Hentikan Kebiasaan Menyerempet Pelaggara Hak Cipta

19 December 2018
Via Vallen - Foto : Kaskus Via Vallen - Foto : Kaskus

Efek negatif pergerakan industi musik Indonesia di era digital rupanya mulai tampak jelas. Tidak ada jaminan lagi seorang hits maker bisa ‘selalu’ melahirkan lagu yang orisinal. Belakangan mulai banyak bertebaran lagu-lagu dengan teks bahasa Indonesia yang struktur melodinya nyaris sama dengan ‘lagu luar’.

Terpengaruh, Terinspirasi

Kadang masih bisa dimengerti, jika seorang song writer yang lahir sebagai musisi dengan kiblat grup musik tertentu, boleh jadi jika ia berkarya, maka karya musiknya itu akan terpengaruh oleh lagu-lagu dari grup yang lagu ciptaannya biasa dibawakan di panggung.

Seperti, Abadi Soesman atau Jelly Tobing yang biasa membawakan karya lagu The Beatles, jika menciptakan lagu pasti ada nuansa Beatles nya, atau grup Second Born yang biasa meng-cover lagu-lagu Queen, jika personilnya akan menciptakan lagu sendiri, nuansa Queen nya pasti ada pada lagu ciptaannya. Dalam dunia seni budaya, pengaruh jenis ini biasa disebut reminiscenza. Reminiscenza dalam musik.

Para musisi, penata musik dan pencipta lagu, yang ‘terpengaruh karena biasa membawakan lagu karya orang lain’  macam itu biasanya akan bersikap jujur. Pada saat musik Indonesia masih berada di ranah analog, label rekaman dan artis musik bisa mengandalkan penjualan fisik album seperti bagusnya jumlah kaset, CD atau vinyl (piringan hitam) yang beredar dapat memenuhi dahaga hak ekonominya.

Saat itu, pencipta lagu yang  berkarya dan mendapat  ‘pengaruh karena biasa membawakan karya orang lain’ itu biasanya akan mengakui karyanya kurang orisinal sejak awal albumnya dirilis, dengan cara memberi pernyataan pada acara jumpa pers saat album dirilis atau menulis pengakuan ‘pengaruh’ itu melalui tulisannya di Prakata pada cover album dalam bentuk kata thanks to The Beatles, Queen, U2 dan seterusnya.

Tapi,  belakangan ada beberapa contoh kasus yang menyerempet Pelanggaran Hak Cipta pada karya musisi atau song writer dan arranger kita, sejak saat mereka berkarya dan mengumumkan karyanya itu melalui media massa atau media sosial, saat lagu karya itu beredar. Baik secara komersial maupun yang bersifat personal / kepentingan kelompok massa tertentu. Sebagai contoh, Ahmad Dhani mengambil lagu karya Brian May – gitaris Queen yang liriknya diubah menjadi lirik kampanye Calon Presiden RI Prabowo Subianto di kampanye Pilpres 2014, cukup menghebohkan. Saat itu Brian May sempat menegur Dhani melalui sosmednya. 

Terinspirasi, lalu ‘Kebablasan’
 

Di ranah industri rekaman, cukup banyak hits maker yang ‘kebablasan’ mengambil melodi lagu karya pencipta lagu luar (negeri), dan menaruh lirik teks bahasa Indonesia atau bahasa daerah dan dinyanyikan penyanyi Indonesia, dan -  hebatnya -, lagu itu jadi hit. Lagu ‘Sayang’ yang diakui sebagai karya Anton Obama dan populer setelah dibawakan dengan bagus oleh Via Vallen, tak genap sebulan beredar pada tanggal 14 Februaru 2017, ternyata melodi lagunya ketahuan persis sama dengan lagu ‘Mirai E’ ciptaan komposer  Chiharu Tamashiro dari Jepang. Lagu ini beredar dibawah Publisher EMI, dirilis 1 Oktober 1998.

Lagu ‘Lagi Syantik’ yang dirilis Nagaswara dan populer lewat penyanyi Siti Badriah, menurut saya melodi lagunya sangat dekat dengan lagu ‘Despacito’ yang populer seantero jagad itu.

Menarik dicatat, untuk mengamankan nama, baik label rekaman maupun pencipta dan penyanyinya, upaya terakhir dari Eksekutif Produser (baca : penyandang dana), Produser Rekaman setahu Pencipta Lagu yang ‘membajak’ melakukan pembayaran ganti rugi berupa royalti atau sejenisnya, di bawah tangan, sehingga tak terendus media massa.


