Panembahan Reso Bangkit Lagi

29 April 2019

Drama karya WS Rendra , bertajuk “Panembahan Reso” bakal dipentaskan kembali  pada tanggal 19-20 Desember 2019 di Teater Ismail Marzuki. Adalah tiga orang produser yakni  Imran Hasibuan dan Seno Joko Suyono (dari Borobudur Writer dan Cultural Festival) serta Auri Jaya dari Genpi.co yang memiliki  ide memanggungkan kembali  drama tersebut. 

"Panembahan Reso" adalah drama yang merefleksikan bagaimana di suatu pemerintahan terjadi perebutan  kekuasaan  yang diraih dengan cara licik dan  penuh  darah.  Demi kekuasaan, anak-istri, saudara, dan sahabat pun dikorbankan. 

Panembahan Reso sejatinya adalah epos yang merefleksikan betapa hasrat membabi buta terhadap kekuasaan,  selalu menimbulkan aspek aspek delusional terhadap seorang pemimpin dan pengikutnya. Sejumlah pengamat budaya mengatakan  Panembahan Reso mampu membedah watak dan psikologi seorang pemimpin,  yang telah kehilangan kontrol terhadap akal sehat dan terseret ke ilusi-ilusi pribadi.

Imran Hasibuan menyebut, Panembahan Reso pertama kali muncul di tahun 1986. “Dan akan kami pentaskan kembali untuk mengenang karya WS Rendra. Sejak akhir Januari  lalu,  kita sudah bergerak untuk memulai pertunjukan teater ini,“ ucap Imran di Bengkel Teater WS Rendra, Cipayung, Depok, Jawa Barat, Jumat (26/4/2019).

Diakui Imran, pementasan ini menjadi tantangan tersendiri,  apalagi ini  merupakan salah satu karya  drama orisinal milik WS Rendra yang  sangat terkenal hingga Jepang dan Amerika, namun mulai dilupakan,  apalagi  oleh generasi Milenial hari ini.

"Semoga ini bisa menginspirasi generasi Milenial buat mengetahui dan mengenang kembali karya WS Rendra. Oleh karenanya, pementasan ini harus jalan. Kami sepakat,  kita harus merekonstruksi pementasan teater ini meskipun tidak menampilkan secara utuh seperti aslinya," ulas Imran lagi.

Rekonstruksi yang dimaksud Imran adalah,  karena versi asli  pementasan Panembahan Reso berdurasi 7 jam.  “Pentas kami akan tampil sepanjang 3 jam,  namun sisi dramatisnya tetap akan kuat melekat," tambah Imran.

Sha Ine Febriyanti, salah satu artis yang terlibat  dalam drama ini, mengatakan bahwa pertunjukan teater ini terasa berat buat dirinya. Apalagi peran ini menantang,  di mana ia  memiliki hasrat untuk membunuh pasangannya.

"Saya belum mengalami hal seperti ini,  namun harus dilalui dalam batin saya, apalagi karakter Ratu Dara lebih bengis, tatarannya lebih kelihatan dan belum pernah saya mainkan selama ini," tukasnya.

Di balik panggung Panembahan Reso  melibatkan beberapa nama yakni Hanindawan (sutradara), Sosiawan Leak (asisten sutradara), Dedek Wahyudi (penata musik), Hartati (penata tari/koreografer), Hardiman Radjab (penata artistik/skenografer), Retno Damayanti (penata busana/kostum) dan Sugeng Yeah (penata lampu). Sebagai konsultan pertunjukan tercatat: Ken Zuraida, Edi Haryono, Iwan Burnani Toni dan Bambang Bujono.

Sementara di jajaran artis pendukung, selain Sha Ine Febrianti,  muncul nama lain Whani Darmawan, Gigok Anuraga, Djarot Budi Darsono, Kodok Ibnu Sukodok, Meong Purwanto, Dedek Witranto, Maryam Supraba, Sruti Respati, Ruth Mariani, Ucie Sucita dan Dimas Danang. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Istimewa

 

Last modified on Monday, 29 April 2019 13:21
Login to post comments