<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">

<channel>
	<title>Lola Amaria &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<atom:link href="https://xposeindonesia.com/tag/lola-amaria/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<description>News And Entertaiment</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 Dec 2023 14:19:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/04/cropped-Xpose-favicon-32x32.png</url>
	<title>Lola Amaria &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233386640</site>	<item>
		<title>Dari Diskusi Wartawan PWI : Gelar Segera Musyawarah Film Nasional, Untuk Atasi Persoalan Perfilman Indonesia</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/lifestyle/dari-diskusi-wartawan-pwi-gelar-segera-musyawarah-film-nasional-untuk-atasi-persoalan-perfilman-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Dec 2023 14:19:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Life Style]]></category>
		<category><![CDATA[Aklis Suryapati]]></category>
		<category><![CDATA[Benny Benke]]></category>
		<category><![CDATA[Lola Amaria]]></category>
		<category><![CDATA[Nukman Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[PWI Pusat Seksi Musik dan Film]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=17440</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="218" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-300x218.jpeg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="benny benke, lola amaria, , nukman hakim dan aklis suryapati" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-300x218.jpeg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-1024x746.jpeg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-768x559.jpeg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-1536x1118.jpeg 1536w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-150x109.jpeg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-600x437.jpeg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-696x507.jpeg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-1392x1014.jpeg 1392w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-1068x778.jpeg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-577x420.jpeg 577w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-1154x840.jpeg 1154w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-324x235.jpeg 324w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-648x470.jpeg 648w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Ketua Komite FFI Reza Rahadian telah menyelesaikan tugas&#160; selama tiga tahun&#160; dan berakhir di tahun 2023. &#160;Dan penyelenggaraan puncak FFI &#160;pada 14 November 2023 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan itu menjadi tugas terakhir Reza&#160; sebagai Ketua Komite. Hingga berita ini ditulis belum diketahui siapa calon pengganti Reza yang akan menjabat Ketua Komite FFI sepanjang masa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketua Komite FFI Reza Rahadian telah menyelesaikan tugas&nbsp; selama tiga tahun&nbsp; dan berakhir di tahun 2023. &nbsp;Dan penyelenggaraan puncak FFI &nbsp;pada 14 November 2023 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan itu menjadi tugas terakhir Reza&nbsp; sebagai Ketua Komite. Hingga berita ini ditulis belum diketahui siapa calon pengganti Reza yang akan menjabat Ketua Komite FFI sepanjang masa tugas tiga tahun ke depan.</p>



<p>Badan Perfilman Indonesia (BPI) bisa memilih Ketua  Baru dengan sistem  pemilihan yang terbuka dan demoktratis, dengan melibatkan beragam asosiasi  perfilman di dalamnya. Namun benarkah diam-diam   malah BPI sudah menyiapkan  Calon Ketua  FFI  pengganti Reza? Apakah organisasi dan orang-orang yang terkait dengan  perfilman  bisa langsung menerimanya, atau sebaliknya bolehkah ditolak?</p>



<p>Pernyataan di atas &nbsp;menjadi topik perbincangan hangat dalam diskusi &nbsp;publik, <em>Siapa Ketua Penyelenggaraan&nbsp; FFI Tahun 2024 dan Tiga Tahun &nbsp;Berikutnya, Quo Vadis&nbsp; Komite FFI</em> &nbsp;yang digelar PWI Pusat Seksi Film dan Musik di&nbsp; Groove Hotel, 22/12/2023.</p>



<p>Dalam undangan diskusi yang beredar untuk wartawan, tertera sejumlah narasumber yang akan dihadirkan, antara lain Deddy Mizwar (Ketum PPFI), Lola Amaria (Produser dan Sutradara Film), Reza Rahadian (Mantan Ketua Komite FFI), Gunawan Panggaru (Ketua BPI) dengan moderator Benny Benke.</p>



<p>Namun ternyata yang muncul hanya Lola Amaria, (Produser), Nukman Hakim (Sutradara) dan Aklis &nbsp;Suryapati (Kepala Sinematek Indonesia). Ketua BPI Gunawan Panggaru berhalangan karena waktu penyelenggaraan yang berubah dan berganti hari. Demikian juga Reza Rahadian, Ketua Komite FFI yang telah memasuki purna tugas itu, tidak dapat meninggalkan lokasi syuting di menit terakhirnya penyelenggaraan diskusi.</p>



<p><strong>Interpretasi Keliru</strong></p>



<p>Mengawali pembicaraan,&nbsp; Aklis &nbsp;mencoba menjelaskan istilah Quo vadis &nbsp;yang menjadi judul acara. Menurut Aklis Quo Vadis adalah kalimat bahasa latin&nbsp;yang terjemahannya secara harfiah berarti &#8220;Ke Mana Engkau Pergi?&#8221;</p>



<p>Kalimat ini adalah terjemahan Latin dari petikan bagian apokrif kisah Petrus, berbunyi: Domine, quo vadis?&nbsp;&#8220;Tuhan, ke mana Engkau pergi?&#8221; Kalimat sohor ini merupakan ungkapan Kristiani yang menurut tradisi Gereja&nbsp;dilontarkan kepada&nbsp;Yesus&nbsp;Kristus&nbsp; oleh&nbsp;Santo Petrus&nbsp;yang saat itu bertemu dengan Yesus dalam perjalanan hendak melarikan diri dari misinya yang berisiko disalibkan di&nbsp;Yerusalem, di bawah pemerintahan Romawi antara 30-36 Masehi.</p>



<p>Setelah itu, diksi quo vadis galib digunakan dalam bahasa pergaulan.</p>



<p>Lantas&nbsp; dalam konteks masa bakti Ketua Komite FFI Reza Rahadian yang telah purna tahun 2023 ini, siapa penggantinya ke depan? Quo vadis Komite FFI? Santer beredar di kalangan wartawan, konon ada nama yang telah disiapkan dan disorongkan oleh Badan Perfilm Indonesia (BPI). Benarkah begitu Sudah benarkah jalan itu?</p>



<p>Setelah Lukman Sardi, dan Reza Rahadian siapa lagi yang akan duduk sebagai ketua Komite FFI yang dalam penyelenggaraan pesta film tahunan itu, yang ditimbang semakin berjarak dengan masyarakat dan asyik dengan dirinya sendiri itu?</p>



<p>Dan apapula kewenangan BPI sebagai lembaga swasta mandiri menyorongkan nama tertentu? Tidak bisakah orang film, juga masyarakat perfilman di luar BPI, turut mengajukan kandidat nama lainnya?</p>



<p>Di mata Akhlis Suryapati selaku Ketua Sinematek Indonesia, BPI sudah mati, karena salah mengartikan semangat awal pembentukannya. Bahkan sejak tahun 2014 saat BPI melakukan interpretasi pada dirinya sendiri yang keliru, dengan membuat aturan-aturan baru, marwah penyelenggaraan FFI menjadi imbasnya. Dan tidak sesuai lagi dengan marwah FFI yang pertama kali diprakarsai oleh&nbsp;Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik&nbsp;pada penyelenggaraan pertama FFI tahun 1955.&nbsp;</p>



