingginya minat masyarakat untuk menjadikan Aceh sebagai salah satu tujuan wisatawan. Bahkan, Aceh saat ini sedang bersiap menuju target sebagai salah satu world best halal destination. 

Posisi Aceh sebagai destinasi halal memang tidak diragukan. Saat ini Aceh bersama dengan Lombok sedang mengarah untuk menjadi destinasi wisata halal. Namun untuk saat ini, Aceh masih menghadapi masalah aksesibilitas. Untuk itu Menpar menawarkan insentif bagi airlines yang mau membuka rute baru ke Aceh. 

"Untuk itu bila ada airlines yang mau membuka rute baru penerbangan, Kemenpar akan memberikan insentif hingga 50%. Kemenpar juga akan memberikan subsidi di awal-awal bagi flight yang membuka rute baru karena demand-nya pasti masih kecil. Terutama rute flight dari dan ke China Selatan serta India," ujar Menpar.

Wisatawan dari China Selatan dan India, diakui Menpar Arief Yahya merupakan segmentasi wisatawan yang dapat ditarik ke Aceh. "China Selatan yang mayoritas Muslim memiliki potensi sebagai kantong wisatawan. Kesukaan mereka adalah pantai dan ikan cakalang. Selain China, India juga bisa ditarik karena 40% penduduknya adalah Muslim," jelas Menpar. 

Lebih lanjut, dari segi atraksi Menpar meminta beberapa nilai seperti creative value, commercial value, dan consistency diperhatikan. "Creative value misalnya dengan menggunakan koreografer dengan nama yang mendunia dan desainer untuk memoles gerakan serta kostum penari Aceh. Sementara itu, commercial value terkait dengan investasi untuk menarik orang. Komposisinya preevent harus 50%, on event 30%, dan post event  20%. Terakhir, consistency, event-event dapat masuk CoE asalkan konsisten dilakukan dalam tiga dan empat tahun," ujarnya.

Aceh memiliki berbagai potensi pariwisata baik alam, budaya, maupun buatan untuk menarik wisatawan. Dalam laporannya, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menjelaskan jumlah kunjungan wisatawan di Aceh terus meningkat dan target yang ingin dicapai pada 2019. 

"Jumlah kunjungan wisatawan Aceh terus meningkat dari waktu ke waktu, pada 2017 Aceh mampu menarik 2,3 juta wisnus, jumlah ini meningkat pada 2018 menjadi 2,5 juta wisnus. Pada 2019, Aceh ditargetkan mampu menarik 2,7 juta wisnus. Untuk 2019, Aceh juga menargetkan bisa menarik 150 ribu wisman dan 40.000 wisatawan Muslim," ujarnya. XPOSEINDONESIA Teks Biro Komunikasi Publik Foto ; Dudut Suhendra Putra 

 

Last modified on Thursday, 04 April 2019 16:03
Login to post comments