<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">

<channel>
	<title>Amien Kamil &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<atom:link href="https://xposeindonesia.com/tag/amien-kamil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<description>News And Entertaiment</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jan 2024 05:44:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/04/cropped-Xpose-favicon-32x32.png</url>
	<title>Amien Kamil &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233386640</site>	<item>
		<title>Budayawan dan Seniman selalu Mengambil Jalan Keindahan. Tidak Peduli dengan Kekuasaan</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/exclusive/event/budayawan-dan-seniman-selalu-mengambil-jalan-keindahan-tidak-peduli-dengan-kekuasaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jan 2024 05:43:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Amien Kamil]]></category>
		<category><![CDATA[Bre REdana]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik Rahzen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=17673</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-300x200.jpeg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="taufik rahzen (budayawan) arahmaiani (perupa), bre redana (kritikus seni &amp; sastrawan) dan amien kamil" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-300x200.jpeg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-1024x683.jpeg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-768x512.jpeg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-1536x1024.jpeg 1536w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-150x100.jpeg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-600x400.jpeg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-696x464.jpeg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-1392x928.jpeg 1392w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-1068x712.jpeg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-630x420.jpeg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-1260x840.jpeg 1260w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil.jpeg 1599w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Diskusi Kebudayaan dengan tema Peran Budayawan dalam Situasi  Politik Masa Kini dan Masa Depan:  Melihat  Kembali Jejak Chairil Anwar, Rendra, Hardi dan Kita digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Rabu (10/1/2024) Tema ini membicarakan peran seniman, budayawan dalam  merespon perkembangan sosial politik masa kini dan mencerahkan masyarakat mengenai etika, moral, dan bagaimana politik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Diskusi Kebudayaan dengan tema Peran Budayawan dalam Situasi  Politik Masa Kini dan Masa Depan:  Melihat  Kembali Jejak Chairil Anwar, Rendra, Hardi dan Kita digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Rabu (10/1/2024)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tema ini membicarakan peran seniman, budayawan dalam  merespon perkembangan sosial politik masa kini dan mencerahkan masyarakat mengenai etika, moral, dan bagaimana politik harus beradab agar bangsa selamat, sejahtera, adil, makmur di masa depan yang makin sulit,&#8221; kata  moderator acara Amien Kamil saat membuka acara</p>



<p class="wp-block-paragraph">Daalm diskusi &nbsp;yang menghadirkan pembicara Bre Redana (Kritikus Seni &amp; Sastrawan), Arahmaiani (Perupa), Taufik Rahzen (Budayawan) tersebut tampak hadir&nbsp; sejumlah wajah familiar seperti seniman Butet Kartaradjasa, penyair Jose Rizal Manua, budayawan Isti Nugroho, politikus Miing Deddy Gumelar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amien Kamil mengatakan, dalam situasi hari ini masyakat terlena atau dilenakan oleh prilaku politik, khususnya sebatas Pemilu dan Pilpres, perebutan kekuasaan, peradaban tentu terancam oleh kepentingan praktis sesaat, golongan, partai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bangsa dan negara bisa terjerumus menjadi kelas budak di antara bangsa-bangsa di dunia. Budayawan harus mencegah dengan memberi pencerahan kepada masyarakat agar memikirkan perabadan yang hendak dibangun, berani menyatakan kebenaran demi masa kini dan masa depan, punya sikap, tidak mudah terombang-ambing oleh perebutan kekuasaan semata,&#8221; kata Amien.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kalangwan,  Moralitas yang Otonom</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pandangan Budayawan Taufik Rahzen selalu ada pola-pola dari masa ke masa untuk menyeimbangkan kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari kalangan seniman misalnya selain ada tokoh-tokoh seperti Chairil Anwar, WS Rendra, &nbsp;dan Hardi, juga ada Japi Tambayong (Remy Sylado), Radhar Pancadahana dan lain-lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh pakar sastra Jawa Prof. Dr.&nbsp;Petrus Josephus Zoetmulder,&nbsp;S.J.&nbsp;(29 Januari 1906&nbsp;–&nbsp;8 Juli 1995), tokoh-tokoh seperti itu disebut Kalangwan, yang dijadikan judul bukunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Moralitas dari orang-orang Kalangwan itu sangat otonom. Tidak berdasarkan kebenaran agama atau kekuasaan. Ciri-ciri Kalangwan selalu otonom.&nbsp; Konsep diri mereka, ego,” ujar&nbsp; Taufik Rahzen lagi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia kemudian mengambil contoh dalam puisi-puisi karya Chairil Anwar atau dalam buku Pramudya Anantatoer, &nbsp;“Pemberian kata Aku memiliki dua arti: aku tentang diri&nbsp; sendiri atau yang bernakna kolekvitas,&#8221; &nbsp;ujarnya</p>



