<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">

<channel>
	<title>Keenan Nasution &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<atom:link href="https://xposeindonesia.com/tag/keenan-nasution/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<description>News And Entertaiment</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Oct 2025 02:38:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/04/cropped-Xpose-favicon-32x32.png</url>
	<title>Keenan Nasution &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233386640</site>	<item>
		<title>Pada Akhirnya, Tampil Perdana Setelah 50 Tahun!</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/on-stage/lalu-merekapun-menulis-sejarah-musik-lagi-untuk-kedua-kali/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2025 01:17:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[On Stage]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Gypsi]]></category>
		<category><![CDATA[Keenan Nasution]]></category>
		<category><![CDATA[Synchronize Fest 2025]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=35852</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="guruh sukarnoputra" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra.jpg 1200w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Pada akhirnya memang terjadilah! Guruh Gypsi seperti menuliskan buku kedua. Buku pertama yang secara ide lahir pada tahun 1975, menjadi tonggak penting Musik Indonesia — gagah, berjiwa Nusantara, tegas, dan magis. Sebuah karya yang mengangkat kebanggaan terhadap bangsa dan tanah air, dengan komposisi yang sarat kritik sosial, kritik budaya, serta cinta tanah air. Lagu-lagu mereka [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada akhirnya memang terjadilah! Guruh Gypsi seperti menuliskan buku kedua. Buku pertama yang secara ide lahir pada tahun 1975, menjadi tonggak penting Musik Indonesia — gagah, berjiwa Nusantara, tegas, dan magis. Sebuah karya yang mengangkat kebanggaan terhadap bangsa dan tanah air, dengan komposisi yang sarat kritik sosial, kritik budaya, serta cinta tanah air. Lagu-lagu mereka menggugah kesadaran akan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan seni dan budaya adi luhung. Bahkan, beberapa lagu menggunakan Bahasa Bali sebagai pilihan narasi.</p>



<p>Selain itu, Guruh Gypsi juga menyandingkan elemen musik Barat dengan musik tradisi Nusantara. Warna <em>progressive rock</em> (atau <em>art-rock</em> kala itu) berpadu dengan nuansa musik tradisi Bali. Mereka menggandeng kelompok Gamelan Bali dari Lembaga Kesenian Bali Saraswati yang dipimpin I Gusti Kompiang Raka. Tidak hanya Bali, elemen bunyi tradisi Jawa dan Sunda juga disisipkan, menghasilkan kombinasi musikal yang eksotik dan unik.</p>



<p><strong>Penampilan Panggung yang Paling Dirindukan</strong></p>



<p>Sekitar tiga bulan sebelum tampil, diskusi intensif dilakukan antara tiga anggota Guruh Gypsi. Guruh Sukarnoputra menegaskan kembali aksentuasi warna tradisi, Keenan Nasution memperkuat fondasi musikal berdasarkan versi orisinal album 1977, sementara Abadi Soesman memberi sentuhan rock yang mempertebal jiwa musik Guruh Gypsi. Mereka menciptakan aransemen baru yang tetap setia pada semangat aslinya — dirancang khusus untuk penampilan perdana di <em>Synchronize Festival 2025</em>.</p>



<p>Mereka benar-benar “menulis buku kedua”. Semua ide kreatif dari 50 tahun silam kini diwujudkan di atas panggung. Ada sedikit penyesuaian dalam aransemen agar sesuai dengan format musik masa kini, tanpa mengubah esensi khas Guruh Gypsi.</p>



<p>Sebagian orang sempat berpendapat bahwa musiknya sedikit bergeser dari orisinalitas tahun 1975–1977. Namun sesungguhnya, perubahan itu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan ensemble modern. Formasi lengkapnya luar biasa: tiga kibordis, dua bahkan hingga tiga drummer — salah satunya menggunakan <em>Simmons drums</em> khas era 1980-an — ditambah empat pemain tiup, satu violinis, dan dua gitaris.</p>



<p>Pihak <em>Synchronize</em> sejak awal mengingatkan bahwa penonton pasti merindukan warna yang mendekati aslinya. Keenan, Abadi, dan Guruh memegang erat pesan itu. Hingga akhirnya, pada Sabtu malam, 4 Oktober, Guruh Gypsi tampil untuk pertama kalinya di atas panggung — sebuah momen yang menjadi salah satu sesi paling dirindukan dalam sejarah musik tanah air.</p>



<p>Penampilan ini dikemas dengan apik oleh sutradara panggung <strong>Taba Sanchabahtiar</strong> bersama timnya, sementara sisi produksi suara ditangani <strong>Harry Suhardiman</strong>. Hasilnya, sebuah pertunjukan megah dan penuh ruh sejarah.</p>



<p><strong>Dari “Barong Gundah” hingga “Indonesia Maharddhika”</strong></p>



<p>Pertunjukan dibuka dengan lagu instrumental <strong>“Barong Gundah”</strong>, lengkap dengan penari Barong di atas panggung. Suasana <em>east meets west</em> langsung terasa — musik barat bertemu magisnya tradisi timur. Penonton pun memberi sambutan luar biasa hangat, seolah tersihir oleh suasana sakral yang tercipta.</p>