Yang saya dengar, kasus lagu ‘Sayang’ dan ‘Lagi Syantik’ sudah clear tak ada lagi tuntutan. Tapi, masih ada beberapa kasus sejenis yang belum terpenuhi Hak Ekonomi pencipta lagu aslinya, karena belum ada penjelasan detil tentang unsur pelanggaran Hukum jika merujuk UU Hak Cipta yang dimaksud.

Misalnya, bagaimana jika pencipta lagu Indonesia itu tidak mengakui, bahwa karya ciptanya mengambil dari karya cipta orang lain? Bagaimana jika yang dianggap ‘pelanggaran hak cipta’ itu hanya terdengar ‘nuansanya sama’, seperti pada lagu ‘Lagi Syantik’ yang mirip ‘Despacito’? Kebiasaan yaang dilakukan Pekerja Seni Indonesia untuk membuktikan ada tidaknya penjiplakan itu adalah ‘menempelkan lagu asli dan lagu yang dianggap duplikasi, dalam pemutaran lagu di radio. Live on air, yang menguji tak hanya DJ dan MD Radio, juga pendengar.

Atau dua lagu yang dimaksud, diuji di depan orang yang dianggap tahu tentang ada tidaknya kesamaan struktur melodi antara satu lagu dengan lagu lainnya. Kedua cara ini dinilai cukup sahih.....

Meng-cover Lagu Musisi ‘Lintas Genre’

Cerita terbaru yang banyak beredar di kalangan media massa adalah, miripnya melodi lagu ‘Asal Kau Bahagia’ yang diakui sebagai ciptaan Radha, Mai dan Rizal yang direkam dalam cakram grup Armada dari Palembang. Lagu hit yang dirilis publisher Nadaku Musik tanggal 3 Februari 2017, mirip sekali dengan melodi lagu ‘Gaining Trough Losing’ karya Ken Hirai dengan publisher Sony Music yang dirilis 4 Juli 2001. Lagu ‘Asal Kau Bahagia’ dari grup Armada refrainnya sangat mirip dengan refrain ‘Gaining Trough Losing’, kemiripan yang jadi masalah, karena di era digital, yang mirip ini justru berada pada ‘racun lagu’; yang biasanya dipakai sebagai potongan melodi RBT.

Kasus lain yang terjadi adalah, suatu kerja kreatif seorang arranger yang mengubah aransemen lagu dari musik lintas genre, seperti yang dilakukan arranger band dangdut pengiring Via Vallen, yang menabrak rambu etika membuat aransemen lagu ’Du Du Du’ dari album grup cewek Korea Black Pink dari nuansa pop disko / EDM menjadi dangdut koplo, sedang lagu karya Superman Is Dead dari Bali, diubah dari lagu asli berwarna punk rock menjadi dangdut koplo, keduanya dibawakan Via Vallen dia atas panggung.

Jika performance Via Vallen ini direkam dalam kamera video, dan dijual pada umum, maka disanalah terjadi pelanggaran Hak Cipta,karena pencipta aslinya tercerabut hak ekonomi dan hak moralnya. Padahal, Via Vallen adalah  penyanyi dangdut dengan honor termahal, duta musik Indonesia di pembukaan Asian Games 2018.

UU Hak Cipta RI no. 28/2014 telah memberi kebanggaan pada para Pekerja Seni, khususnya musik, lebih khusus lagi pada Pemain( alat )  Musik dan Penyanyi yang dalam UUHC disebut kelompok Hak Terkait, -  karena sebagai seniman yang ikut terlibat dalam proses produksi rekaman, mereka berhak atas royalti, seperti Pencipta ( Melodi ) Lagu dan Penulis Lirik. Pada Musik Genre Dangdut, royalti buat Pemain  pemain gitar, bas, keyboards, drum, kendang, suling dll) dan Penyanyi ini telah didistribusikan oleh PAMMI ( Persatuan Artis Musik Melayu (Indonesia ) dalam satu tahun 2 kali, sementara PAPPRI ( Persatuan Artis Penyanyi Pemusik Republik Indonesia ) mendistribusikan royalti pada Pencipta Lagu dan Hak Terkait pada awal tahun 2018 yang lalu.

Berkaitan dengan hal di atas, naif rasanya jika musisi dan pencipta lagu Indonesia masih melakukan pelanggaran Hak Cipta, apapun alasannya. Labih disayangkan lagi, jika pelanggaran itu dilakukan terhadap karya cipta orang di luar Indonesia. Bukankah, etika berkesenian seseorang juga akan dikaitkan dengan citra bangsa? Xposeindonesia / Bens Leo, Foto : M. Ihsan

Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...