GBN 2019 Segera Berlangsung pada 8-12 Mei di JCC, Jakarta

30 April 2019

Batik adalah salah satu warisan leluhur ang semakin mendapat tempat dikehidupan sehari-hari generasi muda saat ini, bahkan hingga ke dunia internasional. Namun, secara filosifi arti dari keberadaan batik sendiri tidak banyak yang mengetahuinya, dan juga bagaimana melestarikan warisan budaya ini.

Seiring berkembangnya zaman, batik tetap harus berinovasi, menampilkan sisi kreatifnya agar terjaga kelestariannya. Didasari latarbelakang atas kepedulian eksistensi dari batik sendiri, atas inisiasi Yayasan Batik Indonesia (YBI) diselenggarakanlah Gelar Batik Nusantara (GBN) yang ke 11 dan rutin diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. 

Pada gelarannya kali ini, GBN 2019 mengusung tema “Lestari Tak Terbatas” dan akan diselenggarakan pada 8-12 Mei 2019 di Main Lobby dan Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Panitia GBN 2019, Wida D. Herdiawan mengatakan bahwa tahun ini, GBN akan menonjolkan ragam batik dari daerah di Sumatera, khususnya Jambi. "Meski batik merupakan kerajinan yang tumbuh di masyarakat pulau Jawa, namun dalam perkembangannya batik juga telah merambah ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di pulau Sumatera," ujarnya pada saat konferensi pers di Jakarta, Senin (29/4/2019).

Wida juga menyampaikan bahwa dalam beberapa hari penyelenggaraan GBN 2019, pengunjung akan mendapatkan sajian berbeda setiap harinya, seperti fashion show, talkshow ataupun creative corner. Pengunjung juga akan diajak untuk melihat beragam motif batik dan sejarah panjang perjalanannya, mulai awal diciptakan hingga proses penyebarannya di seluruh pelosok negeri.

Terkait dengan tema kali ini, GBN 2019 akan lebih menonjolkan perkembangan batik Sumatera khususnya Jambi. Budaya batik masuk ke Jambi sejak abad ke 19 dengan membawa pengaruh Islam, India, Jawa, Minang dan lainnya. Sempat terhenti, dan baru pada tahun 1970 kembali bangkit.

Salah seorang pelaku batik dari Jambi, Bagus (Rumah Batik Azmiah Jambi) menerangkan bahwa potensinya batik d Jambi cukup menjanjikan. “Tinggal lagi bagaimana para penggiat batik ini memberikan edukasi yang tak putus kepada masyarakat, dan juga memberikan alternatif pilihan agar batik bisa bersaing di pasaran”, ungkapnya. 

Ketua Umum YBI, Ibu Ginanjar Kertasasmita dalam sambutannya mengatakan cukup banyak hal yang akan disampaikan melalui tema GBN ke 11 ini. “Kini saatnya batik tidak lagi berkonotasi kuno. Batik justru bercitrakan kebebasan, dinamis serta ceria, sesuai dengan gaya hidup di masa sekarang," ungkapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika batik kini sudah menjadi fashion statement bagi banyak orang. Karena itulah perlu adanya pelestarian dan penyesuaian bagi industri batik di tanah air agar dapat terus bersaing secara global. XPOSEINDONESIA / Muhamad Ihsan

More Pictures

Last modified on Thursday, 02 May 2019 11:09
Login to post comments