<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">

<channel>
	<title>Mahagenta &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<atom:link href="https://xposeindonesia.com/tag/mahagenta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<description>News And Entertaiment</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Oct 2025 13:07:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/04/cropped-Xpose-favicon-32x32.png</url>
	<title>Mahagenta &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233386640</site>	<item>
		<title>“Lentera Khatulistiwa”: Perayaan 29 Tahun Mahagenta Menjaga Nyala Musik Tradisi Indonesia</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/exclusive/event/lentera-khatulistiwa-perayaan-28-tahun-mahagenta-menjaga-nyala-musik-tradisi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2025 03:38:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Lentera Khatulistiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Mahagenta]]></category>
		<category><![CDATA[Uyung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=36326</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="selama hampir tiga dekade, mahagenta konsisten memelihara suara indonesia di tengah derasnya arus industri musik modern." decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern.jpg 1200w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Setelah 29 tahun menempuh “jalan sunyi” dalam menjaga nyala musik tradisi Indonesia, kelompok musik Mahagenta  pimpinan Uyung  a.k.a Henry Surya Panguji  akan menggelar konser tunggal bertajuk “Lentera Khatulistiwa” pada 15 November 2025, pukul 20.00–22.00 WIB, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pertunjukan berdurasi dua jam ini menjadi retrospektif perjalanan musikal Mahagenta sejak berdiri [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Setelah 29 tahun menempuh “jalan sunyi” dalam menjaga nyala musik tradisi Indonesia, kelompok musik Mahagenta  pimpinan <strong>Uyung </strong> a.k.a <strong>Henry Surya Panguji  </strong>akan menggelar konser tunggal bertajuk “Lentera Khatulistiwa” pada 15 November 2025, pukul 20.00–22.00 WIB, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertunjukan berdurasi dua jam ini menjadi retrospektif perjalanan musikal Mahagenta sejak berdiri pada 11 November 1996 di Slipi, Jakarta Barat, dengan menyajikan 17 karya pilihan dari ratusan komposisi yang telah mereka lahirkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semuanya dimainkan secara maraton tanpa jeda, menghadirkan pengalaman auditif yang intens dan meditatif bagi para penonton.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Lentera sebagai Metafora Kebudayaan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Uyung Mahagenta, judul “Lentera Khatulistiwa” memiliki makna filosofis yang dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lentera adalah cahaya yang mencerahkan, bukan hanya di tengah kegelapan tetapi juga dalam kebutaan budaya,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menilai, di tengah arus modernitas yang gemerlap, manusia kerap kehilangan kepekaan telinga batin. “Budaya yang sesak sering meruntuhkan kebudayaan sebelumnya. Lentera Khatulistiwa kami maknai sebagai sinyal harapan, sebagai metafora untuk menyalakan kembali cahaya kebudayaan di garis khatulistiwa — setidaknya di Asia,” kata Uyung</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Musik yang Menyapa dari Akar Nusantara</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Konser ini, kata Uyung  akan menampilkan rentang karya Mahagenta dari tiga fase penting perjalanan mereka, yakni Pertama, Tahap Shelter(8 tahun pertama) — lahir 5 karya unggulan, Kedua, Tahap Berguyub (8 tahun berikutnya) — melahirkan 6 karya terbaik, Ketiga Tahap Pendewasaan Karakter Bermusik (12 tahun terakhir) — menghasilkan 6 karya matang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari 127 karya dan 80 aransemen yang pernah diciptakan, dipilih 17 komposisi melalui proses kurasi yang melibatkan pendengar awam, arranger, music director, dan komunitas penggemar Mahagenta (Mahagenia). Enam kriteria utama menjadi dasar seleksi: waktu penciptaan, varian genre, originalitas, kompleksitas, etika, dan estetika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahagenta tetap setia pada prinsipnya: mengolah alat musik tradisional Indonesia secara bijak dan kontekstual dengan semangat kekinian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa karya yang akan ditampilkan memperlihatkan keunikan itu — seperti pada lagu “Menari Nari” yang memadukan kecapi rincik dengan tangga nada pentatonis bernuansa oriental, berpindah birama dari 7/8 ke 11/8 hingga 3/4. Atau komposisi “Permata Khatulistiwa”, yang mengawinkan sitar India, saluang Minang, dan perkusi kendi menjadi jalinan nada lintas wilayah budaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada lagu “Cinta”, Mahagenta menampilkan vokal Melayu klasik yang lembut dan penuh rasa, dipadukan dengan alat musik Saung Gauk dari Myanmar — sebuah instrumen petik berbentuk perahu yang diolah dengan tangga nada pentatonis Madenda khas Jawa Barat. &nbsp;Hasilnya, sebuah karya eksperimental yang langka, elegan, dan sarat atmosfer spiritual.