Harmoni Persahabatan : Teater Musikal Membuka Hati

16 July 2019

Lebih dari 40 anak penyandang disabilitas dari SLB Autis Harapan Mandiri tampil di atas panggung Ball Room Novotel Palembang (12/07). Mereka muncul dalam teater musikal bertajuk “Harmoni Persahabatan”.  Mereka menyanyi, menari, bermain musik,  membaca puisi, berpantomim, dan bermain drama.  

Upaya anak penyandang disabilitas tampil  menyentuh, memukau dan percaya diri itu berkat kerja keras dan latihan  gigih dari  para pelatih antara lain Fera Karolina, Ahmad Zaki, Agus Setiawan Pratama, Asnizar dan Suci Rohani.

Yang unik,  dalam pementasan itu muncul pula Menteri  Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  (PPPA), Prof DR. Yohana Yambise  Dip, Apling,  MA (berperan sebagai kepala sekolah) dan Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru, S,H, M.M (berperan sebagai Wali Kelas).

Kisah dramanya dimulai dari seorang anak normal, yang tertarik  masuk sebuah sekolah inklusif, yang terletak dekat rumahnya. Namun, orang tua si anak  justru keberatan, karena menganggap siswa penyandang disabilitas  yang ada dalam sekolah inklusif itu bisa  menular.

“Sekolah inklusif dalam lakon ini memang ada di Palembang, di Jalan Angkatan 45 Ir. Harapan Baru.  Sekolah yang diperuntukkan bagi penyadang disabilitas ini, bisa  juga menerima siswa umum. Biasanya kan sekolah umum yang menerima kehadiran siswa disabilitas. Di sini malah terbalik,” kata Yen Sinaringati, Produser Eksekutif dari Musik Hana Midori (MHM), sekaligus  penulis cerita  drama ini bersama bersama Kak Ria (sutradara) dan Khairul Amin .

Lewat drama ini, MHM  menorehkan sejarah baru dalam dunia teater Musikal Indonesia. Salah satunya adalah karena pentas ini bisa mempertemukan pejabat pemerintah turun berakting bersama anak-anak penyandang disabilitas, dengan tema drama  yang menyentuh. 

Herman Deru seusai pentas  mengaku terharu. “Saya tidak tahan, sampai menghabiskan beberapa lembar tissue untuk menyeka air mata,” katanya.

Ia memuji  pentas teater musikal   ini sebagai  bagian untuk membuktikan bahwa  para penyandang disabilitas, “punya intelektualitas yang tak kalah dengan anak normal. Sayangnya masih banyak orang tua yang memiliki anak disabilitas, lebih suka menyembunyikannya!”

Hermana Deru lebih lanjut menyebut, anak-anak disabilitas tidak perlu disembuyikan, “Tapi harus diberi ruang bersosialisasi  dan difasilitasi. Caranya  dengan membuat kegiatan seperti  yang digelar KPPPA hari ini. Bahkan harus bisa dibuat sampai ke kabupaten/kota. Ini tugas dinas terkait untuk merangkul mereka.” 

Menteri Yohana di saat berbeda memuji  teater musikal ini sambil menyebut, “Sebuah Informasi, jika ditampilkan  dalam bentuk drama,  akan  jauh lebih hidup  dan tidak monoton. Orang mau bertahan menonton  sampai habis, padahal durasinya cukup panjang, ya. Saya senang dan suka sekali hari ini!”  

Drama Musikal Non Mainstream 

Yen menyebut drama musikal ini memang sekaligus sebagai ajang untuk menyebar luaskan pemahaman tentang pentingnya  masyarakat umum  membuka  hati  terhadap keberadaan sahabat disabilitas. "Karena sesungguhnya sahabat disabilitas itu tetap sama dengan kita. Memiliki impian,  punya bakat yang bisa dilatih jika diberi kesempatan!"

Yen menyebut,  pentas  musikal  tersebut dibuat sebagai bagian utama dari prosesi penyerahan hadiah  untuk 15 Penyaji  Naskah Terbaik   dari kegiatan  penulisan Suara Anak Penyandang Disabilitas (SAPD)  oleh peserta Disabilitas dengan tema “Dengarkan Curhatan Kami”.  Kegiatan tersebut digagas  Deputi Bidang Perlindungan Anak   KPPPA, yang pelaksanaannya dikerjakan bersama MHM. 

“Kami ingin menampilkan penganugerahan kepada para Penyaji Naskah Terbaik dengan suasana berbeda,  tidak sekadar sebuah seremonial mainstream, di mana Menteri dan Gubernur berpidato, pemenangnya naik panggung menerima hadiah,” kata Yen. 

