<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">

<channel>
	<title>Iwan Hasan &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<atom:link href="https://xposeindonesia.com/tag/iwan-hasan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<description>News And Entertaiment</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Jul 2026 12:44:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/04/cropped-Xpose-favicon-32x32.png</url>
	<title>Iwan Hasan &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233386640</site>	<item>
		<title>Discus Hidupkan Kembali Live In Switzerland 2005, Siap Kenalkan Progressive Rock ke Generasi Baru</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/discus-hidupkan-kembali-live-in-switzerland-2005-siap-kenalkan-progressive-rock-ke-generasi-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[album Discus]]></category>
		<category><![CDATA[Demajors]]></category>
		<category><![CDATA[Discus]]></category>
		<category><![CDATA[Discus Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[Live In Switzerland 2005]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[progressive rock Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ProgSol Festival]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=41673</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="discus rilis di toko album live in switzerland 2005 02" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Bagi penikmat musik progresif dunia, nama Discus bukan sekadar band asal Indonesia. Grup yang lahir pada 1996 ini justru lebih dulu mendapat pengakuan di panggung internasional sebelum dikenal luas di negeri sendiri. Kini, setelah lebih dari satu dekade berjalan di luar sorotan publik, Discus kembali membuka babak baru dengan merilis album Live In Switzerland 2005, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bagi penikmat musik progresif dunia, nama <strong>Discus</strong> bukan sekadar band asal Indonesia. Grup yang lahir pada 1996 ini justru lebih dulu mendapat pengakuan di panggung internasional sebelum dikenal luas di negeri sendiri. Kini, setelah lebih dari satu dekade berjalan di luar sorotan publik, Discus kembali membuka babak baru dengan merilis album <strong><em>Live In Switzerland 2005</em></strong>, sekaligus berharap dapat memperkenalkan musik mereka kepada generasi pendengar yang lebih muda, termasuk Gen Z.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Album tersebut merupakan dokumentasi penampilan bersejarah Discus saat menjadi <strong>headliner ProgSol Festival di Swiss pada 2005</strong>. Rekaman konser itu kini resmi dirilis dalam format <strong>Compact Disc (CD)</strong> melalui label independen <strong>demajors</strong>, dan diperkenalkan lewat acara intim bertajuk <strong>&#8220;Rilis Di Toko&#8221;</strong> di Creative Spac3 Gramedia Jalma, Jakarta Selatan (17/07/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perilisan ini bukan sekadar nostalgia. Bagi Discus, arsip tersebut menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kembali perjalanan panjang band yang pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah musik progresif internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Didirikan oleh <strong>Iwan Hasan</strong> dan mendiang <strong>Anto Praboe</strong>, Discus awalnya tidak pernah berniat menjadi band progressive rock. Mereka justru memulai perjalanan sebagai kelompok jazz dengan eksplorasi musikal yang bebas. Namun, karya-karya mereka kemudian mendapat perhatian besar dari komunitas progressive rock dunia hingga akhirnya &#8220;dicap&#8221; sebagai salah satu wajah baru musik progresif Asia.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan.jpg" alt="iwan hasan" class="wp-image-41680" style="width:1068px;height:auto" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/iwan-hasan-1068x708.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">iwan hasan</figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Awalnya itu jazz, karena saya mendirikannya sebagai grup jazz. Tapi akhirnya kami justru dikenal sebagai progressive rock. Lucunya, kami sendiri tidak pernah merencanakan itu. Justru festival, label rekaman, dan media musik di luar negeri yang memberi identitas tersebut kepada Discus,&#8221; ujar <strong>Iwan Hasan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nama Discus mulai melambung setelah merilis album debut <strong><em>1st</em></strong> pada 1999 melalui label Italia <strong>Mellow Records</strong>. Album tersebut mendapat sambutan luar biasa. Media musik Amerika <strong>Expose</strong> menempatkannya sebagai salah satu album progressive terbaik dunia, sementara majalah <strong>Prog-Resiste</strong> dari Belgia memasukkannya ke daftar lima album progressive rock terbaik dunia pada akhir 1999.