Kementerian PPPA Gelar  Curhat  Anak Penyandang Disabilitas

12 April 2019

Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengelar kegiatan tulis menulis  yang diperuntukan khusus bagi anak peyandang disabilitas dengan tajuk “Suara Anak Disabilitas”.

Kegiatan yang  diselenggarakan oleh Deputi Bidang Perlindungan Anak  bekerjasama dengan Musik Hana Midori  ini,  “bakal menjadi ruang baru bagi anak penyandang disabilitas dalam mempergunakan hak  mereka  untuk menyampaikan pendapat, tentang apa yang mereka rasakan dan mengurai harapan-harapan mereka,” kata Nahar SH, M.Si, Deputi Bidang Perlindungan Anak dalam jumpa wartawan,  di Jakarta 10/4. 

Nahar lebih jauh menyebut,  ada kenyataan di masyarakat  bahwa keluarga yang memiliki anak penyandang disabilitas,  jarang  mau melibatkan si anak dalam  berbagai kegiatan, “Bahkan ada anggapan, si anak tidak  perlu disekolahkan. Ini persepsi yang  kurang  menguntungkan bagi perkembangan si anak! 

Kegiatan yang baru pertama kali diselenggarakan oleh Kemen PPPA ini, menurut  Rina Prasarani, salah satu dewan juri,   akan mengundang partisipasi  peserta   anak-anak penyandang disabilitas, yang terbagi dalam 5 kategori, yaitu : “Disabilitas Fisik, Disabilitas Intelektual, Disabilitas Mental, Disabilitas Sensorik dan Disabilitas Ganda/Multi, dengan usia peserta adalah sebelum 18 tahun, dan khusus untuk anak penyandang disabilitas intelektual boleh sampai dibawah usia 25 tahun!”

Dalam menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam tulisan, para peserta yang  tidak dapat menulis  dalam format tulisan latin, dapat megungkapkannya dalam bentuk bahasa isyarat atau dalam bentuk suara, atau dalam huruf braile. Namun, pendamping  atau orang tua perlu menterjemahkannnya ke dalam bentuk tulisan latin sesuai ketentuan.  “Video atau rekaman suara dapat dilampirkan disertai dengan surat pernyataan bahwa tulisan yang diterjemahkan tersebut benar karya anak penyandang disabilitas,” kata Rina  sambil menyebut empat nama juri lainnya yakni Prof Irwanto, Ph.D, Dewi Tjakrawinatam, Dra Eva Rahmi Kasim, MDS dan Angkie Yudisti.

Menurut Rina, tema tulisan untuk “Suara Anak Disabilitas”,  “adalah Dengarkan Curhatan Kami, dengan subtema : Pendidikan/Pelatihan, Olahraga, Seni. Pariwisata. Transportasi, Kesehatan dan Ruang bermain. Peserta bebas memilih subtema dan menceritakan apa yang mereka alami dan harapan apa yang mereka inginkan di masyarakat.”

Sementara itu, Yen Sinaringati, Produser Eksekutif  dari Musik Hana Midori yang akan mengerjakan soal teknis  event ini, menyebut pengumpulan materi naskah sudah dilakukan sejak 8 April sampai batas akhir pada 8 Juni 2019. 

“Karya perseorangan yang dikirim wajib asli  dan tidak boleh memuat unsur pornografi dan SARA. Naskah bisa  dikirim ke email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.,” kata Yen

Kegiatan yang tidak dipungut biaya ini, menyediakan tropi dan hadiah dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. “Karya yang dianyatakan menang, ada rencana akan kami bukukan,” ungkap Nahar.

Nahar sangat berharap, ajang ini akan menjadi sarana komunikasi bagi anak penyandang disabilitas melalui tulisan;  sekaligus juga menjadi sarana edukasi bagi keluarga yang memiliki anak penyandang disabilitas;

 “Sekaligus bisa menjadi sarana informasi bagi masyarakat luas dalam memahami anak penyandang disabilitas; meningkatkan kepedulian publik terhadap anak penyandang disabilitas; meningkatkan kepercayaan diri anak penyandang disabilitas; “Sekaligus ikut mendukung kebijakan pemerintah terhadap anak penyandang disabilitas sesuai Konvensi Hak Anak Pasal 23 dan UU Nomor 35 Tahun 2014!”

