<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">

<channel>
	<title>New Release &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<atom:link href="https://xposeindonesia.com/music/new-release/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<description>News And Entertaiment</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2026 04:57:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2021/04/cropped-Xpose-favicon-32x32.png</url>
	<title>New Release &#8211; Xpose Indonesia</title>
	<link>https://xposeindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>GANGGA Rilis EP 5 hours apart, 2017, Kisahkan Cinta, Kehilangan, dan Kerinduan</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/gangga-rilis-ep-5-hours-apart-2017-kisahkan-cinta-kehilangan-dan-kerinduan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2026 04:57:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[5 hours apart 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Dear April]]></category>
		<category><![CDATA[EP Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[GANGGA]]></category>
		<category><![CDATA[Gangga Kusuma]]></category>
		<category><![CDATA[I Will]]></category>
		<category><![CDATA[Moonlight]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43823</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="gangga" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-600x397.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Penyanyi-penulis lagu asal Jakarta, GANGGA atau Gangga Kusuma, kembali menghadirkan karya terbaru melalui EP bertajuk 5 hours apart, 2017. Berisi tiga lagu, rilisan ini mengeksplorasi perjalanan emosional tentang pengkhianatan, kehilangan, penyesalan, hingga kerinduan untuk bertemu kembali dengan seseorang yang telah tiada. Dirilis pada 26 Oktober 2026, EP ini menjadi babak baru dalam rangkaian menuju album [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyanyi-penulis lagu asal Jakarta, <strong>GANGGA </strong>atau <strong>Gangga Kusuma</strong>, kembali menghadirkan karya terbaru melalui EP bertajuk <em>5 hours apart, 2017</em>. Berisi tiga lagu, rilisan ini mengeksplorasi perjalanan emosional tentang pengkhianatan, kehilangan, penyesalan, hingga kerinduan untuk bertemu kembali dengan seseorang yang telah tiada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dirilis pada 26 Oktober 2026, EP ini menjadi babak baru dalam rangkaian menuju album kedua GANGGA. “Moonlight” dipilih sebagai focus track sekaligus menjadi rilisan musik terbarunya sejak single “SHE” pada 14 November 2025.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga lagu dalam EP ini membentuk sebuah cerita yang saling terhubung. Kisahnya dimulai dari seseorang yang merasa telah memberikan segalanya dalam hubungan, tetapi justru harus menghadapi pengkhianatan. Perjalanan emosional tersebut kemudian bergerak menuju duka dan penyesalan setelah kehilangan orang yang dicintai, sebelum akhirnya berujung pada kerinduan mendalam yang membuat batas antara kenangan dan imajinasi terasa semakin samar.</p>



<iframe data-testid="embed-iframe" style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/album/49Ube0mqrwNXM34eQNdeXo?utm_source=generator&#038;si=1bb49d4428e64ed0" width="100%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"></iframe>



<ul class="wp-block-list"></ul>



<p class="wp-block-paragraph">“Di suatu tempat di masa lampau, lagu itu masih terus berputar, suaranya telah lama tiada,” ujar GANGGA, menggambarkan nuansa kenangan yang menjadi benang merah EP ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu “Dear April” membuka cerita melalui pengalaman seseorang yang merasa sudah memberikan segalanya dalam sebuah hubungan, tetapi tetap ditinggalkan. Sosok April menjadi simbol cinta yang masih ingin dipercayai. Di balik kekecewaan tersebut, tersimpan harapan untuk kembali menemukan keberanian mencintai dan membuka diri terhadap hubungan baru.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1280" height="1600" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02.jpg" alt="gangga " class="wp-image-43825" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-240x300.jpg 240w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-819x1024.jpg 819w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-768x960.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-1229x1536.jpg 1229w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-336x420.jpg 336w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-672x840.jpg 672w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-150x188.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-300x375.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-600x750.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-696x870.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_02-1068x1335.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">gangga </figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan itu, “I Will” menghadirkan kisah kehilangan seseorang yang telah meninggal dunia. Lagu ini menggambarkan keinginan untuk kembali berbicara dengan orang yang dicintai, sekaligus kesadaran bahwa keduanya kini berada di dunia yang berbeda. Ada pula penyesalan mengenai hal-hal yang mungkin bisa dilakukan ketika kesempatan masih tersedia, termasuk keinginan untuk menyelamatkan atau memperlakukan orang tersebut dengan lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, “Moonlight” menjadi titik emosional dari keseluruhan EP. Lagu ini membawa kerinduan ke dalam sebuah pertemuan yang terasa seperti mimpi. Kenangan tentang hubungan masa lalu berpadu dengan harapan untuk bisa bertemu sekali lagi di bawah sinar bulan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="ky3TbCsEDF4"><iframe title="GANGGA - Moonlight (Official Lyric Video)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ky3TbCsEDF4?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam proses produksinya, GANGGA menggandeng Spathies, produser berbasis di Los Angeles yang mengerjakan dua lagu, serta Will Mara yang menangani satu lagu lainnya. EP ini juga memiliki keterkaitan dengan album GANGGA sebelumnya melalui lagu “Blue Jeans” dan “Whiskey Bottle”, sekaligus melanjutkan benang merah emosional dari karya-karyanya terdahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya melalui musik, <em>5 hours apart, 2017</em> turut diperkuat arahan visual bergaya dokumenter yang intim. Potret, ruang-ruang sunyi, hingga benda-benda yang rusak menjadi representasi jejak emosi, kerentanan, dan keterikatan yang belum terselesaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui tiga lagu yang saling terhubung, GANGGA tidak menawarkan akhir yang sederhana. EP ini justru menggambarkan bagaimana cinta dan kenangan dapat terus menetap, bahkan ketika hubungan telah berakhir dan seseorang yang dicintai tak lagi bisa kembali. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/gangga_01-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Pusakata Rilis “Anakku”, Lagu tentang Cinta Orang Tua dan Wasiat untuk Anak</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/pusakata-rilis-anakku-lagu-tentang-cinta-orang-tua-dan-wasiat-untuk-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2026 10:39:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Anakku]]></category>
		<category><![CDATA[Desta]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Mohammad Istiqamah Djamad]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pusakata]]></category>
		<category><![CDATA[Vincent]]></category>
		<category><![CDATA[Vindes]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43804</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Pusakata" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-600x397.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Pusakata merilis lagu terbaru berjudul “Anakku”, sebuah karya yang mengangkat cinta, ketulusan, dan perjalanan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Lagu ciptaan Mohammad Istiqamah Djamad ini membawa pesan tentang arti menerima, memahami, serta mencintai anak tanpa batas. Menariknya, “Anakku” lahir dari sebuah tantangan spontan saat Pusakata menjadi bintang tamu dalam podcast Vindes yang dipandu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pusakata merilis lagu terbaru berjudul “Anakku”, sebuah karya yang mengangkat cinta, ketulusan, dan perjalanan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Lagu ciptaan Mohammad Istiqamah Djamad ini membawa pesan tentang arti menerima, memahami, serta mencintai anak tanpa batas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, “Anakku” lahir dari sebuah tantangan spontan saat Pusakata menjadi bintang tamu dalam podcast Vindes yang dipandu Vincent dan Desta. Dalam sesi tersebut, Desta memberikan tantangan kepada Pusakata untuk menciptakan lagu secara dadakan berdasarkan ide yang disampaikan secara acak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ide yang diberikan berkaitan dengan kehidupan anak-anak dalam sebuah keluarga apabila suatu saat sang ayah telah tiada. Gagasan sederhana itu kemudian berkembang menjadi sebuah lagu yang sarat emosi, sekaligus refleksi tentang waktu, kenangan, dan kebersamaan keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui liriknya, Pusakata menggambarkan perjalanan anak sejak masih kecil, ketika jemari mungil mereka menggenggam tangan orang tua, bermain di taman, hingga mengenal pantai untuk pertama kalinya. Namun, waktu terus berjalan. Anak-anak tumbuh dewasa, memiliki kehidupan sendiri, dan perlahan meninggalkan rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik kebahagiaan menyaksikan anak tumbuh, tersimpan pula kegelisahan seorang ayah tentang masa depan mereka ketika dirinya tidak lagi ada. Perasaan tersebut menjadi inti emosional lagu “Anakku”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lalu kutuliskan lagu ini untuk menemani kalian. Ini bukan lagu biasa. Ini adalah wasiatku padamu,” menjadi salah satu bagian lirik yang menegaskan pesan personal Pusakata kepada anak-anaknya.</p>



<iframe data-testid="embed-iframe" style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/track/3BPIkq9Dji9uQGvfjlpgaM?utm_source=generator&#038;si=8dce88c6f4784424" width="100%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"></iframe>



<h2 class="wp-block-heading">Lahir dari Tantangan Vindes, Rampung pada 2026</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Meski tercipta dalam waktu relatif singkat setelah tantangan di podcast Vindes, lagu “Anakku” membutuhkan perjalanan panjang hingga akhirnya rampung. Lagu ini direkam pertama kali di Rucs Studio, Makassar, pada 21 Oktober 2022.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesibukan Pusakata bersama Parade Hujan, termasuk proses penyelesaian album dan rangkaian tur, membuat penyelesaian lagu tersebut baru dapat dituntaskan pada 14 Agustus 2026 di Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam proses kreatifnya, Mohammad Istiqamah Djamad mengerjakan vokal, backing vokal, gitar elektrik dan akustik, piano, serta keys dan synth. Sementara itu, Ronald Fristianto mengisi drum dan Adhitya Pratama memainkan bass.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses rekaman berlangsung di sejumlah studio, yakni Rucs Studio Makassar, Blue Fire Pondanu Villa Bedugul Bali, Basecamp45 Studio, dan Bro’s Studio. Abd Chaliq Dp bertindak sebagai sound engineer, sedangkan Daniel Samarkand menangani mixing dan mastering di Soundbetter Studio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pusakata juga menyampaikan terima kasih kepada Vindes, khususnya Desta dan Vincent, yang menjadi bagian dari lahirnya lagu ini. Apresiasi turut diberikan kepada kelima anaknya, Jingga, Gaura, Pusakata, Bashera, dan Barda, yang menemani proses tumbuhnya ide musikal tersebut.</p>