<p>Lagu kedua, <strong>“Smaradhana”</strong>, menjadi momen manis ketika dinyanyikan oleh <strong>Daryl Nasution</strong>, putra Keenan Nasution. Penonton bernyanyi bersama, sebagian besar hafal lirik lagu yang dulu dipopulerkan almarhum <strong>Chrisye</strong>.</p>



<p>Berlanjut ke <strong>“Janger 1897 Saka”</strong>, dengan Daryl tetap sebagai vokalis utama, kali ini berduet bersama sang ayah yang membawakan bagian berbahasa Bali. Energi panggung semakin panas, sorak penonton pecah, beberapa bahkan berloncatan kegirangan.</p>



<p>Lagu <strong>“Chopin Larung”</strong> kemudian dibawakan oleh <strong>Andy /rif</strong> bersama Keenan Nasution. Lagu bernuansa kritik budaya ini semakin hidup dengan tambahan koreografi dari para penari <strong>GSP</strong>.</p>



<p>Berikutnya, <strong>“Geger Gelgel”</strong> mengguncang panggung dengan arak-arakan penari dan barisan <em>marching band</em>, menciptakan nuansa patriotik yang kuat.</p>



<p>Dan akhirnya, puncak penampilan pun tiba — <strong>“Indonesia Maharddhika”</strong>, anthem rock yang gagah dan menggugah semangat nasionalisme. Keenan Nasution memimpin vokal, sementara Abadi Soesman mempersembahkan solo keyboard memukau. Ketiga drummer tampil bersamaan dalam sesi solo yang megah. Banyak penonton terlihat menitikkan air mata haru — menyaksikan Guruh Gypsi tampil langsung di panggung, setelah 50 tahun hanya hidup dalam legenda.</p>



<p>Pada akhirnya, semesta seolah memberi restu bagi Guruh Gypsi untuk menorehkan bab baru dalam sejarah musik Indonesia. Mereka menulis “buku kedua” — karya yang berakar pada ide dan semangat 50 tahun silam, namun dihidupkan kembali dengan rasa cinta tanah air yang tetap menyala.</p>



<p><strong>Banggalah untuk selalu menjadi Indonesia. Merdeka!</strong></p>



<p><strong>Pada Akhirnya, Tampil Perdana Setelah 50 Tahun!</strong></p>



<p>Pada akhirnya memang terjadilah! Guruh Gypsi seperti menuliskan buku kedua. Buku pertama yang secara ide lahir pada tahun 1975, menjadi tonggak penting Musik Indonesia — gagah, berjiwa Nusantara, tegas, dan magis. Sebuah karya yang mengangkat kebanggaan terhadap bangsa dan tanah air, dengan komposisi yang sarat kritik sosial, kritik budaya, serta cinta tanah air. Lagu-lagu mereka menggugah kesadaran akan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan seni dan budaya adi luhung. Bahkan, beberapa lagu menggunakan Bahasa Bali sebagai pilihan narasi.</p>



<p>Selain itu, Guruh Gypsi juga menyandingkan elemen musik Barat dengan musik tradisi Nusantara. Warna <em>progressive rock</em> (atau <em>art-rock</em> kala itu) berpadu dengan nuansa musik tradisi Bali. Mereka menggandeng kelompok Gamelan Bali dari Lembaga Kesenian Bali Saraswati yang dipimpin I Gusti Kompiang Raka. Tidak hanya Bali, elemen bunyi tradisi Jawa dan Sunda juga disisipkan, menghasilkan kombinasi musikal yang eksotik dan unik.</p>



<p><strong>Penampilan Panggung yang Paling Dirindukan</strong></p>



<p>Sekitar tiga bulan sebelum tampil, diskusi intensif dilakukan antara tiga anggota Guruh Gypsi. Guruh Sukarnoputra menegaskan kembali aksentuasi warna tradisi, Keenan Nasution memperkuat fondasi musikal berdasarkan versi orisinal album 1977, sementara Abadi Soesman memberi sentuhan rock yang mempertebal jiwa musik Guruh Gypsi. Mereka menciptakan aransemen baru yang tetap setia pada semangat aslinya — dirancang khusus untuk penampilan perdana di <em>Synchronize Festival 2025</em>.</p>



<p>Mereka benar-benar “menulis buku kedua”. Semua ide kreatif dari 50 tahun silam kini diwujudkan di atas panggung. Ada sedikit penyesuaian dalam aransemen agar sesuai dengan format musik masa kini, tanpa mengubah esensi khas Guruh Gypsi.</p>



<p>Sebagian orang sempat berpendapat bahwa musiknya sedikit bergeser dari orisinalitas tahun 1975–1977. Namun sesungguhnya, perubahan itu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan ensemble modern. Formasi lengkapnya luar biasa: tiga kibordis, dua bahkan hingga tiga drummer — salah satunya menggunakan <em>Simmons drums</em> khas era 1980-an — ditambah empat pemain tiup, satu violinis, dan dua gitaris.</p>



<p>Pihak <em>Synchronize</em> sejak awal mengingatkan bahwa penonton pasti merindukan warna yang mendekati aslinya. Keenan, Abadi, dan Guruh memegang erat pesan itu. Hingga akhirnya, pada Sabtu malam, 4 Oktober, Guruh Gypsi tampil untuk pertama kalinya di atas panggung — sebuah momen yang menjadi salah satu sesi paling dirindukan dalam sejarah musik tanah air.</p>



