Merevitalisasi Destinasi Wisata di Indonesia.

20 September 2020

Pandemi Covid 19 telah mengubah pola wisata,  yang awalnya dari mass tourism ke quality tourism.  Karena itu pula pada masa mendatang, memasuki kehidupan normal yang baru,  para wisatawan akan lebih banyak mencari destinasi wisata yang mengedepankan kebersihan dan memberikan rasa aman juga nyaman dalam berwisata. 

Pemerintah  sendiri hadir untuk mewujudkan aspek kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan guna membangun pariwisata berkelanjutan.

Musisi & Pemerhati Kelestarian Alam dan Lingkungan, Kaka Slank, mengatakan pandemi telah memberikan waktu buat alam untuk rehat sejenak. Setelah alam mempercantik dirinya kembali, wisatawan harus memiliki pengetahuan mengenai how to travel supaya wisatawan bisa menghargai dan merawat alam Indonesia. Tentunya dengan selalu menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. 

“Sebetulnya kedisiplinan kita adalah dalam bentuk rasa sayang kita terhadap orang lain juga terhadap alam. Untuk itu, marilah kita cerdas dalam berwisata dan selalu memperhatikan protokol kesehatan,” jelas Kaka Slank dalam  seminar daring bertajuk “Bincang-bincang Revitalisasi Bumi: Sinergi & Kolaborasi Menjaga Bumi”, Jumat (18/9/2020). 

Dalam seminar yang diselenggarakan oleh  Kemenparekraf/ Baparekraf ini  muncul pula sejumlah pembicara antara lain  Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/ Baparekraf, Rizki Handayani,   Analis Kebijakan Kemenparekraf, Noviendi Makalam Founder & Executive Director of Divers Clean Action, Swietenia Puspa Lestari, dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Moh. Faozal

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/ Baparekraf, Rizki Handayani, mengatakan acara revitalisasi bumi bertujuan untuk merevitalisasi destinasi wisata di Indonesia. 

Ketika tidak ada wisatawan yang datang berkunjung akibat pandemi maka ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali sekaligus membersihkan alam Indonesia.

“Karena yang bisa mencegah penyebaran COVID-19 ini di antaranya dengan menjaga kebersihan. Masalah kebersihan bukan hanya melibatkan diri sendiri, tetapi juga kebersihan lingkungan yang ada di sekitar kita,” kata Rizki Handayani.

Rizki Handayani berharap melalui revitalisasi bumi,  dapat meningkatkan citra pariwisata Indonesia, khususnya kepada wisatawan mancanegara, bahwa Indonesia sedang bersiap untuk menerima wisatawan kembali.

Dalam kesempatan yang sama, Analis Kebijakan Kemenparekraf, Noviendi Makalam mengatakan salah satu yang harus tetap dipertahankan di masa pandemi dan setelah pandemi berakhir adalah penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE. 

Hal ini dapat menjadikan destinasi pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia untuk berkembang dengan baik dan berkelanjutan.

“Pandemi telah memberikan pelajaran berharga,  bahwa sebagai manusia, kita  harus menjaga dan merawat bumi dengan sebaik-baiknya,” kata Noviendi.

Sementara itu Founder & Executive Director of Divers Clean Action, Swietenia Puspa Lestari, menjelaskan kegiatan revitalisasi bumi bukan hanya sekadar bersih-bersih pantai, tetapi memberikan insight mengenai langkah-langkah yang harus diterapkan untuk mewujudkan CHSE di setiap titik destinasi. Salah satu masalah yang dihadapi di setiap titiknya ialah mengenai kebersihan.

“Ini tercermin dari data hasil pembersihan sampah yang kita lakukan bersama lebih dari 1600 pekerja wisata bahari di 16 titik yang tersebar di Bali dan Lombok. Dari sampah yang dikumpulkan di area Bali dan Lombok, ada sekitar 3,11 ton yang berhasil ditangani,” ujar Swietenia.

Swietenia berharap revitalisasi bumi, tidak hanya sebagai seremonial, tetapi langkah awal untuk menentukan langkah selanjutnya guna melestarikan lingkungan alam Indonesia.

Lombok sebagai salah satu destinasi super prioritas telah menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) sebagai upaya untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan sekaligus mendorong destinasi wisata di dalamnya dapat bangkit kembali.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Moh. Faozal memberikan apresiasi kepada Kemenparekraf dan seluruh stakeholders yang terlibat dalam penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE. 

Faozal juga menjelaskan ada empat area destinasi wisata di Lombok yang siap untuk melakukan standarisasi protokol kesehatan berbasis CHSE, yaitu Gili, Rinjani, Mandalika, dan Kota Mataram. 

“Empat area ini kami fokuskan untuk sertifikasi CHSE. Karena, CHSE ini merupakan acuan untuk kita dan harus diterapkan di seluruh destinasi wisata di Indonesia,” kata Faozal. XPOSEINDONESIA Foto : Biro Komunikasi Kemenparekraf

 

More Pictures

Last modified on Monday, 21 September 2020 10:43
Login to post comments