<div class="wp-block-image">
<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01.jpg" class="td-modal-image"><figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="848" height="1280" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01.jpg" alt="Pusakata" class="wp-image-43805" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01.jpg 848w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-199x300.jpg 199w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-678x1024.jpg 678w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-768x1159.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-278x420.jpg 278w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-557x840.jpg 557w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-150x226.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-300x453.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-600x906.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-01-696x1051.jpg 696w" sizes="auto, (max-width: 848px) 100vw, 848px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pusakata</figcaption></figure></a></div>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Dukungan Yamaha Musik Indonesia dan Yamaha Guitarid juga menjadi bagian dari perjalanan produksi lagu “Anakku”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui karya ini, Pusakata berharap “Anakku” dapat menjadi teman sekaligus sumber semangat bagi para orang tua yang sedang belajar dan berjuang demi anak-anaknya. Lebih dari sekadar lagu tentang perpisahan, “Anakku” mengingatkan bahwa waktu bersama keluarga adalah sesuatu yang berharga, sementara cinta dan pesan orang tua dapat terus hidup dalam perjalanan anak-anaknya. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/11/pusakata-03-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Float Rilis EP Constant Changes dan Single ‘Yang Kembali Pulih’, Bawa Pesan tentang Filosofi Luka</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/float-rilis-ep-constant-changes-dan-single-yang-kembali-pulih-bawa-pesan-tentang-filosofi-luka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 08:06:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Constant Changes]]></category>
		<category><![CDATA[Float]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Yang Kembali Pulih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43557</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="float 01" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Float resmi merilis EP terbaru bertajuk Constant Changes, yang hadir bersama single ‘Yang Kembali Pulih’. Melalui rilisan ini, band tersebut membawa pesan tentang ketangguhan, keberanian menghadapi kecemasan, serta proses bangkit dari keterpurukan. Lewat ‘Yang Kembali Pulih’, Float mengajak pendengarnya untuk tidak sekadar meratapi luka, tetapi juga belajar menerima pengalaman pahit sebagai bagian dari perjalanan hidup. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Float resmi merilis EP terbaru bertajuk <em>Constant Changes</em>, yang hadir bersama single ‘Yang Kembali Pulih’. Melalui rilisan ini, band tersebut membawa pesan tentang ketangguhan, keberanian menghadapi kecemasan, serta proses bangkit dari keterpurukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lewat ‘Yang Kembali Pulih’, Float mengajak pendengarnya untuk tidak sekadar meratapi luka, tetapi juga belajar menerima pengalaman pahit sebagai bagian dari perjalanan hidup. Lagu ini menjadi pengingat bahwa luka tidak selalu menjadi tanda kelemahan. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang berani menghadapi keraguan dan menerjang badai kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Vokalis sekaligus penulis lagu Float, Hotma “Meng” Roni Simamora, menjelaskan bahwa ‘Yang Kembali Pulih’ menjadi salah satu fondasi awal EP <em>Constant Changes</em> yang mulai digarap pada masa transisi setelah pandemi, tepatnya pada 2023.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Berangkat dari kata ‘bilur’ atau bekas luka, luka yang dibasuh iman justru menyimbolkan kekuatan. Bermodal percaya, masa terpuruk terbukti bikin kita makin kuat bangkit. Kecemasan nggak boleh jadi rintangan. Lagu ini membawa spirit untuk berani menerjang badai,” ungkap Meng.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pesan tersebut kemudian diterjemahkan melalui eksplorasi aransemen dan ritme yang melibatkan seluruh personel Float. Binsar Tobing, yang mengisi posisi bass, menceritakan bahwa lagu ini berawal dari rekaman <em>voice note</em> Meng pada 2021. Dalam proses penggarapannya, ia memilih pendekatan minimalis untuk menghasilkan fondasi musik yang tetap kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lagu ini berawal dari <em>voice note</em> Meng di tahun 2021, dan di sini gue bereksperimen rekam bass dengan pendekatan minimalis namun bertenaga agar fondasi lagunya terasa kokoh menghantam keraguan,” jelas Binsar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi permainan drum, Timur Segara mengungkapkan bahwa proses rekaman lagu ini berlangsung cukup panjang dan diwarnai diskusi mengenai arah aransemen. Pada tahap awal, musiknya terasa megah, tetapi karakter permainan drum sempat dianggap terlalu liar setelah lirik selesai ditulis.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04.jpg" alt="float 04" class="wp-image-43561" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-04-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">float </figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dinamika tersebut justru dinilai sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan. Menurut Timur, proses untuk pulih dari luka tidak berlangsung secara instan. Ada pergulatan, perjuangan, dan gejolak emosi yang harus dilewati sebelum seseorang mampu bangkit kembali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Proses rekamannya cukup panjang. Waktu awal rekaman, aransemennya ngasih vibe megah banget. Begitu lirik dari Meng jadi, pukulan drum di take awal sempat dinilai terlalu liar. Tapi kita sepakat proses ‘kembali pulih’ dari sebuah luka itu kan nggak instan; ada sebuah proses berdarah-darah, perjuangan, dan gejolak emosi di sana. Pukulan drum yang liar tadi, justru jadi sesuatu yang paling mewakili spirit perjuangan untuk bangkit dan menerjang badai,” cerita Timur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Davin Qlintang menjelaskan bahwa permainan gitar dalam EP <em>Constant Changes</em> disusun dengan mengikuti karakter ritme, tema, dan pola masing-masing lagu. Pendekatan tersebut juga diterapkan pada ‘Yang Kembali Pulih’ untuk memperkuat kesan optimistis yang menjadi benang merah lagu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Isian gitar gue di EP kali ini yang pasti hampir semuanya ikut atau menyesuaikan dengan ritme, tema, lalu pattern di setiap bentuk lagunya. Dan khususnya di lagu YKP (Yang Kembali Pulih) itu isiannya juga sudah kelihatan utuh ya, semangat, optimis. Jadi, gue mengikuti di pattern atau ritme di aransemen lagu itu,” tegas Davin.</p>



<iframe data-testid="embed-iframe" style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/album/0jCk8ONmXkCCq4IvHHZtTq?utm_source=generator&#038;si=860ea89fdac14844" width="100%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"></iframe>



<p class="wp-block-paragraph">Selain merilis karya baru, Float juga menghadirkan ruang pertemuan bagi para pendengarnya melalui acara <strong>Float to Nature</strong>. Berlangsung selama tiga hari dua malam di alam terbuka, acara ini menjadi bagian dari perayaan perilisan EP <em>Constant Changes</em> sekaligus kesempatan bagi Float untuk berinteraksi lebih dekat dengan Floatmates, sebutan bagi para penikmat musik mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam acara tersebut, Floatmates juga berkesempatan mendapatkan kaset fisik EP <em>Constant Changes</em>. Kehadiran format fisik ini memberikan pengalaman berbeda bagi pendengar yang ingin menyimpan karya terbaru Float sebagai bagian dari koleksi musik mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">EP <em>Constant Changes</em> dan single ‘Yang Kembali Pulih’ kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital. Melalui rilisan ini, Float menyampaikan pesan bahwa pulih bukan berarti melupakan luka, melainkan menemukan kekuatan untuk menerima masa lalu, menghadapi keraguan, dan terus melangkah di tengah berbagai tantangan kehidupan. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/float-01-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Kadri dan Nando Satoko Angkat Kisah Cinta dan Adat Lewat “Mambangkik Batang Tarandam”</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/kadri-dan-nando-satoko-angkat-kisah-cinta-dan-adat-lewat-mambangkik-batang-tarandam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2026 14:02:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Jimmo]]></category>
		<category><![CDATA[Kadri]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Nando Satoko]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43505</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="169" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-300x169.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Kadri berkolaborasi dengan Nando Satoko membawakan “Mambangkik Batang Tarandam”, karya Jimmo dengan aransemen alternative bernuansa Minangkabau." decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-300x169.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-1024x576.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-768x432.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-747x420.jpg 747w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-150x84.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-600x338.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-696x392.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-1068x601.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Kadri Mohammad kembali mengeksplorasi musik yang berakar pada budaya Minangkabau melalui single terbarunya, “Mambangkik Batang Tarandam”. Karya Jimmo ini dinyanyikan Kadri bersama penyanyi muda Minangkabau, Nando Satoko, dengan aransemen alternative yang memadukan instrumen tradisional Minangkabau dan fondasi musik modern. Kolaborasi ini tidak sekadar membawa bahasa Minangkabau ke dalam musik kontemporer. Lagu tersebut juga mengangkat cerita [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://xposeindonesia.com/tag/kadri-mohammad/" data-type="post_tag" data-id="15773">Kadri Mohammad</a> kembali mengeksplorasi musik yang berakar pada budaya Minangkabau melalui single terbarunya, “Mambangkik Batang Tarandam”. Karya <a href="https://xposeindonesia.com/tag/jimmo/" data-type="post_tag" data-id="21774">Jimmo</a> ini dinyanyikan Kadri bersama penyanyi muda Minangkabau, <a href="https://xposeindonesia.com/tag/nando-satoko/" data-type="post_tag" data-id="21775">Nando Satoko</a>, dengan aransemen alternative yang memadukan instrumen tradisional Minangkabau dan fondasi musik modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kolaborasi ini tidak sekadar membawa bahasa Minangkabau ke dalam musik kontemporer. Lagu tersebut juga mengangkat cerita tentang cinta yang terhalang adat, hubungan yang kandas, dan keberanian untuk kembali melanjutkan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dirilis di platform musik digital pada 1 Oktober 2026, “Mambangkik Batang Tarandam” menjadi kelanjutan dari “Sabana Malu Sabana Rindu”, yang sebelumnya membawa kisah cinta jarak jauh dalam balutan city pop. Kali ini, Kadri memilih pendekatan alternative dengan karakter musikal yang lebih dekat pada identitas budaya Minangkabau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu daya tarik lagu ini terletak pada aransemen yang mempertemukan warna musik tradisional dan modern. Saluang, akordeon, dan bansi tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi turut membangun identitas musikal yang membedakan karya ini dari single sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Muhammad Rafif memainkan saluang, Windy Setiadi mengisi akordeon, sementara Nando Satoko turut memainkan bansi. Aransemen tersebut dilengkapi permainan gitar Noldy Benjamin, bass Soebroto Harry, dan drum Iyoen Hayunaji. Popo Fauza dari The KadriJimmo bertindak sebagai produser musik, sedangkan Kadri menjadi produser eksekutif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perpaduan instrumen tersebut memberi ruang bagi karakter Minangkabau untuk tetap menonjol di tengah pendekatan alternative. Saluang dan bansi membawa warna bunyi yang lekat dengan tradisi, sementara gitar, bass, drum, dan akordeon memperluas tekstur musikal lagu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kekuatan “Mambangkik Batang Tarandam” juga terletak pada hubungan antara melodi, aransemen, dan cerita yang disampaikan. Tema cinta yang berhadapan dengan adat membutuhkan penyampaian emosional, tetapi tidak harus selalu berakhir dalam suasana muram.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui pilihan warna musik yang berbeda dari single sebelumnya, Kadri menghadirkan cerita tersebut dalam konteks yang lebih kontemporer. Melodi menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara pesan emosional lagu dan karakter musik yang dibangun melalui perpaduan instrumen tradisional dengan perangkat musik modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Kadri, “Mambangkik Batang Tarandam” berangkat dari pertanyaan tentang nasib sebuah hubungan ketika cinta tidak memperoleh restu adat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ketika cinta kandas karena adat, apakah kisahnya harus benar-benar berakhir? Pertanyaan itulah yang menemukan gema baru dalam Mambangkik Batang Tarandam,” kata Kadri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Judul lagu ini diambil dari ungkapan Minangkabau yang secara filosofis menggambarkan sesuatu yang pernah terbenam lalu kembali diangkat. Makna tersebut menjadi pijakan untuk membangun cerita tentang sesuatu yang lama terpendam dan kembali muncul ke permukaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski mengangkat persoalan serius, Kadri tidak ingin kisah cinta yang kandas hanya dibaca sebagai cerita tentang kesedihan. Ia justru menyisipkan pandangan yang lebih ringan tentang bagaimana seseorang menghadapi hubungan yang tidak dapat dipertahankan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Orang Minang pantang menyerah. Cinta itu adalah komitmen saling setia. Namun jika putus, janganlah terpuruk, cari lagi yang lebih lucu,” ujar Kadri sambil tersenyum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sudut pandang itu memperlihatkan cara Kadri mengolah tema personal menjadi karya yang tetap memiliki kedekatan dengan pendengar. Persoalan adat, hubungan, dan pilihan hidup dihadirkan tanpa menghilangkan ruang bagi optimisme.</p>



