<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">

<channel>
	<title>Guruh Sukarnoputra &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<atom:link href="https://xposeindonesia.com/tag/guruh-sukarnoputra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<description>News And Entertaiment</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Oct 2025 02:28:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/04/cropped-Xpose-favicon-32x32.png</url>
	<title>Guruh Sukarnoputra &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233386640</site>	<item>
		<title>Lalu, Mereka Menulis Sejarah Musik Lagi — untuk Kedua Kali…</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/on-stage/lalu-mereka-menulis-sejarah-musik-lagi-untuk-kedua-kali/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2025 00:44:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[On Stage]]></category>
		<category><![CDATA[Abdi Soesman]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Gipsy]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Sukarnoputra]]></category>
		<category><![CDATA[Keenan Nasution]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=35845</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="keenan nasution, guruh dan abadi soesman" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman.jpg 1200w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Bagaimana mungkin menghidupkan kembali sebuah grup musik yang telah “hiatus” hampir setengah abad? Begini ceritanya. Awalnya, mereka tak berencana tampil atau reuni besar-besaran. Hanya berkumpul untuk mencoba rekaman—setelah melalui diskusi panjang dan beberapa workshop kecil. Prosesnya dimulai di studio sederhana di rumah salah satu anggota, sebelum akhirnya masuk studio rekaman sesungguhnya. Rekaman itu sendiri memakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagaimana mungkin menghidupkan kembali sebuah grup musik yang telah “hiatus” hampir setengah abad? Begini ceritanya.</p>



<p>Awalnya, mereka tak berencana tampil atau reuni besar-besaran. Hanya berkumpul untuk mencoba rekaman—setelah melalui diskusi panjang dan beberapa workshop kecil. Prosesnya dimulai di studio sederhana di rumah salah satu anggota, sebelum akhirnya masuk studio rekaman sesungguhnya. Rekaman itu sendiri memakan waktu lama, hampir dua tahun sejak ide pertama kali muncul pada 1975 hingga album dirilis menjelang 1977.</p>



<p>Secara komersial, album ini memang tidak meledak. Namun di kalangan musisi dan media musik, karyanya dianggap luar biasa. Album itu diedarkan secara independen, tanpa bantuan label besar. Mereka bahkan menjajakan sendiri hasil rekaman tersebut—sebuah langkah yang kala itu sangat berani.</p>



<p>Kini, hanya tiga anggota asli yang tersisa: <strong>Guruh Sukarnoputra</strong> (komposer, penulis lirik, pianis, dan penabuh gamelan), <strong>Keenan Nasution</strong> (penulis lagu, drummer, vokalis), serta <strong>Abadi Soesman</strong> (kibordis). Sementara tiga rekannya telah berpulang: <strong>Chrisye</strong>, <strong>Odink Nasution</strong>, dan <strong>Roni Harahap</strong>.</p>



<p>Dengan nama <strong>Guruh Gypsi</strong>, mereka meninggalkan warisan penting bagi musik Indonesia. Mereka memperkenalkan konsep musik yang rumit namun eksotis, berpadu dengan lirik puitis dan tak lazim. Musiknya tidak biasa, bahkan disebut “gila” karena terasa beberapa langkah lebih maju dari zamannya. Album mereka berisi enam komposisi asli dan satu karya tradisi Bali dengan suara gamelan murni. Uniknya, Guruh Gypsi tidak pernah sekalipun tampil di konser membawakan lagu-lagu itu.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Impian yang Akhirnya Menjadi Kenyataan</strong></h3>



<p>“Kenapa belum pernah manggung?” tanya banyak orang.<br>“Tak ada kesempatan,” ujar Guruh Sukarnoputra.<br>“Mungkin karena musik kami dianggap terlalu ajaib,” tambah Keenan Nasution.<br>“Dan butuh waktu untuk bisa menikmatinya,” sambung Abadi Soesman.</p>



<p>Mereka memang tak berpikir soal pasar atau popularitas. “Kami hanya memainkan musik yang ingin kami mainkan,” kata Guruh. Bagi mereka, musik adalah ekspresi, bukan strategi. Karena itu, tak heran bila di awal album ini sulit terjual—orang banyak yang belum mengerti.</p>



<p>Namun waktu membalikkan keadaan. Dua, tiga dekade kemudian, album <em>Kesepakatan dalam Kepekatan</em> justru diburu kolektor. Di usia 30–40 tahun sejak rilisnya, album itu menjadi legenda. Kaset orisinalnya bahkan menembus harga lebih dari Rp1,5 juta—simbol betapa karya jujur memang tak lekang oleh waktu.</p>



<p>Dari situ, kisah berlanjut. Awal 2024, Keenan Nasution dan Dion Momongan bertandang ke markas <strong>Synchronize Festival</strong> di kawasan Lebak Bulus. Mereka disambut dua sosok di balik festival itu: <strong>David Karto</strong> dan <strong>David Tarigan</strong>. Pertemuan yang awalnya hanya silaturahmi, berubah menjadi ide “gokil” — <em>bagaimana kalau Guruh Gypsi tampil di panggung Synchronize?</em></p>



<p>“Eh, beneran nih?” sahut Keenan.<br>“Ya, buat 10 tahun Synchronize Festival 2025,” jawab mereka.<br>Dan dari obrolan santai itu, sesuatu yang tak pernah terjadi selama 50 tahun akhirnya diputuskan: <strong>Guruh Gypsi akan manggung untuk pertama kalinya.</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Persiapan Panjang untuk Sebuah Momen Bersejarah</strong></h3>



<p>Meski tersisa tiga anggota asli, niat mereka sungguh serius. Keenan mulai memilih musisi pendukung, berdiskusi intens dengan Dion Momongan. Dari situ, ia menunjuk <strong>Bubi Sutomo</strong> sebagai <em>Music Director</em>, dibantu <strong>Yoes JF</strong> sebagai asisten dan konduktor.</p>



<p>Sekitar dua bulan sebelum Synchronize 2025, komunikasi dengan <strong>Guruh Sukarnoputra</strong> pun makin intens. <strong>Abadi Soesman</strong> ikut dilibatkan dalam tahap akhir. Latihan, aransemen, pemilihan format panggung—semuanya disiapkan dengan seksama.</p>



<p>Dan begitulah, roda sejarah berputar. Setelah 50 tahun, <strong>Guruh Gypsi</strong> bukan hanya reuni—mereka sedang menulis ulang bab baru dalam sejarah musik Indonesia. <strong>XPOSEINDONESIA-<em>dalpati-danta</em> Foto Muhamad Ihsan</strong></p>


<div style="min-height: 535px;; " class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_c31e6984-72d9-49dc-bf79-7385cf73dbea" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/guruh-gypsi-bukan-hanya-reunimereka-sedang-menulis-ulang-bab-baru-dalam-sejarah-musik-indonesia.jpg" alt="guruh gypsi bukan hanya reuni,mereka sedang menulis ulang bab baru dalam sejarah musik indonesia" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">guruh gypsi bukan hanya reuni,mereka sedang menulis ulang bab baru dalam sejarah musik indonesia</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/tiga-anggota-asli.jpg" alt="tiga anggota asli," style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">tiga anggota asli,</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>


<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">35845</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2025/10/keenan-nasution-guruh-dan-abadi-soesman-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
	</channel>
</rss>
