Kancah musik punk rock Indonesia kembali bergelora setelah Glenn & The Vicious Boys (GTVB) resmi merilis album ketiga mereka bertajuk JIU. Album ini menandai fase baru perjalanan band yang terbentuk pada 2020 tersebut, sekaligus menjadi pernyataan sikap musikal dan sosial yang lebih matang, reflektif, dan penuh perlawanan. Digarap secara total di Bali selama hampir satu tahun, JIU hadir bukan sekadar sebagai kumpulan lagu, melainkan sebagai satu kesatuan narasi yang merekam keresahan hidup, realitas sosial, hingga kritik terhadap ketidakadilan yang masih terjadi di Indonesia.
Band yang digawangi Glenn (vokal), Phitoy dan Bayu (gitar), Nicky (bass), serta Rico (drum) ini sengaja meninggalkan hiruk pikuk Jakarta demi mencari atmosfer kreatif yang lebih jujur dan mentah. Pulau Dewata dipilih bukan hanya sebagai lokasi rekaman, tetapi juga ruang kontemplasi dan kolaborasi. Di sanalah seluruh materi musik dan lirik diciptakan dari nol, dengan melibatkan komunitas punk lokal Bali serta sejumlah musisi lintas generasi. Proses rekaman dilakukan di studio milik Lolot, dengan dukungan dari musisi seperti Superman Is Dead dan Pendosa, yang memberi warna tersendiri pada karakter album ini.
Menurut Glenn, proses produksi JIU menjadi salah satu fase paling berat sekaligus bermakna sepanjang perjalanan GTVB. Rekaman yang awalnya ditargetkan berlangsung cepat justru berkembang menjadi proses panjang penuh dinamika, tantangan teknis, dan eksplorasi musikal. Atmosfer Bali disebut memberi energi berbeda, memaksa band keluar dari zona nyaman dan meramu karya dengan pendekatan yang lebih jujur terhadap situasi sosial yang mereka alami dan amati sehari-hari.
Secara konseptual, judul JIU memiliki makna filosofis yang kuat. Angka sembilan menjadi benang merah utama album ini, mulai dari jumlah lagu hingga makna simbolis yang melekat pada setiap trek. Kesembilan lagu tersebut saling berkesinambungan dan dirangkai sebagai satu cerita besar tentang kehidupan, negara, cinta, perjuangan, hingga kritik sosial. Simbol-simbol visual pada artwork album—seperti merpati, kepalan besi, peluru, dan uang—tidak dihadirkan secara estetis semata, melainkan sebagai representasi dari pesan yang ingin disampaikan GTVB, terutama soal ketimpangan hukum dan realitas keadilan sosial di Indonesia.
Glenn menegaskan bahwa JIU adalah bentuk refleksi sekaligus protes. Bagi GTVB, punk bukan hanya genre musik, melainkan sikap hidup dan medium kritik. Album ini berbicara tentang perlawanan terhadap ketidakadilan, korupsi, hingga kondisi sosial-politik yang kerap menempatkan masyarakat kecil pada posisi rentan. Meski demikian, band ini menegaskan bahwa mereka tidak berpolitik secara praktis, melainkan menyampaikan kritik lewat karya seni.
Salah satu lagu yang sejak awal diposisikan sebagai unggulan adalah “Drama”, yang merepresentasikan konflik sosial dan batin manusia modern. Selain itu, lagu “Damai” menjadi kejutan tersendiri dalam album ini lewat kolaborasi dengan aktris senior Cornelia Agatha. Dalam lagu tersebut, Cornelia membacakan puisi karya penyair legendaris W.S. Rendra, menghadirkan nuansa teatrikal yang intim dan emosional. Kolaborasi ini berangkat dari hubungan pertemanan lama antara Glenn dan Cornelia, serta kesamaan minat terhadap musik dan sastra.
Cornelia Agatha mengaku terkesan dengan keberanian GTVB menggabungkan puisi dan musik punk dalam satu ruang ekspresi. Menurutnya, karya Rendra memiliki kekuatan kritik dan makna yang relevan dengan situasi saat ini. Ia berharap GTVB terus konsisten, berani berevolusi, dan tetap setia pada identitas mereka sebagai band punk yang kritis dan jujur.
Dari sisi musikalitas, JIU menunjukkan pendewasaan signifikan dibanding album-album sebelumnya. Jika dahulu GTVB identik dengan tempo cepat dan agresif, kini mereka tampil lebih slow, alternatif, namun tetap bertenaga. Pendekatan ini dianggap sebagai refleksi usia, pengalaman, dan kedewasaan para personel dalam memaknai punk sebagai medium berekspresi. Beberapa lagu juga menyisipkan sentuhan etnis, termasuk nuansa musikal Kalimantan pada bagian gitar, sebagai upaya menegaskan identitas mereka sebagai musisi Indonesia.
Pasca perilisan JIU, GTVB telah menyiapkan agenda lanjutan, termasuk rencana tur Asia yang menargetkan Jepang, Malaysia, dan Singapura. Bagi mereka, punk akan selalu hidup selama masih ada ketidakadilan dan keresahan sosial. Melalui JIU, Glenn & The Vicious Boys menegaskan posisi mereka sebagai band punk yang terus beregenerasi, berevolusi, dan bersuara lantang lewat karya. XPOSEINDONESIA/IHSAN