Yen kemudian menggodok ide bersama  Deputi Bidang Perlindungan Anak  Nahar SH, MSi  dan membuat konsep  teater musikal.   “Di mana di dalamnya ada lagu, tarian tradisional dan modern,  pantomim, permainan musik dengan biola. Dan lagu utama di ujung acara adalah lagu “Aku Anak Indonesia, yang dihasilkan dari Lomba Lagu Anak Nusantara beberapa tahun lalu,” kata Yen, 

Yen berharap, “acara ini  tidak hanya berjalan secara sporadis. Namun bisa menjadi kegiatan yang terus berlanjut menjadi kalender rutin bagi KPPA bersama MHM,  “Karena lewat SAPD inilah, kita bisa  menggugah pemikiran banyak orang umum, bahwa  dalam hidup ini, kita penuh dengan banyak perbedaan. Dan hidup kita menjadi lebih dilengkapi  justru dengan keistimewaan-keistimewaan dari sahabat disabilitas!”

Suara  “Menggugat” dari  Anak Penyadang Disabilitas

Anak penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan anak lain untuk mencapai integrasi sosial dan pengembangan individu. Mereka juga bisa  menyampaikan pendapat, tentang apa yang dirasakannya, sekaligus menyampaikan harapan-harapannya sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomer 8 Tahun 2016 Penyandang Disabilitas.

Mengingat pentingnya negara untuk mendengarkan pendapat anak penyandang disabilitas, maka perlu dilakukan usaha atau kegiatan yang dapat menampung suara mereka. 

Salah satu usaha yang dilakukan Deputi Bidang Perlindungan Anak   KPPPA adalah dengan memfasilitasi lahirnya kegiatan Suara Anak Disabilitas (SAPD) yang diharapkan bisa menjadi media penyampaian pendapat anak. Peserta boleh menyampaikan gagasan  dalam bentuk tulisan dengan tema Lingkungan, Pendidikan, Transportasi dan lain-lain.  Pelaksanaan kegiatan ini dikerjakan bersama dengan Musik Hana Midori.

SAPD sendiri adalah sebuah kegiatan yang  membuka kesempatan khusus bagi anak-anak disabilitas untuk mengirimkan karya tulis mereka. Kegiatan ini berlangsung dari bulan April hingga Juni 2019. 

Menurut Deputi Bidang Perlindungan Anak Nahar SH, Msi, para peserta kegiatan ini terbagi dalam 5 kategori disabilitas, yaitu: Disabilitas Fisik, Disabilitas Intelektual, Disabilitas Mental, Disabilitas Sensorik dan Disabilitas Ganda/Multi, dengan usia peserta adalah sebelum 18 tahun, dan khusus untuk anak penyandang disabilitas intelektual boleh sampai dibawah usia 25 tahun. 

“Ada 103  yang  masuk ke panitia dan dinilai oleh Dewan Juri. Kami memilih 15 Penyaji Terbaik, dari masing-masing kategori  disabilitas yang  diwakili oleh 3 Penyaji Terbaik,” kata Nahar SH, MSi sambil menyebut  nama-nama  juri   yakni Prof Irwanto, Ph.D, Dewi Tjakrawinata, Dra Eva Rahmi Kasim, MDS , Rina Prasarani, dan  Angkie Yudistia.

Inti dari kegiatan ini adalah anak-anak disabilitas punya kesempatan untuk berkreasi dan berpartisipasi. “Kami ingin mensosialisasikan kepada masyarakat, khususnya para orang tua untuk tidak mengabaikan suara anak-anak terlebih anak dengan disabilitas. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong anak-anak disabilitas untuk lebih berani dalam berpendapat,”  kata Menteri  Yohana Yambise 

Menurut, Yohana Yambise   tujuan akhir dari SAPD adalah supaya masyarakat ikut mendukung mereka menjadi mandiri. “Lebih penting lagi, kumpulan naskah terbaik yang ide awalnya seperti mereka mau menyampaikan curhatan pada Mama Yo, yakni pada saya itu, kami terbitkan dalam bentuk buku. Sangat  diharapkan buku ini bisa menjadi acuan bagi pengambil kebijakan,  juga lembaga yang melakukan advokasi terkait anak disabilitas, agar mereka mengetahui lebih dalam, tentang  harapan dan keinginan anak-anak disabilitas untuk kemudian bisa menjadi bahan  dalam membuat kebijakan berikutnya,” jelas Menteri Yohana. XPOSEINDONESIA/NS Foto : NS

Inilah Para Penyaji Terbaik dalam ajang  Suara Anak Disabilitas 2019

Penyaji  Karya Terbaik  Disabilitas Fisik

1. Asyaffa Nur Julia

2. Ataraka Abanaya

3. Novia Kusuma Anggraini

Penyaji  Karya Terbaik  Disabilitas Sensorik Netra

1. Putri Theresia Giawa

2. Viqhli Alif Nur Restu Wardhana

3. Wahyu Eko Prasetyo

Penyaji Karya Terbaik  Disabilitas Sensorik Rungu

1.Hilma Faula Ni’matur Rachman

2. Revara Alya Almasya

3. Mutiara Ilmi Rana

Penyaji Karya Terbaik Disabilitas Mental, Intelektual dan Multi/Ganda

1. Afra Nada Adistia

2. Dewi

3. Sulis Sawaliyah

4. Faiza Yustiandari

5. Delvin Delvino

6. Aryo Panembahan Notowijoyo

More Pictures

Last modified on Tuesday, 16 July 2019 14:52
Login to post comments