Jumat, Maret 6, 2026

Cita Svara Indonesia, Mendukung Sepenuhnya Kedaulatan Musik Indonesia

Menjelang Hari Musik Nasional, yang diperingati setiap tanggal 9 Maret, dan telah dimulai sejak 9 Maret 2013. Perlu diingatkan, bahwa 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) No.10, tahun 2013. Ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia, saat itu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Adapun penetapan Hari Musik Nasional dalam upaya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia, meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi para insan musik Indonesia. Dan dalam rangka Hari Musik Nasional di tahun 2026 ini, Cita Svara Indonesia menyelenggarakan Diskusi Musik, sekaligus merupakan acara Launching dari komunitas CSI tersebut. Acara diadakan di CC Café di Nancy’s Place, Jalan Ampera Raya, Kemang. Yang juga diikuti acara Buka Puasa Bersama.

Apakah Cita Svara Indonesia….

Bahwasanya Cita Svara Indonesia (CSI), yang di dalamnya terdiri dari pelaku Musik Indonesia. Yang berada dalam lingkaran Ekosistem Musik Indonesia. Yang telah aktif berkecimpung di dunia musik Indonesia, bahkan sejak 1980 – 1990an. Perjalanan nan panjang tentunya. Silahkan berkenalan…

Sampailah pada satu titik, di kesempatan tahun 2026 ini, Sebagian dari ekosistem Musik Indonesia yang aktifitasnya di dunia musik menjadi sebuah catatan, yang lantas menjadi bagian penting perjalanan sejarah musik Indonesia. Pada akhirnya bersepakat menyatukan diri, berkumpul, menyelaraskan visi dan misi. Sekaligus menyatukan enerji.

CSI bertujuan utama, menjadi elemen sinergi yang siap mendukung sepenuhnya dalam ikut menggali potensi musik Indonesia menjadi industri. Serta sekaligus, turut mendorong kolaborasi yang sehat antara para musisi se Indonesia.

Selain itu turut serta membawa, atau membunyikan Musik Indonesia ke pentas dunia. Serta, menjadikan Musik Indonesia sebagai kedaulatan budaya dan ekonomi, yang dirasakan terutama oleh para pelaku aktif Musik Indonesia, terlebih bagi para musisi dan penyanyi.

Yang adalah para pelaku aktif yang menjadi frontline Dunia Musik Indonesia. Suasana yang sehat akan memungkinkan para pelaku aktif Musik Indonesia, lebih leluasa dalam beraktifitas. Menghasilkan karya-karya terbaiknya, yang lantas berpotensi untuk mendunia.

Adalah Musik memajukan Bangsa, menjadi sebuah landasan dasar pemikiran dari terbentuknya Cita Svara Indonesia ini. Sementara itu, di sisi yang lain, bahwasanya kebhinekaan Musik Indonesia, sejatinya adalah kekuatan besar untuk mendunia.

Adalah Musik memajukan Bangsa, menjadi sebuah landasan dasar pemikiran dari terbentuknya Cita Svara Indonesia ini. Sementara itu, di sisi yang lain, bahwasanya kebhinekaan Musik Indonesia, sejatinya adalah kekuatan besar untuk mendunia.

Pemikiran tersebut lantas saja, mendorong CSI untuk dapat terjun dan berperan aktif dalam ikut lebih memajukan Musik Indonesia. Berdasarkan dari dasar pemikiran di atas. Yang intinya adalah, bagaimana potensi besar Musik Indonesia kita kelak berbicara lebih nyaring. Memiliki teriakan lebih bergema, di pentas musik dunia.

Sebuah pemikiran yang timbul di tengah-tengah perjuangan menegakkan kedaulatan budaya Nusantara kita, yang saat ini kian terganggu dengan adanya arus besar budaya dari negara-negara lain, yang menyelusup masuk tanah air kita. Dan perlahan tapi pasti, mengubah sudut pandang termasuk selera publik kebanyakan. Ancaman paling serius, menggerus budaya Nusantara, secara perlahan tapi pasti.

Acara mereka kemarin bertajuk, Beda Masa Satu Rasa. Dan adalah masa boleh, dan pasti berganti. Tapi menyoal rasa, tetaplah sama. Apakah anda setuju? Hal tersebutlah yang menjadi tema dasar dari diskusi Santai, sambil ngabuburit pada Kamis, 5 Maret 2026 itu.

Sinergi Pelaku Aktif dan Ekosistem Musik. Serta Keterlibatan Pemerintah

Pada acara CSI tersebut, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha hadir membuka acara. Giring menjadi keynote speaker acara tersebut, didampingi tokoh dari CSI, Harry Koko Santoso. Turut menjadi pembicara di sesi pembuka, salah satu inisiator lain dari CSI, Connie Constantia. Mereka didampingi pula oleh, Peter Momor, salah satu inisiator CSI pula.