<p class="wp-block-paragraph">Taufik Rahzen &nbsp;juga menambahkan,&nbsp; bagi para Kalangwan, &nbsp;keindahan adalah bagian dari tempat mereka berada. Meskipun berbeda-beda, bagi Kalangwan kebenaran selalu satu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dari dulu masyarakat Nusantara selalu bertegangan antara dua ini. Antara kekuasaan dan agamawan. Para budayawan dan seniman selalu mengambil jalan keindahan. Tidak terlalu peduli dengan kekuasaan,&#8221; kata Taufik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ada Pelukis Kritis dan Kompromistis</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengenai sikap dan karya-karya yang dilahirkan oleh WS Rendra maupun Hardi, menurut wartawan senior Bre Redana, tidak terlepas dari pengaruh perguruan silat tempat mereka berlatih, yakni Perguruan Bangau Putih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di mata Bre Redana, Hardi adalah seorang pelukis yang kritis sekaligus kompromistis. &#8220;Dia bisa memaki-maki pemerintah, tetapi bisa menjual lukisannya kepada orang yang dimaki-maki,&#8221; kata Bre.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedangkan WS Rendra banyak memasukan pengaruh perguruan Bangau Putih yang menerapkan filsafat Taoisme. &#8220;Drama Mas Willlly Kisah Perjuangan Suku Naga,&nbsp; tokoh-tokohnya adalah personifukasi suhu Subur Rahardja, yang menikah dgn wartawan Amerika Louise Ansberry.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perupa Arahmaiani mengatakan, WS Rendra adalah orang yang sangat mempengaruhi sikap dan pola pikirnya. Setelah ia dipenjara dan dikeluarkan dari ITB tahun 1983, ia bertemu WS Rendra.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Waktu mau tidur saya dikasih dua buku oleh Mas Willy. Salah satunya Kitab Pararaton. Saya tertarik tentang budaya dan tradisi. Apalagi jaman Diktator Soeharto saya melihat tradisi budaya Jawa dipelintir oleh penguasa,&#8221; kata wanita perupa ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tahun 94 saya pameran di tempat Ray Sahetapy. Ada sekelompok orang datang mengatakan darah saya halal. Karena karya saya Lingga Yoni. Akhirnya saya harus melarikan diri, karena kelompok semacam ini tidak bisa diberi penjelasan,&#8221; tambah Arahmaini,  sambil menyebut “yang bisa mempersatukan kelompok-kelompok saat ini, hanya isu tentang lingkungan. Isu lain masih sulit!” <strong>XPOSEINDONESIA – Foto Dudut Suhendra Putra</strong></p>


<div style="min-height: 535px" class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_a8d76958-4553-4fa8-b41a-c5638e2b7c56" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-1.jpeg" alt="taufik rahzen budayawan arahmaiani perupa bre redana kritikus seni sastrawan dan amien kamil 1" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">taufik rahzen budayawan arahmaiani perupa bre redana kritikus seni sastrawan dan amien kamil 1</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Harris-Jauhari-Bre-Redana-dan-Herman-Widjaya-1.jpeg" alt="harris jauhari bre redana dan herman widjaya 1" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">harris jauhari bre redana dan herman widjaya 1</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Diskusi-diadakan-oleh-kelompok-semiman-dan-budayawan-untuk-merespon-perkembangan-sosial-politik-masa-kini-1.jpeg" alt="diskusi diadakan oleh kelompok semiman dan budayawan untuk merespon perkembangan sosial politik masa kini 1" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">diskusi diadakan oleh kelompok semiman dan budayawan untuk merespon perkembangan sosial politik masa kini 1</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">17673</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2024/01/Taufik-Rahzen-Budayawan-Arahmaiani-Perupa-Bre-Redana-Kritikus-Seni-Sastrawan-dan-Amien-Kamil-300x200.jpeg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
		<item>
		<title>Diskusi Budaya &#8216;Indonesia di Persimpangan Sejarah&#8217;</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/exclusive/event/diskusi-budaya-indonesia-di-persimpangan-sejarah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Dec 2023 23:49:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Amien Kamil]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Zastrouw Al-Ngatawi]]></category>