<p>Seperti ada klausul di BPI yang mengatakan Komite FFI yang baru harus tunduk dengan komite yang lama. &#8220;Kekacauan ini terus dipelihara sampai kini. Hasilnya, apakah penyelenggaraan FFI menjadi lebih baik? Tidak, karena kawan-kawan wartawan diberi permen bernama FFWI, sehingga tidak mempunyai daya kritis lagi dengan FFI,&#8221; kata Akhlis.</p>



<p>Akhlis Suryapati menambahkan,&nbsp; terlalu banyak persesengkongkolan dalam sistem perfilman Indonesia. Karenanya, dia meminta semua persesengkongkolan dibatalkan, termasuk dalam pengajuan nama tertentu oleh BPI demi mendudukkan nama tersebut sebagai Ketua Komite FFI selanjutnya.</p>



<p>&#8220;Caranya dengan membentuk komite baru. Karena BPI dari awal adalah sebuah badan yang keliru. Lihat itu AMPAS (&nbsp;Academy of Motion Picture Arts and Sciences) yang menyelenggarakan piala Oscar adalah swasta murni yang sebenarnya,&#8221; kata Akhlis Suryapati</p>



<p>Akhlis ingin mengatakan, sebagai lembaga swasta mandiri BPI nyatanya masih menghamba dan menempel ke pemerintah. Buktinya, FFI masih dibiayai pemerintah, tapi seolah dikuasai BPI sendiri.</p>



<p>&#8220;Kedaulatan masyarakat film hari ini tidak kita miliki, dan harus kita rebut. BPI gagal melakukan (menegakkan kedaulatan) itu. Karena BPI sibuk rebutan proyek, dan menghamba kepada pemerintah,&#8221; imbuh Akhlis sembari menegaskan, BPI bahkan telah menjadi portal bagi film maker Indonesia yang mau memutar film ke jaringan bioskop XXI.</p>



<p>&#8220;Ini terjadi bukan karena BPI jahat. Tapi BPI mentalnya kacung, menghamba,&#8221; tekan Akhlis Suryapati sembari menyorongkan solusi penyelenggaraan Musyawarah Film Nasional.</p>



<p>&#8220;Harus ada musyawarah film nasional, setelah itu susun ulang pondasi (perfilman Indonesia). Agar yang akan dilakukan BPI mau melegitimasi rencana persesengkokolan mereka batal,&#8221; kata Akhlis lagi.</p>



<p><strong>Asosiasi Film Tidak Membantu Anggota</strong></p>



<p>Hal senada diungkapkan Nurman Hakim. Selalu sutradara dan akademisi, Nurman berharap Musyawarah Film Nasional dapat menjadi ajang rembuk nasional para stakeholder perfilman Tanah Air. Caranya menghadirkan semua pemangku kepentingan, hingga persona di luar asosiasi demi membuat forum besar.</p>



<p>&#8220;Orang yang diundang bukan hanya dari BPI juga asosiasinya. Harus ada akademisi di sana, bahkan wartawan hingga budayawan harus dilibatkan, demi merumuskan formula yang paling mustahak,&#8221; kata Nurman Hakim.</p>



<p>Nurman menjelaskan, sependek pengetahuannya, banyak film maker yang tidak dan emoh begabung dalam sebuah asosiasi perfilman di Indonesia, karena berbagai alasan. &#8220;Makanya kawan kawan IKJ sering bercanda, yang menang FFI pasti kawan-kawan jurinya yang tergabung dalam asosiasi yang sama. Atau FFI adalah festival film untuk kawan sendiri,&#8221; kata kandidat Doktor dan pengajar di IKJ dan UMN, itu.</p>



<p>Nurman menambahkan, BPI yang dikelola adalah asosiasi asosiasi yang hanya bekerja setahun sekali, saat FFI diselenggarakan. Tapi saat ada keluhan dari anggotanya, seperti para aktor yang mandeg pembayarannya, dan produser yang mumet menghadapi XXI, misalnya. Karena persoalan pembagian dan mendapatkan layar bioskop, BPI ke mana saja? &#8220;Harusnya asosiasi asosiasi itu, juga BPI mampu memberikan solusi dan menyelesaikan persoalan itu,&#8221; kata Nurman.</p>



<p>Di Hollywood, kata Nurman Hakim lagi, asosiasi perfilmannya tidak seperti asosiasi perfilman di Indonesia yang tidak bertaji. Di AS, asosiasi perfilmannya mampu memberikan fasilitas dan melindungi anggotanya.</p>



<p>&#8220;Asosiasi di AS mempunyai kekuatan, melindungi dan mengayomi anggotanya. Sedangkan di Indonesia, asosiasinya kalau ada anggota mempunyai masalah, tidak ada yang membantu, tidak juga BPI,&#8221; katanya.</p>



<p>Makanya dia bersepakat untuk melakukan perbaikan, salah satunya dengan melakukan musyawarah perfilman Indonesia, yang kemudian, mungkin salah satu hasilnya menghasilkan&nbsp; satgas perfilman di sana</p>



<p><strong>Dibiarkan Berjuang Sendiri</strong></p>



<p>Lola Amaria, selaku aktris, sutradara dan produser film mengaku banyak mempunyai pengalaman tidak mengenakkan saat meminta layar ke XXI. Karena harus dan selalu berjuang sendirian, sementara BPI sebagai lembaga yang harusnya menjadi payung insan film tidak melakukan apa-apa.</p>



<p>Seperti saat ini, dia telah mengajukan mendapatkan layar bioskop ke pihak XXI sejak Mei tahun ini, bahkan sampai akhir Desember 2023 ini, permintaannya mendapatkan layar belum mendapatkan lampu hijau.</p>



<p>&#8220;Kita mempunyai BPI yang katanya menangungi kita, tapi mana kiprahnya. Bagaimana kita mau mendapatkan keadilan layar, karena tidak ada sistem yang jelas. Katakan saya mau ngadu ke BPI, tapi BPI bisa apa (menghadapi XXI)&#8221;, kata Lola Amaria yang film Exile-nya baru saja mendapatkan Piala Citra pada gelaran FFI 2023.</p>



<p>&#8220;Lalu ada persoalan jam kerja dalam proses produksi, siapa yang mampu melindungi aktor, dan kru film, juga pelecehan seksual selama proses produksi. Untuk apa ada BPI kalau tidak mampu berbuat apa-apa,&#8221; katanya lagi.</p>



<p>Hal ini ini terjadi karena menurut Lola, posisi BPI dalam perfilman Indonesia tidak jelas. &#8220;Apa manfatnya bagi orang film. Mungkin tidak ada. Ada atau tidak ada BPI semu berjalan secara auto pilot,&#8221; kata Lola masygul. Makanya Lola mengusulkan harus ada optimalisasi BPI, agar manfaat keberadaannya dirasakan pekerja film&nbsp; Indonesia. Lola mengatakan, BPI juga FFI baik bagi yang punya kepentingan di sana.</p>



