


Menjelang arus mudik Lebaran 2026, berbagai cara dilakukan masyarakat perantau untuk bisa kembali ke kampung halaman dengan biaya yang lebih terjangkau. Salah satu pemandangan unik terlihat di kawasan Kemandoran Pluis, Senin (16/3/2026), ketika sejumlah warga perantau asal Klaten bersiap pulang kampung menggunakan sebuah mobil truk yang dimodifikasi untuk perjalanan jarak jauh.
Bagi para perantau yang bekerja di ibu kota, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga momentum penting untuk berkumpul bersama keluarga setelah berbulan-bulan bekerja di perantauan. Namun meningkatnya biaya transportasi menjelang Hari Raya Idul Fitri sering kali membuat sebagian masyarakat mencari alternatif perjalanan yang lebih ekonomis.
Pilihan menggunakan mobil truk menjadi solusi praktis bagi rombongan perantau tersebut. Selain dapat menekan biaya perjalanan secara signifikan, kendaraan ini juga memungkinkan mereka membawa lebih banyak barang kebutuhan ke kampung halaman. Di bagian bak truk terlihat berbagai barang bawaan seperti sepeda motor, kasur, mesin cuci hingga bahan kebutuhan pokok yang akan dibawa pulang ke rumah keluarga di daerah asal.
Fenomena mudik menggunakan kendaraan barang sebenarnya bukan hal baru bagi sebagian pekerja informal di Jakarta. Banyak perantau yang memilih berangkat secara berkelompok agar dapat berbagi biaya transportasi sekaligus memudahkan pengangkutan barang dalam jumlah besar.
Tradisi membawa berbagai barang dari kota ke kampung halaman juga menjadi bagian dari budaya mudik masyarakat Indonesia. Selain sebagai bekal untuk keluarga di kampung, barang-barang tersebut kerap dianggap sebagai simbol keberhasilan para perantau yang bekerja di kota besar.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga terus berupaya memberikan alternatif perjalanan yang lebih aman dan terorganisir bagi masyarakat yang ingin pulang kampung. Salah satunya melalui program mudik gratis yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bagi warga di wilayah Jabodetabek yang ingin kembali ke daerah asal mereka menjelang Lebaran.
Program tersebut biasanya menyediakan armada bus hingga truk pengangkut sepeda motor untuk membantu masyarakat melakukan perjalanan mudik dengan lebih aman serta mengurangi kepadatan lalu lintas selama periode arus mudik.
Meski demikian, bagi sebagian perantau, perjalanan mudik secara swadaya seperti yang dilakukan rombongan warga asal Klaten ini tetap menjadi pilihan yang dianggap lebih fleksibel karena dapat menyesuaikan waktu keberangkatan serta jumlah barang bawaan yang ingin dibawa pulang.
Bagi mereka, perjalanan panjang menggunakan truk bukan sekadar soal efisiensi biaya, tetapi juga bagian dari pengalaman kebersamaan dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman. Foto: Xposeindonesia / Dudut Suhendra Putra.

