Regina Art Angkat Kisah Auw Tjoei Lan dalam Pementasan Teater Njonja Ati Soetji

Perjuangan Auw Tjoei Lan, perempuan keturunan Tionghoa yang dikenal sebagai Njonja Ati Soetji, dalam menyelamatkan perempuan dan anak-anak dari perdagangan manusia pada masa kolonial diangkat ke panggung teater oleh Regina Art. Pementasan bertajuk Njonja Ati Soetji ini dijadwalkan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan.

Kisah Auw Tjoei Lan bukan sekadar cerita tentang kegiatan amal pada masa Hindia Belanda. Ia merupakan sosok yang berani terlibat langsung dalam persoalan sosial, ketika perempuan dan anak-anak rentan menjadi korban perdagangan manusia, eksploitasi, dan penelantaran. Melalui gerakan perlindungan yang dirintisnya, Auw Tjoei Lan berupaya memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Pementasan ini menjadi upaya Regina Art memperkenalkan kembali sosok yang memiliki peran penting dalam sejarah gerakan kemanusiaan di Indonesia. Seni teater dipilih untuk membawa kisah tersebut lebih dekat kepada masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus membuka ruang refleksi mengenai keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Pendiri Regina Art, Joane Win, memerankan tokoh utama Njonja Ati Soetji. Dalam mini showcase yang digelar di The Forest, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026), Joane tampil mengenakan kain batik dan membawakan salah satu adegan dari pertunjukan tersebut.

Dalam dialognya, Joane menyampaikan kalimat, “Kami tak butuh uangmu, tetapi bagaimana cara baik mendapatkannya.”

Dialog tersebut memberikan gambaran mengenai persoalan moral yang menjadi bagian dari cerita, yakni bagaimana seseorang memperoleh penghasilan dan bagaimana pilihan yang diambil dapat berdampak pada kehidupan orang lain.

Wakil Ketua Yayasan Hati Suci, Wenny, mengapresiasi inisiatif Regina Art yang mengangkat kisah pendiri yayasan tersebut melalui seni teater. Menurutnya, perjalanan hidup Auw Tjoei Lan bukan sekadar catatan sejarah, melainkan juga teladan yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

“Kami mengapresiasi Regina Art karena mengangkat tentang pendiri kami. Buat kami, ini bukan saja hanya sejarah, namun juga sebuah teladan. Melalui seni, kami harapkan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Njonja Ati Soetji bisa terus terpelihara,” kata Wenny dalam konferensi pers di The Forest, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).

Wenny menilai keberanian, kasih yang diwujudkan melalui tindakan nyata, serta kepedulian sosial merupakan nilai penting yang dapat dipetik dari perjalanan Auw Tjoei Lan. Ia berharap pementasan ini memperluas pengenalan masyarakat terhadap sosok tersebut sekaligus menjaga relevansi nilai perjuangannya dalam kehidupan masa kini.

Auw Tjoei Lan lahir di Karangsambung, Majalengka, pada 24 Februari 1889. Ia berasal dari keluarga Tionghoa terpandang. Ayahnya, Auw Seng Hoe, merupakan Kapitan Tionghoa di Majalengka yang dikenal memiliki kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu.

Sejak kecil, Auw Tjoei Lan telah menyaksikan keterlibatan ayahnya dalam membantu orang miskin, merawat orang sakit, dan menyediakan tempat bagi mereka yang tidak memiliki tempat tinggal. Ia juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial keluarga. Pengalaman tersebut turut membentuk kepeduliannya terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Pendidikan yang diterimanya juga memberikan bekal untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Ia pernah belajar dengan guru pribadi dan tinggal bersama keluarga pendeta Belanda di Bogor untuk memperdalam bahasa Belanda serta pengetahuan lainnya.

Setelah menikah dengan Lie Tjian Tjoen pada 1907, Auw Tjoei Lan pindah ke Batavia dan lebih dikenal sebagai Nyonya Lie Tjian Tjoen atau Nyonja Lie. Di kota tersebut, ia menyaksikan persoalan perdagangan perempuan dan anak yang berkaitan dengan kemiskinan serta eksploitasi.