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesuksesan itu membawa Discus tampil di berbagai festival bergengsi seperti <strong>ProgNight San Francisco</strong>, <strong>Knitting Factory New York</strong>, <strong>ProgDay North Carolina</strong>, hingga <strong>BajaProg Mexico</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak berhenti di sana, album kedua <strong>&#8230;tot licht!</strong> yang dirilis pada 2003 melalui Musea Records (Prancis) dan Gohan Records (Jepang) bahkan sempat menjadi <strong>No.1 Best Seller All Genre di Amazon Jepang</strong> pada 2011, meski saat itu Discus tengah mengalami masa sulit setelah wafatnya Anto Praboe.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan mereka sempat terhenti cukup lama. Namun pada 2024, <strong>Disk Union Jepang</strong> kembali merilis katalog Discus dalam format box set tiga CD yang langsung menembus jajaran <strong>Best Seller International Chart</strong>, sekaligus membuka jalan bagi kebangkitan mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momentum itulah yang membawa Discus kembali naik panggung di <strong>Ngayogjazz 2024</strong> dan <strong>Synchronize Fest 2025</strong>, sekaligus memperkenalkan musik mereka kepada generasi penikmat musik yang sama sekali baru.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-1024x678.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" width="1024" height="678" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-1024x678.jpg" alt="discus abum live in switzerland 2005" class="wp-image-41677" style="width:1068px;height:auto" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-abum-live-in-switzerland-2005.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">discus abum live in switzerland 2005</figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Iwan Hasan, <strong><em>Live In Switzerland 2005</em></strong> dipilih bukan tanpa alasan. &#8220;Kalau kenapa Swiss, karena kualitas rekamannya memang yang paling bagus. Sound engineer waktu itu Juerg Naegeli luar biasa. Sebelum konser dia sudah mempelajari semua materi kami, meminta channel list jauh-jauh hari, bahkan menentukan lagu apa yang dimainkan saat soundcheck. Profesionalisme seperti itu belum pernah kami alami sebelumnya,&#8221; kenangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rekaman konser tersebut awalnya bahkan tidak pernah direncanakan menjadi album. Baru pada 2023, ketika label Jepang <strong>Disk Union</strong> meminta Discus merilis box set tiga CD, Iwan menawarkan arsip konser di Swiss sebagai pengganti album ketiga yang saat itu belum tersedia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasilnya di luar dugaan. Album live tersebut kembali mendapat respons positif di Jepang hingga akhirnya menarik perhatian <strong>demajors</strong> untuk membawanya ke pasar Indonesia.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan.jpg" alt="a&amp;r demajors, david tarigan" class="wp-image-41676" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/ar-demajors-david-tarigan-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">a&amp;r demajors, david tarigan</figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">A&amp;R demajors, <strong>David Tarigan</strong>, menyebut perilisan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu band paling penting dalam sejarah progressive rock Indonesia. &#8220;Kami merasa sangat terhormat bisa merilis album dari band yang bisa dibilang legenda di skena progressive rock Indonesia. Menariknya sekarang audiens mereka benar-benar baru. Itu juga salah satu tujuan kami, memperkenalkan Discus kepada generasi yang mungkin belum pernah mendengar nama mereka sebelumnya,&#8221; ujar David.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini Discus diperkuat oleh <strong>Iwan Hasan </strong>(Gitar, Vokal)<strong>, Fadhil Indra </strong>(Keyboard, Vokal, Perkusi)<strong>, Hayunaji </strong>(drum)<strong>, Krisna Prameswara </strong>(Keyboard)<strong>, Nonnie Cindy</strong> (Vokal), <strong>Yuyun Arfah </strong>(ethnic vocal), <strong>Adi Darmawan</strong> (bass).</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01.jpg" alt="discus rilis di toko album live in switzerland 2005 01" class="wp-image-41678" style="width:1068px;height:auto" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_01-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">discus rilis di toko album live in switzerland 2005 </figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">Selain merilis album live, mereka juga mengungkapkan tengah menyiapkan materi baru yang sebenarnya sudah mulai dikerjakan sejak 2007. &#8220;Lagu-lagu album baru sebenarnya sudah ada sejak lama. Bahkan beberapa part sudah direkam oleh teman-teman yang kini sudah tidak bersama kita lagi. Sekarang kami mulai menyelesaikannya sedikit demi sedikit,&#8221; kata Iwan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski prosesnya berjalan perlahan karena kesibukan masing-masing personel, Discus menargetkan dapat merilis satu hingga dua single baru dalam waktu dekat sebelum album penuh diluncurkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang paling penting bagi mereka saat ini bukan sekadar kembali merilis karya, tetapi menemukan generasi pendengar baru. &#8220;Harapan saya sederhana, semoga Gen Z mulai mengenal Discus,&#8221; ujar Iwan sambil tertawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal senada disampaikan vokalis <strong>Nonnie Cindy</strong>.