Produksi dan Penonton Film Nasional Meningkat

28 March 2019

Dalam lima tahun terakhir, perkembangan jumlah penonton di Tanah Air menunjukan peningkatan yang sangat baik. Tercatat  15 juta  penonton (2014), 15 juta penonton (2015), 37 juta  penonton (2016), 42 juta  penonton (2017), 46 juta  penonton (2017).

Sementara itu, data Pusbangfilm Kemendikbud juga menyebutkan jumlah film Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang meningkat dalam lima tahun terakhir.  Tercatat 109 film (Data Pusbangfilm Kemendikbud menyebutkan jumlah film Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan dalam lima tahun terakhir.  109  film (2014), 114 film (2015), 149 film (2016), 141 film (2017), dan 201 film (2018).

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid mengatakan,  “Kini, yang perlu diperhatikan adalah kualitas dari film. Dan sertifikasi kompetensi untuk insan film akan meningkatkan sektor perfilman,” ungkapnya dalam taklimat media di Jakarta, Rabu 27/03 dalam rangka menyambut Hari Film Nasional.

Standar kompetensi merupakan amanat UU Nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman pasal 74 ayat 1 dan 2 yang menyebutkan setiap insan perfilman harus memenuhi standar kompetensi melalui sertifikasi.

Sementara itu, Ahmad Yani Basuki,  Ketua Lembaga Sensor Film, menyebutkan  bahwa film merupakan investasi budaya. dan tak heran film yang mengangkat budaya lokal cukup tinggi perkembangannya. "Film yang mengangkat budaya ini, tidak hanya dinikmati di dalam negeri. Tetapi juga luar negeri," kata Ahmad.

Muatan kearifan lokal ini sangat menarik untuk difilmkan, ditambah lagi Indonesia memiliki pasar yang tinggi. Oleh karena itu, dia meminta kepada insan perfilman untuk peduli dengan budaya lokal dan jangan sampai dikuasai asing.

Hal itu disetujui  Djonny Syafruddin  Ketua Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI). Dalam pengamatan Djohnny, “di bioskop saya di Makasar justru film lokal  berjudul “Uang Panai” penontonnnya  jauh lebih banyak dari  film “Mission Impossible”.” 

Hanya menurut Djonny beberapa  film yang bermuatan lokal  dan menggunakan Bahasa daerah biasanya hanya bisa sukses di daerah yang paham bahasa tersebut. “Contoh kasus  film "Yowis Ben", di Jawa dia laku. Tapi kurang laku di Sumatra atau Makassar!” 

Dalam pengamatan Djonny, pemerintah seharusnya ikut aktif membantu pembuatan layar lebar di daerah dengan menyokong modal pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bioskop. Apalagi, salah satu kendala yang dihadapi pengusaha bioskop independen adalah keterbatasan modal.

Dalam perhitungannya, untuk membangun sebuah studio bioskop dibutuhkan dana minimal Rp2,5 miliar. Biaya terbesar dialokasikan untuk pengadaan proyektor dan sound system sebesar Rp1,6 miliar.

Dana tersebut belum termasuk biaya untuk pengadaan fasilitas penunjang bioskop lain seperti karpet, peredam suara yang bagus, dan stand penjualan makanan ringan. Lantaran modal yang dibutuhkan sangat besar, hingga kini masih sedikit bioskop independen yang bisa didirikan di daerah.

“Justru yang daerah ini harusnya diperkuat. Tapi sekarang enggak bisa lari kencang karena terbentur dana. Makanya kasih lah dana UMKM 50% saja, sudah cepat itu berkembangnya, saya jamin 2-3 tahun tambah lagi 1.500 layar [bioskop],” ujarnya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, jumlah bioskop di Indonesia masih sangat sedikit. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pernah menyebutkan bahwa China memiliki sekitar 15.000 layar untuk melayani 1,5 miliar penduduknya, sedangkan Korea Selatan (Korsel) mempunyai sedikitnya 3.000 layar untuk melayani 60 juta warganya.

Untuk itu, Bekraf mendorong investor untuk masuk ke daerah dan tak hanya bermain di kota-kota besar.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, Maman Wijaya, mengatakan Kemendikbud melalui Pusat Pengembangan Perfilman akan memperingati Hari Film Nasional (HFN) ke 69 yang jatuh pada 30 Maret 2019. 

Sejumlah acara diselenggarakan mulai dari Kampanye Film, Pameran Sejarah Perfilman, Pemutaran Film Indonesia, Bincang Film dan Apresiasi Kesetiaan yang puncaknya akan dilaksanakan pada Kamis hingga Sabtu. Tema HFN tahun ini adalah “Film Indonesia Keren”.

Puncak Perayaan HFN yang berupa seremonial dilaksanakan pada Jumat, yang akan dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta akan dihadiri Presiden Jokowi. Presiden akan memberikan Apresiasi Kesetiaan kepada 10 (sepuluh) orang sineas Indonesia yang telah bekerja lebih dari 30 tahun dibidangnya masing-masing, dan menyerahkan sertifikat kompetensi secara simbolis kepada insan film yang telah bersertifikat. XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan

More Pictures 

 

 

Last modified on Thursday, 04 April 2019 17:30
Login to post comments