<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">

<channel>
	<title>Zinggara Hidayat &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<atom:link href="https://xposeindonesia.com/tag/zinggara-hidayat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<description>News And Entertaiment</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Sep 2022 14:22:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/04/cropped-Xpose-favicon-32x32.png</url>
	<title>Zinggara Hidayat &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233386640</site>	<item>
		<title>Nasionalisme dalam Film Bukan Cuma Perlawanan Terhadap Kolonial</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/travel/news/nasionalisme-dalam-film-bukan-cuma-perlawanan-terhadap-kolonial/</link>
					<comments>https://xposeindonesia.com/travel/news/nasionalisme-dalam-film-bukan-cuma-perlawanan-terhadap-kolonial/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2022 07:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Dennny Siregar]]></category>
		<category><![CDATA[webinar FFWI 2022 seri ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Wina Armada]]></category>
		<category><![CDATA[Zinggara Hidayat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=11929</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="0 sayap sayap" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap.jpg 1200w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Sukses film “Sayap-Sayap Patah&#8221;&#160; yang meraih lebih dari 2 juta penonton itu, sama sekali tak diduga oleh Produser Eksekutifnya sendiri Denny Siregar, tokoh, yang selama ini dikenal &#160;pula sebagai aktivis sosial media dan penulis. Menurut Denny, film “Sayap-Sayap Patah” &#160;yang mengangkat kisah drama fiksi,&#160; berdasarkan peristiwa kerusuhan di Mako Brimob pada 2018,&#160; dan menewaskan 5 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sukses film “Sayap-Sayap Patah&#8221;&nbsp; yang meraih lebih dari 2 juta penonton itu, sama sekali tak diduga oleh Produser Eksekutifnya sendiri <strong>Denny Siregar</strong>, tokoh, yang selama ini dikenal &nbsp;pula sebagai aktivis sosial media dan penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Denny, film “Sayap-Sayap Patah” &nbsp;yang mengangkat kisah drama fiksi,&nbsp; berdasarkan peristiwa kerusuhan di Mako Brimob pada 2018,&nbsp; dan menewaskan 5 anggota&nbsp;<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Densus_88">Densus 88</a> itu, sempat diprediksi beberapa kalangan akan gagal. Apalagi jadwal tayang bersamaan dengan meledaknya kasus Ferdy Sambo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mendadak kasus itu (Ferdy Sambo) meledak, dan membuat orang berpikir film ini akan flop di awal,” ungkap Denny Siregar dalam Webinar:<strong>Nasionalisme dan Film</strong> yang diselenggarakan <strong>Festival Film Wartawan Indonesia</strong> (FFWI ke XII), Jumat, 16 September 2022.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diakui Denny, perkiraan banyak orang itu hampir betul. “Karena di hari pertama ditayangkan Sayap-Sayap Patah hanya ditonton 14.000 orang, kemudian naik secara perlahan ke angka 46.000 dan selanjutnya bergerak sampai 2 juta lebih,” ungkap&nbsp; Denny</p>