<p>Penampilan ini dikemas dengan apik oleh sutradara panggung <strong>Taba Sanchabahtiar</strong> bersama timnya, sementara sisi produksi suara ditangani <strong>Harry Suhardiman</strong>. Hasilnya, sebuah pertunjukan megah dan penuh ruh sejarah.</p>



<p><strong>Dari “Barong Gundah” hingga “Indonesia Maharddhika”</strong></p>



<p>Pertunjukan dibuka dengan lagu instrumental <strong>“Barong Gundah”</strong>, lengkap dengan penari Barong di atas panggung. Suasana <em>east meets west</em> langsung terasa — musik barat bertemu magisnya tradisi timur. Penonton pun memberi sambutan luar biasa hangat, seolah tersihir oleh suasana sakral yang tercipta.</p>



<p>Lagu kedua, <strong>“Smaradhana”</strong>, menjadi momen manis ketika dinyanyikan oleh <strong>Daryl Nasution</strong>, putra Keenan Nasution. Penonton bernyanyi bersama, sebagian besar hafal lirik lagu yang dulu dipopulerkan almarhum <strong>Chrisye</strong>.</p>



<p>Berlanjut ke <strong>“Janger 1897 Saka”</strong>, dengan Daryl tetap sebagai vokalis utama, kali ini berduet bersama sang ayah yang membawakan bagian berbahasa Bali. Energi panggung semakin panas, sorak penonton pecah, beberapa bahkan berloncatan kegirangan.</p>



<p>Lagu <strong>“Chopin Larung”</strong> kemudian dibawakan oleh <strong>Andy /rif</strong> bersama Keenan Nasution. Lagu bernuansa kritik budaya ini semakin hidup dengan tambahan koreografi dari para penari <strong>GSP</strong>.</p>



<p>Berikutnya, <strong>“Geger Gelgel”</strong> mengguncang panggung dengan arak-arakan penari dan barisan <em>marching band</em>, menciptakan nuansa patriotik yang kuat.</p>



<p>Dan akhirnya, puncak penampilan pun tiba — <strong>“Indonesia Maharddhika”</strong>, anthem rock yang gagah dan menggugah semangat nasionalisme. Keenan Nasution memimpin vokal, sementara Abadi Soesman mempersembahkan solo keyboard memukau. Ketiga drummer tampil bersamaan dalam sesi solo yang megah. Banyak penonton terlihat menitikkan air mata haru — menyaksikan Guruh Gypsi tampil langsung di panggung, setelah 50 tahun hanya hidup dalam legenda.</p>



<p>Pada akhirnya, semesta seolah memberi restu bagi Guruh Gypsi untuk menorehkan bab baru dalam sejarah musik Indonesia. Mereka menulis “buku kedua” — karya yang berakar pada ide dan semangat 50 tahun silam, namun dihidupkan kembali dengan rasa cinta tanah air yang tetap menyala.</p>



<p><strong>Banggalah untuk selalu menjadi Indonesia. Merdeka!</strong> <strong>XPOSEINDONESIA dalpati-danta Foro : Muhamad Ihsan</strong></p>


<div style="min-height: 535px;; " class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_c2118d50-4378-41f8-a4da-c36f989f07ad" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/abadi-soesman.jpg" alt="abadi soesman" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">abadi soesman</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-kembali-duduk-di-belakang-drum-1.jpg" alt="keenan nasution kembali duduk di belakang drum" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">keenan nasution kembali duduk di belakang drum</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-dan-abadi-soesman-1.jpg" alt="keenan nasution dan abadi soesman" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">keenan nasution dan abadi soesman</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-dan-andy-rif-1.jpg" alt="keenan nasution dan andy rif" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">keenan nasution dan andy rif</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">35852</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-sukarnoputra-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
		<item>
		<title>Lalu, Mereka Menulis Sejarah Musik Lagi — untuk Kedua Kali…</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/on-stage/lalu-mereka-menulis-sejarah-musik-lagi-untuk-kedua-kali/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2025 00:44:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[On Stage]]></category>
		<category><![CDATA[Abdi Soesman]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Gipsy]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Sukarnoputra]]></category>
		<category><![CDATA[Keenan Nasution]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=35845</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="keenan nasution, guruh dan abadi soesman" decoding="async" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman.jpg 1200w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Bagaimana mungkin menghidupkan kembali sebuah grup musik yang telah “hiatus” hampir setengah abad? Begini ceritanya. Awalnya, mereka tak berencana tampil atau reuni besar-besaran. Hanya berkumpul untuk mencoba rekaman—setelah melalui diskusi panjang dan beberapa workshop kecil. Prosesnya dimulai di studio sederhana di rumah salah satu anggota, sebelum akhirnya masuk studio rekaman sesungguhnya. Rekaman itu sendiri memakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagaimana mungkin menghidupkan kembali sebuah grup musik yang telah “hiatus” hampir setengah abad? Begini ceritanya.</p>



<p>Awalnya, mereka tak berencana tampil atau reuni besar-besaran. Hanya berkumpul untuk mencoba rekaman—setelah melalui diskusi panjang dan beberapa workshop kecil. Prosesnya dimulai di studio sederhana di rumah salah satu anggota, sebelum akhirnya masuk studio rekaman sesungguhnya. Rekaman itu sendiri memakan waktu lama, hampir dua tahun sejak ide pertama kali muncul pada 1975 hingga album dirilis menjelang 1977.</p>