		<category><![CDATA[Isti Nugroho]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=17503</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-300x200.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="wapres bulungan 08 dsp" decoding="async" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-300x200.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-1024x683.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-768x512.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-1536x1024.jpg 1536w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-2048x1365.jpg 2048w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-150x100.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-600x400.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-696x464.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-1392x928.jpg 1392w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-1068x712.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-1920x1280.jpg 1920w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-630x420.jpg 630w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-1260x840.jpg 1260w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Diskusi Kebudayaan bertajuk , ‘Indonesia di Persimpangan Sejarah’ digelar di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta, Rabu (27/12/23). Sejumlah jurnalis, seniman dan budayawan hadir menyimak obrolan hangat dan mencerahkan pikirian. Diskusi menghadirkan nara sumber Dr. Zastrouw Al-Ngatawi dan Isti Nugroho dengan moderator Amien Kamil. Amien Kamil mengawali acara dengan mengungkap dasar pemikiran diskusi ini digelar. Menurut Amien, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Diskusi Kebudayaan bertajuk , ‘Indonesia di Persimpangan Sejarah’ digelar di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta, Rabu (27/12/23). Sejumlah jurnalis, seniman dan budayawan hadir menyimak obrolan hangat dan mencerahkan pikirian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diskusi menghadirkan nara sumber Dr. Zastrouw Al-Ngatawi dan Isti Nugroho dengan moderator Amien Kamil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amien Kamil mengawali acara dengan mengungkap dasar pemikiran diskusi ini digelar. Menurut Amien,  melihat realitas yang ada, saat ini Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah. Tiga sampai lima tahun belakangan ini, kita menyaksikan berbagai macam kejadian yang seringkali jauh dari apa-apa yang diniatkan oleh Bapak pendiri bangsa dan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga serta pikirannya untuk kemerdekaan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lihatlah, korupsi merajalela hampir di semua instansi pemerintahan. Diskusi ini kita coba untuk turun rebuk pikiran bagaimana membaca situasi Indonesia dan bersama-sama belajar untuk mencintai Indonesia. Entah yang bergerak dalam bidang kesenian atau siapapun yang peduli dengan masa depan Indonesia, haruslah jadi Pelopor penyadaran dan agen perubahan ke arah yang lebih baik!” kata Amien yang dikenal di panggung sastra dan seni rupa dan penulis beberapa buku. Salah satunya buku antologi puisi Tamsil Tubuh Terbelah (2007).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amien kemudian memperkenalkan dengan panjang lebar dan detail latar belakang dua narasumber hari itu, yakni , seorang budayawan dari kalangan nahdliyin yakni Dr. Ngatawi Al-Zastrow, S.Ag., M.Si, dan Isti Nugroho adalah aktivis 1980-an, yang delapan tahun dipenjara rezim Orde Baru atas tuduhan subversif.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bukan di Persimpangan Sejarah Tapi di Lika-Liku Sejarah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Soal judul Diskusi Kebudayaan, ‘Indonesia di Persimpangan Sejarah’, Isti Nugroho menilai &nbsp;lebih tepat &nbsp;Indonesia di Lika liku Sejarah. &nbsp;&nbsp;Karena Republik Indonesia mengalami <em>up and down</em> justru ketika di awal-awal Proklamasi dan sebelum proklamasi dari mulai 1930 sampai 65. &nbsp;“Nah &nbsp;di masa itu&nbsp; Indonesia betul-betul dalam dalam persimpangan sejarah. &nbsp;Artinya, &nbsp;Indonesia mau ke kiri atau ke kanan, tetapi kemudian Indonesia setelah tahun 65 betul-betul berkibar dan berdarah, karena yang dulu dikatakan ditolak Soekarno diterima oleh Soeharto,”ujar Isti,</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurit Isti, jadi Indonesia saat ini bukan &nbsp;lagi di persimpangan sejarah tetapi Indonesia ini ada dalam lika-liku sejarah. &nbsp;Lika-liku sejarah itu dibuat didesain justru ketika reformasi. Jadi kalau orang-orang seusia saya, seusia Mas Amin dan lain-lainnya masih kecil, &nbsp;itu pasti ada residu yang mencari tahu apa itu ideologi? &nbsp;Apa itu cara pandang? Apa itu &nbsp;spirit perjuangan? &nbsp;Tetapi anak milinial sekarang ini merasa yang penting bisa hidup nyaman dan aman dan menjadi bagian Kapitalisme, &nbsp;sementara kita masih berdarah-darah &nbsp;dengan ideologi tadi. &nbsp;Indonesia sudah betul-betul ada dalam situasi yang disebut dengan demokrasi liberal dan ekonomi kapitalis!