<iframe data-testid="embed-iframe" style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/track/3yz4LOMaazSszqwxbFAeLn?utm_source=generator&#038;si=d355934f008d4857" width="100%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"></iframe>



<h2 class="wp-block-heading">Kadri dan Eksplorasi Musik Minangkabau</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai musisi yang telah menjalani perjalanan panjang sejak era 1980-an, Kadri terus membuka ruang bagi eksplorasi musikal. Ia pernah terlibat dalam sejumlah proyek, termasuk Makara dan The KadriJimmo, sebelum melanjutkan perjalanan sebagai solois. Dalam karya-karya solonya, pertemuan antara pengalaman personal, musik, dan identitas budaya menjadi salah satu wilayah yang terus ia jelajahi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam “Mambangkik Batang Tarandam”, Kadri memilih Nando Satoko sebagai rekan kolaborasi karena melihat kesamaan visi untuk memperkenalkan kekayaan musik Minangkabau kepada pendengar yang lebih luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nando berasal dari Padang dan dikenal melalui kiprahnya membawakan lagu-lagu bernuansa Minang, termasuk “Marantau”. Ia juga memiliki cita-cita untuk memopulerkan lagu daerah Minangkabau dan daerah lain di Sumatera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Nando, persoalan adat yang diangkat dalam lagu ini masih relevan meskipun cara pandang masyarakat terus berubah. Pilihan pasangan dan pernikahan kini semakin terbuka, tetapi harapan keluarga untuk meneruskan warisan budaya tetap menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sekarang sudah jarang saya melihat orang Minang yang terhambat menikah dengan orang non-Minang. Meski begitu, masih ada orang-orang tua yang berharap warisan budaya dan adat tetap bisa diteruskan,” kata Nando.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan pandangan tersebut membuat “Mambangkik Batang Tarandam” tidak hanya berbicara tentang hubungan dua orang, tetapi juga tentang bagaimana tradisi berhadapan dengan perubahan zaman.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="KADRI FEAT NANDO SATOKO - Mambangkik Batang Tarandam (Official Music Video) " width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/LJEY7-36siA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Video Musik “Mambangkik Batang Tarandam” Mengambil Lokasi di Teluk Bayur</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Karakter lagu ini juga diterjemahkan melalui video musik yang mengambil lokasi di Teluk Bayur, Padang. Disutradarai Dvh. Bale dan diproduksi HEAREYES, video musik tersebut menghadirkan lanskap yang memiliki keterkaitan dengan sejarah serta budaya Sumatera Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bale tertarik menggunakan Teluk Bayur karena lokasi tersebut mengingatkannya pada novel <em>Tenggelamnya Kapal Van der Wijck</em> karya Buya Hamka. Keterkaitan ini bukan berarti lagu Kadri merupakan adaptasi novel tersebut, melainkan memiliki persinggungan tema mengenai cinta, jarak, adat, dan pilihan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya senang ketika tahu lokasi syutingnya di Teluk Bayur. Lokasi ini mengingatkan saya pada Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Itu yang kemudian menjadi tantangan buat saya untuk membuat video musik ini dengan kualitas yang baik, bukan sekadar mengambil gambar di lokasi yang indah,” ujar Bale.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat proses pengambilan gambar berlangsung, hujan badai turun pada tengah malam di luar rencana produksi. Kondisi tersebut justru menambah atmosfer dramatis yang sejalan dengan cerita lagu, memperkuat nuansa kehilangan dan pergulatan emosi yang menjadi bagian dari narasinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui “Mambangkik Batang Tarandam”, Kadri kembali menunjukkan ketertarikannya pada pertemuan musik kontemporer dan akar budaya. Karya Jimmo ini memperoleh warna baru melalui aransemen alternative, keterlibatan instrumen tradisional Minangkabau, serta kolaborasi Kadri dengan Nando Satoko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Single yang didistribusikan melalui The Orchard, bagian dari Sony Music Entertainment, tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kadri dalam membawa cerita dan identitas Minangkabau ke dalam lanskap musik Indonesia masa kini. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/10/kadri-berkolaborasi-dengan-nando-satoko-membawakan-mambangkik-batang-tarandam-karya-jimmo-dengan-aransemen-alternative-bernuansa-minangkabau-300x169.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="169" />	</item>
		<item>
		<title>Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”, Single Pop tentang Keteguhan Menjaga Kebaikan</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/new-release/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik-single-pop-tentang-keteguhan-menjaga-kebaikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2026 02:16:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Haris The Brothers]]></category>
		<category><![CDATA[Kuya Music Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Racquell]]></category>
		<category><![CDATA[Tetaplah Menjadi Baik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43156</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Di tengah banyaknya lagu yang berbicara tentang cinta dan hubungan, penyanyi muda Racquell memilih membawa pesan yang lebih sederhana melalui single terbarunya, “Tetaplah Menjadi Baik”. Lagu yang dirilis pada 18 September 2026 melalui Kuya Music Entertainment ini mengajak pendengar untuk tetap menjaga kebaikan hati, kesabaran dan keteguhan sikap meski hidup tidak selalu memberikan balasan sesuai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di tengah banyaknya lagu yang berbicara tentang cinta dan hubungan, penyanyi muda <strong>Racquell</strong> memilih membawa pesan yang lebih sederhana melalui single terbarunya, <strong>“Tetaplah Menjadi Baik”</strong>. Lagu yang dirilis pada 18 September 2026 melalui <strong>Kuya Music Entertainment</strong> ini mengajak pendengar untuk tetap menjaga kebaikan hati, kesabaran dan keteguhan sikap meski hidup tidak selalu memberikan balasan sesuai harapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tetaplah Menjadi Baik” diproduseri <strong>Haris The Brothers</strong>, yang sejak awal memang membuat lagu tersebut dengan mempertimbangkan karakter vokal Racquell. Secara resmi, single ini berada dalam genre Pop dan menjadi salah satu langkah awal Racquell memperkenalkan warna musiknya kepada publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pesan yang dibawa lagu ini berangkat dari pertanyaan sederhana tentang bagaimana seseorang bersikap ketika kebaikannya tidak dihargai. Alih-alih membiarkan pengalaman tersebut mengubah hati, “Tetaplah Menjadi Baik” mengajak pendengarnya untuk tetap memilih berbuat baik tanpa menjadikan pujian, pengakuan atau balasan sebagai tujuan utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesabaran menjadi bagian lain yang terasa dalam pesan lagu tersebut. Ketika menghadapi situasi sulit, seseorang diajak untuk tidak mudah patah semangat dan tidak membiarkan pengalaman buruk membuat hati menjadi keras.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu ini juga membawa pesan tentang keikhlasan. Berbuat baik tidak selalu harus berujung pada penghargaan dari orang lain, karena ketulusan dalam melakukan sesuatu dapat menjadi sumber ketenangan sekaligus pengingat untuk tetap berpegang pada nilai yang diyakini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Racquell, pesan tersebut menjadi alasan tersendiri mengapa ia menyukai lagu ini. Penyanyi berusia 12 tahun tersebut mengatakan dirinya tertarik dengan “Tetaplah Menjadi Baik” karena lagu itu berbicara tentang kebaikan sekaligus kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Yang aku suka karena lagu ini tentang kebaikan dan tentang kehidupan juga,” ujar Racquell.</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped td-modal-on-gallery wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" data-id="43161" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03.jpg" alt="Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”" class="wp-image-43161" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_03-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" data-id="43162" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04.jpg" alt="Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”" class="wp-image-43162" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_04-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”</figcaption></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan menuju rekaman single ini juga melalui proses latihan. Racquell menjalani latihan vokal selama sekitar dua bulan sebelum rekaman, meski sebelumnya ia sudah bertahun-tahun mendapatkan latihan vokal di Palangkaraya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Racquell kemudian bertemu Haris ketika berada di Jakarta untuk mengikuti acara KAMI Nusantara. Haris yang sudah mengenal kemampuan vokalnya kemudian memberikan materi lagu untuk dipelajari sebelum akhirnya mereka masuk ke proses rekaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dia memang sudah penyanyi. Setelah dikasih sample guide, dia pelajari. Dia juga punya guru vokal di Palangkaraya. Jadi ketika datang ke Jakarta dalam rangka acara KAMI Nusantara, sekalian kami rekam,” jelas Haris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses rekaman berlangsung lebih dari dua jam. Menariknya, Racquell mengaku tidak menemukan kesulitan berarti ketika membawakan lagu tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Enggak ada,” jawab Racquell ketika ditanya mengenai kesulitan dalam menyanyikan “Tetaplah Menjadi Baik”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Haris mengatakan keputusan membuat lagu tersebut untuk Racquell tidak terlepas dari karakter vokalnya. Menurutnya, Racquell memiliki warna suara yang tebal dengan latar latihan vokal klasik, sehingga ia mencoba membawa penyanyi muda tersebut menuju pendekatan pop secara bertahap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Karena memang karakter suaranya tebal. Dia berasal dari classic training, jadi kami coba convert dia ke pop,” kata Haris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Haris, proses tersebut sekaligus menjadi bagian dari pencarian karakter musikal Racquell. Mereka masih mengeksplorasi lagu, genre, aransemen dan model musik yang paling sesuai dengan warna suara penyanyi muda tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, “Tetaplah Menjadi Baik” sejak awal memang dibuat dengan Racquell sebagai penyanyinya. Haris mengaku sudah membayangkan karakter vokal Racquell ketika mulai menciptakan lagu tersebut.</p>