<p>Secara komersial, album ini memang tidak meledak. Namun di kalangan musisi dan media musik, karyanya dianggap luar biasa. Album itu diedarkan secara independen, tanpa bantuan label besar. Mereka bahkan menjajakan sendiri hasil rekaman tersebut—sebuah langkah yang kala itu sangat berani.</p>



<p>Kini, hanya tiga anggota asli yang tersisa: <strong>Guruh Sukarnoputra</strong> (komposer, penulis lirik, pianis, dan penabuh gamelan), <strong>Keenan Nasution</strong> (penulis lagu, drummer, vokalis), serta <strong>Abadi Soesman</strong> (kibordis). Sementara tiga rekannya telah berpulang: <strong>Chrisye</strong>, <strong>Odink Nasution</strong>, dan <strong>Roni Harahap</strong>.</p>



<p>Dengan nama <strong>Guruh Gypsi</strong>, mereka meninggalkan warisan penting bagi musik Indonesia. Mereka memperkenalkan konsep musik yang rumit namun eksotis, berpadu dengan lirik puitis dan tak lazim. Musiknya tidak biasa, bahkan disebut “gila” karena terasa beberapa langkah lebih maju dari zamannya. Album mereka berisi enam komposisi asli dan satu karya tradisi Bali dengan suara gamelan murni. Uniknya, Guruh Gypsi tidak pernah sekalipun tampil di konser membawakan lagu-lagu itu.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Impian yang Akhirnya Menjadi Kenyataan</strong></h3>



<p>“Kenapa belum pernah manggung?” tanya banyak orang.<br>“Tak ada kesempatan,” ujar Guruh Sukarnoputra.<br>“Mungkin karena musik kami dianggap terlalu ajaib,” tambah Keenan Nasution.<br>“Dan butuh waktu untuk bisa menikmatinya,” sambung Abadi Soesman.</p>



<p>Mereka memang tak berpikir soal pasar atau popularitas. “Kami hanya memainkan musik yang ingin kami mainkan,” kata Guruh. Bagi mereka, musik adalah ekspresi, bukan strategi. Karena itu, tak heran bila di awal album ini sulit terjual—orang banyak yang belum mengerti.</p>



<p>Namun waktu membalikkan keadaan. Dua, tiga dekade kemudian, album <em>Kesepakatan dalam Kepekatan</em> justru diburu kolektor. Di usia 30–40 tahun sejak rilisnya, album itu menjadi legenda. Kaset orisinalnya bahkan menembus harga lebih dari Rp1,5 juta—simbol betapa karya jujur memang tak lekang oleh waktu.</p>



<p>Dari situ, kisah berlanjut. Awal 2024, Keenan Nasution dan Dion Momongan bertandang ke markas <strong>Synchronize Festival</strong> di kawasan Lebak Bulus. Mereka disambut dua sosok di balik festival itu: <strong>David Karto</strong> dan <strong>David Tarigan</strong>. Pertemuan yang awalnya hanya silaturahmi, berubah menjadi ide “gokil” — <em>bagaimana kalau Guruh Gypsi tampil di panggung Synchronize?</em></p>



<p>“Eh, beneran nih?” sahut Keenan.<br>“Ya, buat 10 tahun Synchronize Festival 2025,” jawab mereka.<br>Dan dari obrolan santai itu, sesuatu yang tak pernah terjadi selama 50 tahun akhirnya diputuskan: <strong>Guruh Gypsi akan manggung untuk pertama kalinya.</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Persiapan Panjang untuk Sebuah Momen Bersejarah</strong></h3>



<p>Meski tersisa tiga anggota asli, niat mereka sungguh serius. Keenan mulai memilih musisi pendukung, berdiskusi intens dengan Dion Momongan. Dari situ, ia menunjuk <strong>Bubi Sutomo</strong> sebagai <em>Music Director</em>, dibantu <strong>Yoes JF</strong> sebagai asisten dan konduktor.</p>



<p>Sekitar dua bulan sebelum Synchronize 2025, komunikasi dengan <strong>Guruh Sukarnoputra</strong> pun makin intens. <strong>Abadi Soesman</strong> ikut dilibatkan dalam tahap akhir. Latihan, aransemen, pemilihan format panggung—semuanya disiapkan dengan seksama.</p>



<p>Dan begitulah, roda sejarah berputar. Setelah 50 tahun, <strong>Guruh Gypsi</strong> bukan hanya reuni—mereka sedang menulis ulang bab baru dalam sejarah musik Indonesia. <strong>XPOSEINDONESIA-<em>dalpati-danta</em> Foto Muhamad Ihsan</strong></p>


<div style="min-height: 535px;; " class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_c31e6984-72d9-49dc-bf79-7385cf73dbea" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-gypsi-bukan-hanya-reunimereka-sedang-menulis-ulang-bab-baru-dalam-sejarah-musik-indonesia.jpg" alt="guruh gypsi bukan hanya reuni,mereka sedang menulis ulang bab baru dalam sejarah musik indonesia" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">guruh gypsi bukan hanya reuni,mereka sedang menulis ulang bab baru dalam sejarah musik indonesia</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/tiga-anggota-asli.jpg" alt="tiga anggota asli," style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">tiga anggota asli,</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>