Sejak 1912, Auw Tjoei Lan telah aktif dalam kegiatan sosial di Batavia. Melalui perkenalannya dengan sejumlah tokoh yang bergerak dalam pelayanan sosial, ia terlibat dalam upaya membantu perempuan dan anak-anak yang berada dalam situasi rentan.

Pada 1914, ia merintis Perkoempoelan Ati Soetji, sebuah lembaga sosial yang berfokus pada perlindungan perempuan dan anak perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia. Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi tempat perlindungan bagi anak yatim piatu dan anak-anak terlantar. Seiring waktu, Ati Soetji dikenal sebagai Hati Suci, nama yang terus hidup melalui lembaga sosial dan pendidikan hingga saat ini. Sejarah resmi Yayasan Hati Suci juga mencatat peran Auw Tjoei Lan dalam merintis lembaga tersebut pada 1914.

Perjuangannya tidak hanya dilakukan melalui pengelolaan lembaga sosial. Sejumlah catatan sejarah menggambarkan keterlibatannya dalam mencari perempuan yang membutuhkan pertolongan, termasuk mereka yang terjebak dalam praktik perdagangan manusia. Ia juga dikenal membantu merawat bayi-bayi terlantar yang ditemukan di sekitar tempat tinggalnya.

Pada 1929, sebuah rumah perlindungan yang lebih besar didirikan di kawasan Kebon Sirih untuk menampung anak-anak perempuan yang membutuhkan perlindungan. Rumah tersebut memiliki kapasitas hingga 200 anak. Dalam perkembangannya, kegiatan Hati Suci turut diperluas melalui pendirian lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan belajar anak-anak asuh.

Kiprah Auw Tjoei Lan juga tercatat dalam pembahasan mengenai perlindungan perempuan pada masa kolonial. Sejumlah tulisan sejarah menyebut keterlibatannya dalam forum internasional yang membahas perdagangan perempuan serta gagasannya mengenai rehabilitasi korban. Dedikasinya kemudian mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda melalui penghargaan Ridder in de Orde van Oranje-Nassau pada 1937.

Latar belakang inilah yang membuat kisah Auw Tjoei Lan memiliki dimensi lebih luas daripada biografi seorang tokoh filantropi. Perjuangannya memperlihatkan bagaimana seorang perempuan keturunan Tionghoa mengambil peran dalam persoalan sosial pada masa ketika akses dan kedudukan perempuan di ruang publik masih terbatas. Kisahnya juga memperlihatkan bahwa upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak telah menjadi bagian dari perjalanan panjang gerakan kemanusiaan di Indonesia.

Di balik penggarapan pertunjukan, penulis naskah Endah D. Jenura mengungkapkan bahwa proses riset dan penelusuran bahan sejarah berlangsung selama dua tahun. Tim mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk arsip surat kabar dan dokumentasi sejarah, untuk memahami kehidupan Auw Tjoei Lan serta kondisi sosial pada masanya.

Salah satu referensi yang ditemukan ialah artikel surat kabar De Locomotief tertanggal 23 Juni 1925 yang memuat informasi mengenai perdagangan manusia. Dokumen tersebut menjadi salah satu bahan untuk memahami konteks sosial yang melatarbelakangi cerita.

Meski demikian, penelusuran sejarah tidak berjalan mudah. Keterbatasan dokumentasi tertulis dan rekaman visual menjadi tantangan bagi tim untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai kehidupan tokoh utama. Untuk melengkapi informasi, tim juga menggali kesaksian Oma Stela, cucu Auw Tjoei Lan.

Dari penuturan keluarga, tim memperoleh gambaran mengenai sisi personal Auw Tjoei Lan, mulai dari cara berjalan dan kebiasaannya berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda hingga panggilannya kepada sang suami, yakni “Brur”. Kesaksian tersebut membantu tim mendekati karakter tokoh bukan hanya sebagai figur sejarah, tetapi juga sebagai individu dengan kebiasaan dan kehidupan personal.

