Sekali-sekali kita mengalami pengalaman berbeda, pada saat Hari Kasih Sayang. Ok, pink. Logo love bertebaran. Mengendap rasa cinta, menikmati. Dan memberikan cinta kita pada yang paling kita kasihi dan sayangi. Keluarga, ya so pasti. Anak dan istri. Dan, orang tua.
Atau pada orang-orang terdekat, teman-teman baik. Maka adalah Dameria Hutabarat. Musisi, pianis. Sekian waktu lamanya berkubang di khasanah musik iklan, bersama sang suami terkasih, Dotty Nugroho. Nah menariknya, sesekali kedua laki-bini ini suka aja, tampil dengan konsep masing-masing. Ya tampil. Manggung. Ngeband, on stage. Rekaman.
Pilihan musiknya, ya yang disukai. Yang seringkali didengar dan diresapi saban hari. Yang lantas memperkaya wawasan dan kemampuan bermusik mereka, ya sadar atau ga. Suka ataupun tidak suka. Mungkin juga musik-musik yang disukai, bisa bikin awet muda kan? Aliran darah lancar? Bisa ga? Biasanya sih gitu, bukan?
Bisa juga. Misal dengerin komposisi dari seorang Lyle Mays. Pianis, belakangan lebih dikenal sebagai pemain synthesizer. Musiknya “unik dan khas”. Nama ini populer di kalangan musisi di sini, tak hanya sebatas kibordis. Yang menarik racikan bunyi-bunyiannya dari peranti synthesizersnya sempat menjadi semacam trend di tahun 1980-an dulu di Indonesia sini.



Mays, tandem “sehidup-semati”nya Pat Metheny, dalam komposisi-kompisisi pribadinya mengandung unsur meditative. Menurut Dameria Hutabarat, progresi chordnya Mays relatif cantik. Yang membuatnya menyukai Mays, karena permainan pianonya seringkali dikombinasikan dengan nuansa soundscape yang dihasilkan dari sound synthesizernya. Sehingga, tambah Dameria, memberi kebebasan bagi pendengarnya untuk berimajinasi.
Bahkan seolah Mays menyodorkan ruang tersendiri bagi setiap pendengar musiknya, untuk seperti membuat film di kepalanya sendiri masing-masing. Bermain-main dengan imajinasi masing-masing dilatari permainan musik Mays, yang seringkali emang sih kek “menerbangkan” pendengarnya.
Tak heran, ia menyuguhkan 2 komposisi milik Mays. “Close to Home” (Released 1986, lewat self-titled debut albumnya). Dan, “Mirror of the Heart” (juga dari album yang sama). Dameria juga membawakan karya Pat Metheny, “September Fifteenth”, salah satu inspirasinya dari berpulangnya pianis legendaris, Bill Evans.
Dan lagu karya Metheny tersebut, berasal dari album As Falls Wichita, So Falls Wichita Falls. Dimana pada album tersebut, Mays ikut bermain, tentunya. Selain perkusionis, Nana Vasconcelos.
Konser Dameria Hutabarat tersebut bertitel, Journey to the Sooundscape. Digelar di venue, Ruang Tamu Tony (Prabowo). Di Kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Venue yang unik, karena memang ditempatkan di ruang tamu kediaman seniman musik, Tony Prabowo. Ada sekitar 60 orang penonton yang menyesaki ruang tamu tersebut.
Konser sendiri dibuka dengan komposisi untuk solo piano oleh Phillip Glass, “Etude No.1 & .2”. Lalu berlanjut, “The Fugue” yang adalah karya Keith Emerson. Menyoal pada Keith Emerson, kibordist dari kelompok progressive-rock, Emerson, Lake & Palmer. Dameria bahkan pernah pada beberapa tahun lalu, membentuk grup band khusus memainkan beberapa komposisi grup yang masuk kategori the early progressive-rock supergroup itu.
Dameria mengaku memang menyukai beberapa komposisi karya yang kental nuansa progressive rock pada E, L & P tersebut. Dan karya The Fugue, memang adalah part dari solo piano Keith Emerson. Dameria juga membawakan, “Lachesis from the Three Fates”, masih dari Keith Emerson.
Ada satu nama lain, Hiromi Uehara, pianis jazz muda Jepang yang dikenal lewat energetic live performancenya. Bagus juga, Dameria menonton dan meresapi sajian jazz piano oleh Hiromi. Satu karya Hiromi yang diambil adalah, “Wake Up and Dream”, dari album Spark / The Trio Project.(Hiromi dengan Anthony Jackson dan Simon Phillips).
Menurut Dameria, Hiromi memang menarik hatinya, karena keunikan ide bermusiknya yang memadukan jazz, klasik sampai progressive rock. Sebenarnya dia sangat melopdius dan Dameria menyukai karya-karya melodius dari Hiromi.
Ada juga karya the legendary, mendiang Chick Corea, “Childrens’ Song No. 1,2,3 and 5” yang dimainkan Dameria dengan cukup ekspresif. Sementara sebagai penutup, penonton disuguhkan, “Over the Rainbow”, karya ballad “populer” dari Keith Jarret. Rasanya menjadi satu-satunya lagu, yang paling dikenal semua penonton…
Tapi kemudian atas permintaan audience malam itu, Dameria menyuguhkan encore. Pilihannya jatuh pada karya yang aslinya adalah komposisi untuk solo gitar, “A Map of the World” karya Pat Metheny. Dan berakhirlah konser solo yang menyenangkan itu.
Pada kesempatan konser malam tersebut, Dotty Nugroho juga turun tangan. Dimana Dotty, sang suami, bertugas khusus, menambahkan nuansa spatial melalui permainan effects seperti reverb dan delay. Yang diterima telinga penonton dari 8 speakers yang diletakkan secara surround di areal konser.
Menjadikan sebuah pengalaman spesial dalam soal menikmati sebuah recital piano, terutama dengan suguhan berbagai “lintas genre”. Dotty juga mengemas penampilan sang istri ke dalam sebuah album rekaman. Sebagai dokumentasi saja, disimpan sebaik-baiknya, tutur Dotty.
Seusai konser, Sebagian besar penonton masih berada di venue. Beramah Tamah dengan minuman penyegar dan penganan yang disediakan. Terlihat beberapa nama seniman seperti sutradara Riri Riza, sutradara pertunjukkan, Jay Subyakto. Tokoh show-production, Toto Arto. Aktor, Arswendy Nasution. Pianis jazz kontemporer muda, Sri Hanuraga. Kibordis dan Music Director, Krisna Prameswara. Musisi progressive-rock, Iwan Hasan.
Ada pula tokoh penggerak jazz, Chico Hindarto, pematung Dolorosa Sinaga. Musisi kontemporer Arjuna Hutagalung. Juga Erros Djarot, Doddy Soekasah. Selain tokoh pers, Goenawan Mohamad. Tentu juga sang tuan rumah, Tony Prabowo.*/dM