<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">35845</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
		<item>
		<title>Benarkah Guruh Sukarnoputra, Keenan Nasution dan Abadi Soesman. Akan tampil lagi?</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/on-stage/benarkah-guruh-sukarnoputra-keenan-nasution-dan-abadi-soesman-akan-tampil-lagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 12:07:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[On Stage]]></category>
		<category><![CDATA[Abadi Soesman]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Soekarnoputra]]></category>
		<category><![CDATA[Keenan Nasution]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=35046</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="pressconf synchronize fest 2" decoding="async" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Memang tersisa hanya 3 saja, original membersnya. Guruh Sukarnoputra, penulis lagu juga syair dan gamelan selain piano. Keenan Nasution, vokal utama dan drummer. Lalu Abadi Soesman, keyboardis. Dan yang sudah pergi mendahului kita semua, kembali ke pencipta, ada Chrisye (bass). Lalu Roni Harahap (piano/keyboard). Dan, gitaris, Odink Nasution. Ketika satu persatu pergi, baik Keenan maupun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Memang tersisa hanya 3 saja, <em>original members</em>nya. <strong>Guruh Sukarnoputra</strong>, penulis lagu juga syair dan gamelan selain piano. <strong>Keenan Nasution</strong>, vokal utama dan drummer. Lalu <strong>Abadi Soesman</strong>, keyboardis.</p>



<p>Dan yang sudah pergi mendahului kita semua, kembali ke pencipta, ada <strong>Chrisye</strong> (bass). Lalu <strong>Roni Harahap</strong> (piano/keyboard). Dan, gitaris, <strong>Odink Nasution</strong>. Ketika satu persatu pergi, baik Keenan maupun Guruh bisa dibilang, tak lagi berpengharapan bahwa satu ketika grup mereka bisa bermain lagi. Bisa tampil sepanggung lagi.</p>



<p>Tampil lagi? Memang manggung terakhir mereka kapan? Seinget Keenan maupun Abadi, adalah pada pergelaran Guruh Sukarnoputra dan Swara Maharddhika di tahun 1979. Itupun, tambah Keenan, mereka hanya memainkan 2 lagu saja. Salah satu lagu lain, malah, “Zamrud Khatulistiwa”. &nbsp;Inilah cerita tentang grup musik fenomenal justru baru di zaman sekarang, yang baru “nyaring bunyi”nya saat ini, puluhan tahun kemudian. <strong>Guruh Gypsi</strong> namanya.</p>



<p><strong>Rock Progresif dan World Music</strong></p>



<p>Jadi Guruh Gypsi, muncul lewat rilis sebuah album kaset. Album tersebut dikerjakan mulai sekitar Juli 1975 hingga November 1976. Maka sejatinya, album Guruh Gypsi sudah berusia tepat 50 tahun, di tahun 2025 ini. Semua proses rekaman dilakukan di Tri Angkasa studio, dengan juru rekam saat itu adalah, <strong>Alex Kumara</strong>.</p>



<p>Ada beberapa musisi, juga penyanyi, yang terlibat ikut mendukung rekaman ini. Antara lain ada kakak beradik <strong>Rugun</strong> dan <strong>Bornok Hutauruk</strong>, sebagai “<em>choir</em>”. Lalu <strong>Gauri Nasution</strong> sebagai gitaris (almarhum Gauri adalah abang dari Keenan Nasution). Lalu ada <strong>Trisuci Kamal</strong>, sebagai pianis klasik, yang turut membantu aransemen. Selain itu ada <em>chamber</em> yang terdiri dari <strong>Suryati Supilin</strong>, <strong>Fauzan</strong>, <strong>Seno </strong>(violin), <strong>Sudarmadi </strong>(cello), <strong>Amir Katamsi</strong> (<em>double bass</em>), <strong>Suparlan </strong>(flute), <strong>Yudianto</strong> (Oboe dan Klarinet).</p>



<p>Bertindak sebagai penyandang dana adalah <strong>Pontjo Sutowo</strong>. Sedangkan grafis design, misal logo dari Guruh Gypsi, dibuat oleh <strong>Ayik Soegeng</strong>. Dan ada nama penting lain yaitu, <strong>I Gusti Kompiang Raka</strong> dengan gamelan <strong>Saraswati</strong>-nya. Gamelan ini bisa dibilang mengisi di semua lagu dan membuat bentuk musik keseluruhan dari Guruh Gypsi memang kental dengan suasana musik Bali, selain sedikit selipan Jawa.</p>



<p>Dan ketika dirilis, Guruh Gypsi cukup merampas perhatian publik. &nbsp;Paling tidak, dibahas mendalam media-media, terutama media musik di saat itu. Walau serunya, di saat itu, penjualan album terbilang biasa-biasa saja. Menurut Keenan Nasution dan Abadi Soesman, banyak orang mengaku “pusing” dengar lagu-lagu album Guruh Gypsi.</p>



<p>Musiknya bersuasana Rock Progresif, yang disandingkan dengan musik etnik Bali, walau saat itu bukan yang pertama kali beredar. Tapi tetap terasa “asing” dan “baru”. Tentu saja, bukan warna yang pop. Tak heran, penjualan album tidak bisa dibilang menggembirakan.</p>