<iframe data-testid="embed-iframe" style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/track/76yrA79ClocVvWgPhNk0g2?utm_source=generator&#038;si=17a81f1140eb4417" width="100%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"></iframe>



<p class="wp-block-paragraph">“Ketika membuat lagu, saya sudah membayangkan karakter suaranya. Makanya lagunya memang terinspirasi dari suara Raquel,” ujar Haris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan tersebut membuat “Tetaplah Menjadi Baik” tidak hanya menjadi sebuah single baru, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan karakter vokal Racquell. Warna suara yang tebal dipadukan dengan pendekatan pop menjadi bagian dari proses awal untuk menemukan identitas musikalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah resmi dirilis pada 18 September, Racquell langsung membawa lagu tersebut ke panggung. Ia membawakan “Tetaplah Menjadi Baik” untuk pertama kalinya di hadapan publik dalam <strong>City Mall Rising Stars 2026</strong> di Cibinong City Mall, Bogor, pada 20 September 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momentum tersebut terasa spesial karena berlangsung hanya dua hari setelah single dirilis. Racquell tidak hanya memperkenalkan lagunya melalui platform musik digital, tetapi juga langsung menunjukkan bagaimana karya tersebut dibawakan dalam format pertunjukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam penampilannya, kemampuan vokal bukan satu-satunya yang ditampilkan Racquell. Ia juga membawakan koreografi yang dibuatnya sendiri dengan sedikit bantuan dari pelatih tari bernama Melissa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan bernyanyi dan menari memang sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil. Racquell mulai menari sekitar usia empat tahun dan mempelajari sejumlah tarian tradisional, termasuk tari Dayak, Aceh dan Bali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dukungan terhadap perjalanan musik Racquell juga datang dari keluarga dan sekolah. Orang tuanya mendampingi proses latihan hingga kegiatan rekaman, sementara sekolah di Palangkaraya turut memberikan dukungan, termasuk membantu mempromosikan kegiatan Racquell.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02.jpg" alt="Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”" class="wp-image-43160" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_02-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”</figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi keluarga, kesempatan mengembangkan bakat tetap harus berjalan bersama pendidikan. Ayah Racquell, Aan, menegaskan bahwa sekolah tetap menjadi prioritas meski putrinya mulai mendapatkan kesempatan tampil dan memperkenalkan karya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sekolah tetap nomor satu. Tetapi kami merasa kalau ada kesempatan, kami coba. Siapa tahu anak kami ini benar-benar bisa berkembang,” ujar Aan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Haris berharap “Tetaplah Menjadi Baik” dapat lebih dulu dikenal di Palangkaraya dan kemudian berkembang ke wilayah Kalimantan. Ia mendorong Racquell untuk aktif membuat konten menyanyi dan memperkenalkan karyanya melalui media sosial, radio maupun podcast. “Rajin berkonten dan konsisten,” pesan Haris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Racquell, perjalanan setelah single ini dirilis baru saja dimulai. “Tetaplah Menjadi Baik” menjadi pintu pertama untuk memperkenalkan suara dan karakter musiknya, sekaligus membawa pesan yang sederhana tetapi dekat dengan kehidupan, bahwa kebaikan tetap layak dipertahankan meski tidak selalu mendapatkan balasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Single <strong>“Tetaplah Menjadi Baik”</strong> dari Racquell kini tersedia di platform musik digital. Rilisan tersebut tercatat sebagai single bergenre Pop dan dirilis oleh Kuya Music Entertainment pada 18 September 2026. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/racquell-rilis-tetaplah-menjadi-baik_01-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>The Trees &#038; The Wild Rayakan 10 Tahun Zaman, Zaman Lewat Vinyl</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2026 03:53:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Demajors]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[The Trees & The Wild]]></category>
		<category><![CDATA[vinyl]]></category>
		<category><![CDATA[Zaman Zaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43136</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="The Trees &amp; The Wild Rayakan 10 Tahun Zaman, Zaman Lewat Vinyl" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Sepuluh tahun setelah pertama kali dirilis, Zaman, Zaman kembali mengajak pendengarnya menyelami perjalanan bunyi The Trees &#38; The Wild. Album studio kedua band tersebut kini hadir dalam format vinyl 2 x LP, bertepatan dengan satu dekade sejak album ini dirilis pada 16 September 2016. Perayaan 10 tahun Zaman, Zaman ditandai dengan listening session vinyl yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sepuluh tahun setelah pertama kali dirilis, <em><strong>Zaman, Zaman</strong></em> kembali mengajak pendengarnya menyelami perjalanan bunyi <strong>The Trees &amp; The Wild</strong>. Album studio kedua band tersebut kini hadir dalam format vinyl 2 x LP, bertepatan dengan satu dekade sejak album ini dirilis pada 16 September 2016.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perayaan 10 tahun <em>Zaman, Zaman</em> ditandai dengan listening session vinyl yang digelar secara intim di Tujuhari Coffee, Grand Wijaya, Jakarta Selatan, pada 16 September 2026. Acara tersebut dihadiri para penggemar dan rekan-rekan media yang kembali menikmati album secara utuh melalui format piringan hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi The Trees &amp; The Wild, <em>Zaman, Zaman</em> bukan sekadar album kedua dalam perjalanan mereka. Rilisan ini menjadi salah satu fase penting yang memperlihatkan keberanian band dalam mengeksplorasi batas musik melalui perpaduan experimental indie-rock dan ambient yang atmosferik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Album tersebut menghadirkan sejumlah lagu yang hingga kini menjadi bagian penting dari katalog The Trees &amp; The Wild, seperti “Saija”, “Zaman, Zaman”, dan “Empati Tamako”. Materinya tidak hanya mengandalkan struktur lagu, tetapi juga membangun pengalaman melalui atmosfer, tekstur, serta lapisan bunyi yang membuat album terasa sebagai sebuah perjalanan dari awal hingga akhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, pengalaman tersebut hadir kembali melalui format vinyl 2 x LP dengan kecepatan 33 1/3 RPM. Rilisan ini merupakan hasil kerja sama The Trees &amp; The Wild dengan label rekaman demajors, sekaligus memberi kesempatan bagi pendengar untuk menikmati kembali karakter sonik <em>Zaman, Zaman</em> dalam format fisik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi produksi, album ini mendapatkan sentuhan mastering dari Bo Korden, engineer yang dikenal menangani sejumlah rilisan di ranah musik elektronik, termasuk karya Caribou, Moderat, dan Ryuichi Sakamoto. Proses mastering tersebut turut memperkuat karakter suara <em>Zaman, Zaman</em> yang kaya lapisan dan detail.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Remedy, frontman</strong> The Trees &amp; The Wild, mengatakan kehadiran album dalam format piringan hitam menjadi pencapaian yang memiliki arti tersendiri bagi band. Terlebih, rilisan tersebut akhirnya dapat diwujudkan melalui kolaborasi dengan demajors.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami sangat senang akhirnya album <em>Zaman, Zaman</em> dapat hadir dalam format fisik melalui rilisan piringan hitam. Sebuah pencapaian yang sangat berarti bagi kami, terlebih karena proses ini dapat terwujud melalui kolaborasi dengan demajors,” ujar Remedy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Remedy, gagasan mengenai vinyl bahkan sudah menjadi bagian dari pertimbangan ketika <em>Zaman, Zaman</em> pertama kali digarap. Format tersebut turut dipikirkan bersama aspek musik, artwork, hingga desain cover sleeve album.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman.jpg" alt="vinyl zaman, zaman" class="wp-image-43140" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/vinyl-zaman-zaman-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">vinyl zaman, zaman</figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">“Sejak awal proses penggarapan album, format piringan hitam sudah menjadi salah satu pertimbangan utama dalam merancang musik, artwork, hingga desain cover sleeve. Karena itu, ketika kesempatan untuk bekerja sama dengan demajors hadir, prosesnya terasa sangat lancar dan sejalan dengan visi yang sejak awal kami bangun untuk album ini,” tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah satu dekade, <em>Zaman, Zaman</em> pun mendapatkan ruang baru untuk kembali didengarkan. Bukan hanya sebagai album yang menandai satu fase perjalanan The Trees &amp; The Wild, tetapi juga sebagai karya yang dapat kembali ditemukan melalui pengalaman mendengarkan dalam format vinyl.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Semoga rilisan ini dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi para pendengar dan membuat mereka bisa menikmati <em>Zaman, Zaman</em> dengan cara yang lebih utuh,” tutup Remedy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Vinyl <em>Zaman, Zaman</em> dibanderol Rp550.000 dan sudah dapat diperoleh melalui demajors. Kehadirannya menjadi cara lain untuk merayakan satu dekade album yang sejak awal dibangun dengan perhatian terhadap musik, atmosfer, artwork, dan detail bunyi. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/the-trees-the-wild-rayakan-10-tahun-zaman-zaman-lewat-vinyl_01-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Reality Club Abadikan Sisi Raw Album Keempat Lewat Live Session di YouTube</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/new-release/reality-club-abadikan-sisi-raw-album-keempat-lewat-live-session-di-youtube/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music & Video]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Indie Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Live Session]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Reality Club]]></category>