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Aransemen, Simbol, dan Filosofi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pembuka konser, penonton akan diajak memasuki suasana “Nuansa Pesisir” — musik overture yang menghadirkan suara gumam berpadu dengan Tek Yan, alat berdawai dua yang dimainkan dengan gaya Rebab Pesisir Selatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Filosofinya sederhana tapi dalam: “Jumlah dawai boleh berbeda, tapi cara memainkannya sama. Begitu juga bangsa ini: berbeda, namun dapat berbicara dalam bahasa yang sama,” tutur sang komposer utama Mahagenta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertunjukan juga akan menghadirkan komposisi Rampak Kendi, dimainkan oleh tujuh pemusik. Dalam karya ini, setiap kendi memancarkan cahaya dari dalamnya, menciptakan efek visual alami seirama dengan irama perkusi — sebuah simbol bahwa “cahaya kebudayaan” bisa muncul dari hal paling sederhana sekalipun.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dua Generasi, Satu Panggung</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Konser “Lentera Khatulistiwa” tidak hanya menampilkan 17 pemusik yang menguasai beragam instrumen — dari gitar, drum, hingga bonang dan suling — tapi juga 62 penari yang mengekspresikan makna setiap komposisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Latihan dilakukan secara bertahap: dimulai dari partisi ritmis (bass, drum, gitar, piano), kemudian partisi instrumen tradisional (kendang, rebab, kecapi, saron), hingga partisi vokalis dan latihan gabungan bersama penari.<br>Proses kreatif ini berlangsung dengan prinsip “Sederhana dan Bersahaja”, mengutamakan keharmonisan musikal dan ekspresi budaya di atas teknik semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menghidupkan Kembali “Telinga Tradisi”</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama hampir tiga dekade, Mahagenta konsisten memelihara suara Indonesia di tengah derasnya arus industri musik modern. Namun perjuangan mereka tidak mudah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sponsor yang mendukung musik tradisi sering hanya coba-coba. Media pun jarang memberi ruang, dan radio kini lebih menjadi <em>hits player</em> daripada <em>hits maker</em>,” ungkap mereka jujur.<br><br>Meski begitu, Mahagenta tetap memilih bertahan di jalur sunyi ini, meyakini bahwa musik tradisi bukanlah masa lalu — melainkan sumber daya estetika yang terus relevan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Musik tradisi sudah teruji oleh tiga hal penting: aturan, mutu, dan usia,” kata sang pendiri. “Kami hanya ingin menghadirkannya kembali dengan bahasa zaman sekarang — kontemplatif, eksploratif, bahkan eksperimental — tanpa kehilangan jiwanya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Lentera yang Tak Padam</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lentera Khatulistiwa” bukan sekadar konser. Ia adalah perayaan perjalanan batin, dialog lintas waktu antara tradisi dan modernitas.<br>Mahagenta menyalakan kembali cahaya kecil di tengah riuh dunia digital — cahaya yang tak menyilaukan, tapi menuntun telinga dan jiwa untuk kembali mendengar, kembali merasa, dan kembali percaya bahwa musik tradisi adalah cahaya kebudayaan bangsa.<strong>XPOSEINDNESIA/NS Foto : Dok. Mahagenta</strong></p>


<div style="min-height: 535px" class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_c680935e-d096-4826-a904-de288b7e9fcc" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/uyung-memainkan-sitar-india.jpg" alt="uyung memainkan sitar india" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">uyung memainkan sitar india</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/musik-tradisi-bukanlah-masa-lalu-%E2%80%94-melainkan-sumber-daya-estetika-yang-terus-relevan.jpg" alt="musik tradisi bukanlah masa lalu — melainkan sumber daya estetika yang terus relevan." style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">musik tradisi bukanlah masa lalu — melainkan sumber daya estetika yang terus relevan.</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">36326</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/selama-hampir-tiga-dekade-mahagenta-konsisten-memelihara-suara-indonesia-di-tengah-derasnya-arus-industri-musik-modern-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
		<item>
		<title>Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/exclusive/kaleidoskop-seni-budaya-jakarta/</link>
					<comments>https://xposeindonesia.com/exclusive/kaleidoskop-seni-budaya-jakarta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2014 00:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Whats On]]></category>
		<category><![CDATA[Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta 2014]]></category>
		<category><![CDATA[Mahagenta]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang Golek Pesisiran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://offair.id/xposeid/?p=1448</guid>