<p>Tapi ternyata Guruh Gypsi, dengan “hanya” 6 komposisi yang dibawakan dalam albumnya, lantas menjadi album monumental. Walau “<em>reward</em>” tersebut di dapat puluhan tahun kemudian. Dianggap sebagai album penting, tonggak kemunculan “<em>Indonesian-Progressive Rock</em>”.</p>



<p>Sembari menjadi contoh konkrit apa yang disebut sebagai <em>World Music</em>, era awal waktu itu. Selain disebut album “anti-kemapanan” dan “ikon” perlawanan seniman dalam situasi sosial politik dan kebudayaan di masa itu, yang masuk fase mengkhawatirkan.</p>



<p>Album Guruh Gypsi memberi sebuah semangat baru, termasuk inspirasi baru, yang lebih menggairahkan musik Indonesia. Walau bukan yang pertama “membunyikan” kolaborasi musik barat dan timur. Sebelumnya ada <strong>Harry Roesli</strong> dengan Ken Arok, misalnya, yang beredar di tahun 1974. Berdekatan dengan Guruh Gypsi ada album Barong’s Band nya Erros Djarot, yang digarap di Jerman.</p>



<p>Yang sempat juga “mengguncang” musik rock Indonesia ada, komposer dan kibordis Jerman, <strong>Eberhard Schoener</strong>. Dimana Schoener berkolaborasi dengan musisi etnik Bali, <strong>Anak Agung Raka</strong>. Kolaborasi tersebut menghasilkan album <strong>Bali Agung</strong>, dirilis 1975. Hasil pengembaraan intens Schoener, dengan sekian bulan tinggal di daerah Ubud, Bali.</p>



<p>Kalau pendekatan Schoener lebih ke warna electronica, mengedepankan synthesizers, maka Guruh Gypsi lebih menonjolkan aksentuasi rock. Itu yang membedakan. Selain kolaboratornya, dimana Agung Raka memang tinggal di Bali. Sementara Kompiang Raka, bermukim di Jakarta dan sejak 1967 sudah mendirikan Gamelan Saraswati.</p>



<p><strong>Monumental, Dari Langit, Anak Band</strong></p>



<p>Gini ya, Guruh Gypsi memang satu kasus unik. Album ini muatan musiknya memang relatif “berat”. Ketika ditanyakan pada Guruh Sukarnoputra, inspirasinya datang dari mana, Guruh tertawa. Jawabannya, “Aku gak tahu juga kenapa bisa begitu. Inspirasi seperti turun dari langit saja”. Sudah begitu saja.</p>



<p>Lantas diapun menulis lagu. Guruh dan Keenan kemudian membahas, menggodok bersama lagu demi lagu. Jadi Keenan dengan Gypsi Band-nya, saat itu memang sudah lumayan eksis. Mereka antara lain juga sempat bermain regular di New York. Dimana di New York, mereka terbiasa mendengar macam-macam lagu, terutama rock. Juga menonton konser.</p>



<p>Saat itu, kenang Abadi Soesman, mereka juga menyimak bermacam musik sebenarnya. Tapi mereka sempat tergelitik ketika mendengar ada <strong>Ray Manzarek</strong>, kibordis dan pendiri The Doors, menyajikan lagu bernuansa etnik. Wah, itu warnanya kok etnik Indonesia, masak kita ketinggalan? Dari saat itulah dirinya, Keenan dan Chrisye kemudian berkeinginan mencoba membuat komposisi bernuansa etnik Indonesia.</p>



<p>Kebetulan, ketemu Guruh yang baru pulang dari studinya di Belanda, dan dengan niat yang sama. Guruh dan Keenan sudah berteman lama, sejak masa sekolah dasar di Perguruan Cikini. Guruh dan keluarga Sukarno, putra-putri memang bersekolah juga di Perguruan Cikini, sama seperti Keenan dan keluarga Nasution.</p>



<p>Dan menyoal tentang musiknya Guruh Gypsi, Keenan mengatakan, ya mereka emang “anak band”. Membuat musik ya yang pengen mereka mainkan saja. “Jadinya, lihat ya lagu Indonesia Maharddhika, durasinya 15 menitan. Panjang banget, dengarin lagu itu bisa sambil ngabisin kopi secangkir dan makan pisang goreng kayaknya…”.</p>



<p>Itulah, anak band. Tambah Keenan, “Ga terlalu terpikir tentang, nanti gimana menjualnya? Lagu-lagu berat dan panjang itu, orang-orang suka ga ya. Ga berhitung sejauh itu. Anak bandlah!” Anak Band Menteng banget ya? Keenan dan Abadi tertawa lebar.</p>



<p>Abadi lalu menambahkan, ketika dia diajak bantu Guruh Gypsi. Dia ga tahu lagu apa, pokoknya ya mainkan saja. “Ga terlalu jelas lagu apa yang saya mainkan. Begitu datang, hanya disuruh, elo isi lagu ini deh. Lalu lagu ini juga. Seperti itu.”</p>



