Akhlis Suryapati Pimpin Kepala Sinematek Indonesia

04 July 2019

Masa kerja Abdisurya Abdy sebagai  pimpian Sinematek Indonesia (SI)  berakhir pada 2019. Pucuk pimpinan dialihkan kepada Akhlis Suryapati.  Serah terima jabatan  disaksikan para pengurus Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Akhlis akan memimpin lembaga Pusat Data dan Informasi Perfilman Sinematek Indonesia selama periode 2019-2021.

Dalam siaran pers pertamanya yang diterima Xposeindonesia pada Kamis (4/7/2019,) Akhlis mengatakan Pusat Arsip dan Data Film Sinematek Indonesia tidak pernah terancam bangkrut, serta mempunyai sumber dana untuk membiayai kelangsungannya.

“Di awal berdirinya, Sinematek yang dirintis oleh Asrul Sani dan Misbah Yusa Biran, mengandalkan modal dari dua tokoh itu, dengan para sukarelawan yang dihonor seadanya. Kini karyawan Sinematek bisa mendapatkan gaji yang layak, jaminan kesehatan, jaminan ketenagakerjaan, juga jaminan pensiun,” kata Akhlis.

Akhlis Suryapati yang juga wartawan dan sutradara film itu lebih lanjut mengatakan, jika saat ini Sinematek tidak lagi terbesar di Asia Tenggara,  itu disebabka  karena negara lain, seperti Thailand, membangun pusat arsip dan data perfilman dengan dibiayai uang Negara. Sinematek Indonesia adalah pusat arsip dan data film yang dikelola oleh swasta, Yayasan Pusat Perfilman H.Usmar Ismail (YPPHUI). 

“Saya kira YPPHUI mempunyai sumber dana yang membuat Sinematek tidak pernah terancam bangkrut,” ujar Akhlis .

Masyarakat perfilman juga banyak partisipasi untuk kelangsungan Sinematek.

Menurut Akhlis Suryapati, orang sependapat bahwa keberadaannya  Sinematek sangat penting dan dibutuhkan masyarakat Indonesia maupun masyarakat Internasional untuk riset, penelitian, referensi, pembelajaran. Lalu orang membayangkan, ruangannya adem dan tenang untuk membaca, sinemanya menggelegar kalau dipakai menonton film, gudang penyimpanannya memiliki temperature stabil sesuai standar pengarsipan film, dan fasilitas pengarsipan serta penyimpanannya data tersusun dalam filing-filing yang rapi, terjaga baik materi aslinya maupuncontent filmnya terdigitalisasi dalam server.

“Lha kalo tuntutannya seperti itu, yang Sinematek belum mampu mewujudkan. Duit dari Hongkong,” katanya. “ Tetapi sejauh saya dekat dengan Sinematek sejak zaman dipimpin Pak Misbah, Sinematek belum pernah terancam bangkrut. Kalau pernah mengalami masa-masa miskin, barangkali iya.” katanya.

Kini, Sinematek mempunyai 14 pegawai, dan  berusaha merawat koleksi arsipnya yang mencapai lebih dari 2.700 judul film serta 15 ribu dokumentasi tentang film berupa kliping berita, poster, skenario, buku, peraturan perfilman, dan peralatan lawas produksi film. XPOSEINDONESIA/Foto : Dok.Toto Sugriwo

 

 

 

 

 

Last modified on Thursday, 04 July 2019 12:41
Login to post comments