					<description><![CDATA[Kaleidoskop lazimnya dipahami sebagai rangkaian peristiwa menarik yang telah terjadi dan dimunculkan kembali.&#160;“Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta”&#160;menghadirkan ragam kesenian terbaik yang pernah tampil di Ibukota.&#160; Acara ini berlangsung dari 16-20 Desember 2014 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Selama 5 hari, masyarakat Jakarta disuguhkan aneka pertunjukan teater, tari, musik, serta pameran foto dan artefak. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Kaleidoskop lazimnya dipahami sebagai rangkaian peristiwa menarik yang telah terjadi dan dimunculkan kembali.&nbsp;<em>“Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta”</em>&nbsp;menghadirkan ragam kesenian terbaik yang pernah tampil di Ibukota.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Acara ini berlangsung dari 16-20 Desember 2014 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Selama 5 hari, masyarakat Jakarta disuguhkan aneka pertunjukan teater, tari, musik, serta pameran foto dan artefak. Tidak ketinggalan juga sajian kuliner Betawi, yang mengunggah selera. Warga Jakarta juga berwisata kuliner di acara ini&nbsp; karena terdapat 30 stan kuliner yang menyajikan sajian khas masakan Betawi dan Nusantara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Arie Budhiman</strong>, <em><em>Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta</em></em> mengatakan, <em>“Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta</em> kali ini, menyajikan aktivitas seni budaya mulai Tahun 2010 sampai dengan 2014. Dari kaleidoskop ini diharapkan tumbuh proses evaluasi dari pelaku dan penikmat seni guna pengembangan aktivitas seni budaya di kota Jakarta. Melalui &#8220;<em>Kaleidoskop Seni Budaya</em> Jakarta, saya berharap akan tumbuh upaya kreatif yang meningkatkan kualitas dan kuantitas aktivitas seni budaya di Jakarta dan menjadikan kota Jakarta sebagai pusat budaya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum acara pembukaan, di luar panggung utama terdapat pertunjukan musisi jalanan, aksi monolog di ruang publik dan tanjidor. Pesta kembang api yang meriah dapat disaksikan di prosesi pembukaan. Para pengunjung juga dapat menonton video mapping aktivitas berkesenian&nbsp; yang menonjol dan menarik selama tahun 2010-2014.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Acara dilanjut dengan pertunjukan Rancak, yang merupakan jenis teater tutur Betawi yang berbasis berbalas pantun bercerita dengan diiringi musik gambang kromong. Setelahnya ada tari Hiphop Betawi Sunda,&nbsp; tarian ini mengeskplorasi tari kreasi baru mengombinasikan hip-hop dengan sejumlah tari tradisi Betawi dan Sunda seperti Tari Topeng, Cokek, Ronggeng, Ketuk Tilu, Blantek, Jaipongan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta</em>&nbsp;selain menyajikan tarian dan pargelaran, juga menggelar pameran foto aktivitas seni budaya yang pernah berlangsung di Jakarta, khususnya Taman Ismail Marzuki, serta puluhan benda artefak yang berkaitan dengan berbagai kegiatan pergelaran seni budaya. Benda-benda tersebut adalah benda-benda digunakan seniman untuk mencipta karya, atau&nbsp; yang pernah dipakai dalam berbagai pertunjukan (properti, kostum, potongan setting).” ujar Arie Batubara, yang juga Ketua Pelaksana Kaleidoskop Seni Budaya Jakarta.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wayang Golek Pesisiran juga ditampil&nbsp; dengan membawakan cerita<em>&nbsp;“Harimau Harimau”</em>, sebuah karya novel sastra terkemuka Indonesia, karya&nbsp;<strong>Mochtar Lubis.</strong>&nbsp;Cerita ini digubah menjadi “Mburu Deburu”.&nbsp;<strong>Wayang Golek Pesisiran</strong>&nbsp;biasanya tampil membawakan cerita “baru” yang diangkat dari pelbagai kisah yang populer di masyarakat pesisir. Umumnya, ceritanya telah mengalami berbagai perubahan dan modifikasi dalam bentuk pertunjukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di samping itu muncul pula, pertunjukan musik eksperimentasi etnik Betawi, teater&nbsp;<strong>Ider-Ideran</strong>&nbsp;dan tari kontemporer Papua, pentas<strong>&nbsp;Mahagenta</strong>&nbsp;dan grup musik tradisi<strong>&nbsp;Gordang Sambilan</strong>&nbsp;di hari terakhir rangkaian acara.<strong>&nbsp;XPOSEINDONESA Foto : Dokumentasi</strong><br></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>More Pictures</strong></p>


<div style="min-height: 535px" class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_4f96a4fa-04f3-4b31-93f0-c0288545772c" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://offair.id/xposeid/wp-content/uploads/2021/02/MG_4817-1ffcaefc2b.jpg" alt="" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption"></figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://offair.id/xposeid/wp-content/uploads/2021/02/083a3cd1f6267cd054f0bab31261d7ae_XL.jpg" alt="" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption"></figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://offair.id/xposeid/wp-content/uploads/2021/02/dua-d5a0c996c8.jpg" alt="" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption"></figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://offair.id/xposeid/wp-content/uploads/2021/02/empat-567b6125d3.jpg" alt="" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption"></figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://xposeindonesia.com/exclusive/kaleidoskop-seni-budaya-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1448</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