&#8221;Kami ingin kembali termotivasi membuat karya, tampil lagi di banyak panggung, dan mudah-mudahan semakin banyak anak muda yang menikmati musik Discus.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara <strong>Krisna Prameswara</strong> berharap kebangkitan musik alternatif di Indonesia membuka ruang lebih luas bagi Discus. &#8220;Sekarang festival musik semakin beragam dan selera pendengar juga jauh lebih terbuka. Kami berharap bisa kembali tampil di festival-festival itu dan memperkenalkan musik Discus kepada generasi yang sama sekali baru.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui <strong><em>Live In Switzerland 2005</em></strong>, Discus bukan hanya menghidupkan kembali salah satu momen terbaik dalam perjalanan karier mereka. Album ini juga menjadi pengingat bahwa karya musik yang lahir puluhan tahun lalu tetap mampu menemukan pendengar baru ketika kualitas dan keberaniannya melampaui zaman. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">41673</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/07/discus-rilis-di-toko-album-live-in-switzerland-2005_02-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Discus, Legenda Progresif Rock Indonesia Kembali di Synchronize Festival 2025</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/exclusive/event/discus-legenda-progresif-rock-indonesia-kembali-di-synchronize-festival-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2025 22:43:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Discus]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[Progresif Rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=35564</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="discus saat latihan dengan formasi tidak lengkap" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Discus, band progresif rock legendaris Indonesia, siap kembali menyapa penggemar di Synchronize Festival pada 3 Oktober 2025 pukul 18.45 WIB di XYZ Stage, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta.Discus tampil dengan formasi : Iwan Hasan (gitar, vokal utama, komposer, otak kreatif), Fadhil Indra (keyboard, vokal utama, perkusi etnik dan elektronik), Nonnie Cindy (vokal utama), Krisma Prameswara (keyboard), [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Discus, band progresif rock legendaris Indonesia, siap kembali menyapa penggemar di Synchronize Festival pada 3 Oktober 2025 pukul 18.45 WIB di XYZ Stage, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta.<br>Discus tampil dengan formasi : <strong>Iwan Hasan</strong> (gitar, vokal utama, komposer, otak kreatif), <strong>Fadhil Indra</strong> (keyboard, vokal utama, perkusi etnik dan elektronik), <strong>Nonnie Cindy</strong> (vokal utama), <strong>Krisma Prameswara</strong> (keyboard), <strong>Hayunaji</strong> (drum), <strong>Adi Darmawan</strong> (bass).<br>Additional: <strong>Dony Koeswinarno</strong> (sax, flute), <strong>Didiet Violin</strong> (violin), <strong>Yessi Kristianto</strong> (keyboard), <strong>Erl Pramudjia</strong> (gitar ritme).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ide yang Berputar</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah dominasi pop, dangdut, dan rock arus utama, Discus lahir di pertengahan 1990-an. Didirikan oleh Iwan Hasan bersama rekan-rekannya yang sama-sama mencintai progresif rock, jazz, dan musik klasik, mereka memilih nama Discus—diambil dari nama ikan, seperti yang tertera di cover album pertama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka memadukan progresif rock dengan jazz, klasik, avant-garde, hingga gamelan Nusantara. Hasilnya: lagu-lagu panjang, penuh perubahan tempo, dan berbalut instrumen tradisional—identitas yang membuat Discus berbeda dari band manapun di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Album Debut yang Mendunia</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun 1999, Discus merilis album perdana <em>1st</em> melalui label Italia Mellow Records untuk pasar internasional, serta Chico &amp; Ira Productions di Indonesia. Album ini segera menuai pujian di Amerika, Eropa, hingga Amerika Latin.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tracklist <em>1st</em> (1999):</strong></p>