		<category><![CDATA[Who Knows Where Life Will Take You]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43127</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Reality Club - Live Session" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Satu tahun setelah merilis album keempat, Reality Club kembali membuka ruang untuk mendengarkan Who Knows Where Life Will Take You? dalam bentuk yang lebih spontan. Melalui Who Knows Where Life Will Take You? &#124; Live Session, kuartet asal Jakarta ini membawa 10 dari 13 lagu dalam album tersebut ke sebuah pertunjukan yang sengaja mempertahankan energi, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Satu tahun setelah merilis album keempat, <strong>Reality Club kembali </strong>membuka ruang untuk mendengarkan <em>Who Knows Where Life Will Take You?</em> dalam bentuk yang lebih spontan. Melalui <em>Who Knows Where Life Will Take You? | Live Session</em>, kuartet asal Jakarta ini membawa 10 dari 13 lagu dalam album tersebut ke sebuah pertunjukan yang sengaja mempertahankan energi, ketidaksempurnaan, dan sisi mentah dari permainan musik secara langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Live session tersebut dirilis pada 11 September 2026 melalui kanal YouTube Reality Club. Bagi band yang beranggotakan Fathia Izzati, Faiz Novascotia Saripudin, Era Patigo, dan Nugi Wicaksono ini, proyek tersebut bukan sekadar membuat versi live dari lagu-lagu yang sudah tersedia di platform digital, tetapi menjadi cara untuk memperlihatkan bagaimana materi album keempat mereka bekerja ketika dimainkan sebagai sebuah band.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pilihan tersebut terasa relevan karena sejak awal <em>Who Knows Where Life Will Take You?</em> memang dibangun dengan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter live band. Album yang dirilis pada Agustus 2025 itu berisi 13 lagu dan menjadi album keempat Reality Club setelah <em>Never Get Better</em> (2017), <em>What Do You Really Know?</em> (2019), dan <em>Reality Club Presents&#8230;</em> (2023).</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami ingin menunjukkan seluruh album ini, album keempat konsepnya memang sedikit lebih live band, bahkan rekamannya juga live. Jadi kita ingin menjaga format itu, tapi dalam presentasi yang dipersiapkan dengan baik,” jelas gitaris sekaligus vokalis Reality Club, Faiz Novascotia Saripudin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Album tersebut lahir dari proses kreatif yang cukup berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya. Materinya dikembangkan melalui sesi penulisan di Ubud, Bali, kemudian direkam di Tree Recording Studio, Bangkok, dengan melibatkan produser Brad Oberhofer, Iga Massardi, dan Wisnu Ikhsantama. Proses rekaman yang dilakukan secara live bersama personel band dan musisi pendukung turut membantu menangkap dinamika permainan secara langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara musikal, album keempat memperlihatkan Reality Club yang lebih terbuka terhadap berbagai warna. Mereka tetap membawa karakter indie pop dan rock yang selama ini menjadi identitasnya, tetapi materi di dalamnya bergerak dari romansa, humor, keresahan personal, spiritualitas hingga cerita keluarga dan kehidupan sehari-hari. Album tersebut juga menandai pertama kalinya Reality Club menghadirkan lagu berbahasa Indonesia secara penuh melalui “Close to You/Jauh”.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02.jpg" alt="Reality Club - Live Session" class="wp-image-43131" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_02-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">Reality Club &#8211; Live Session</figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, ketika materi tersebut dibawa ke format live session, Reality Club tidak merasa perlu mengubah banyak aransemen dari versi studio. Perbedaan justru muncul dari cara lagu dimainkan, interaksi antarpersonel, visual, gestur, serta ruang yang menjadi bagian dari pertunjukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Era Patigo melihat unsur visual dan performa langsung sebagai bagian penting untuk menyampaikan energi album keempat. Menurutnya, materi tersebut sudah memiliki kekuatan dari sisi audio, tetapi pengalaman live dapat membantu pendengar menangkap energi yang muncul ketika lagu-lagu tersebut dimainkan secara langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami merasa album ini perlu didukung juga dengan kehadiran visual dan live performance. Kami ingin menghadirkan energi membawakan lagu-lagu dalam album ini secara langsung dan pendengar dapat merasakan itu,” ujar Era.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru karena ingin mempertahankan spontanitas, Reality Club tidak berusaha menghilangkan semua kesalahan yang muncul selama proses pengambilan gambar. Salah satu momen yang kemudian dipertahankan adalah ketika gitar Faiz terjatuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ada juga scene di mana gue salah menaruh gitar terus jatuh. Awalnya kami kayak diskusi, ini di-keep atau kita pakai take yang lain, yang itu nggak jatuh. Kayaknya lucu deh kalau itu nunjukin the raw energy and the chaos sometimes in live performance,” kata Faiz.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan mempertahankan momen tersebut menjadi gambaran kecil mengenai pendekatan yang ingin dibawa Reality Club. Live session tidak dibuat untuk menghasilkan pertunjukan yang sepenuhnya steril dari kesalahan, melainkan menangkap energi yang memang muncul ketika empat personel bermain bersama dalam satu ruang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan serupa juga diterapkan pada bagian wawancara yang disisipkan di antara penampilan. Para personel tidak menerima daftar pertanyaan sebelumnya sehingga jawaban yang muncul lebih spontan dan memberi ruang bagi mereka untuk berbicara mengenai hubungan dengan album keempat serta perjalanan Reality Club selama satu dekade.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“I think from the live session and the interview, we just wanted to capture us in the most raw form,” ujar Faiz. Ia menyebut proyek tersebut sebagai salah satu pengalaman pertama Reality Club membuat live session sendiri, bukan sesi pertunjukan yang dibuat sebagai bagian dari acara media atau konser.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan Reality Club. Band yang awalnya dibentuk sebagai proyek bermusik oleh Fathia Izzati, Faiz Novascotia Saripudin, Era Patigo, dan Nugi Wicaksono pada 2016 ini berkembang dari band yang bermula sebagai hobi menjadi grup yang tampil di berbagai panggung Indonesia dan internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan tersebut juga membawa Reality Club mendapatkan perhatian lebih luas lewat sejumlah lagu seperti “Anything You Want” dan “Alexandra”. Album <em>Reality Club Presents&#8230;</em> pada 2023 turut menghasilkan dua penghargaan AMI Awards dan membawa mereka menjadi pembuka dalam tur Asia NIKI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, satu dekade sejak awal perjalanan mereka, Reality Club memilih melihat kembali salah satu fase penting tersebut melalui album keempat. <em>Who Knows Where Life Will Take You? | Live Session</em> direkam dalam satu hari di sebuah ruang bergaya minimalis di kawasan Gading Serpong, dengan pengerjaan teknis melibatkan tim REALITY CHECK dan tiga sutradara, Nugie Rian, Abdul Defashah, serta Kariim Risyad.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="m_iXmfRxbgE"><iframe loading="lazy" title="Reality Club — Who Knows Where Life Will Take You? | Live Session" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/m_iXmfRxbgE?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Reality Club, proses tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang menghasilkan konten video untuk album. Live session menjadi semacam dokumentasi tentang bagaimana mereka memainkan musik setelah melewati perjalanan panjang sebagai sebuah band, sekaligus cara untuk menemukan kembali hal-hal yang mungkin tidak terdengar ketika lagu hanya dinikmati melalui rekaman studio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Setiap kali kita live session, rekaman, segala macam, akan selalu ada sesuatu yang baru. Pengalaman dan pelajaran yang belum pernah kami rasakan,” tutup Era Patigo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menghadirkan 10 lagu dari <em>Who Knows Where Life Will Take You?</em> dalam format live, Reality Club memberi kesempatan kepada pendengar untuk melihat album tersebut dari sisi yang berbeda. Bukan hanya sebagai kumpulan rekaman yang selesai diproduksi, tetapi sebagai musik yang masih bisa berubah ketika dimainkan, disentuh oleh energi empat personel, dan dibiarkan memiliki sedikit ruang untuk kesalahan. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/reality-club-live-session_01-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Sajama Cut Perluas Cowabunga Lewat Kolaborasi Alkateri, The Jansen hingga Sunwich</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/sajama-cut-perluas-cowabunga-lewat-kolaborasi-alkateri-the-jansen-hingga-sunwich/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 10:08:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Cowabunga Deluxe]]></category>
		<category><![CDATA[musik indie]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sajama Cut]]></category>
		<category><![CDATA[Synchronize Fest]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43122</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="cowabunga" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Sebuah album tidak selalu berhenti pada saat musiknya dirilis. Bagi Sajama Cut, perjalanan Cowabunga justru berlanjut setahun kemudian melalui Cowabunga Deluxe, proyek yang mempertemukan lagu-lagu mereka dengan interpretasi dari sejumlah musisi dan band lintas generasi di skena independen Indonesia. Dirilis pada 11 September 2026 melalui kerja sama Sajama Cut dengan demajors, Cowabunga Deluxe hadir dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebuah album tidak selalu berhenti pada saat musiknya dirilis. Bagi <strong>Sajama Cut</strong>, perjalanan <em><strong>Cowabunga</strong></em> justru berlanjut setahun kemudian melalui <em><strong>Cowabunga Deluxe</strong></em>, proyek yang mempertemukan lagu-lagu mereka dengan interpretasi dari sejumlah musisi dan band lintas generasi di skena independen Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dirilis pada 11 September 2026 melalui kerja sama Sajama Cut dengan demajors, <em>Cowabunga Deluxe</em> hadir dalam format double CD. Edisi ini memperluas materi album keenam Sajama Cut tersebut dengan melibatkan Alkateri, Eleanor Whisper, The Jansen, Water Heater, Patrivia, Sunwich, dan ASHN.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan sekadar album tambahan, <em>Cowabunga Deluxe</em> memperlihatkan bagaimana satu karya dapat berubah ketika diterjemahkan oleh musisi dengan latar dan karakter musik yang berbeda. Lagu-lagu Sajama Cut mendapatkan pembacaan baru, sementara keterlibatan nama-nama dari generasi dan lingkar musik berbeda memperlihatkan hubungan antarskena yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan musik independen Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sajama Cut sendiri bukan nama baru dalam perjalanan musik independen Indonesia. Berbasis di Jakarta dan telah aktif sejak akhir 1990-an, band yang berpusat pada Marcel Thee telah melewati berbagai perubahan formasi dan pendekatan musik, dengan eksplorasi yang mencakup indie rock, noise pop, ambient, baroque pop, folk rock, lo-fi hingga electronica.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan tersebut menghasilkan sejumlah album yang kemudian menjadi bagian dari diskografi mereka, mulai dari <em>Apologia</em> pada 2002, <em>The Osaka Journals</em> pada 2005, <em>Manimal</em> pada 2010, <em>Hobgoblin</em> pada 2015, hingga <em>Godsigma</em> pada 2020. Lima tahun setelah <em>Godsigma</em>, Sajama Cut kembali dengan <em>Cowabunga</em> pada 11 Juli 2025 sebagai album keenam mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Cowabunga</em> sendiri berisi sembilan lagu dan membawa pendekatan yang lebih terbuka secara lirik. Dalam wawancara mengenai album tersebut, Marcel Thee menyebut <em>Cowabunga</em> sebagai versi “super saiyan” dari <em>Godsigma</em>, dengan materi yang lebih langsung dalam menyampaikan kegelisahan sekaligus mempertahankan ruang bagi harapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Album tersebut dibuka dengan “Homili/Menatap Wajah Tuhan” dan berlanjut dengan lagu-lagu seperti “Kita Terbuat Dari Puing dan Tangisan”, “Di Masa Depan Kita Tak Lagi Bermimpi”, “Please Wait For Me Forever ∞”, “Devosi, Godskin &amp; Kebahagiaan Seutuhnya”, hingga rangkaian penutup “Telah Kutemukan Lagi Apa Yang Dapat Dicintai Dari Hidup Ini”. Materi inilah yang kemudian menjadi sumber interpretasi baru dalam <em>Cowabunga Deluxe</em>.</p>