<p>Lola Amaria menambahkan, soal pajak film. Menurut dia, pajak film Indonesia sangat besar, tapi pajaknya di ke manakan yang 20 persen itu untuk wilayah Jakarta. padahal tahun ini, sepengamatanya, film Indonesia dapat dikatakan sangat merajai layar film nasional, &#8220;Jadi XXI tidak boleh sombong dengan film Indonesia lagi,&#8221; katanya.</p>



<p>Fitriawan Ginting, wartawan senior film dan pengurus PWI Pusat Sie Musik dan Film mengusulkan, demi mengurai benang kusut persoalan perfilman di Indonesia, perlu dibentuk Satgas Perfilman.</p>



<p>&#8220;Seperti dunia sepakbola yang membentuk satgas sepakbola, sangat dimungkinkan perfilman juga membentuk satgas perfilman. Agar persesengkokolan dan monopoli layar bioskop sekalipun dapat diawasi,&#8221; katanya.</p>



<p>Meski menurut Akhlis, XXI sudah dua kali dituntut via peradilan persaingan usaha, tapi dua kali pula memenangkan kasusnya.<strong>XPOSEINDONESIA Foto : Dokumentasi</strong></p>


<div style="min-height: 535px;; " class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_e6f192c3-1b77-425c-abd5-96f559f051dc" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Diskusi-Publlik-yang-digelar-oleh-PWI-Puaat-Seksi-Film-dan-Musik.jpeg" alt="diskusi publlik yang digelar oleh pwi puaat seksi film dan musik" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">diskusi publlik yang digelar oleh pwi puaat seksi film dan musik</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">17440</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Benny-Benke-Lola-Amaria-Nukman-Hakim-dan-Aklis-Suryapati-300x218.jpeg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="218" />	</item>
		<item>
		<title>Lola Amaria Putar Film Eksil Sambil Berdonasi Untuk Palestina</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/film/new-movie-on-this-week/lola-amalia-gelar-putar-film-eksil-sambil-berdonasi-untuk-palestina/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2023 08:33:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[New Movie On This Week]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Zuhair S.M. Al Shun]]></category>
		<category><![CDATA[Fil Eksil]]></category>
		<category><![CDATA[Lola Amaria]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=17240</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="226" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-300x226.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="lola amaria" decoding="async" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-300x226.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-150x113.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-600x452.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-696x524.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-558x420.jpg 558w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-80x60.jpg 80w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-160x120.jpg 160w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria.jpg 700w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Lola Amaria menggelar aksi solidaritas untuk Palestina di tengah acara pemutaran film terbarunya berjudul Eksil (Exile) di XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (7/12/2023) malam. Acara itu dihadiri Dubes Palestina untuk Indonesia Dr. Zuhair S.M. Al Shun, dan sejumlah perwakilan dari Kedubesan Rusia. Membeli tiket film Eksil sekaligus penggalangan dana &#160;menghasilkan&#160; sumbangan sebesar Rp 41 juta [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lola Amaria menggelar aksi solidaritas untuk Palestina  di tengah acara pemutaran film terbarunya berjudul Eksil (Exile) di XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (7/12/2023) malam. Acara itu dihadiri Dubes Palestina untuk Indonesia Dr. Zuhair S.M. Al Shun, dan sejumlah perwakilan dari Kedubesan Rusia.</p>



<p>Membeli tiket film Eksil sekaligus penggalangan dana &nbsp;menghasilkan&nbsp; sumbangan sebesar Rp 41 juta yang langsung masuk ke rekening resmi Bank Mandiri milik&nbsp; Embassy of The State of Palestine.</p>



<p>“Total &nbsp;pengumupulan dana mala mini yang dibacakan tadi ada diangka 41 juta. Tapi &nbsp;(ini) masih terus berjalan dan tidak berhenti di sini. Terpenting bagi kita, mereka sudah mau berdonasi. Bersyukur sekali, banyak yang antusias untuk berdonasi membantu saudara-saudara kita di Palestrina,” kata Lola Amaria usai pemutaran film Eksil.</p>



<p>“Mereka (Dubes Palestina) senang dengan pemutaran film Eksi ini. Mereka tahu, banyak orang Indonesia yang mensupport kemerdekaan untuk Palestina agar supaya perang ini berakhir. Saya pribadi prihatin dengan banyaknya korban akibat perang ini. Banyak korban &nbsp;yang meninggal akibat perang ini. Mulai dari wanita, anak-anak &nbsp;juga bayi. Saya melihat ini pembunuhan terhadap bayi-bayi, &nbsp;seperti ingin menghilangkan generasi di Palestina,” sambungnya.</p>



<p>Menurut Lola, film Eksil menceritakan tentang khususnya para eksil atau orang-orang yang diasingkan dan tidak bisa kembali ke Indonesia akibat G30S/PKI juga menggambarkan kepedihan para eksil yang akhirnya memilih untuk berpindah kewarganegaraan, namun hatinya tetap Indonesia.</p>



<p>“Proses pembuatan film ini panjang dan lama sekali. Untuk bertemu dengan mereka (Para Eksil) tidak gampang. Saya menggarapnya mulai 2013 sampai 2015. Di tengah perjalanan, ada narasumber yang &nbsp;meninggal karena memang sudah tua. Karena kondisi itulah akhirnya saya nekat membawa tim ke Eropa selama 3 bulan untuk mengambil dan wawancara mereka semua yang ada di film ini,” terang Lola Amaria.</p>



<p>“Dan setelah itu penyelesaiannya memang agak tertunda cukup lama karena ada banyak proses yang kami jalankan. Film ini bukan untuk mereKA yang mengerti soal 65 (Peristiwa 1965). Tapi untuk generasi saya dan &nbsp;generasi di bawah saya, &nbsp;yang tiap tahun dicekoki film G30S/PKI. Kayaknya mereka &nbsp;ini &nbsp;harus tahu &nbsp;peristiwa itu dari sisi lain (tentang peristiwa tersebut). Dan (di film ini)&nbsp; narasumber&nbsp; adalah mereka dibuang nggak boleh pulang (ke Indoensia). Mereka punya cerita yang jujur tentang itu,” Urai Lola.</p>



<p>Film Eksi memiliki durasi 119 menit, mengisahkan perjalanan para penyintas atau para eksil yang terbuang dari negerinya sendiri akibat peristiwa Gerakan 30 September 1965. &nbsp;</p>



<p>Film Eksil&nbsp;tayang perdana 27 November 2022 melalui program kompetisi&nbsp;<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/JAFF_Indonesian_Screen_Awards">JAFF Indonesian Screen Awards</a>&nbsp;festival film&nbsp;<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja-NETPAC_Asian_Film_Festival_2022">Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2022</a>, meraih penghargaan kategorti <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/JAFF_Indonesian_Screen_Awards#Best_Film">Best F</a>ilm. Sukses berlanjut, dalam&nbsp; Festival Film Indonesia 2023, Eksil, meraih film dokumenter panjang terbaik Piala Citra 2023</p>