<ol start="1" class="wp-block-list">
<li>Lamentation and Fantasia Gamelantronique</li>



<li>Condissonance</li>



<li>(Don’t Change Your) Nature</li>



<li>Dialog</li>



<li>Discutient (Part I–III)</li>



<li>Discus</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Majalah Prog-Resiste (Belgia) menobatkan <em>1st</em> sebagai album progresif kelima terbaik dunia tahun itu. Kesuksesan ini membawa Discus ke ProgDay Festival 2000 (AS), tur di beberapa kota, dan Baja Prog Festival 2001 (Meksiko), di mana mereka sempat berkolaborasi dengan maestro gamelan I Gusti Kompiang Raka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kejayaan Album Kedua</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah dilirik banyak label internasional, Discus akhirnya bergabung dengan Musea Records (Prancis) dan merilis album kedua <em>…tot Licht!</em> (2003). Album berisi tujuh lagu ini menampilkan kompleksitas lebih matang dan berhasil terjual sekitar 20 ribu kopi—jumlah besar untuk genre progresif.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tracklist <em>…tot Licht!</em> (2003):</strong></p>



<ol start="1" class="wp-block-list">
<li>System Manipulation</li>



<li>Dokter Komedi</li>



<li>Anne (durasi 19 menit)</li>



<li>For This Is the Man</li>



<li>Verso Kartini</li>



<li>Lamentation (remake)</li>



<li>Into the Light</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Di Indonesia, album ini diedarkan oleh Sony Music dan mengantarkan Discus meraih AMI Awards 2004 lewat lagu monumental <em>“Anne”</em> berdurasi 19 menit. Pencapaian ini dianggap luar biasa karena progresif rock nyaris tak pernah mendapat ruang di industri musik mainstream.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun yang sama, majalah MTV Trax menobatkan mereka sebagai salah satu dari 25 musisi paling berpengaruh Indonesia, sejajar dengan legenda seperti Titiek Puspa dan Koes Plus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengakuan lain datang dari Denny Sakrie, yang menempatkan <em>1st</em> sebagai salah satu album jazz paling penting Indonesia. Sementara penulis Kanada Jerry Lucky mencatat Discus dalam <em>Progressive Rock Handbook</em> (2008)—menjadikannya satu-satunya band Indonesia dalam buku tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menembus Panggung Internasional</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada 2005, Discus tampil di Progsol Festival (Swiss) dan FreakShow (Jerman). Tahun 2009, mereka memenuhi undangan lama ke Zappanale Festival (Jerman), salah satu festival progresif paling prestisius di Eropa. Beberapa kesempatan bahkan menghadirkan kolaborasi unik, termasuk bersama Fadly (Padi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kejutan datang pada 2011. Delapan tahun setelah dirilis, album <em>…tot Licht!