Rodyanto Wasito:  Hidupkan Lagi Lagu Anak lewat “Salam Hore”

15 August 2020

Eksistensi musik khusus untuk anak-anak  di Indonesia tidak sepopuler era’70-an hingga ‘90-an. Sebagai seorang musisi, arranger dan produser  musik yang juga berfokus pada musik anak, Roedyanto Wasito merasa memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan terus lagu anak-anak. 

 

Terlebih di era sosial media seperti saat ini, ia menemukan banyak  anak-anak tidak lagi menyanyikan lagu yang sesuai dengan usia mereka. 

“Saya banyak melihat anak-anak menyanyikan lagu dewasa  dari barat yang kebetulan sedang menjadi hits dunia.” kata Roedyanto saat diwawancarai Bens Leo  dan ditayangkan via IG Live.

“Sebagai produser musik, saya  memang tidak melulu main untuk band saya Emerald. Kebetulan, saya juga concern untuk membuat lagu anak-anak.  Saya pernah ikut lomba cipta lagu anak yang diselenggarakan Mas Bens Leo pada tahun 2012,” kata Roedyanto.

Roedyanto melihat  produktivitas pencipta lagu anak memang  terasa stagnan dan tidak bervariasi. Melihat kondisi inilah Roedyanto menggagas ide membuat sebuah game dan challenge yang bernama “Salam Hore.” 

Dalam game dan challenge tersebut, anak-anak ditantang untuk membawakan lagu yang diciptakan khusus oleh Roedyanto. 

“Namun, tidak hanya sekedar membawakan lagu, saya juga memasukan unsur pendidikan serta teknik menyanyi, seperti mengenal nada dan notasi untuk mengembangkan kemampuan anak-anak dalam bernyanyi,” ungkap pemain bass dari Emerlad Band itu

Pandemi Covid-19 yang merebak saat ini, mengilhami Roedyanto   untuk menggelar sistem baru dalam penyajian “Salam Hore”.  

“Karena tidak dapat menghadirkan mereka untuk rekaman langsung di studio, maka anak-anak diminta menyanyikan  lagu saya  yang  telah saya posting di Instagram. Mereka bisa mempelajarinya di rumah dan kemudian merekamnya via video kemudian meng-uploadnya di Instagram!” 

Menurut Roedy, Instagram  bisa dimanfaatkan menjadi wadah bagi anak-anak untuk berkreasi dalam bernyanyi tanpa harus datang ke tempat recording.

Selain itu, peserta tinggal mempublikasikan hasil rekaman suara atau video  mereka ke Instagram. Dengan begitu, anak-anak dapat mengikuti kompetisi tersebut dan tidak dibatasi oleh jarak serta waktu. 

Ia juga tidak membatasi kreativitas para peserta dalam pembuatan video. Roedyanto mengklaim bahwa cara tersebut membuat para peserta bebas dan lebih kreatif dalam membuat koreografi dan mengedit videonya sendiri dengan fasilitas yang mereka miliki. 

“Maka dari itu, “Salam Hore” tidak hanya sekedar menggali kemampuan anak-anak dalam bernyanyi, tetapi juga mengasah kemampuan anak, yang tentu saja didampingi orang tua  mereka dalam membuat karya video yang menarik,” ujar Roedyanto

“Salam Hore” menjadi sebuah kompetisi yang memberikan kesempatan bagus untuk anak-anak dalam mengeksplorasi bakat tanpa adanya juri seperti ajang pencarian bakat pada umumnya. Dalam kompetisi “Salam Hore,” Roedyanto membiarkan anak-anak mempresentasikan lagu karyanya sesuai versi peserta. Hal tersebut dilakukan karena ia yakin bahwa setiap orang memiliki improvisasi berbeda dalam bernyanyi. 

Dalam kompetisi yang diikuti kurang lebih 500 peserta, Roedyanto ingin mengasah kemampuan anak-anak dengan mendengarkan sebuah komposisi musik baru dan menangkap notasi lagunya. Dengan begitu mereka menyesuaikan dengan gaya tiap-tiap individu. 

“Untuk peserta “Salam Hore”, saya membuat lima tantangan level,  yang mana di setiap level mempunyai kesulitan yang berbeda untuk dinyanyikan. Dan pada level akhir, saya hanya membuat lagu tanpa melodi dan  tanpa lirik. Part itu harus diisi anak-anak!”

Bisakah anak-anak  menerima tantangan Roedy yang tidak main-main di level 5?  Anak-anak menulis lirik? Bisakah? “Jelas Bisa! Terbukti, banyak peserta yang berhasil. Kalaupun ada yang tidak bisa, mereka boleh menyanyikan lagu  yang dibuat temannya!” kata Roedy.  

Menurut Roedyanto, lagu anak-anak tidak dapat disepelekan. Maka dari itu, ia mencoba menggiatkan bahwa konten anak-anak adalah hal yang menarik. 

Selain itu, Roedyanto juga membimbing penyanyi anak-anak untuk mengetahui bagaimana menjadi seorang musisi profesional dengan mengajarkan etika dalam bermusik. Rasa bangga terhadap anak-anak yang tergabung dalam “Salam Hore” diceritakannya. 

“Kelihatannya, sekarang  ini,  untuk maju sebagai penyanyi tidak   selalu butuh label besar. Tanpa label,   kita  tetap bisa terus berkarya. Musik Indonesia tidak akan pernah berhenti dan tetap melahirkan karya baru,” ujar Roedyanto. XPOSEINDONESIA- Resa Shapira. Foto: Dokumentasi Dudut Suhendra Putra 

More Pictures

 

 

Last modified on Saturday, 15 August 2020 15:36
Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...