Endah menjelaskan bahwa tidak semua detail kehidupan Auw Tjoei Lan dapat dipastikan melalui dokumentasi tertulis yang tersedia. Karena itu, proses penggarapan naskah membutuhkan kehati-hatian dalam membedakan informasi yang ditemukan dalam arsip, keterangan keluarga, dan kebutuhan pengembangan cerita.

Tantangan berikutnya adalah mengolah bahan sejarah menjadi pertunjukan yang memiliki konflik serta alur dramatik. Tidak seluruh karakter maupun peristiwa yang dibutuhkan untuk membangun cerita ditemukan secara langsung dalam sumber sejarah. Tim kemudian mengembangkan sejumlah karakter untuk mendukung kebutuhan artistik dan penyampaian cerita di atas panggung.

Pengembangan tersebut merupakan bagian dari interpretasi dramatik, bukan pernyataan bahwa seluruh karakter, dialog, dan peristiwa dalam pertunjukan tercatat secara langsung dalam dokumen sejarah. Pembedaan ini menjadi penting agar penonton dapat memahami bahwa pementasan sejarah merupakan perpaduan antara penelusuran sumber dan pengolahan kreatif.

Pementasan Njonja Ati Soetji disutradarai Wawan Sofwan dengan naskah yang ditulis Endah D. Jenura. Keduanya mengolah hasil penelusuran sejarah, kesaksian keluarga, dan kebutuhan dramatik untuk menyusun pertunjukan yang menghubungkan perjalanan masa lalu dengan persoalan kemanusiaan yang masih relevan bagi masyarakat saat ini.

Aktris Maudy Koesnaedi turut terlibat dengan memerankan Sayap Hitam, salah satu karakter dalam pertunjukan. Karakter ini menghadirkan perspektif lain mengenai perempuan, pilihan moral, serta tindakan yang dilakukan seseorang dalam situasi sosial tertentu.

Dalam konferensi pers, Maudy menyampaikan salah satu dialog karakternya, “Aku kan membantu perempuan-perempuan ini untuk mendapatkan penghasilan….”

Dialog tersebut menjadi bagian dari konflik dramatik yang mengajak penonton mencermati alasan di balik suatu tindakan sekaligus mempertanyakan dampaknya terhadap kehidupan orang lain. Karakter Sayap Hitam memberikan ruang bagi penonton untuk melihat persoalan moral melalui sudut pandang yang tidak selalu sederhana.

Selain Joane Win dan Maudy Koesnaedi, pertunjukan ini melibatkan sejumlah pemain, yakni Tika Bravani sebagai Noona Kneefel, Willem Bievers sebagai Van Walsem, Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin, Chloe Gerry sebagai Suyun, Jim Lim sebagai Seng Hoe, Haikal Mubarok sebagai Tuan Lie, Andri Surawan sebagai Buron, dan Andi Solohin sebagai Jagal. Joane Win juga bertindak sebagai produser eksekutif.

Dari Sejarah ke Panggung Teater

Melalui pementasan Njonja Ati Soetji, Regina Art mempertemukan seni teater dengan upaya mengenalkan kembali sejarah perjuangan perempuan. Kisah Auw Tjoei Lan menjadi titik berangkat untuk membicarakan keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sesama, sekaligus mengajak penonton melihat bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa sejarah kemanusiaan Indonesia dibentuk oleh beragam tokoh dan latar belakang. Perjuangan Auw Tjoei Lan sebagai perempuan keturunan Tionghoa memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap kelompok rentan dapat melampaui batas identitas dan menjadi gerakan sosial yang manfaatnya dirasakan lintas generasi.

Pementasan Njonja Ati Soetji akan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan. Pertunjukan ini didukung oleh Indonesia Kaya, Ciputra Artpreneur, BFI Finance, Alcester, Regina Realty, Sariayu Martha Tilaar, dan Le Minerale. XPOSEINDONESIA/IHSAN

spot_img

Must Read

Related Articles