</em> justru melejit sebagai best seller all genre di Amazon Jepang. Tak lama berselang, sebuah band Jepang meng-cover lagu <em>“System Manipulation”</em> di YouTube—bukti pengaruh Discus menembus lintas generasi dan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Vakum Panjang dan Reuni</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski sempat reuni di @America Jakarta (2012), aktivitas Discus kemudian meredup. Iwan Hasan tetap aktif berkarya sebagai arranger dan produser untuk nama besar seperti Agnes Monica, Ungu, Kla Project, hingga eks-kibordis YES Rick Wakeman. Bahkan, Wakeman menjadi bintang tamu di rekaman ulang <em>“Indonesia Maharddhika”</em> karya Guruh Gipsy yang diaransemen ulang oleh Iwan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kabar besar datang pada Maret 2024, ketika label Jepang Disk Union merilis box set tiga CD berisi <em>1st</em> (remastered), <em>…tot Licht!</em> (remastered), dan <em>Live in Switzerland</em>. Beberapa bulan kemudian, pada November 2024, Discus resmi comeback di panggung Ngayogjazz, Bantul, Yogyakarta, setelah vakum 10 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Synchronize 2025: Babak Baru</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, setahun setelah comeback, Discus kembali tampil di Synchronize Festival 2025. Kehadiran mereka bukan sekadar nostalgia, melainkan bukti bahwa progresif rock Indonesia tetap punya tempat di panggung besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan pun mengemuka: akankah Discus memperkenalkan karya baru setelah lebih dari satu dekade? Jawabannya akan terungkap di Gambir Expo, 3 Oktober mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Timeline Perjalanan Discus</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Pertengahan 1990-an</strong> – Discus terbentuk di Jakarta oleh Iwan Hasan dkk.</li>



<li><strong>1999</strong> – Album debut <em>1st</em> rilis (Mellow Records/Chico &amp; Ira). Masuk 5 besar album progresif dunia versi Prog-Resiste.</li>



<li><strong>2000</strong> – Tampil di <strong>ProgDay Festival</strong> (AS).</li>



<li><strong>2001</strong> – Tampil di <strong>Baja Prog Festival</strong> (Meksiko); kolaborasi dengan I Gusti Kompiang Raka.</li>



<li><strong>2003</strong> – Album kedua <em>…tot Licht!</em> (Musea/Sony).</li>



<li><strong>2004</strong> – Menang <strong>AMI Awards</strong> untuk lagu <em>“Anne”</em> (19 menit). MTV Trax nobatkan sebagai 25 musisi paling berpengaruh Indonesia.</li>



<li><strong>2005</strong> – Panggung internasional: <strong>Progsol (Swiss)</strong> dan <strong>FreakShow (Jerman)</strong>.</li>



<li><strong>2009</strong> – Tampil di <strong>Zappanale Festival</strong>, Jerman.</li>



<li><strong>2011</strong> – <em>…tot Licht!</em> jadi best seller Amazon Jepang; lagu <em>“System Manipulation”</em> di-cover band Jepang.</li>



<li><strong>2012</strong> – Reuni di <strong>@America Jakarta</strong>.</li>



<li><strong>2014–2023</strong> – Vakum panjang, Iwan Hasan aktif sebagai arranger/producer (Agnes Monica, Ungu, Kla Project, Rick Wakeman).</li>



<li><strong>Maret 2024</strong> – Rilis box set 3CD (Disk Union, Jepang).</li>



<li><strong>Nov 2024</strong> – Comeback di <strong>Ngayogjazz, Yogyakarta</strong>.</li>



<li><strong>3 Okt 2025</strong> – Tampil di <strong>Synchronize Festival</strong>, Gambir Expo, Jakarta<strong>.XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dok. Discu</strong>s</li>
</ul>


