“Prophets of Rage  di Hodgepodge Superfest 2019 : “Make Jakarta Rage Again”

05 September 2019

Harus diakui, peyelenggaraan Hodgepodge Superfest 2019  untuk kedua kalinya di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta Utara pada Minggu (1/9/2019) ini, jauh lebih hidup dan ketimbang penyelenggaraan pertama tahun lalu.  

Ini bisa dilihat dari jumlah penonton  sekaligus anthusias mereka ikut  bernyanyi dan “terbakar” penuh semangat di depan panggung yang mempergelarkan  aksi dari  Prophets of Rage.

Dilihat dari usia, band  ini terhitung baru. Karena  dibangun tahun 2016.  Namun, member grup cukup senior di jagat musik. 

Ada 3 persoil band Rage Against the Machine dan Audioslave (Tim Commerford (bassist dan backing vocalist), Tom Morello (gitaris), dan Brad Wilk (drummer), sementara dua personil lagi adalah members dari kelompok Public Enemy (DJ Lord and rapper Chuck D), and rapper B-Real of Cypress Hill

Pukul 22.23, para personil Prophets of Rage memasuki panggung dan terdengar sirine, sebuah bunyi pembuka dan menjadi bagian dari lagu “Prophets of Rage” single pertama grup ini yang dirilis pada 2016. Sebuah lagu yang sukses dengan perolehan view video di Youtube, menyentuh angka 3,5 juta lebih.

Chuck D menyapa penonton dengan mengatakan “Indonesia rage again”  lalu membawakan lagu “Testify” yang aslinya merupakan lagu milik Rage Against the Machine (dirilis pada 1999). “Testify” rupanya sungguh familiar  di telinga penonton  Jakarta, terlihat  mereka bergerak dan  bergoyang seretak.

Mereka tidak segan melompat-lompat mengikuti irama. Kondisi dan suasana begini  berlanjut pada lagu-lagu “Unfuck the World” dan “Guerilla Radio”. 

B-Real menyambut anhusias penonton dengan berseru. “We can’t stop and we won’t stop,” ujar sang rapper, diikuti teriakan penonton dan disambut lagu “Hail to the Chief”, “Know Your Enemy”, dan “Heart Afire”.

B-Real  yang mengenakan kostum bak Sultan Arab, dengan sorban, plus kaca mata hitam juga mengenakan sarung tangan kipper sepakbola melanjutkan pentas dengan  memperdengarkan hip hop klasik  yang menjadi trend  era 90-an seperti “Hand on the Pump”.

Usai lagu  “Hand on the Pump”, B-Real mengajak penonton duduk sejenak. Namun beberapa detik kemudian,  penonton menggila   lagi  mana kala terdengar lagu “Jump Around” . Mereka langsung berlompatan tak terkendali.

Chuck D juga menyapa penonton lagi dan mengatakan “Let me ask you something, do you like hip hop music? Would you like to hear some classic hip hop music? Yo Lord, drop it off”!

Lalu mereka membawakan lagu “Hand on the Pump” milik Cypress Hill, “Can’t Trust it” milik Public Enemy, “Insane in the Brain” milik Cypress Hill. 

Chuck D meminta penonton untuk turun mengambil ancang-ancang sebelum loncat ketika mereka membawakan lagu “Jump Around” milik House of Pain dan dengan lagu itulah sesi hip hop dari pertunjukan Prophets of Rage berakhir.

Usai itu, Tom Morello maju ke tengah panggung. Ia mengucapkan terima kasih kepada penonton, lalu mempersembahkan lagu untuk Chris Cornell, rekannya dalam  kelompok Audioslave yang meninggal dunia pada 2017.

Telinga dan mata penonton juga dimanjakan dengan guitar solo Tom Morello.  Penonton pun terlihat sangat antusias. Setelah penampilan solo Tom Morello, Prophets of Rage membawakan lagu “Take the Power Back”.

Panggung dilanjutkan Morello  dengan membawakan versi instrumental “Cochise”. Ini merupakan  single pertama Audioslave yang dirilis pada 2002. Dan  meraup sukses internasional dengan telah di view lebih dari 51 juta  kali.

“Jika tahu lagu ini, nyanyikan. Jika kalian tidak, ramaikan saja!” ujar Morello. Dan penonton di depan panggung Allianz Ecopark pun kompak bernyanyi, menggantikan  vocal almarhum Chris Cornell.

Selepas  lagu itu, penonton kembali bergelora dengan lagu-lagu rock yang keras. Menjelang akhir konser, backdrop berlogo Prophets of Rage dinaikkan. Layar LED menyala, dengan tulisan “Make Jakarta Rage Again” berlatar merah.

Dua puluh menit menjelang pergantian hari, konser supergrup ini selesai, ditutup lagu “Bombtrack”. Sebuah lagu alternative metal milik  band Rage Against the Machine, yang liriknya bicara tentang ketidaksetaraan sosial. 

Penonton  lagi-lagi “terbakar” di depan panggung.  Namun,  di tengah Lelah sehabis melompat-lompat, mereka  bisa tertib pulang menuju rumah masing-masing. XPOSEINDONESIA Teks dan Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

 

Last modified on Thursday, 05 September 2019 14:02
Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...