Print this page

210 Ekor Kuda, Ramaikan Festival Sandalwood 2019

15 July 2019
210 Ekor Kuda, Ramaikan Festival Sandalwood 2019

Kuda Sandal adalah salah satu jenis kuda terbaik di Indonesia, sebagian karena fakta bahwa ini adalah jenis campuran dengan kuda-kuda Arab. Mereka sangat populer di pacuan kuda, baik di jalur flat atau harness. 

Mereka juga digunakan dalam pacuan tanpa pelana yang diadakan di pulau-pulau, dengan trek yang sering mencakup lebih dari tiga mil. Secara tradisional hewan ini digunakan untuk pekerjaan ringan, pertanian, ataupun mengangkut barang.

Memeriahkan Festival Sandalwood 2019 di hari kedua pada Jumat (12/7/19), sebanyak 210 ekor kuda mengikuti Parade Kuda Sandal di padang savana Puru Kambera, Kanantang, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Masyarakat yang berpartisipasi dalam parade itu berasal dari 5 Kecamatan seperti Waingapu, Kambera, Pandawai, Kanatang, serta Haharu.

Inilah ikon Sumba tersebut. Kuda Sandal yang perkasa ditampilkan lewat beberapa tema fragmen dengan segala macam pernak pernik yang menyertainya. Ini merupakan aksi yang paling ditunggu masyarakat.

Dalam sambutannya Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Laiskodat sangat bersyukur bisa menikmati Parade Kuda Sandal di alam bebas seperti ini. Ia merencanakan pada festival Sandalwood mendatang akan diikuti perwakilan masyarakat dari seluruh kabupaten di Pulau Sumba. Bukan cuma 210 ekor, nantinya festival tersebut bakal diikuti 5.000 ekor Kuda Sandal. Pemerintah pun berkomitmen menghadirkan infrastruktur pendukung di venue Puru Kambera.

Dilatarbelakangi hamparan bukit savana yang berbatasan langsung dengan pantai Puru Kambera, parade dimulai dengan kehadiran delegasi Pandawai yang menampilkan tema Peristiwa Penguburan Raja.

Tampil lengkap dengan beragam piranti upacara, kelompok ini merekonstruksi prosesi penguburan, lewat simulasi pengorbanan berupa kuda dan hambanya. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, bila raja meninggal harus disertai dengan kuda dan seorang hamba. Masyarakat setempat percaya, kuda dan hamba itu menjadi pendamping sang raja di alam baka.

Suasana kian meriah, saat perwakilan dari Haharu menampilkan simulasi Tradisi Berburu Masyarakat Bumi Merapu. Suasana menjadi hiruk pikuk ketika dari jauh terlihat serombongan kuda dilarikan dengan kencang menuju pusat kumpul di tengah panggung. Debu-debu putih berterbangan menjulang menyongsong langit

Mereka menaiki kuda lengkap dengan beragam peralatan berburu, seperti tombak. Biasanya masyarakat setempat berburu babi dan rusa. Tradisi yang sudah dijalankan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang mereka. Apalagi, Haharu dipercaya sebagai lokasi pendaratan nenek moyang mereka di Sumba.

Tema berbeda disajikan utusan Kecamatan Kanatang. Mereka menampilkan simulasi Perang, lengkap dengan tombak dan perisai. Ini menjadi simbol masyarakat Bumi Merapu siap mempertahankan tanahnya dari cengkeraman penjajah. Tema serupa juga ditampilkan delegasi dari Waingapu.

Sementara itu, prosesi meminang (Purru Ngadi) disajikan delegasi asal Pandawai. Aktivitas ini melibatkan 2 keluarga besar dari pihak mempelai putra dan putri. Saat meminang, keluarga mempelai lelaki membawa beragam barang-barang hantaran. Selanjutnya, delegasi Pandawai menampilkan prosesi membawa pengantin wanita atau Plai Ngandi Tau.

Fragmen tersebut akhirnya menutup jalannya Parade Kuda Sandal dengan segala kemeriahannya...- XPOSEINDONESIA Teks dan Foto AM

More Pictures

 

Last modified on Monday, 15 July 2019 18:43
XPOSE INDONESIA
Login to post comments