<div style="min-height: 535px" class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_d5abe618-810d-4ff3-88ec-851247d1db9b" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-tour-di-jerman.jpg" alt="discus saat tour di jerman" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">discus saat tour di jerman</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-naik-panggung-di-jerman.jpg" alt="discus naik panggung di jerman" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">discus naik panggung di jerman</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-menggelar-tur-di-jerman.jpg" alt="discus saat menggelar tur di jerman" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">discus saat menggelar tur di jerman</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/iwan-hasan.jpg" alt="iwan hasan" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">iwan hasan</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-tour-ke-switzerland-dengan-fadly-sebagai-vokalis.jpg" alt="discus saat tour ke switzerland dengan fadly sebagai vokalis" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">discus saat tour ke switzerland dengan fadly sebagai vokalis</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">35564</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/discus-saat-latihan-dengan-formasi-tidak-lengkap-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
		<item>
		<title>Gara Gara Putus Cinta Jessica Xaviera, Berani Menulis Lagu.</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/new-comer/gara-gara-putus-cinta-jessica-xaviera-berani-menulis-lagu/</link>
					<comments>https://xposeindonesia.com/music/new-comer/gara-gara-putus-cinta-jessica-xaviera-berani-menulis-lagu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2020 02:28:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[New Comer]]></category>
		<category><![CDATA[“Could&#039;ve Been”]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[Jessica Xaviera]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=5290</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="195" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu.-300x195.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu.-300x195.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu.-768x499.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu.-150x97.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu.-600x390.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu.-696x452.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu.-647x420.jpg 647w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu..jpg 770w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Di setiap&#160; peristiwa&#160; dalam hidup ini selalu&#160; tersimpan hikmah.&#160;Jessica Xaviera,&#160; dengan pintar memanfaatkan peristiwa&#160; pahit&#160; dalam hidupnya&#160; untuk dipindah menjadi&#160; lagu. Dan ia merilis lagu bertajuk&#160; “Could&#8217;ve Been” pada 22 April lalu. Lagu Pop/RnB&#160; ini merupakan single pertama yang ditulis dan diproduksi sendiri. Lagu itu terdengar simple karena hanya dibalut&#160; petikan gitar akustik.&#160;“Saya memang menginginkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di setiap&nbsp; peristiwa&nbsp; dalam hidup ini selalu&nbsp; tersimpan hikmah.&nbsp;<strong>Jessica Xaviera</strong>,&nbsp; dengan pintar memanfaatkan peristiwa&nbsp; pahit&nbsp; dalam hidupnya&nbsp; untuk dipindah menjadi&nbsp; lagu. Dan ia merilis lagu bertajuk&nbsp; “Could&#8217;ve Been” pada 22 April lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu Pop/RnB&nbsp; ini merupakan single pertama yang ditulis dan diproduksi sendiri. Lagu itu terdengar simple karena hanya dibalut&nbsp; petikan gitar akustik.&nbsp;“Saya memang menginginkan lagu ini&nbsp;<em>simple</em>,&nbsp;<em>raw, and real</em>,” kata wanita kelahiran 17 September 1997</p>