<p>Lola Amaria berharap, XXI atau bioskop lainnya secepatnya memberikan ruang agar film Eksil untuk bisa disaksikan masyarakat luas.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">17240</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/Lola-Amaria-300x226.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="226" />	</item>
		<item>
		<title>Dengan  Film Eksil, Lola Amaria Membuka Perspektif Baru Tentang  Orang-Orang Buangan</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/film/new-movie-on-this-week/dengan-film-eksil-lola-amaria-membuka-perspektif-baru-tentang-orang-orang-buangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2023 01:52:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[New Movie On This Week]]></category>
		<category><![CDATA[film eksil]]></category>
		<category><![CDATA[G 30 S PKI]]></category>
		<category><![CDATA[Lola Amaria]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=17230</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="226" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-300x226.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="eksil" decoding="async" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-300x226.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-150x113.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-600x452.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-696x524.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-558x420.jpg 558w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-80x60.jpg 80w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-160x120.jpg 160w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil.jpg 700w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Eksil&#160;berasal dari kata bahasa Inggris&#160;exile&#160;yang berarti terasing, atau dipaksa meninggalkan kampung halaman atau rumahnya.&#160; Kata Eksil di Indonesia erat kaitannya dengan sejarah kelam bangsa Indonesia pasca meletusnya peristiwa politik pada 1965, yang dikenal sebagai “Gerakan 30 September.” Selain terjadi pembunuhan massal, dan penangkapan serta pemenjaraan terhadap para&#160; anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Eksil&nbsp;berasal dari kata bahasa Inggris&nbsp;<em>exile</em>&nbsp;yang berarti terasing, atau dipaksa meninggalkan kampung halaman atau rumahnya.&nbsp;</p>



<p>Kata Eksil di Indonesia erat kaitannya dengan sejarah kelam bangsa Indonesia pasca meletusnya peristiwa politik pada 1965, yang dikenal sebagai “Gerakan 30 September.”</p>



<p>Selain terjadi pembunuhan massal, dan penangkapan serta pemenjaraan terhadap para&nbsp; anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia, di luar negeri &nbsp;sejumlah pelajar dan mahasiswa yang tengah mengikuti pendidikan &nbsp;dan mendapat bea siswa dari Pemerintahan di bawah Presiden Soekarno juga mengalami penderitaan.</p>



<p>Lebih dari 30 tahun para eksil itu terjebak di luar negeri dan tidak bisa pulang ke tanah air. Suatu pengalaman pahit yang berkepanjangan.</p>



<p>Selain kehilangan status kewarganegaraan, kehilangan sanak keluarga dan kerabat di Indonesia, mereka juga harus bekerja serabutan bahkan di luar keahlian dan latar keilmuannya. Mereka berjuang untuk hidup dengan berpindah-pindah negara : China, Uni Soviet, Belanda, Cheko-Slovakia, Jerman, dan Swedia.</p>



<p><strong>Sejarah &nbsp;Kelam yang Diungkap</strong></p>



<p>Lola Amaria melihat penting mendokumentasikan kisah para mahasiswa yang &nbsp;terjebak menjadi eksil &nbsp;antara lain &nbsp;<a href="https://www.google.com/search?sca_esv=588873340&amp;sxsrf=AM9HkKkE8y4Ge_Oz2eH9p31D57u7F4BgJQ:1701998487598&amp;q=Asahan+Alham&amp;si=ALGXSlYPkF2MKlZLFV56Lmj_Zy6Z70dntmeBx1DfctjYnmVI_Tlo6hVO3btNhr4ddBftFTXKxpo8T2Su8SCchAqcDctUetfpReAMNCWUJUcqZS43T5x8qk_A1Sgzkv_8coKP5t4oR7SjOV4FyG0b0Ol4XOri5Ah0KC1B0jCOLCBlgeq2D1YIfPm0CaX9pJDRKbKdE3eJArCcTASpsKnODIZH35bZZ9FgO1Di3twzqQo6p7JsUsMFYpYgZweF8t8bmczMYDFTPEw6myhqjuPDiCaPdJELr1a-eZgS_FPl6HvTSbnU0ZJ975w%3D&amp;sa=X&amp;sqi=2&amp;ved=2ahUKEwj3s4u61v6CAxX9T2wGHVJtCpMQmxMoAHoECBYQAg&amp;biw=1707&amp;bih=813&amp;dpr=0.8">Asahan Alham</a>,&nbsp;<a href="https://www.google.com/search?sca_esv=588873340&amp;sxsrf=AM9HkKkE8y4Ge_Oz2eH9p31D57u7F4BgJQ:1701998487598&amp;q=eksil+sarjio+mintardjo&amp;si=ALGXSlZZLz93Q5j8HVkpXyxpTaoqXw8cocmoi-DFAGsSj5diF-Ybd-BnjYTSj7OxYWsWsAa4P7lAjnZP_E_AFj0W7hrKIBlGKEFq7UR-ePqvdLYxbjlviOeqmDc3mesSQGrkRhu82Rf4RTSbhaLQAD0_tM9TgtrFHM3kuYsrAjG_pSnPRZnYxxZWMCw00I8BWgXYInz7C7Jjatz2tR58LgZC11BJjlmjjh8hc9RMf0qF2LjR3jZsqGF_1Biw7Oe3uTgYLRqLJswRItzzrKWbjJ1BrbUd5oUWndbAOqIE8-yXtDmy7RzTNSA%3D&amp;sa=X&amp;sqi=2&amp;ved=2ahUKEwj3s4u61v6CAxX9T2wGHVJtCpMQmxMoAXoECBYQAw">Sarjio Mintardjo</a>,&nbsp;<a href="https://www.google.com/search?sca_esv=588873340&amp;sxsrf=AM9HkKkE8y4Ge_Oz2eH9p31D57u7F4BgJQ:1701998487598&amp;q=eksil+i+gede+arka&amp;si=ALGXSlZZLz93Q5j8HVkpXyxpTaoqXw8cocmoi-DFAGsSj5diFx4b05SP52EilfXGmyXRxkULAvDM8UU6PtqFS2BsZPPvL28l6RWbf2oZ1yIZ_KAwoJOQwhrxjVkHuXfT-DehUnb9wJO0tkHkq3W7duO064lMQs6uRCkGQ371x8i3ovBjf-8_ubxGnh-airQejtOfZAdh3HtypLGvfn6iI-1HeAPefpicOVtQxIvtyZBIRuFC4fw32MJNlaAUqsvhPaPFgdtw0niz64GRo8DsLqoO0UoquAu0wVvQVFTNBHOTnbOSQ3_qkZ4%3D&amp;sa=X&amp;sqi=2&amp;ved=2ahUKEwj3s4u61v6CAxX9T2wGHVJtCpMQmxMoAnoECBYQBA">I Gede Arka</a>,&nbsp;<a href="https://www.google.com/search?sca_esv=588873340&amp;sxsrf=AM9HkKkE8y4Ge_Oz2eH9p31D57u7F4BgJQ:1701998487598&amp;q=eksil+hartoni+ubes&amp;si=ALGXSlZZLz93Q5j8HVkpXyxpTaoqXw8cocmoi-DFAGsSj5diF563E0eCEogYSdxCQg4ldb3vAgjBCA0wp29VQa0HfwDnOUL7fDDarsSczw2vCpQ-ivlLoZeGofnsyi1uazF7Om_9oPI3utTMJBDLWug3Op1pxlZQP9YfF5pHRuVSP14hqsOP1mG1IlaROC0ba9PCkR1tovfN2Co9eofWbjuSwmC9-82HNNRnf3p04MkZzsMc_AD-MWQoq2zCSDg1NTw-2IY6h5cNkPk4Dtc6yHytSZoFRffzz6CzNUlAS3_4UtyfuKoFBu8%3D&amp;sa=X&amp;sqi=2&amp;ved=2ahUKEwj3s4u61v6CAxX9T2wGHVJtCpMQmxMoA3oECBYQBQ">Hartoni Ubes</a>, &nbsp;Chalik Hamid, Tom Iljas, dan lain-lain.</p>



