Perkembangan Digital Munculkan Disrupsi pada Industri Musik

08 October 2020

Teknologi digital bisa membuat  sesuatu menjadi lebih mudah dan murah. Namun itu sangat tergantung dari kreativitas manusianya, bisa memanfaatkannya  atau tidak. 

Merebaknya Pandemi Covid 19 ternyata bisa melahirkan gagasan baru di dunia panggung pertunjukan musik Indonesia. Dengan  memanfaatkan sistem teknologi digital,  telah lahir apa yang disebut pementasan musik secara virtual. 

Pementasan musik virtual pertama  di Indonesia, dibidani oleh pertunjukan Jazz  dari Indra Lesmana  (di Bali) dan Dewa Bujana  (di Jakarta),  dibantu Djundi Karyadi yang ahli dibidang teknologi untuk mengendalikan pertunjukan itu dan memancarkannya ke seluruh dunia lewat  jaringan internet. Konser bertajuk Mostly Jazz Live Online ini sukses  berlangsung pada 30 April 2020 ditonton lebih dari 400 orang dengan membeli tiket umum termurah seharga Rp50.000,-. 

Belakangan muncul “Konser 7 Ruang”  yakni konser virtual dari rumah produksi Donny Hardono. Konser yang  digelar seminggu tiga kali ini tak menjual tiket , namun menghimpun pengumpulan dana  bagi  kelangsungan hidup crew  harian yang bekerja di  belakang panggung,  yang tidak mendapat pekerjaan selama pandemic Covid.

"Konser  7 Ruang"  sudah berlangsung lebih dari lima bulan. Jumah  donasi yang terkumpul dari "Konser 7 Ruang" tidak main-main. Saat band rock spesialis lagu-lagu Genesis, Cockpit tampil, donasi yang terkumpul mencapai Rp85 juta. Ketika 7 Bintang + Vina Panduwinata menghibur penggemar, sebanyak Rp120 juta terkumpul dari konser virtual berdurasi lebih dari dua jam itu.

Melihat perkembangan ini,  Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Muhammad Neil El Hilman,  dalam Bimtek Digitalisasi Musik yang bertajuk 'Fenomena Digitalisasi Musik', Rabu (7/10/2020),  menyebut pelaku Ekonomi Kreatif di bidang musik,  semakin melek terhadap dunia digital.

“Ini suatu keniscayaan di mana pandemi COVID-19 ini banyak mendatangkan imbas salah satunya dari sisi akselerasi transformasi digital bagi semua pelaku ekonomi kreatif. Semua dituntut untuk dapat melek dunia digital, termasuk industri musik,” ujar Neil. 

Neil menyebut dalam era digitalisasi, para musisi pun memiliki potensi untuk tetap berkembang dan produktif untuk mendapatkan penghasilan. Hal ini dapat membuat industri musik di Indonesia semakin berdaya saing di kancah industri musik dunia. 

"Sekarang setidaknya ada 175 juta penduduk Indonesia yang bisa mengakses internet, artinya 175 juta pasar bagi ekonomi kreatif termasuk juga di bidang musik. Masyarakat pun sudah mulai banyak yang melakukan streaming lewat gadget, artinya di situlah yang pertama kita harus pahami bahwa dunia digital ini ada pangsa pasarnya," ujar Neil. 

Lebih lanjut, Neil menyebut bahwa meski digitalisasi dapat mempermudah para pelaku industri musik maupun para penikmatnya, bukan berarti digitalisasi tidak memiliki hambatan. Salah satu hambatan yang sering terjadi adalah masalah jaringan. Di Indonesia belum semua daerah terakses jaringan internet hingga masalah legalitas karya yang masuk dalam dunia digital. 

"Hambatannya salah satunya berkaitan dengan teknologinya itu sendiri, masalah jaringan. Akses terhadap teknologi itu sendiri kalau di Indonesi itu belum rata, yang ketiga masalah legalisasi. Kalau yang namanya digital kan diduplikasi mudah sekali. Masalah hambatan ini yang sekarang sedang kita benahi," ujar Neil. 

Praktisi Musik Donny Hardono, mengaku telah merasakan manfaat yang besar dari perkembangan  teknologi digitalisasi di dunia musik. Pasalnya, justru berkat  teknologi digital ia dapat untuk membuat karya besar di tengah pandemi COVID-19, yaitu dengan menggelar konser virtual yang diberi nama 'Konser Tujuh Ruang'. 

"Semula saya tidak begitu melek dengan  dunia digital, tapi situasi pandemi COVID-19 membuat saya banyak belajar dan berupaya memperdalam.  Bahkan  dari situ, bisa turut membantu perekonomi pelaku kreatif di bidang musik di masa sulit ini," ujar Donny. 

Donny menjelaskan, pelaku industri musik tidak ada salahnya belajar dan mendalami dunia digital. Sebab, dari sini dapat memunculkan peluang yang dapat mendorong perekonomian Indonesia. 

"Kita semua harus belajar mengenal dunia digital. Bahasa digital berbeda dengan bahasa yang kita pakai. Jika kita pelajari dengan baik dengan memanfaatkan teknologi, musik Indonesia tidak kalah dengan musik mana pun. Bahkan bisa lebih hebat," ujar Donny. 

Pengamat Musik, Buddy Ace, menjelaskan bahwa era digitalisasi akan membawa industri musik Indonesia semakin bersaing secara global dengan berbagai negara, seperti Amerika, Inggris Raya, Korea, Jepang, hingga China.

“Apalagi Indonesia punya keragaman budaya dan masyarakat penikmat musiknya berlatar dari budaya yang begitu luas sehingga dapat menjadi kekuatan tersendiri dalam bersaing di pasar global,” ujar Buddy. 

Sementara Musisi Irfan Aulia,  mengatakan bahwa perkembangan digital yang memunculkan  konser  virtual tadi telah membuat disrupsi pada industri kreatif musik. Oleh karena itu dibutuhkan model bisnis baru, serta regulasi-regulasi yang baru  dari pemerintah untuk merespons keadaan ini. 

“Meskipun undang-undang hak cipta kita  yang baru yakni yang pada tahun 2014, tapi rasanya dengan disrupsi ini belum terakomodir. Mudah-mudahan pihak terkait dari pemerintah bisa membuat adanya regulasi yang bisa memayungi,” ujar Irfan.   XPOSEINDONESIA Foto : Biro Komunikasi Kemenparekraf

 

More Pictures

 

Last modified on Tuesday, 13 October 2020 10:19
Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...