<p class="wp-block-paragraph">Liriknya sendiri berkisah tentang seseorang yang patah hati karena diduakan, dan membuatnya bertanya-tanya apa yang seharusnya bisa terjadi jika semuanya tidak berakhir seperti itu.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lirik “Could&#8217;ve Been” aku tulis berdasarkan pengalaman pribadi,” ujar Jessica. “Karena waktu itu baru putus dan terlalu sakit hati, sekaligus&nbsp; ngga tau cara keluarin emosinya. Akhirnya aku memutuskan untuk nulis lagu&nbsp; itu,” kata Jessica yag merupakan puteri kedua&nbsp; dari&nbsp;&nbsp;<strong>Iwan Hasan</strong>, gitaris&nbsp; kelompok progressive rock,<strong>&nbsp;Discus</strong>, sekaligus terkenal sebagai&nbsp;<em>composer guest performer, arranger, produser,</em>&nbsp;juga&nbsp;<em>music director&nbsp;</em>&nbsp;itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut pengakuan Jessica, ia senang menyanyi. “Karena menyanyi memang jadi cara aku untuk mengekspresikan apa yang aku rasa, tanpa aku harus banyak berkata. Nyanyi jadi tempat aku “lari” sebentar dari kenyataan. Kalau sudah&nbsp; nyanyi suka lupa sama hal hal lain,” ujarnya sambil tergelak.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jessica sendiri tidak menyadari, sejak kapan ia bisa bernyanyi, “Aku cuma merasa suka, dan Papa sebagai musisi, juga selalu<em>&nbsp;encourage</em>&nbsp;aku untuk nyanyi, jadi aku semangat,” ungkap Jessica yang pernah dilibatkan Papanya untuk menyanyi di panggung bersama&nbsp;<strong>Iwan Hasan Quintet dan Iwan Hasan Progressive Jazz Ensemble,</strong>&nbsp;dilibatkan jadi&nbsp;<em>backing vocal</em><strong>&nbsp;Agnes Monica</strong>&nbsp;untuk lagu karya&nbsp;<strong>SBY</strong>&nbsp; “Berkelana Ke Ujung Dunia”,&nbsp; bahkan&nbsp; menari balet&nbsp; dalam konser Discus tahun 2005.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diakui Iwan Hasan, Jessica memang&nbsp; memiliki banyak bakat. Ia pintar menyanyi dan berlatih vocal secara khusus,&nbsp; selain mengambil les ballet juga piano. “Sejak kanak-kanak, dia suka tampil di gereja dan acara sekolah. Menurut saya, ia jago nyanyi jazz. Bagus banget nyanyi jazz standardnya. Pernah saya ajak tampil di&nbsp;<strong>JakJazz</strong>&nbsp;pada 2014,” kata Iwan Hasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi khusus&nbsp; untuk&nbsp; rekaman “Could&#8217;ve Been”, Iwan melihat&nbsp; Jessica&nbsp; ingin mandiri dan keluar dari jazz standard, yang diakuinya sangat bagus ketika dinyanyikan&nbsp; Jessica.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Could&#8217;ve Been”, itu murni karya Jessica sendiri, tanpa bantuan saya,” ujar Iwan Hasan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jauh sebelum “Could&#8217;ve Been” dirilis, Jessica&nbsp; pernah rekaman single di bawah sebuah label record pada 2016. Kemudian pada 2019 ,&nbsp; ia merilis single kedua dengan nama panggung yang berbeda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jessica yang telah menyelesaikan S1&nbsp; dan meraih gelar&nbsp;<em>Bachelor of Business Majoring in Accounting</em>&nbsp; di Australia ini , menyebut cita-citanya tetap ingin berkarya dan tahun 2021, ia berencana merilis album EP&nbsp;<em>(Extended Player</em>)&nbsp; dengan materi yang sedang dalam proses penulisan dan rekaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku pengen berkarya dan menjalaninya karena emang tulus dari hati, dan moga moga bisa membuat&nbsp;<em>impact</em>&nbsp;ke kehidupan orang lain. Dan pastinya, aku pingin bikin orang tuaku bangga selalu,” ungkap Jessica yang&nbsp; juga berbakat jadi model.&nbsp; Ngak percaya? Follow akun instagram miliknya https://www.instagram.com/jessxaviera/&nbsp;<strong>XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dok Pribadi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>More Pictures</strong></p>


<div style="min-height: 535px" class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_04848860-f7fb-4c1d-a613-053550462666" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu..jpg" alt="" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption"></figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/3-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu..jpg" alt="" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption"></figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://xposeindonesia.com/music/new-comer/gara-gara-putus-cinta-jessica-xaviera-berani-menulis-lagu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5290</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/03/2-Gara-Gara-Putus-Cinta-Jessica-Xaviera-Berani-Menulis-Lagu.-300x195.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="195" />	</item>
	</channel>
</rss>