<iframe data-testid="embed-iframe" style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/album/7zbaCpKnFcDRxCvA6Srh7e?utm_source=generator&#038;si=4ed46a88912340bb" width="100%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"></iframe>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, edisi <em>Deluxe</em> tidak hanya menambahkan lagu baru, tetapi memperlihatkan pertemuan karakter Sajama Cut dengan tujuh nama berbeda. Patrivia mengambil “Kita Terbuat Dari Puing dan Tangisan”, Sunwich menginterpretasikan “Debu-Debu Intan”, Water Heater menggarap “Di Masa Depan Kita Tak Lagi Bermimpi”, sementara Alkateri hadir melalui “Devosi, Godskin, dan Kebahagiaan Seutuhnya”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Eleanor Whisper kemudian memberikan versinya terhadap “Telah Kutemukan Lagi Apa Yang Dapat Dicintai Dari Hidup Ini”, sedangkan The Jansen mengolah kembali “Kita Terbuat Dari Puing dan Tangisan”. ASHN turut hadir melalui interpretasi “Debu-Debu Intan”. Selain materi kolaborasi, album ini juga memuat “Absolute Sadness”, versi “Super Sad” dari “Tak Kutemukan Lagi Apa Yang Dapat Dicintai Dari Hidup Ini”, serta rekaman live “Di Masa Depan Kita Tak Lagi Bermimpi” dan “Homili/Menatap Wajah Tuhan”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan dengan band seperti The Jansen dan Alkateri juga memperlihatkan bagaimana <em>Cowabunga</em> bergerak melampaui satu generasi musik. The Jansen dikenal sebagai salah satu nama penting dalam perkembangan skena rock independen Indonesia, sementara Alkateri membawa pengalaman dari lingkungan musik alternatif yang juga dekat dengan kultur kolektif dan eksperimentasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nama Patrivia juga memberikan konteks lain dalam proyek ini. Gitaris Patrivia, Arno Zarror, yang juga dikenal sebagai bagian dari Dongker, menyebut para personel Patrivia memang merupakan penggemar Sajama Cut dan melihat keterlibatan mereka sebagai kesempatan untuk memberikan warna lain terhadap lagu yang sudah dikenal pendengar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, ASHN membawa perspektif dari generasi yang lebih muda. Bryan dari ASHN menyebut “Debu-Debu Intan” sebagai salah satu lagu yang memiliki karakter magis, sekaligus mengungkapkan kehormatan bagi mereka untuk menghadirkan versi ASHN dalam album <em>Deluxe</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Marcel Thee, pertemuan dengan para kolaborator justru membuka kemungkinan yang tidak seluruhnya dapat diprediksi sejak awal. Ia menyebut keterlibatan para musisi tersebut menghadirkan kejutan melalui tambahan dan interpretasi yang berbeda dari materi asli <em>Cowabunga</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Format fisik menjadi bagian lain yang membuat <em>Cowabunga Deluxe</em> memiliki konteks tersendiri. Sebelumnya, <em>Cowabunga</em> hadir dalam edisi kaset terbatas melalui Bojakrama Press, sedangkan edisi <em>Deluxe</em> kini tersedia dalam bentuk double CD melalui demajors.</p>