<p>Begitulah sekelumit cerita dari nama “gagah”, Guruh Gypsi. Terutama di era terawalnya, menjelang masuk pertengahan 1970-an. Saat sekarang, album Guruh Gypsi (baik versi kaset maupun vinyl yang <em>unofficial</em>), terbilang menjadi album termahal. Dan tetap jadi koleksi wajib punya, untuk para kolektor.<em> </em><strong>XPOSEINDONESIA /dalpati-danta Foto : Muhamad Ihsan &amp; dionMomongan</strong></p>


<div style="min-height: 535px;; " class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_ad047719-c44d-4f02-a0aa-e8e54ebc4a81" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/tiga-personil-penting-yang-tersisa.jpg" alt="tiga personil penting yang tersisa" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">tiga personil penting yang tersisa</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/kata-guruh-inspirasinya-turun-dari-langit.jpg" alt="kata guruh inspirasinya turun dari langit" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">kata guruh inspirasinya turun dari langit</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/abadi-soesman-keenan-nasution-dan-guruh.jpg" alt="abadi soesman keenan nasution dan guruh" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">abadi soesman keenan nasution dan guruh</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest.jpg" alt="pressconf synchronize fest" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">pressconf synchronize fest</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>


<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">35046</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/09/pressconf-synchronize-fest-2-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Rockafella&#8217;s Silahturockmi: Lahirnya Semangat Baru Panggung Live Musik Rock</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/on-stage/rockafellas-silahturockmi-lahirnya-semangat-baru-panggung-live-musik-rock/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 May 2024 12:53:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[On Stage]]></category>
		<category><![CDATA[Acara Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Adith]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jelly Tobing]]></category>
		<category><![CDATA[Keenan Nasution]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Live Music]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Once Mekkel]]></category>
		<category><![CDATA[RA Suites Simatupang]]></category>
		<category><![CDATA[Riffy Putri]]></category>
		<category><![CDATA[Rockafella's Silahturockmi]]></category>
		<category><![CDATA[Trison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=20548</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Riffy Putri menghipnotis penonton dengan vokal spektakuler di Rockafella&#039;s Silahturockmi, membawakan lagu legendaris seperti &#039;It&#039;s Hard Life&#039; dan &#039;Ruthless Queen&#039;. Semangat rock yang tak tergoyahkan memenuhi RA Suites Simatupang" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Setiap tahunnya, Jakarta menjadi saksi berbagai acara musik yang memukau, namun ada yang istimewa dari ajang Rockafella&#8217;s Silahturockmi yang baru saja digelar pada Jumat, 3 Mei 2024, di RA Suites Simatupang, Jakarta. Acara ini diinisiasi oleh band epigon Rockafella&#8217;s yang dipimpin oleh pasangan Riffy Putri dan Adith, yang tampil percaya diri menghadirkan giat musik ini. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setiap tahunnya, Jakarta menjadi saksi berbagai acara musik yang memukau, namun ada yang istimewa dari ajang <strong>Rockafella&#8217;s Silahturockmi</strong> yang baru saja digelar pada Jumat, 3 Mei 2024, di RA Suites Simatupang, Jakarta. Acara ini diinisiasi oleh band epigon Rockafella&#8217;s yang dipimpin oleh pasangan <strong>Riffy Putri </strong>dan <strong>Adith</strong>, yang tampil percaya diri menghadirkan giat musik ini.</p>



<p><strong>Silaturahmi dan Kolaborasi Musisi Berbagai Generasi</strong></p>



<p>Rockafella&#8217;s Silahturockmi menyuguhkan semangat silaturahmi antara musisi dari berbagai zaman dan genre musik rock mainstream. Acara yang berlangsung meriah dan penuh kekeluargaan ini tidak dibebani persiapan yang rumit. &#8220;Ini merupakan mimpi gue, bisa ngumpulin kawan-kawan musisi di ajang bermusik ini. Kebetulan Rockafella&#8217;s secara reguler main di sini. Jadi sekalian saja, gue dan Adith berinisiatif untuk ajak sekalian kawan-kawan musisi guyub di sini. Kita senang-senang, bermusik bareng. Sekalian bersilaturahmi seusai lebaran,&#8221; ujar Riffy penuh syukur.</p>



<p>Acara ini bukan sekadar wacana, terbukti dari kehadiran pesohor dan musisi papan atas seperti Setiawan Jody, Keenan Nasution, Jelly Tobing, Agam Hamzah, Adhiyaksa Daud, Rustam, Mohammad Kadri, serta Once Mekkel, Harry Murti, Trison dan personil Roxx-nya, Totok Tewel, Taraz, Lawang Pitu, dan puluhan musisi lainnya.</p>



<p>Dipandu oleh wartawan senior <strong>Buddy Ace</strong>, acara dimulai pukul 20.15 WIB dengan sambutan dari Adith yang mewakili penggagas dan perwakilan dari RA Suites Simatupang. <strong>Gideon Momongan</strong>, pengamat dan penyelenggara event musik tanah air, menyatakan bahwa sudah saatnya karya musik era 60, 70, 80, dan 90-an kembali dihadirkan. &#8220;Pecinta musik butuh ruang nostalgia, saat mereka nongkrong di cafe seperti saat ini. Ini menjadi trigger bagus bagi kehidupan musik di Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Sudah lama juga kita tidak guyub seperti saat ini,&#8221; ungkap Gideon.</p>