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rusaknya kondisi bangsa Indonesia saat ini, kata Isti&nbsp; &nbsp;akibat dari ulah oknum penguasa. “Penguasa telah mengutak-atik aturan. Jadi arah bangsa ini (Indonesia) berliku-liku ndak keruan. Rakyat dianggap tidak ada dan ini (kerusakan) harus dihentikan,” tegasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, kata dia, Indonesia memiliki sejarah yang panjang dalam merebut kemerdekaan melawan penjajah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apa yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa, saat ini telah dirusak oleh penguasa dan oligarki. Sebagai warga yang cinta Tanah Air, kita tidak boleh berdiam diri,” jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua elemen, jelas dia, harus memberikan kontribusi untuk melakukan perbaikan dengan berbagai kemampuan yang dimiliki.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Vaksin Sejarah Bangsa</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu,&nbsp;Dr. Ngatawi Al-Zastrow menilai generasi milenial harus terus diberikan soal literasi sejarah bangsa Indonesia. &nbsp;Milenial menganggap tidak &nbsp;ada untungnya belajar sejarah, karena tidak menghasilkan uang. Padahal, dari masa lalu, kita bisa hidup seperti sekarang ini .</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah buat anak sekarang cuma sebagai hafalan dari sebuah peristiwa masa lalu. “Misalnya, cerita Perang Diponegoro, mereka menghafalnya perang itu sebagai perang yang terjadi setelah azan maghrib dalam waktu 5 menit, karena terjadi pada&nbsp; (tahun) 1825 sampai 1830. &nbsp;Kan magrib menurut waktu&nbsp; Indonesia bagian barat terjadi pada pukul 18.25,” kata&nbsp; Al-Zastrow</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Al-Zastrow, &nbsp;sejarah bukanlah sebuah rekonstruksi masa lalu, melainkan petunjuk arah sebagai pedoman masa depan bangsa “Saat ini masyarakat Indonesia bukan hanya membutuhkan vaksin Covid-19, tetapi juga vaksin sejarah. Tujuannya, supaya generasi milenial dan seluruh unsur masyarakat tidak lupa akan sejarah besar Bangsa Indonesia. Agar kita semua memahami arah dan tujuan membangun bangsa Indonesia sesuai dengan cita-cita pendirinya. Penguasa yang korup harus dihentikan,” jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pengamatan Al-Zastrow&nbsp;pendidikan &nbsp;di Indonesia sekarang ini lebih mengarah pada dimensi kognitif, di mana pemikiran konsep berdasarkan pengetahuan, &nbsp;sehingga orang belajar agama pun, &nbsp;agama merjadi pengetahuan “Karenanya, &nbsp;banyak orang yang pintar Islam tapi kelakuannya berbeda dari Islam,” ungkapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al Zaztrow menawarkan alternatif, sebaiknya pendidikan sekarang ini juga mengarah pada penguatan dimensi afektif karena dimensi afektif ini akan merasa mengelola kinerja rasa nurani .</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dimensi afektif adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap, watak, perilaku, minat, emosi, dan nilai yang ada di dalam diri setiap individu. Pembelajaran yang berkaitan dengan sikap, lebih menekankan pada nilai, bagaimana seseorang dapat bertindak dan dapat memilah apa yang dipandang benar adan apa yang dipandang salah!”jelasnya. <strong>XPOSEINDONESIA/Nini Sunny Foto : Dudut Suhendra Putra</strong></p>


<div style="min-height: 535px" class="ub_image_slider swiper-container wp-block-ub-image-slider" id="ub_image_slider_3240519f-7ef2-42a3-87ed-75c8466574e0" data-swiper-data='{"speed":300,"spaceBetween":20,"slidesPerView":1,"loop":true,"pagination":{"el": ".swiper-pagination" , "type": "bullets", "clickable":true},"navigation": {"nextEl": ".swiper-button-next", "prevEl": ".swiper-button-prev"}, "keyboard": { "enabled": true }, "effect": "slide","simulateTouch":false}'>
            <div class="swiper-wrapper"><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-02-DSP-scaled.jpg" alt="wapres bulungan 02 dsp" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">wapres bulungan 02 dsp</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-04-DSP-scaled.jpg" alt="wapres bulungan 04 dsp" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">wapres bulungan 04 dsp</figcaption>
            </figure><figure class="swiper-slide">
                <img decoding="async" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-05-DSP-scaled.jpg" alt="wapres bulungan 05 dsp" style="height: 500px;; ">
                <figcaption class="ub_image_slider_image_caption">wapres bulungan 05 dsp</figcaption>
            </figure></div>
            <div class="swiper-pagination"></div>
            <div class="swiper-button-prev"></div> <div class="swiper-button-next"></div>
        </div>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">17503</post-id>
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2023/12/WAPRES-BULUNGAN-08-DSP-300x200.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="200" />	</item>
	</channel>
</rss>
