Diskusi Mencerahkan Tentang Era Digital dari Forwan

11 December 2018

Naratama  Rukmananda,  produser televisi Voice Of America (VOA), menyebut banyak hal  yang berubah  dari  wajah  media  di dunia,  baik (televisi, cetak, dan online) sehubungan dengan semakin maraknya era digital dan berkembang suburnya social media, terutama Instagram. 



“Sekarang ini, anak milenial  mengetahui perkembangan musik, bukan dari  media konvensional,  seperti koran, majalah dan televisi. Namun dari  gadget  dan Instagram,” kata Naratama  dalam diskusi dengan tema "Membaca Tren Media Lanscape di Era Industri Digital 4.0” yang digelar di Papa Rons Pizza Café, Jl  Gerbang Pemuda, Senayan Jakarta

Nara menyebut, ia  mengetahui  hal ini justru dari Veska Nanda (17), anaknya dan teman-temannya, yang   sangat paham perkembangan musik-musik terbaru, bahkan terkadang mendahului  dirinya. 

“Saya sempat tanya ke Veska, kamu tahu dari mana perkembangan musik sekarang? Dan Venska menjawab, ‘dari Instagram. Dari Akun Altpress!”

Altpress sendiri, kata Nara  adalah semacam perkumpulan seniman dan musisi yang menyuarakan musik-musik underground, alternative, punk  juga aktif  melahirkan karya youth culture in print dan online sejak 1985. 

“Altpress memiliki web site, dan  menggunakan Instagram  dengan sangat cerdas sebagai bagian dari promosi  dari single-single musik terbaru,” ujar Nara .

Perkembangan teknologi handphone yang semakin canggih, memungkinkan  penyebaran promosi video  musik melalui Instagram. Terlebih, dunia sekarang ini maunya serba cepat, tayangan videopun durasinya tidak bisa lama-lama. Cukup 60 detik!

“Karena itu, kalau mau menggunakan video di social media,  dalam hitungan 10 detik  pertama, wajib  kedepankan musiknya dulu!” begitu pesan Nara

Menurut Nara anak milenial, sebagai konsumen acara televisi, hanya memiliki waktu 10 detik dalam menentukan waktu untuk melihat apa yang mau mereka tonton.


“Jika program menarik, akan dilanjutkan, jika tidak, langsung ditinggal,” ungkap Nara dalam diskusi yang diadakan Forum Wartawan Hiburan (Forwan)  bekerja sama dengan Humas TVRI, PWI, Nagaswara Musik, Pro Aktif, Papa Rons Pizza Cafe dan PT Kino Indonesia Tbk  dan Ascada Musik.

Dalam pandangan Nara,  kondisi industri musik di Amerika memang berbeda dibanding di Indonesia.  Para artis di Amerika tidak lagi mencari uang semata-mata dari menjual musik. Mereka menggunakan media digital untuk melakukan branding terhadap barang-barang yang dikenakannya. Untuk cari duit mereka melakukan kegiatan off air.

“Artis yang jarang muncul di televisi harga tiketnya bisa tetap mahal kalau mengadakan pertunjukkan live. Tiket Boy George masih 50 dolar.  Semakin seseorang jarang muncul, maka  makin mahal tiketnya,” tutur Nara.

Era digital menurut Nara  memang memiliki sisi positif dan negatif.  Dan sisi negatif,  jelas terlihat telah menghabisi bisnis lama yang dijalankan secara konvensional. Namun sisi positifnya,  era ini membuka peluang kepada siapa saja untuk bisa berperan.

"Semua bisa dilakukan lebih simpel, tidak perlu banyak SDM, yang penting seseorang bisa memiliki multiskill. bisa menulis, bisa mengoperasikan kamera, bisa mengedit dan pembawa acara sekaligus. Banyak siaran dari studio televisi di Amerika yang hanya ditangani oleh dua orang,” tuturnya.


Selain Naratama, tampil  pula pembicara lain hari itu  dua tokoh dalam industri musik Indonesia, yakni Seno M Hardjo dan Rummy Aziez.     

Seno M Hardjo (produser label Target Pop)  menyebut merasakan berkah kemajuan teknologi digital.  “Jika dulu bila ingin membuat rekaman musik harus menyiapkan infrastruktur rekaman, kini saya tinggal pesan kepada pemusik, lalu pemusik mengerjakan di rumah dan tinggal mengirim hasilnya!”   

Seno juga merasakan di era digital, selain biaya produksi yang semakin murah, promosinya pun bisa lebih murah, karena media online memiliki jangkauan yang luas.


“Dulu biaya promosi 3 kali dari biaya produksi. Sekarang produksi sebuah rekaman album gede banget, tapi biaya promosi bisa murah, saya sangat terbantu oleh promosi media online,” jelas Seno.

Sementara itu, Rummy Azies (produser Jagonya Musik) merasakan kondisi yang  berbeda. Menurutnya era digital telah merusak bisnis dunia musik, karena orang lebih mudah mendapatkan lagu-lagu ilegal melalui internet.

“Musik tetap maju, tapi bisnisnya hancur. Posisi kita sendiri berada di tengah. Dibilang terpuruk tidak, masih ada, tetapi mengembangkan bisnisnya sulit. Kita butuh peluang-peluang baru, yang bisa ditayangin secara internasional,” tegas Rummy.
 
Tema Diskusi yang berlangsung sukses itu,  menurut Ketua Umum Forum Wartawan Hiburan Sutrisno Buyil, memang sengaja dipilih sesuai harapan pemangku kepentingan televisi, dan media landscape. “Agar perlu dipahami oleh teman-teman media yang setiap hari meliput dunia hiburan,"   katanya mengunci percakapan. XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan




More Pictures

Login to post comments