Tio Duarte, Mendalami Peran Serius demi Stadhius Schandaal

05 December 2017

Kenalkah Anda pada  Tio Duarte? Mungkin nama ini kurang familiar untuk telinga umum.  Namun, jika melihat fotonya dijamin pasti Anda mengingatnya.  Sejak 1991, Tio sudah menjadi bintang iklan untuk 24 jenis  produk, ia  juga muncul sebagai bintang untuk  22 judul  video klip. Dan yang pasti, ia telah muncul dalam lebih dari 25 judul sinetron, dengan ratusan episode dan juga beberapa FTV.

 

”Saya memang masih dapat tempat di sinetron dan FTV. Terkadang seminggu bisa syuting dua judul,”ujar aktor  kelahrian Jakarta,  18 Agustus 1975 ini saat ditemui di lokasi syuting film Stadhuis Schandaal, di Studio Persari, di kawasan Jakarta Selatan, Jumat,kemarin,

Meski berakting sejak usai belasan tahun,    ternyata baru  dua kali berakting untuk layar perak. Pertama dalam film  Mati Penasaran  (2002) yang disutradarai Roiki Kurniadi dan kini  pada tahun 2017 bermain dalam Stadhuis Schandaal yang disutradarai Adisurya Abdi.

“Saya bangga main dalam film  yang disutradarai Adisurya Abdi.  Filmnya punya bobot cerita yang dalam dan unik. Ada cerita sejarah masa lalu, ada masalah perdagangan juga ada tentang cinta,” tutur Tio yang memerankan  tokoh Wisnu,  seorang ayah  dari Fei yang menjadi tokoh utama.

Untuk mendalami peran sebagai  Wisnu, selain melakukan diskusi dengan sutradara, Tio sengaja mengikuti kursus.  ”Kalau untuk penampilan sebagai tokoh eksekutif dan pengusaha, orang akan mudah percaya pada  saya. Tapi, untuk karakter Wisnu saya mesti melakukan pendalaman  lebih serius lagi. Karena saya tidak ingin kesempatan yang saya dapatkan ini asal lewat saja,”ujar Tio berharap film Stadhuis Scandaal ini mendapat tempat di mata penonton film Indonesia. ”Lebih dari itu, masuk ke festival film nasional dan internasional,” ujar Tio yang sempat terjun jadi penyanyi dan meluncurkan single Biarkan Cinta Menari.

Selama berperan sebagai Wisnu,Tio akan berada di berbagai lokasi syuting di Jakarta,Pangkalan Bun Kalimantan, bahkan juga ke Shanghai, Cina. ”Saya bermain  untuk 18 scene. Durasi film ini seratus menit. Sosok saya akan selalu tampil, makanya saya akan berupaya mengoptimalkan kemampuan,” tegas Tio yang pernah mendapat penghargaan dari Brunei Darussalam lewat sinetron KOD 486 yang tayang di stasiun televisi di negeri jiran tersebut.

Pengalaman bermain film di bawah arahan sutradara dan praktisi perfilman sekelas Adisurya Abdi menjadi peluang emas bagi Tio untuk meningkatkan kemampuannya berakting di layar lebar.

Tio berharap, di masa depan ia bisa mendapat peran antagonis. ”Seperti karakter jahat atau psikopat yang jahat sekali, sehingga saya bisa mengeksplore lebih banyak lagi kemampuan saya,” ungkap  Tio yang pernah berperan di sinetron Karmila dan Badai Pasti Berlalu itu.

Di luar soal peran pribadi, Tio Duarte  tetap berambisi untuk mengibarkan kembali nama Duarte di pentas perfilman nasional. Perlu dicatat, Tio adalah  putra aktor laga Fara Noor  di tahun 70a-an  sekaligus cucu dari produser, sutradara,dan tokoh perfilman yang terkenal di tahun 50an, yakni Henry L.Daurte . XPOSEINDOENSIA/NS Foto : Istimewa

More Pictures

Last modified on Tuesday, 05 December 2017 11:49
Login to post comments

Film

September 10, 2019 0

Webseries Cinta Abadi Diluncurkan Ragnarok

Gravity Game Link penyedia layanan game online “Ragnarok”...
September 10, 2019 0

Rasy Alrizky  :  Menjajal  Kemampuan di Film Horor 

Industri perfilman  semakin berkembang. Perkembangan ini...
August 29, 2019 0

Kapal Goyang Kapten : Humor Ringan yang Bikin Penonton Ngakak

Mega Pilar Pictures akan merilis film drama komedi...
August 20, 2019 0

Menpar Bangga Film Bali: Beats Of Paradise Angkat Budaya Musik Gamelan

Menteri Pariwisata bangga terhadap film Bali: Beats Of...