<p><strong>Once Mekkel </strong>menambahkan, &#8220;Saatnya marwah musisi Indonesia dikembalikan di panggung-panggung cafe. Ini sebuah pembuka, mudah-mudahan tempat lain melihat hal ini dan mau mengikuti. Sarana dan penggiatnya sudah ada, tinggal lagi keberanian untuk mengadakan acaranya,&#8221; harap Once.</p>



<p><strong>Perayaan Semangat Rock yang Tak Tergoyahkan</strong></p>



<p>Rockafella&#8217;s membuka penampilan awal mereka dengan beberapa lagu yang dibawakan Riffy dengan vokal spektakuler seperti &#8216;It&#8217;s Hard Life&#8217;, &#8216;Jealousy&#8217;, &#8216;Ruthless Queen&#8217;, dan beberapa lagu legendaris lainnya yang membakar semangat tamu yang hadir. Semangat kolaborasi pun terlihat ketika para rocker dan musisi yang hadir saling berbagi panggung dan menunjukkan kemampuan mereka.</p>



<p>Rockafella&#8217;s Silahturockmi bukan sekadar acara musik biasa; ini adalah perayaan semangat dan kekuatan musik rock dari berbagai era. Suara keras gitar, vokal menggema, dan irama yang menghentak menjadi ajakan untuk menghidupkan kembali acara sejenis yang sempat tertidur sejak pandemi lalu.</p>



<p>Di era di mana musik pop dan elektronik mendominasi tangga lagu, Rockafella&#8217;s dengan gebrakannya menjadi bukti bahwa rock masih hidup dan sehat. Energi yang luar biasa dari para musisi dan penggemar musik rock malam itu menjadi ajakan nyata untuk bermusik dan berkumpul merayakan warisan genre yang telah mempengaruhi banyak aspek budaya populer.</p>



<p>Rockafella&#8217;s Silahturockmi lebih dari sekadar acara musik; ini adalah undangan terbuka untuk menemukan kegembiraan dalam kekuatan musik yang tak tertandingi. Semoga semangat dan kesinambungan event ini terus berlanjut dan disambut oleh penggiat musik tanah air. XPOSEINDONESIA / Ihsan</p>



<h2 class="wp-block-heading">More Pictures</h2>


<div style="min-height: 535px;; " class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_a6f1177d-fc50-46c0-ba92-7d5f0bfd47a3" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide"}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Trison.jpg" alt="Trison membakar semangat penonton di Rockafella's Silahturockmi dengan vokalnya yang kuat dan penuh energi! Penampilannya bersama Roxx di RA Suites Simatupang menjadi salah satu momen yang paling berkesan" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">Trison membakar semangat penonton di Rockafella&#8217;s Silahturockmi dengan vokalnya yang kuat dan penuh energi! Penampilannya bersama Roxx di RA Suites Simatupang menjadi salah satu momen yang paling berkesan</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri-01.jpg" alt="Riffy Putri menghipnotis penonton dengan vokal spektakuler di Rockafella's Silahturockmi, membawakan lagu legendaris seperti 'It's Hard Life' dan 'Ruthless Queen'. Semangat rock yang tak tergoyahkan memenuhi RA Suites Simatupang" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">Riffy Putri menghipnotis penonton dengan vokal spektakuler di Rockafella&#8217;s Silahturockmi, membawakan lagu legendaris seperti &#8216;It&#8217;s Hard Life&#8217; dan &#8216;Ruthless Queen&#8217;. Semangat rock yang tak tergoyahkan memenuhi RA Suites Simatupang</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02.jpg" alt="Riffy Putri menghipnotis penonton dengan vokal spektakuler di Rockafella's Silahturockmi, membawakan lagu legendaris seperti 'It's Hard Life' dan 'Ruthless Queen'. Semangat rock yang tak tergoyahkan memenuhi RA Suites Simatupang" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">Riffy Putri menghipnotis penonton dengan vokal spektakuler di Rockafella&#8217;s Silahturockmi, membawakan lagu legendaris seperti &#8216;It&#8217;s Hard Life&#8217; dan &#8216;Ruthless Queen&#8217;. Semangat rock yang tak tergoyahkan memenuhi RA Suites Simatupang</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Once-Mekel.jpg" alt="Once Mekkel memukau penonton dengan penampilan yang penuh karisma di Rockafella's Silahturockmi! Suara emasnya membawakan lagu-lagu rock legendaris dengan sempurna, menciptakan momen magis di RA Suites Simatupang" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">Once Mekkel memukau penonton dengan penampilan yang penuh karisma di Rockafella&#8217;s Silahturockmi! Suara emasnya membawakan lagu-lagu rock legendaris dengan sempurna, menciptakan momen magis di RA Suites Simatupang</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Jely-Tobing.jpg" alt="Jelly Tobing menunjukkan kelasnya di atas panggung Rockafella's Silahturockmi" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">Jelly Tobing menunjukkan kelasnya di atas panggung Rockafella&#8217;s Silahturockmi</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Jeli-tobing.jpg" alt="Jelly Tobing menunjukkan kelasnya di atas panggung Rockafella's Silahturockmi" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">Jelly Tobing menunjukkan kelasnya di atas panggung Rockafella&#8217;s Silahturockmi</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            
        </div>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">20548</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/05/Riffy-Putri_02-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
	</channel>
</rss>