 “Suara  Anak  Disabilitas”

Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengelar kegiatan tulis menulis  yang diperuntukan khusus bagi anak peyandang disabilitas dengan tajuk “Suara Anak Disabilitas”.

Kegiatan yang  diselenggarakan oleh Deputi Bidang Perlindungan Anak  bekerjasama dengan Musik Hana Midori  ini,  “bakal menjadi ruang baru bagi anak penyandang disabilitas dalam mempergunakan hak  mereka  untuk menyampaikan pendapat, tentang apa yang mereka rasakan dan mengurai harapan-harapan mereka,” kata Nahar SH, M.Si, Deputi Bidang Perlindungan Anak dalam jumpa wartawan,  di Jakarta 10/4. 

Nahar lebih jauh menyebut,  ada kenyataan di masyarakat  bahwa keluarga yang memiliki anak penyandang disabilitas,  jarang  mau melibatkan si anak dalam  berbagai kegiatan, “Bahkan ada anggapan, si anak tidak  perlu disekolahkan. Ini persepsi yang  kurang  menguntungkan bagi perkembangan si anak! “

Kegiatan yang baru pertama kali diselenggarakan oleh Kemen PPPA ini, menurut  Rina Prasarani, salah satu dewan juri,   akan mengundang partisipasi  peserta   anak-anak penyandang disabilitas, yang terbagi dalam 5 kategori, yaitu : “Disabilitas Fisik, Disabilitas Intelektual, Disabilitas Mental, Disabilitas Sensorik dan Disabilitas Ganda/Multi, dengan usia peserta adalah sebelum 18 tahun, dan khusus untuk anak penyandang disabilitas intelektual boleh sampai dibawah usia 25 tahun!”

“Dalam menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam tulisan, para peserta yang  tidak dapat menulis  dalam format tulisan latin, dapat megungkapkannya dalam bentuk bahasa isyarat atau dalam bentuk suara, atau dalam huruf braile. Namun, pendamping  atau orang tua perlu menterjemahkannnya ke dalam bentuk tulisan latin sesuai ketentuan. 

“Video atau rekaman suara dapat dilampirkan disertai dengan surat pernyataan bahwa tulisan yang diterjemahkan tersebut benar karya anak penyandang disabilitas,” kata Rina  sambil menyebut empat nama juri lainnya yakni Prof Irwanto, Ph.D, Dewi Tjakrawinatam, Dra Eva Rahmi Kasim, MDS dan Angkie Yudisti.

Menurut Rina, tema tulisan untuk “Suara Anak Disabilitas”,  “adalah Dengarkan Curhatan Kami, dengan subtema : Pendidikan/Pelatihan, Olahraga, Seni. Pariwisata. Transportasi, Kesehatan dan Ruang bermain. Peserta bebas memilih subtema dan menceritakan apa yang mereka alami dan harapan apa yang mereka inginkan di masyarakat.”

Sementara itu, Yen Sinaringati, Produser Eksekutif  dari Musik Hana Midori yang akan mengerjakan soal teknis  event ini, menyebut pengumpulan materi naskah sudah dilakukan sejak 8 April sampai batas akhir pada 8 Juni 2019. 

“Karya perseorangan yang dikirim wajib asli  dan tidak boleh memuat unsur pornografi dan SARA. Naskah bisa  dikirim ke email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.,” kata Yen

Kegiatan yang tidak dipungut biaya ini, menyediakan tropi dan hadiah dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. “Karya yang dianyatakan menang, ada rencana akan kami bukukan,” ungkap Nahar.

Nahar sangat berharap, ajang ini akan menjadi sarana komunikasi bagi anak penyandang disabilitas melalui tulisan;  sekaligus juga menjadi sarana edukasi bagi keluarga yang memiliki anak penyandang disabilitas;

 “Sekaligus bisa menjadi sarana informasi bagi masyarakat luas dalam memahami anak penyandang disabilitas; meningkatkan kepedulian publik terhadap anak penyandang disabilitas; meningkatkan kepercayaan diri anak penyandang disabilitas; “Sekaligus ikut mendukung kebijakan pemerintah terhadap anak penyandang disabilitas sesuai Konvensi Hak Anak Pasal 23 dan UU Nomor 35 Tahun 2014!” XPOSEINDONESIA  Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures

Last modified on Friday, 12 April 2019 14:24
Login to post comments