<p>Film ini memuat wawancara para eksil yang tidak bisa pulang ke Indonesia karena peristiwa politik, Perang Dingin 1960-an. Pemerintah Indonesia saat itu mengirim sejumlah mahasiswa ke Uni Soviet (Rusia) dan Tiongkok. &nbsp;Setelah peristiwa 1965 pecah, mereka tak bisa pulang ke Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Mereka hidup tanpa status, putus kontak dengan keluarga, dan mencari negara yang mau menampung. Mereka hanya ingin pulang.&nbsp; &nbsp;Dan Lola berhasil mendokumentasikannya dengan jernih sekaligus sarat kepedihan</p>



<p>“’Tubuh saya memang di sini, Swedia. Tapi, pikiran saya tetap di sana, Indonesia,’’ ucap Tom Iljas, salah satu tokoh dalam&nbsp;<a href="https://www.jawapos.com/tag/film">film</a>&nbsp;dokumenter&nbsp;<em>Eksil</em>&nbsp;.</p>



<p>Film &nbsp;Eksil &nbsp;berdurasi 119 &nbsp;menit diproduksi Lola Amaria Production selama beberapa tahun di enam negara dengan metode penggalian arsip, mengungkap sejarah traumatis penyintas melalui wawancara.&nbsp;</p>



<p>Sebagai sutradara perempuan, Lola berani mengangkat kisah yang mengharukan, lembut, dan penuh harapan. Bersama Gunawan Rahardja, &nbsp;Lola menulis scenario film ini. Dibantu penyunting gambar Shalahudin Siregar.</p>



<p>Lokasi wawancara para eksil &nbsp;ini sengaja ditempatkan pada beragam sudut, kadang tanpa bantuan pencahayaan optimal, namun ini &nbsp;malah membuatnya menjadi sangat natural. Karena memperlihatkan sudut dapur yang kecil, kebun yang mengering di musim gugur, &nbsp;atau dalam rumah yang sesak dengan tumpukan buku-buku yang sama sekali tak tersusun rapih.</p>



<p>Film&nbsp;<em>Eksil&nbsp;</em>menarik karena menawarkan sejarah yang hampir dihapus dari berbagai sudut pandang. Sekaligus mengajak penonton untuk tidak dengan enteng menempelkan stigma (prasangka yang mendeskreditkan seseorang). Karena Stigma &nbsp;itu sejatinya akan membekas&nbsp; pada orang tersebut seumur hidupnya, &nbsp;bahkan menghilangkan hak hidupnya. Sementara sang pemberi stigma bisa bebas dan sama sekali tak bertanggungjawab.</p>



<p>Selama pembuatan film yang dimulai sejak 2015, beberapa tokoh dalam dokumenter ini ada yang sudah meninggal atau sakit karena usia lanjut. Film dokumenter untuk usia 13 tahun ke atas ini diperuntukkan bagi generasi milenial dan gen Z agar tidak kehilangan jejak sejarah bangsanya.</p>



<p>Film Eksil tayang perdana 27 November 2022 melalui program kompetisi <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/JAFF_Indonesian_Screen_Awards">JAFF Indonesian Screen Awards</a> festival film <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jogja-NETPAC_Asian_Film_Festival_2022">Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2022</a>, dan meraih  penghargaan kategorti <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/JAFF_Indonesian_Screen_Awards#Best_Film">Best F</a>ilm, juga  meraih film dokumenter panjang terbaik Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 2023<strong> XPOSEINDONESIA/NS. Foto : Dokumentasi</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">17230</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/eksil-300x226.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="226" />	</item>
		<item>
		<title>Film Pesantren : Melihat Pesantren Lebih Dekat, Melihat Islam dari Sudut Perempuan</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/film/new-movie-on-this-week/film-pesantren-melihat-pesantren-lebih-dekat-melihat-islam-dari-sudut-perempuan/</link>
					<comments>https://xposeindonesia.com/film/new-movie-on-this-week/film-pesantren-melihat-pesantren-lebih-dekat-melihat-islam-dari-sudut-perempuan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2022 04:26:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[New Movie On This Week]]></category>
		<category><![CDATA[Lola Amaria]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Shalahuddin Siregar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=11482</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="300" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-300x300.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="press conference film pesantren" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-300x300.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-1024x1024.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-150x150.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-1536x1536.jpg 1536w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-2048x2048.jpg 2048w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-24x24.jpg 24w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-48x48.jpg 48w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-96x96.jpg 96w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Akhirnya, Film Dokumenter Pesantren karya sutradara Shalahuddin Siregar akan masuk di bioskop Indonesia mulai 4 Agustus 2022. Lola Amaria mengabarkan berita ini lewat press conference sekaligus press screening film Pesantren di Epicentrum, 1 Agustus 2022 Film Pesantren dibuat pada 2015 sebagai film documenter, “Maka tayangnya terbatas di 30 bioskop, Termasuk 10 layar di Jakarta, mulai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Akhirnya, Film Dokumenter Pesantren karya sutradara Shalahuddin Siregar akan masuk di bioskop Indonesia mulai 4 Agustus 2022. Lola Amaria mengabarkan berita ini lewat press conference sekaligus press screening film Pesantren di Epicentrum, 1 Agustus 2022<br></p>



<p>Film Pesantren dibuat pada 2015 sebagai film documenter, “Maka tayangnya terbatas di 30 bioskop, Termasuk 10 layar di Jakarta, mulai 4 Agustu 2022,” kata Lola Amaria yang bertindak sebagai pengendar film dibawah Lola Amaria Production.<br></p>