Sejatinya, Musik Indonesia dalam catatan sejarah perjalanannya selama ini membuktikan potensi besarnya untuk lebih berbicara di pentas musik Internasional. Dan kesempatan mendunia itu, tentu saja diyakini oleh CSI harus dilandasin pula oleh kerjasama secara baik, dengan pihak pemerintah.

Dalam kata sambutannya, Giring Ganesha mengatakan, “Tantangan yang dihadapi para musisi dewasa ini semakin kompleks.” Mereka dituntut memahami, menguasai berbagai aspek lain, di luar kreatifitas bermusiknya. Misalnya pengelolaan atas citra, story telling, sampai strategi memanfaatkan maksimal sosial media, terang Giring.

Kemudian juga, memahami pengembangan bisnis kreatif lain, misalnya merchandise. Lanjut Giring lagi, juga mempelajari strategi kolaborasi dengan berbagai merk. Termasuk bagaimana menyikapi perkembangan dari platform digital macam youtube, ataupun spotify dan sejenisnya. “Yang membuat peluang lebih besar bagi musisi dari berbagai daerah, untuk menjangkau audience yang lebih luas.”

Kita juga melihat betapa musik berbahasa daerah, berkembang pesat pencintanya. Ini sebuah fenomena menarik, lanjut Giring. “Di platform digital streaming, bahkan viewersnya bisa mencapai jutaan orang,”tambahnya.

Pada akhirnya, memang demikianlah,”Artis atau band harus memahami dan mengerti sektor bisnisnya. Memaksimalkan peran media sosialnya. Dan ikut aktif memikirkan konsep panggung, sampai strategi penyebaran merchandise. Tantangannya jadi jauh lebih kompleks.” Papar Giring lagi.

Giring juga menyoroti akan pentingnya di hari ini, kolaborasi lintas sektor. “Dalam hal ini antara pemerintah, bahkan antar Kementerian. Juga dengan para pelaku aktif, komunitas music, pelaku industrinya. Termasuk melibatkan media massa.”

Sementara itu, Harry Koko Santoso, dari CSI. Yang adalah tokoh dunia showbiz, di sektor promotor dan event organizer aktif yang telah berkecimpung sejak era 1990-an. Koko mengatakan, “CSI berkeinginan kuat membawa Musik Indonesia ke panggung musik global. Sekaligus menjadikannya kekuatan budaya dan sekaligus ekonomi. Yang kelak dirasakan langsung oleh para pelaku musik.”

Adalah keberagaman Musik Nusantara yang menjadi kekuatan besar, yang sangat berpotensi menjadi identitas Indonesia di dunia internasional. Kebhinekaan kita itu menjadi modal bagus untuk mendunia, tambahnya.

Sinergi ideal tentunya kelak terjadi, dengan bentuk persekutuan saling mendukung antara para pelaku aktif. Bersama pihak ekosistem. Dan melibatkan pula peran serta aktif dan intens dari pihak pemerintah Indonesia. Tentu dalam hal ini, lewat institusi kementrian terkait. Berbentuk strategic-partnership yang saling mendukung dan saling mengisi.

Bagaimana kelak secara keseluruhan Musik Indonesia secara jelas dinyatakan dan diakui kedaulatannya di tanah airnya sendiri. Dan dengan dimulai dari tanah kelahirannya itulah, lantas memiliki keyakinan diri lebih tebal untuk menuju pentas musik dunia. Kepercayaan diri menjadi berlipat.

Yang dapat diartikan, bahwa Indonesia tidak hanya berhenti sebagai pasar musik mancanegara. Dianggap sebagai pasar musik (internasional) yang potensial. Sejatinyalah, Musik Indonesia dengan para penyanyi dan musisinya, memiliki kemampuan serius untuk ikut bergerak aktif di pasar musik internasional. Meramaikan, dan meraih respon positif pasar musik global.

Sebagai sebuah komunitas ekosistem Musik Indonesia yang baru didirikan, CSI, yang merupakan sebuah komunitas baru para pelaku eksostem musik. Dalam hal ini didukung pelaku yang sudah berkecimpung bahkan 30-40 tahunan lamanya di dunia Musik tanah air. Seperti Oleg Sanchabakhtiar, Jimmy Turangan, Liza Maria Elizabeth, Lodewijk Cornelius Ticoalu, Hendrik Agustinus Siagian, Erby Dwitoro, Boetje Tenda, Taraz Biztara, Tony TSA, Setiadi Darmawan, Firdaus Fadlil dan Gideon Momongan.

*/csi

Must Read

Related Articles