Bunga Untuk Mira, Adaptasi Bebas dari Mhyajo

28 November 2018

Mia Johannes  (Mhyajo) dikenal sebagai pekerja seni kreatif, cerdas dan  juga unik. Setelah sukses menggelar pagelaran kultural bertajuk Colors of Indonesia di Garuda Wisnu Kencana, Bali yang melibatkan sebanyak 1.586  pekerja seni pada Oktober lalu, ia langsung menggarap  drama pop musical “Bunga untuk Mira”  yang bakal dipanggungkan pada 22 dan 23 Desember 2018 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki.

 

Mhajo menyebut ide dasar cerita utuk drama musical ini terinspirasi dari cerita rakyat, ‘Bawang Merah & Bawang Putih’.

"Ini adaptasi yang saya balut dalam imajinasi fiksi ilmiah. Saya pun mengganti nama dua tokoh utama menjadi Mira dan Puti,”  jelas Mhyajo dalam temu wartawan di sebuah café di kawasan Jakarta Pusat, Senin (26/11).

Meski diadaptasi secara bebas, agar bisa diterima banyak orang, Mhyajo menyebut tetap akan mengaitkan benang merah kisah yang sama dengan cerita aslinya.

Penuh Aroma Jazz Fantasi

‘Bunga untuk Mira,  dijajikan akan berbeda dengan teater musikal pada umumnya. Selain dramanya penuh konflik, mulai dari cinta, ‘ambisi sampai kematian yang akan dibalut dalam kemasan kekinian, khusus untuk urusan musiknya  akan  digarap dengan genre jazz fantasi dan memasukan unsur teatrikal dengan plot twist yang tidak disangka - sangka di akhir babak. Inilah yang  akan membuat musikal ini berbeda”, tambah  Mhyajo.

Untuk merealisasikan ide cemerlang itu,  Mhyajo menggandeng Mondo Gascaro, yang akan menangani musik.
“Mondo itu… salah satu musisi yang memiliki ide dan mampu membuat karya-karya cerdas. Musiknya agak agak minor gitu,” kata Mhyajo  memuji Mondo.

Untuk menggarap musik proyek ini, Mondo menyebut akan menggarapnya seperti tradisional musical broadway, “Tapi saya dibebaskan memberikan sentuhan apapun, mulai dari modern, pop dan sampai dark. Saya pun menyebutnya sebagai  jazz fantasi,” terang Mondo yang menyebut ide-ide Mhyajo selalu ajaib.

Mondo membuat lagu dengan aransemen musik baru, bersama rekannya Indra Prakarsa.  Lebih lanjut Mondo  berjanji, “dalam pertunjukan nanti, akan berlangsung secara secara live orkestra, begitu pula dengan nyanyian dari acting pemain!”

Sedangkan untuk urusan tata gerak, Mhyajo memilih koreografer muda Ufa Sofura sebagai orang yang paling tepat menangani pertunjukan ini.

Menurut Ulfa, ide cerita yang disodorkan padanya  sangat menarik.  “Saya tertantang  untuk bisa mewujudkan sosok  tokoh utama  yang berprofesi sebagai penari jazz.  Karena itu pemain utamanya dituntut bisa berakting, menari  dan menyanyi dengan bagus. Dan harus bisa bersinergi dengan musik yang dibuat Mondo!”

Pop Musical “Bunga untuk Mira” telah memilih  beberapa pemain dari beragam profesi. Mereka adalah Shae (penyanyi) Daniel Adnan, Dea Panendra, Johan Yanuar juga Maya Hasan.

Mhyajo selain sebagai bertindak sebagai pemilik ide cerita dan menyutradarai,  akan turun pula menjadi penulis naskah sekaligus direktur artistik.

Beberapa nama turut mendukug acara ini, yakni Risdo Sinaga (direktur tehnis), Iwan Hutapea  (penata cahaya) bekerjasama dengan penata visual, Alexander Triyono.

Untuk urusan kostum telah dikonsepkan dan diproduksi oleh Kleting Titis Wiganti (pembawa brand KLE), sementara untuk urusan aksesoris,  hasil karya cemerlang Andi Yulianti (House of Jealouxy)  yang akan  dikenakan para pemain.


Penasaran…dengan kisah Bawah Merah Bawah Putih versi Mhyajo? Pesan tiketnya dari sekarang. Pertujukan ini akan berlangsung 2 hari,  dengan dua kali pertunjukkan dalam sehari. XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan


More Pictiures

Last modified on Thursday, 29 November 2018 12:55
Login to post comments