<p>Lola punya alasannya kuat kenapa mau mendistribusikan film documenter yang dibuat pada 2015 secara komersial. Salah satunya karena Indonesia negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, memiliki 25 ribu pesantren.<br></p>



<p>“Dan selama ini, pesantren terkesan tertutup, dan banyak stigma negatif yang dilekatkan padanya, salah satunya pesantren menjadi sarang teroris. “ Padahal sebenarnya apa yang kita tahu tentang institusi pendidikan tertua di Indonesia ini?” katanya.<br></p>



<p>Lola menyebut isu yang termuat dalam film Pesantren sangat penting untuk Indonesia saat ini. Karena itulah, ia mendistribusikan film ini di jaringan bioskop komersil.<br></p>



<p><strong>Menangkap Kehidupan Wajar</strong><br></p>



<p>Film Pesantren adalah sebuah kisah mencari tahu tentang bagaimana kehidupan para santri di pesantren melalui kisah dua santri dan guru muda di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, sebuah pesantren terbesar dengan 2.000 santri di Cirebon, Jawa Barat.<br></p>



<p>Pondok pesantren tradisional seperti layaknya pesantren umumnya, namun ia istimewa karena dipimpin oleh seorang perempuan. Nyai Masriyah Amva. Diketahui, Nyai Masriyah merupakan salah seorang A’wan (Dewan Pakar) PBNU.<br></p>



<p>Pesantren Kebon Jambu yang terletak di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat itu menampung lebih dari 2000 santri muda berumur antara 12-22 tahun.<br></p>



<p>Lola Amaria Production menganggap pesantren tradisional seperti Pondok Kebon Jambu merupakan salah satu benteng pertahanan masa depan untuk menangkal ancaman intoleransi di Indonesia.<br></p>



<p>Proses produksi Film ini awalnya, dilakukan riset dimulai tahun 2015 dan 2016. Pada 2015, Lola Amaria Production mendapatkan dana pengembangan sebesar $1500 dari Indonesian Documentary (InDocs) dan Steps International.<br></p>



<p>Proses pencarian dana mulai dilakukan pada 2016 dengan mengikuti beberapa forum pendanaan untuk film dokumenter.<br></p>



<p>Di antaranya Asian Side of the Docs di Bangkok dan Doc Edge Kolkata di India pada 2016, serta International Documentary Film Festival (IDFA) Forum di Amsterdam pada 2017. Ketika itu, film ini berhasil mengamankan kerja sama dengan NHK World dan Aljazeera Documentary Channel.<br></p>



<p>Proses syuting film berdurasi 95 menit ini dimulai pada Maret 2017 hingga tahun 2018. Sementara proses editing dilakukan Oktober hingga November 2018 di Berlin, Jerman, dengan melibatkan salah satu editor terbaik di Eropa, yakni Stephen Krumbiegel.<br></p>



<p><strong>Film tentang Islam dari Sudut Perempuan</strong><br></p>



<p>Shalahuddin Siregar, sutradara dan produser film itu mengatakan dia tak hanya ingin membuat film yang menjelaskan apa itu pesantren, tetapi ingin melihat lebih dalam hal, dan mengupas hal jarang dibahas di luar. “Makanya, film ini fokus pada bagaimana Islam dari sudut pandang perempuan,” kata dia.<br></p>



<p>Tahun lalu, film Pesantren menjadi pembuka Madani Film Festival yang berlangsung pada 27 November – 4 Desember 2021 di XXI Epicentrum. Saat itu, Shalahuddin menuturkan alasannya membesut film ini.<br></p>



<p>Menurut Shalahuddin, karyanya itu bukan merupakan film agama. Film yang dalam Bahasa Inggris berjudul <em>A Boarding School i</em>ni menceritakan tentang bagimana anak-anak di dalam pesantren. “Ada anak mau masuk SMP tapi tak mampu bayar biaya seragam. Makanya orang tuanya mengirimnya masuk ke pesantren,” katanya.<br></p>



<p>Film Pesantren, oleh Lola Amaria Production, juga sudah diputar dalam program Sinema Ramadan yang dibuat bekerja sama dengan Yayasan Bumi Karya Lestari. Program Sinema Ramadan adalah pemutaran film Pesantren di sepuluh pesantren di Pulau Jawa selama Ramadan 2022.<br></p>



<p>Film Pesantren terpilih dari sekitar 3.000 film, yang terdapat di dalam program di Luminous, sebuah program yang menurut IDFA adalah film-film yang mampu menenggelamkan para penontonnya dalam pengalaman sinematik: digerakkan oleh tokoh, cerita, maupun pembuat film.<br>Luminous hadir untuk memulihkan keindahan relasi, ekspresi dan rasa empati manusia dan membuat yang universal menjadi nyata lewat individu-individu dalam film-fim terpilih.<br></p>



<p>Menurut juru program Luminous Sarah Dawson, gaya observasional sutradara memberi kekuatan kepada anak-anak muda yang menjadi subyek film Pesantren ini sehingga mereka mampu menceritakan kisah mereka sendiri.<br></p>



<p>“Kita bisa belajar banyak dari guru-guru maupun pelajar dalam film ini, apapun kepercayaan atau identitas kita. Buat saya sendiri, film ini membuat saya merasa lebih punya harapan tentang dunia,” kata dia.<br></p>



<p>Politisi Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang terlihat hadir sebagai penonton dalam press screnning menyebut, menyaksikan film Pesantren, seperti melihat kembali kenangan di masa kecil “Situasinya ya persis seperti itu!”<br></p>



<p>Ia menyebut film Pesantren sebagai film yang baik, dan layak ditonton oleh beragam kalangan. Terlebih jika penonton datang dari luar lingkungan pesantren .<br>“Ya saya mau ikut urunan membelikan tiket agar lebih banyak orang yang menonton film ini. Tapi syaratnya penonton dari kalangan yang beragam ya!” <strong>XPOSEINDONESIA Teks dan Foto : </strong></p>