<p class="wp-block-paragraph">CD <em>Cowabunga Deluxe</em> dapat diperoleh melalui jaringan distribusi demajors. Kehadiran format fisik tersebut sekaligus memperpanjang kehidupan album sebagai objek yang tidak hanya didengarkan, tetapi juga dapat dimiliki dan dikoleksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan <em>Cowabunga Deluxe</em> kemudian tidak berhenti pada rilisan rekaman. Sajama Cut akan membawa konsep tersebut ke panggung melalui <strong>Sajama Cut Deluxe Set</strong> di Synchronize Fest 2026 pada 17 Oktober, dengan Sunwich, Eleanor Whisper, Alkateri, dan Patrivia dijadwalkan hadir sebagai kolaborator.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, <em>Cowabunga Deluxe</em> menjadi semacam perpanjangan umur bagi album yang dirilis setahun sebelumnya. Dari sembilan lagu pada album utama, Sajama Cut membuka ruang bagi musisi lain untuk membaca ulang materi tersebut, menghasilkan versi baru, dan kemudian membawanya kembali ke panggung dalam format kolaboratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi band yang telah melewati lebih dari dua dekade perjalanan, pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa katalog lama tidak harus berhenti sebagai arsip. <em>Cowabunga</em> justru mendapatkan kehidupan baru melalui pertemuan dengan musisi lain, dari The Jansen dan Alkateri hingga Sunwich, Eleanor Whisper, Patrivia, Water Heater dan ASHN.<strong> XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/cowabunga-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Lea Simanjuntak Buka Babak Baru Lewat “Ruang di Hatimu”, Padukan Dunia Nyata dan AI</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/new-release/lea-simanjuntak-buka-babak-baru-lewat-ruang-di-hatimu-padukan-dunia-nyata-dan-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 09:19:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music & Video]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Lea Simanjuntak]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang di Hatimu]]></category>
		<category><![CDATA[video klip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=43086</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Lea Simanjuntak" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Lea Simanjuntak kembali membuka babak baru dalam perjalanan musiknya lewat single “Ruang di Hatimu”. Tak hanya menghadirkan lagu dan video klip dengan pendekatan visual yang berbeda, karya ini juga diperkenalkan dalam acara Lea Simanjuntak Intimate Music, Film dan Teknologi yang digelar di Home Cult (17/09/26) Acara ini menjadi ruang bagi Lea untuk memperkenalkan lebih dekat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Lea Simanjuntak kembali membuka babak baru dalam perjalanan musiknya lewat single “Ruang di Hatimu”. Tak hanya menghadirkan lagu dan video klip dengan pendekatan visual yang berbeda, karya ini juga diperkenalkan dalam acara <strong>Lea Simanjuntak Intimate Music, Film dan Teknologi</strong> yang digelar di <strong>Home Cult</strong> (17/09/26)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Acara ini menjadi ruang bagi Lea untuk memperkenalkan lebih dekat proses kreatif di balik “Ruang di Hatimu”, termasuk pertemuan antara musik, film, dan teknologi. Video klip lagu ini memadukan rekaman live Lea dan para pemain dengan teknologi generative AI serta 3D untuk membangun dunia visual yang tidak seluruhnya bisa diwujudkan melalui pengambilan gambar konvensional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Single “Ruang di Hatimu” sendiri telah dirilis pada 9 September 2026 di berbagai layanan musik digital, sementara video musiknya diperkenalkan kepada publik pada 17 September 2026. Dalam video tersebut, penonton dibawa melewati sejumlah lanskap seperti hamparan bunga, gurun pasir hitam, pantai saat matahari terbenam, hutan berkabut, hingga adegan Lea berenang bersama seekor paus.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02.jpg" alt="Lea Simanjuntak" class="wp-image-43091" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_02-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lea Simanjuntak</figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, teknologi AI dalam produksi ini tidak digunakan untuk menggantikan sosok Lea. Rekaman asli tetap menjadi dasar untuk gerakan, ekspresi, lip sync, komposisi, dan penampilan Lea, sedangkan AI dan teknologi 3D digunakan untuk mengembangkan lingkungan serta detail visual di sekelilingnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep tersebut membuat video “Ruang di Hatimu” terasa seperti perjalanan antara dunia nyata dan ruang imajinatif. Sutradara <strong>Alain Goenawan</strong> dan <strong>Calengklik</strong> atau <strong>Galih Pratama</strong> mengolah sejumlah simbol visual, mulai dari hutan berkabut, laut, ruangan kaca, hamparan bunga hingga cermin, untuk menerjemahkan makna lagu ke dalam bahasa visual.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alain menjelaskan, cermin menjadi salah satu simbol yang dekat dengan pengalaman manusia ketika melihat dan menerima dirinya sendiri. Sementara ruangan kaca menggambarkan fase ketika seseorang berhenti melawan keadaan dan mulai berdamai dengan situasi yang sedang dihadapi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ruang di Hatimu” memang dapat dibaca sebagai lagu tentang cinta, tetapi bagi Alain, maknanya juga bisa lebih luas sebagai cerita tentang kehidupan. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, sehingga seseorang perlu belajar menerima hal-hal yang datang secara tidak terduga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu kemudian tergambar melalui adegan Lea berada di laut dan berenang bersama seekor paus. Laut menjadi gambaran kehidupan yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan, sementara kemunculan paus menjadi sesuatu yang tidak terduga tetapi justru menghadirkan pengalaman yang membahagiakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Lea, proses penggarapan lagu ini juga menjadi pengalaman yang berbeda karena mempertemukan kembali dirinya dengan Nur Satriatama, yang akrab disapa Satrio Alexa, teman yang sudah dikenalnya sejak masa kuliah di Atma Jaya. Keduanya sebenarnya sudah lama saling mengenal dan pernah bermain musik bersama, tetapi proyek ini menjadi salah satu kesempatan pertama mereka bekerja secara lebih serius sebagai partner kreatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan tersebut bermula ketika Lea datang ke <strong>River Brick Studio</strong>. Ia membawa makanan dan datang bersama anak keduanya, tetapi justru pulang dengan perasaan lebih bersemangat untuk kembali berkarya setelah sebelumnya cukup lama berhenti bekerja karena situasi di rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satrio kemudian mengirimkan rough song kepada Lea pada keesokan harinya. Lea mendengarkan lagu tersebut saat berada di perjalanan dan langsung merasa lirik serta musiknya dekat dengan pengalaman yang sedang ia rasakan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="pbERtBB9_AQ"><iframe loading="lazy" title="Lea Simanjuntak - Ruang Dihatimu (Official Music Video)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/pbERtBB9_AQ?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Malam harinya, Lea kembali datang ke studio untuk membicarakan bagian vokalnya. Proses tersebut berlangsung cukup natural karena keduanya sudah memiliki pemahaman satu sama lain, sehingga diskusi mengenai karakter lagu dan bagian vokal tidak membutuhkan terlalu banyak percobaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Natural aja, nggak dipaksain. Jadi memang kayak ngobrol, terus ketemu, terus ya sudah,” kata Lea mengenai proses kolaborasinya dengan Satrio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari proses tersebut, produksi lagu berkembang cukup besar. Satrio menyebut ada sekitar 290 track yang dikerjakan dalam proses produksi, melibatkan sekitar 43 orang serta sejumlah pemain musik dan pengisi backing vocal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk bagian backing vocal saja, terdapat lebih dari 50 track yang direkam. Beberapa proses rekaman bahkan dilakukan di Yogyakarta sebelum seluruh elemen musik disatukan menjadi satu karya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan serupa juga diterapkan pada produksi video musik. Lea dan para pemain direkam menggunakan latar putih dengan tracking marker, termasuk pengambilan gambar Lea di dalam air, kemudian lingkungan di sekitarnya dikembangkan menggunakan AI, compositing, pemetaan kedalaman, serta object tracking.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Galih, konsistensi kostum, pencahayaan, perspektif, dan pergerakan kamera menjadi bagian penting agar hasil gabungan footage nyata dan elemen digital tetap terasa menyatu. Tiga pergantian kostum Lea juga digunakan untuk menandai bagian atau babak berbeda dalam perjalanan visual video tersebut.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="848" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama.jpg" alt="Lea Simanjuntak bersama Satrio Alexa, Alain Gunawan dan Galih Pratama" class="wp-image-43089" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama.jpg 1280w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak-bersama-satrio-alexa-alain-gunawan-dan-galih-pratama-1068x708.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lea Simanjuntak bersama Satrio Alexa, Alain Gunawan dan Galih Pratama</figcaption></figure></a></div>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Satrio, bekerja dengan Lea juga memberikan ruang yang berbeda dibandingkan proses produksi dengan penyanyi yang masih berada pada tahap awal karier. Menurutnya, Lea sudah memiliki pengalaman dan karakter vokal yang kuat sehingga perhatian dalam produksi bisa lebih diarahkan pada bagaimana sebuah lagu dibawakan dan diberi rasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lea sendiri mengaku puas dengan hasil kolaborasi tersebut dan masih ingin menikmati serta mengeksplorasi “Ruang di Hatimu” lebih jauh. Ia belum memastikan apakah Satrio akan terus menjadi produser untuk karya berikutnya, tetapi pengalaman menggarap single ini membuka kemungkinan untuk kembali bekerja bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui “Ruang di Hatimu”, Lea berharap lagu tersebut tidak hanya didengarkan, tetapi juga dapat dirasakan oleh orang yang mendengarnya. Ia ingin lagu ini bisa menjadi bagian dari berbagai aktivitas, konten, maupun menemani orang yang sedang membutuhkan dorongan untuk kembali membuka hati dan menjalani hidup. <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/lea-simanjuntak_01-300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
		<item>
		<title>Aruma Bongkar Kisah Paling Personal di EP “Dan Ternyata Aku Cukup”, Ada Cerita Hubungannya dengan Sang Ayah</title>
		<link>https://xposeindonesia.com/music/aruma-bongkar-kisah-paling-personal-di-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ada-cerita-hubungannya-dengan-sang-ayah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2026 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Aruma]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Separuh]]></category>
		<category><![CDATA[Dan Ternyata Aku Cukup]]></category>
		<category><![CDATA[musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sony Music]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://xposeindonesia.com/?p=42928</guid>

					<description><![CDATA[<img width="300" height="199" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--300x199.jpg" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="aruma" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--300x199.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--1024x678.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--768x509.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--634x420.jpg 634w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--1268x840.jpg 1268w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--150x99.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--600x398.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--696x461.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--1068x708.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma-.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" />Aruma kembali membuka sisi paling personal dalam perjalanan hidupnya melalui EP terbaru “Dan Ternyata Aku Cukup”. Bukan sekadar kumpulan lima lagu, karya ini menjadi ruang bagi Aruma untuk membongkar luka, pola hubungan, rasa tidak cukup, hingga perjalanan panjangnya dalam berdamai dengan diri sendiri. Setelah EP tersebut mulai didengarkan publik, sejumlah cerita personal di balik lagu-lagunya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://xposeindonesia.com/tag/ep-terbaru-aruma/" data-type="post_tag" data-id="20723">Aruma</a> kembali membuka sisi paling personal dalam perjalanan hidupnya melalui EP terbaru <strong>“Dan Ternyata Aku Cukup”</strong>. Bukan sekadar kumpulan lima lagu, karya ini menjadi ruang bagi Aruma untuk membongkar luka, pola hubungan, rasa tidak cukup, hingga perjalanan panjangnya dalam berdamai dengan diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah EP tersebut mulai didengarkan publik, sejumlah cerita personal di balik lagu-lagunya pun ikut mencuri perhatian. Salah satunya datang dari lagu <strong>“Bulan Separuh”</strong>, yang ternyata memiliki kaitan erat dengan hubungan Aruma dan sang ayah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">EP <strong>“Dan Ternyata Aku Cukup”</strong> menghadirkan lima lagu, yaitu <strong>“Pura-Pura Hidup Lagi”, “Jalan Buntu”, “Senyum Pada Sepi”, “Semoga Nanti”,</strong> dan <strong>“Bulan Separuh”</strong>. Kelima lagu tersebut lahir dari pengalaman yang berbeda, tetapi pada akhirnya memiliki satu benang merah, yakni perjalanan untuk belajar menerima dan merasa cukup dengan diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku merasa EP ini bukan cuma kumpulan lagu, tapi seperti potongan-potongan buku harian yang akhirnya bisa aku bagikan ke orang lain,” ungkap Aruma mengenai karya terbarunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Aruma, proses mengumpulkan kelima lagu tersebut justru membawanya pada sebuah kesadaran baru. Ia menyadari bahwa cerita yang ditulis dalam waktu dan pengalaman berbeda ternyata sedang mengarah pada perjalanan emosional yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ada beberapa cerita dan perasaan yang memang sudah lama aku simpan dan akhirnya menemukan bentuknya lewat lagu, tapi ada juga lagu yang lahir dari pengalaman yang relatif baru,” kata Aruma. “Menariknya, ketika semua lagu dikumpulkan, aku baru sadar kalau ternyata semuanya sedang menceritakan perjalanan yang sama.”</p>