<p class="wp-block-paragraph">Denny mengaku tidak punya dana promosi besar untuk filmnya. Sukses film ini&nbsp; disebut oleh Denny&nbsp; bukan semata-mata karena akting<strong> Nicolas Saputra</strong> dan<strong> Ariel Tatum</strong>, melainkan&nbsp; karena digerakan oleh postingan netizen yang &nbsp;mendadak viral lewat TikTok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ada&nbsp; netizen yang mengunggah ending adegan dia menangis&nbsp; saat menonton film ini ke Tik Tok. Itulah yang membuat masyarakat penasaran, kemudian ingin menangis berjamaah di bioskop lewat &nbsp;‘Sayap-Sayap Patah’,”&nbsp; ujar Denny.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film “Sayap-Sayap Patah”  yang disutradarai  Rudi Soedjarwo dengan naskah dituis Monty Tiwa, Eric Tiwa dan  Alim Sudio ini kata Denny &nbsp;dirancang mengangkat kisah tentang manusia, dikonsep sebagai film drama romatis. Ada <em>action</em>, tetapi hanya sebagai bumbu dan ada pemain yang namanya terkenal dan disukai penonton. Denny mengingat film sejenis “Mumbai” dan “Die Hard””, yang berkisah tentang polisi ditembak teroris dan meraih sukses.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Namun di ‘Sayap-Sayap Patah, saya tidak membuat film nasionalisme. Saya hanya ingin membuat film yang mengangkat&nbsp; kisah orang yang telah berjasa untuk negara. Ada orang-orang yang sebetulnya sangat layak&nbsp; untuk kita hargai.&nbsp; Dan pikiran kami&nbsp; kemudian terpusat pada peristiwa Marko Brimob!” &nbsp;kata Denny Siregar yang berharap tragedi tersebut tetap diingat sebagai sejarah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sayap-Sayap Patah“&nbsp; adalah film drama yang sangat <em>entertaint</em>, tapi tidak meninggalkan sisi cinta pada negara. &nbsp;“Ada kisah polisi yang kalah, bahkan ada korban di Mako Brimop!” ujar Denny yang muncul sebagai pembicara dalam Webinar FFWI ini bersama<strong> Zinggara Hidayat</strong>&nbsp; (penulis buku Jejak Usmar Ismail)&nbsp; dengan moderator&nbsp; wartawan senior, <strong>Rita Sri Hastuti</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Edi&nbsp;Suwardi</strong>&nbsp;Ketua Tim Pokja&nbsp;Alif&nbsp;Direktorat Perfilman Musik dan Media (PMM)&nbsp; Kemendikbud Ristek&nbsp;RI yang&nbsp; mendukung acara ini, dalam sambutannya menyebut, &nbsp;di zaman dulu,&nbsp; kata nasionalisme dianggap berat dan&nbsp; sulit diterjemahkan dalam cerita dan gambar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ada kesan, kata itu akan memunculkan karya serius,&nbsp; cenderung&nbsp; kaku dan tidak bakalan laku untuk dinikmati penonton,” ujar Edi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai sebuah seni, lanjut Edi, kita tahu film&nbsp; tidak hanya digunakan sebagai tontonan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Fungsi dan esensi film telah&nbsp; berkembang menjadi media seni yang mampu mentransformasi nilai-nilai kemanusiaan, religi, pendidikan, hingga tentang nasionalisme yang bisa menjadi tuntunan, sekaligus menjadi tontonan yang laku untuk dinikmati penonton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tema nasionalisme bisa mencair dalam cerita&nbsp; yang memuat pesan baik, seperti rela berkorban, menjunjung tinggi persatuan, mau saling bekerja sama,&nbsp; mau saling menghormati dan menghargai&nbsp; perbedaan, sekaligus selalu bangga menjadi&nbsp; warga negara Indonesia,” ungkap Eddy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu Zinggara Hidayat, penulis buku _Jejak Usmar Ismail_ menyebut, nasionalisme dalam film memang tidak diartikan kaku hanya memperlihatkan perlawanan terhadap kolonial, munculnya uniform (seragam) &nbsp;dan bendera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Zaman berubah, dan ada pula pergeseran pengertian nasionalisme.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lebih jauh nasionalisme itu bisa terlihat dari termuatnya dimesi kutural dengan cara yang <em>soft</em>. Karena itu perlu penulis skenario yang cerdas. Idenya harus luar biasa. Dan di dalamnya ada improvisasi!” kata Zinggara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mencontohkan nasionalisme &nbsp;jaman dulu di dalam film “Tiga Dara” karya <strong>Usmar Ismail </strong>dengan naskah ditulis <strong>M. Alwi Dahlan</strong>, misalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp; “Di sana diperlihatkan&nbsp; gaya dansa-dansi, beragam warna musik, fashion dari kebaya hingga baju modern, makanan cemilan, bahkan juga motor skuter yang dipakai oleh pemain. Dimensi kulturalnya masuk semua!’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu menampilkan nasionalisme &nbsp;di jaman kini bisa dimunculkan &nbsp;dalam berbagai hal.&nbsp; Selain soal budaya, fashion, jenis makanan tertentu, bisa pula&nbsp; memperlihatkan daerah tertentu dengan lebih detail.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Misalnya &nbsp;jika lokasi syuting di Papua, bisa diperlihatkan bagaimana kondisi kantor Pemrov Papua seperti apa!”ungkap Zinggar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nasionalisme masih kata Ziggar, bisa berubah format dan berganti wajah, tetapi di era globalisasi seperti sekarang ini&nbsp; nasioalisme lebih&nbsp; berkembang ke arah kolaborasi, “bahwa kita sadar hidup sejajar dalam masyarakat global!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apa yang bisa kita produksi di Indonesia,&nbsp; film misalnya. Bisa dikirim ke luar negeri atau ke negeri serumpun. Dengan menggunakan bahasa Melayu maupun bahasa Indoesia. Ini sebetulnya juga bagian dari&nbsp; nasionalisme tersebut!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh Zinggara mengigatkan, penting untuk melihat dan belajar dari apa yang dilakukan Korea dengan industri keseniannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kita kenal Kimci dari drama mereka, kita mendengar dan musik mereka. Di jaman globalisasi seperti sekarang ini kolaborasi adalah keniscayaan&nbsp; yang tidak mungkin dihindari.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketua Panitia FFWI,&nbsp; <strong>Wina Armada</strong> di ujung pertemuan menyebut, &nbsp;&nbsp;“Sayap-Sayap Patah” telah &nbsp;mematahkan mitos, bahwa film yang bersifat&nbsp;&nbsp; nasionalis dan berkaitan dengan kebangsaan, mampu laku untuk diserbu penonton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dari sisi&nbsp; finasial, kalau dihitung ada 2 juta yang menonton Sayap-Sayap Patah,&nbsp; berarti produser minimal&nbsp; mengantongi Rp 40 M. Kita gembira, film yang mengadung&nbsp; nasionalisme, juga bisa menghasilkan angka yang menjanjikan! <strong>XPOSEINDONESIA Foto : Dokumentasi</strong></p>


<div style="min-height: 530px" class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_53d47e08-4c5a-4ae3-9dab-90405d40ec9f" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Logo-1.jpg" alt="0 logo 1" style="height: 495px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">0 logo 1</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-2.jpg" alt="0 sayap sayap 2" style="height: 495px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">0 sayap sayap 2</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Webiar-3-1.jpg" alt="0 webiar 3 1" style="height: 495px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">0 webiar 3 1</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://xposeindonesia.com/travel/news/nasionalisme-dalam-film-bukan-cuma-perlawanan-terhadap-kolonial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11929</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/09/0-Sayap-Sayap-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
	</channel>
</rss>