<p><strong>Muhamad Ihsan</strong></p>



<div class="wp-block-advgb-images-slider advgb-images-slider-block advg-images-slider-4159c43c-61c8-44ff-89df-4dd4e1030e69"><div class="advgb-images-slider" dir="ltr"><div class="advgb-image-slider-item"><img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren.jpg" class="advgb-image-slider-img" style="width:100%;height:auto"/><div class="advgb-image-slider-item-info" style="justify-content:center;align-items:center"></div></div></div></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://xposeindonesia.com/film/new-movie-on-this-week/film-pesantren-melihat-pesantren-lebih-dekat-melihat-islam-dari-sudut-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11482</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/08/Press-Conference-Film-Pesantren-300x300.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="300" />	</item>
		<item>
		<title>Lola Amaria Gelar Roadshow  Film Pesantren di Pulau Jawa</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/film/new-movie-on-this-week/lola-amaria-gelar-roadshow-film-pesantren-di-pulau-jawa/</link>
					<comments>https://xposeindonesia.com/film/new-movie-on-this-week/lola-amaria-gelar-roadshow-film-pesantren-di-pulau-jawa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2022 10:06:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[New Movie On This Week]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Fim Roadshow Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Lola Amaria]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=10576</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="film pesantren akan roadshow selama ramadhan" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Yayasan Bumi Kaya Lestari bekerjasama dengan Lola Amaria Production dan Shalahuddin Siregar (sutradara dan produser Film Pesantren) didukung PT. Telkom Indonesia dan Telkomsel, selama bulan Ramadhan 2022  akan melakukan putar film di 10 pesantren di Pulau Jawa. Pemutaran film ini akan menjadi kegiatan pertama di Indonesia,  yang akan membawa sebuah film keliling pesantren selama buLan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Yayasan Bumi Kaya Lestari </strong>bekerjasama dengan<strong> Lola Amaria Production </strong>dan<strong> Shalahuddin Siregar </strong>(sutradara dan produser Film Pesantren) didukung<strong> PT. Telkom Indonesia </strong>dan <strong>Telkomsel</strong>, selama bulan Ramadhan 2022  akan melakukan putar film di 10 pesantren di Pulau Jawa.</p>



<p>Pemutaran film ini akan menjadi kegiatan pertama di Indonesia,  yang akan membawa sebuah film keliling pesantren selama buLan Ramadhan dan akan disaksikan oleh ribuan santri.</p>



<p>Kegiatan ini, menurut Lola Amaria &nbsp;bertujuan “untuk menjadikan film sebagai bagian dari sistem pembelajaran, menggali potensi kreatif di kalangan santri dan memperkuat pandangan pesantren sebagai tempat bersemainya nilai-nilai keislaman yang penuh damai dan kasih sayang!”ungkap Lola.</p>



<p>Pemutaran film akan dilaksanakan dalam bentuk &#8216;Nonton Bareng&#8217; dilanjutkan dengan diskusi atau ngobrol santai dengan para nara sumber</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Pesantren?</h2>



<p>Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 25.000 Pondok Pesantren yang menjadi rumah dan sekolah bagi sekitar 4 juta santri.</p>



<p>Di pesantren para santri dididik untuk berpikir mandiri dan kritis dalam menafsirkan ayat-ayat suci dan pengetahuan modem yang sejalan dengan ajaran Islam.</p>



<p>“Pesantren adalah salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang menjunjung keberagaman dan toleransi di Indonesia dengan senantiasa mengedepankan dan mengajarkan kedamaian,”ujar Lola lagi.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Film Pesantren</h1>



<p>Berlokasi di Pesantren Kebon Jambu di Cirebon dengan 1800 santri, Film Pesantren bercerita tentang dua guru dan &nbsp;dua santri.</p>



<p>Berbeda dengan pesantren kebanyakan, pesantren ini diasuh oleh seorang perempuan &#8216;alimah bemama Ibu Nyai Masriyah Amva. yang mempraktekkan ajaran-ajaran agama dengan pendekatan yang santai dan damai.</p>



<p>Melalui film ini penonton disuguhkan hal- hal yang sering dipertentangkan dalam masyarakat; keberagaman, hak asasi manusia, kepemimpinan perempuan, musik dan perlunya humor dalam menyebarkan ajaran Islam.</p>



<p>Sejak islamofobia menjadi sentimen global, pandangan negatif tentang pesantren ikut menyebar tuas. Pesantren dipandang sebagai tempat subur tumbuhnya bibit radikalisme, terorisme, fanatisme agama,dan intoleransi.</p>



<p>Bahkan belakangan kita mendengar berita tentang kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan oknum pengajar terhadap santri di pesantren ikut mencoreng citra baik pesantren</p>



<p>“Film ini akan menceritakan sebaliknya, dimana pesantren justru tempat kita mengajarkan anak-anak membuka pikiran terhadap perkembangan zaman, kemajuan teknologi, namun sekaligus meneguhkan keyakinan terhadap kebenaran agama!”ungkap Lola</p>



<p>Film ini sudah diputar pertama kali untuk publik di IDFA (International Documentary Film Festival) di Amsterdam pada November 2019.</p>



<p>IDFA adalah festival film dokumenter terbesar dan paling bergensi di dunia. Film ini disambut dengan antusias, terbukti dengan tiket yang terjual habis untuk dua pemutaran pertama.</p>



<p>Film ini juga akan diputar serentak di bioskop XXI mulai tanggal 26 Mei 2022 di kota-kota besar dengan layar terbatas.</p>



<p>Sarah Dawson, Juru Program IDFA mengatakan &#8220;Kita bisa belajar banyak dari guru-guru maupun pelajar dalam film ini, apapun kepercayaan atau identitas kita. Buat saya sendiri, film ini membuat saya merasa lebih punya harapan tentang dunia.&#8221;</p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td></td></tr><tr><td></td><td></td></tr></tbody></table></figure>



<p>Sementara itu <strong>Savic Ali, </strong>Ketua PBNU, setelah menonton mengatakan , &#8220;Film ini berhasil menjungkirbalikkan stigma negatif yang melekat pada Pesantren&#8221;.</p>



<p>Shalahuddin Siregar, Sutradara dan Produser, mengatakan, ia membuat film ini karena terganggu dengan stigma negatif yang diberikan pada Pesantren sebagai tempat yang kolot dan tidak berkembang, bahkan tempat &nbsp;teroris diajarkan.</p>



<p>Dia membuat film ini untuk publik agar mengenal lebih dalam mengenai kehidupan di dalam Pesantren berjalan sehari-hari. Shalahuddin, yang disapa Udin,  adalah seorang sineas muda yang banyak berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial dan menekuni pembuatan film dokumenter. </p>



<p>“Film dokumenter lebih bisa menggambarkan kehidupan sosial kemasyarakatan lebih realistik tanpa banyak visual artifisial yang kadang menipu penonton! kata Udin.</p>



<p>Film Pesantren pada akhirnya membawa  ke Festival Film Dokumenter kelas dunia di Amsterdam dan melahirkan banyak pujian<strong>. XPOSEINDONESIA Foto : Dok.</strong></p>