<h2 class="wp-block-heading">“Bulan Separuh” dan Kisah Personal Aruma dengan Sang Ayah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu cerita paling personal dalam EP ini hadir melalui <strong>“Bulan Separuh”</strong>. Lagu tersebut menggambarkan fase ketika Aruma pernah merasa dirinya tidak pernah benar-benar cukup, meski telah berusaha untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, rasa tersebut ternyata tidak hadir begitu saja. Aruma mengungkapkan bahwa cerita dalam <strong>“Bulan Separuh”</strong> berkaitan dengan hubungan dirinya dan sang ayah yang pernah berada dalam fase kurang baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aruma pernah merasa dirinya tidak cukup di mata sang ayah. Perasaan tersebut kemudian menjadi bagian dari luka yang ia simpan dan akhirnya menemukan ruang untuk diceritakan melalui musik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, lagu tersebut justru membuka jalan baru dalam hubungan keduanya. Setelah mendengar <strong>“Bulan Separuh”</strong>, sang ayah menghubungi Aruma dan menyampaikan permintaan maaf atas fase yang pernah mereka lalui.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momen tersebut menjadi pengalaman emosional tersendiri bagi Aruma. Hubungan keduanya kini disebut telah membaik, sekaligus membawa Aruma pada kesadaran bahwa dirinya sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi “bulan separuh”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti bulan yang terlihat berbeda dari sudut pandang manusia, Aruma menyadari bahwa dirinya tetap utuh. Perasaan tidak cukup yang selama ini ia bawa perlahan berubah menjadi pemahaman bahwa nilai diri tidak seharusnya ditentukan oleh pandangan orang lain.</p>



<div><a href="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep.jpg" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="1200" src="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep.jpg" alt="img 9968" class="wp-image-42932" srcset="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep.jpg 1200w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-300x300.jpg 300w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-1024x1024.jpg 1024w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-150x150.jpg 150w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-768x768.jpg 768w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-420x420.jpg 420w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-840x840.jpg 840w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-600x600.jpg 600w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-696x696.jpg 696w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-1068x1068.jpg 1068w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-24x24.jpg 24w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-48x48.jpg 48w, https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/artwork-ep-dan-ternyata-aku-cukup-ep-96x96.jpg 96w" sizes="auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">img 9968</figcaption></figure></a></div>



<h2 class="wp-block-heading">Aruma Bongkar Pola Hubungan yang Terus Berulang</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita personal lainnya hadir melalui lagu <strong>“Semoga Nanti”</strong>. Lagu tersebut juga menjadi salah satu karya yang sangat dekat dengan pengalaman pribadi Aruma, terutama mengenai pola dirinya dalam menjalani sebuah hubungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aruma mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kecenderungan untuk menjauh ketika sebuah hubungan mulai terasa semakin serius. Ketika mulai membuka hati dan membangun kedekatan dengan seseorang, ia justru merasa terdorong untuk menjaga jarak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesadaran mengenai pola tersebut menjadi bagian dari proses introspeksi yang kemudian ikut membentuk perjalanan EP <strong>“Dan Ternyata Aku Cukup”</strong>. Karya ini tidak hanya berbicara tentang kesedihan atau proses menuju kebahagiaan, tetapi juga usaha untuk memahami mengapa seseorang terus menghadapi persoalan yang sama dalam kehidupannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah lima lagu dalam EP tersebut saling terhubung. Aruma tidak mencoba memberikan jawaban instan, melainkan mengajak pendengar melihat proses panjang seseorang ketika berusaha memahami luka dan pola yang terus berulang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukan Lagi Bertanya, tetapi Mulai Menemukan Jawaban</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dibandingkan dengan EP sebelumnya, <strong>“Bertumbuh”</strong>, Aruma merasa <strong>“Dan Ternyata Aku Cukup”</strong> hadir dengan pendekatan yang lebih personal dan introspektif. Perubahan tersebut juga memperlihatkan perkembangan perjalanan emosionalnya dalam beberapa tahun terakhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau dulu aku banyak bertanya, ‘Aku harus menjadi siapa?’ atau ‘Aku harus ke mana?’, sekarang aku mulai sampai di titik aku bisa bilang, ‘Mungkin aku tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diriku sendiri,’” tutur Aruma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat tersebut menjadi salah satu kunci untuk memahami keseluruhan EP ini. Jika sebelumnya Aruma banyak berada dalam fase mencari dan mempertanyakan arah, kini ia mulai sampai pada tahap menerima dirinya tanpa harus terus mengejar standar tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Judul <strong>“Dan Ternyata Aku Cukup”</strong> pun menjadi kesimpulan dari perjalanan tersebut. Aruma belajar bahwa dirinya tidak harus terus-menerus membuktikan nilai diri agar dicintai, dipilih, atau dianggap cukup oleh orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dulu aku sering merasa harus menjadi versi tertentu dari diriku supaya bisa dicintai, dipilih, atau dianggap cukup oleh orang lain,” ungkap Aruma. “Tapi kalimat ‘dan ternyata aku cukup’ memberiku kesadaran lain, yaitu tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk terus meragukan diri sendiri.”</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Z36o5DWdEdw"><iframe loading="lazy" title="Aruma - Dan Ternyata Aku Cukup (Full EP Lyric Visualizer)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Z36o5DWdEdw?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Lima Lagu, Lima Fase untuk Berdamai</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap lagu dalam EP ini membawa emosi dan cerita yang berbeda. Namun, kelimanya dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan seseorang yang sedang mencoba memahami dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada fase ketika seseorang berusaha <strong>“Pura-Pura Hidup Lagi”</strong> setelah melewati masa sulit. Ada pula saat ketika kehidupan terasa seperti <strong>“Jalan Buntu”</strong>, sementara seseorang belum menemukan arah untuk melanjutkan langkahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian hadir <strong>“Senyum Pada Sepi”</strong>, yang membawa pendengar pada proses belajar berdamai dengan kesendirian. Ada pula <strong>“Semoga Nanti”</strong>, yang menyimpan harapan sekaligus menggambarkan keraguan dan persoalan yang muncul dalam sebuah hubungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan tersebut akhirnya sampai pada <strong>“Bulan Separuh”</strong>. Lagu ini menjadi salah satu titik paling personal dalam EP, sekaligus membawa makna kuat tentang proses seseorang yang selama ini merasa tidak utuh sebelum akhirnya memahami bahwa dirinya tetap memiliki nilai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aruma berharap setiap pendengar dapat menemukan bagian dari dirinya dalam lima lagu tersebut. Ia juga ingin menyampaikan bahwa proses untuk memahami diri tidak selalu cepat dan setiap orang memiliki waktunya masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak apa-apa kalau prosesnya panjang dan hari ini masih merasa bingung, belum sembuh, atau belum tahu harus ke mana,” ungkap Aruma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pesan itu terasa semakin relevan dengan perjalanan yang disampaikan dalam <strong>“Dan Ternyata Aku Cukup”</strong>. EP ini tidak menawarkan gambaran tentang seseorang yang telah berhasil menyelesaikan seluruh persoalannya, tetapi tentang keberanian untuk melihat luka dan menerima bahwa proses untuk pulih memang membutuhkan waktu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dirayakan Bersama Arumanis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan EP terbaru Aruma juga dirayakan bersama para penggemarnya yang dikenal sebagai <strong>Arumanis</strong> melalui sebuah intimate showcase. Dalam kesempatan tersebut, Aruma membawakan lagu-lagu dari karya terbarunya secara langsung dan berbagi momen spesial bersama penggemar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Acara tersebut juga menghadirkan sejumlah kolaborasi. Raim Laode turut hadir dalam penampilan bersama Aruma, sementara Raissa Anggiani ikut tampil membawakan <strong>“Jalan Buntu”</strong>, menambah suasana hangat dalam perayaan karya terbaru Aruma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Aruma, <strong>“Dan Ternyata Aku Cukup”</strong> bukan sekadar penanda fase baru dalam perjalanan musiknya. EP ini juga menjadi catatan tentang bagaimana seseorang dapat berubah setelah melewati berbagai pengalaman, hubungan, luka, dan pertanyaan dalam hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, lima lagu tersebut membawa pendengar pada satu kesimpulan sederhana. Seseorang tidak harus sempurna, selalu kuat, atau selalu mengetahui arah hidupnya untuk memiliki nilai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkadang, perjalanan paling panjang adalah perjalanan untuk berhenti mencari pengakuan dari luar. Dan setelah melewati berbagai pertanyaan, luka, serta proses untuk berdamai, mungkin seseorang akhirnya dapat mengatakan kepada dirinya sendiri, <strong>“Dan ternyata, aku cukup.”</strong> <strong>XPOSEINDONESIA/IHSAN</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
<media:content url="https://xposeindonesia.com/wp-content/uploads/2026/09/aruma--300x199.jpg" type="image/jpeg" medium="image" width="300" height="199" />	</item>
	</channel>
</rss>