<div style="min-height: 535px;; " class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_0e855c8b-6bc6-4036-bf08-fa67e5236d19" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/film-jadi-bagian-dari-sistem-pembelajaran.jpg" alt="film jadi bagian dari sistem pembelajaran" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">film jadi bagian dari sistem pembelajaran</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan.jpg" alt="film pesantren akan roadshow selama ramadhan" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">film pesantren akan roadshow selama ramadhan</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/pesantren-sebagai-tempat-bersemainya-nilai-nilai-keislaman-yang-penuh-damai-dan-kasih-sayang.jpg" alt="pesantren sebagai tempat bersemainya nilai nilai keislaman yang penuh damai dan kasih sayang" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">pesantren sebagai tempat bersemainya nilai nilai keislaman yang penuh damai dan kasih sayang</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/PESANTREN.jpg" alt="pesantren" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">pesantren</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://xposeindonesia.com/film/new-movie-on-this-week/lola-amaria-gelar-roadshow-film-pesantren-di-pulau-jawa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">10576</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2022/03/Film-Pesantren-akan-Roadshow-Selama-Ramadhan-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
		<item>
		<title>Lola Amaria Garap Komedi Satir tentang Politik, Seks &#038; Tukang Pijat</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/film/on-location/lola-amaria-garap-komedi-satir-tentang-politik-seks-tukang-pijat/</link>
					<comments>https://xposeindonesia.com/film/on-location/lola-amaria-garap-komedi-satir-tentang-politik-seks-tukang-pijat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jan 2014 09:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[On Location]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Lola Amaria]]></category>
		<category><![CDATA[Negeri Tanpa Telinga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://offair.id/xposeid/?p=890</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="195" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat-300x195.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat-300x195.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat-768x499.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat-150x97.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat-600x390.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat-696x452.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat-647x420.jpg 647w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat.jpg 770w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Setelah lima tahun absen sebagai sutradara, dan hanya sibuk menjadi produser, Lola Amaria kembali akan menyutradarai film baru diberi judul “Negeri Tanpa Telinga”.&#160; Film komedi satir ini akan berpusat pada politik, kekuasaan, seks dan tukang pijat. Dalam pres conference&#160; syukuran film ini, di Graha Cipta III, TIM,&#160; Cikini, Jakarta&#160; Pusat, (28/01/2014), Lola menjelaskan, ide pembuatan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah lima tahun absen sebagai sutradara, dan hanya sibuk menjadi produser<strong>, Lola Amaria</strong> kembali akan menyutradarai film baru diberi judul<em> “Negeri Tanpa Telinga”.</em>&nbsp; Film komedi satir ini akan berpusat pada politik, kekuasaan, seks dan tukang pijat.</p>



<p>Dalam <em>pres conference&nbsp;</em> syukuran film ini, di Graha Cipta III, TIM,&nbsp; Cikini, Jakarta&nbsp; Pusat, (28/01/2014), Lola menjelaskan, ide pembuatan film sudah ada sejak empat tahun lalu. “Namun baru bisa terealisasi tahun kemarin, karena masalah budget. Memang terkesan klise, tapi kami berupaya menghasilkan karya terbaik,&nbsp; dengan melibatkan pemain terbaik seperti <strong>Ray Sahatapy, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana</strong> dan lain-lain,” ujarnya.</p>



<p>Lola juga menyatakan, ia&nbsp; tidak terlalu&nbsp; paham, apakah flm ini melawan atau mengikuti arus. Karena seperti kita tahu, tahun 2014 disebut sebagai tahun politik, dan pas kebetulan Lola memproduksi film yang berkisar tentang politik. &nbsp;“Saya tidak ingin nyidir, atau membela siapa-siapa.&nbsp; Tapi, kalau ada yang tersindir ya bagus juga&#8230;Yang pasti, kalau ide ini terus ditahan pasti luber,” katanya lagi.</p>



<p>Lola juga mengaku tidak&nbsp; terlalu yakin, sebuah film bisa&nbsp; langsung memberi pengaruh dan mengubah situasi politik Indonesia menjadi lebih baik. “Kalau berubah memang kecillah, apalah artinya sebuah filim. Di sini aku berusaha memberikan yang terbaik saja. Dan yang pasti juga ini bukan penyuluhan untuk menangkap sasaran dari KPK, misalnya!”</p>



<p>Skenario <em>“Negeri Tanpa Telinga”</em> ditulis Lola bersama <strong>Indra Tranggono,</strong> berkisah tentang&nbsp; tukang pijat bernama Naga. Menurut Lola, sosok Naga terinspirasi dari tukang pijat langganannya, “Mirip&nbsp; sosok Suwondo, tukang pijat Gus Dur,” Lola menjelaskan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Nah, Naga digambarkan memiliki klien kalangan atas. Mulai dari Menteri, Politikus, dan Pengusaha. Dari para klien itulah, Naga banyak mengetahui&nbsp; soal skandal korupsi dan skandal seks para pejabat negara.&nbsp; Sekali waktu, Naga bertemu kliennya yang lain, seorang Pembawa Acara <em>talk show </em>Televisi, <strong>Chika Cemani.</strong></p>



<p>Tanpa sengaja, Naga membagi pengetahuannya tentang kalangan atas itu pada sang <em>Host.</em> Rupanya, peristiwa ini berbuntut panjang, bahkan Naga diancam akan dibunuh. Bagaimana kisah selanjutnya? Sabar&#8230;Film ini menurut rencana baru mulai syuting pada 1 Februari 2014 dan masuk gedung bioskop pada bulan Agustus 2014. <strong>XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dudut Suhendra Putra</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading" id="h-more-pictures">More Pictures</h2>


<div style="min-height: 285px;; " class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_7e27d08d-3b11-469c-bda6-6b9fa4612c3f" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://offair.id/xposeid/wp-content/uploads/2021/02/SYUKURAN-FILM-NEGERI-TANPA-TELINGA_DSP_4-46b82bd212.jpg" alt="Teuku Rifnu Wikana, Jenny Chang, Lola Amaria, Ray Sahetapy dan Tanta Ginting" style="height: 250px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">Teuku Rifnu Wikana, Jenny Chang, Lola Amaria, Ray Sahetapy dan Tanta Ginting</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://offair.id/xposeid/wp-content/uploads/2021/02/SYUKURAN-FILM-NEGERI-TANPA-TELINGA_DSP_3-226d5290da.jpg" alt="3 Film 'Negeri Tanpa Telinga' sendiri bercerita tentang seorang tukang pijat keliling bernama Naga yang memiliki klien orang-orang papan atas seperti politikus, menteri, hingga ketua partai.&lt;br&gt;" style="height: 250px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">3 Film &#8216;Negeri Tanpa Telinga&#8217; sendiri bercerita tentang seorang tukang pijat keliling bernama Naga yang memiliki klien orang-orang papan atas seperti politikus, menteri, hingga ketua partai.<br></figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://offair.id/xposeid/wp-content/uploads/2021/02/SYUKURAN-FILM-NEGERI-TANPA-TELINGA_DSP_2-010e8b46ac.jpg" alt="Teuku Rifnu Wikana, Jenny Chang, Lola Amaria, Ray Sahetapy dan Tanta Ginting" style="height: 250px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">Teuku Rifnu Wikana, Jenny Chang, Lola Amaria, Ray Sahetapy dan Tanta Ginting</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://xposeindonesia.com/film/on-location/lola-amaria-garap-komedi-satir-tentang-politik-seks-tukang-pijat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">890</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2014/01/Lola-Amaria-Garap-Komedi-Satir-tentang-Politik-Seks-Tukang-Pijat-300x195.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="195" />	</item>
	</channel>
</rss>
