Anna Mariana Dipuji Duta Besar Guatemala untuk Jepang

23 November 2018

Jumat petang, 10 November 2018  waktu Tokyo. Ada kemeriahan di ruang tamu di kediaman Duta Besar Indonesia Arifin Tasrif  di  Tokyo, Jepang .  Hari ini, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Indonesia Embassy dan Kedutaan Besar Indonesia di Jepang, mengundang Anna Mariana, (desainer, pelestari  sekaligus pelopor pengembangan tenun dan songket nusantara) menjadi pembicara dalam acara yang diberi judul “Afternoon Tea Kain  Nusantara”. 

 

Acara yag dibuka langsung oleh Ibu Ratna  Mirah Tasrif itu menghadirkan 150 tamu undangan khusus. Terlihat di antaranya Duta Besar Guatemala Angela Maria Chavez Bietti, juga Duta Besar Republic of Costa Rica, Laura Esquivel,  dan sejumlah tamu VVIP  dari negara sahabat juga sosialita Jepang pencinta kain. 

Kerja kreatif  yang baru untuk pertama kali dilakukan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Indonesia Embassy di bawah kepemimpinan Ibu Ratna Mirah Tasrif ini, berlangsung selama dua hari. “Hari pertama untuk undangan khusus. Dan hari kedua kita buka untuk umum, aka nada bazar dan fashion show juga!” ujarnya Ratna Arifin Tasrif.

Sementara itu dalam paparannya, Anna mengungkapkan keistimewaan Tenun double ikat Gringsing,  yang hanya ada di desa Tenganan, Kecamatan Magis, Karang Asem Bali.  

Tenun Gringsing, kata Anna, merupakan satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik doubel ikat.  Kain tenun Grinsing ini sudah ada sejak 1500 tahun lalu. Saat ini sudah diklaim secara sah dan resmi sebagai warisan budaya wastra tradisi Indonesia dan sudah pula diakui  oleh UNESCO,  kerajaan-kerajaan yang ada di  Indonesia, Pemerintah Pusat dan masyarakat Bali.  “Kain ini pun sudah dilindungi secara Hak Paten oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly,” kata Anna.

Pembuatan tenun Gringsing, kata Anna, memerlukan 5 -15 tahun. Semua ini karena prosesnya yang rumit. Mulai dari pembuatan benang, pewarnaan dengan hanya menggunakan bahan alami,  hingga proses penenunan. 

Bagi masyarakat Bali, kata Anna, tenun Gringsing dianggap bisa sebagai kain penolak bala.   “Ini bisa dilihat langsung dari kata Gringsing  yang berasal dari kata Gring yang berarti 'sakit' dan sing yang berarti 'tidak', sehingga bila digabungkan menjadi kata 'tidak sakit'. Jadi jika mengenakan kain ini, diyakni tidak akan sakit dan bisa bebas dari bala!” kata Anna.

Tenun dengan teknik jenis Gringsing ini pernah dikembangkan di Jepang, India dan beberapa negara lain. “Namun Jepang dan India tidak lagi mengembangkan Grinsing karena proses pembuatannya yang lama dan rumit. Sehingga produk ini punah dan hilang. Satu-satunya yang masih bertahan dan berkembang hanya di Indonesia dan hanya di Desa Tenganan Bali. Para pengrajin itu melakukannya secara turun temurun," ungkap Anna.

Secara pribadi Anna Mariana banyak membina pengrajin  Grinsing ."Ini sebagai upaya  meregenerasi penenun sekaligus  membina pengrajin agar produk ini tidak punah."

Umumnya, masyarakat di desa Tenganan, kata Anna  memiliki kain Gringsing yang sudah berusia ratusan tahun dan digunakan untuk upacara khusus.  

“Di Bali,  berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain Gringsing!”

Di luar paparan Anna,  tampil dua pembicara lain, yakni Enny Sukmato yang memperkenalkan cara mengenakan sarung secara praktis,  kemudian Prof Masakatzu Tozu,  Director of Asian Textile Culture Institue of the Hollywood Graduate School di Tokyo dan Profesor Emeritus di Universitas Kokushikan Tokyo yang  merupakan kolektor kain nusantara dengan koleksi mencapai 5000 jenis, terdiri dari batik, tenun ikat  dan songket. 

Acara semakin meriah karena ditampilkan  pula fashion show dari karya Anna Mariana, Itang Yunaz, Nanie Rachmat, Sjully Darsono dan Runi Palar.

 

Anna Mariana Dipuji Duta Besar

Seusai acara,  Duta Besar Arifin Tasrif memperkenalkan Anna Mariana pada rekan-rekan sejawatnya sesama Ambassador.  Duta Besar Guatemala Angela Maria Chavez Bietti secara pribadi  menyatakan kagum dengan apa yang sudah dirintis Anna Mariana. “Bagaimana Anda bisa membagi waktu antara menjadi lawyer dan  desianer?” katanya memuji.  “Saya juga suka mendesain, siapa tahu setelah saya pensiun, saya bisa mengikuti jejak Anda!”

Sementara itu Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro yang hadir di tengah acara mengaku salut dengan apa yang dilakukan Anna selama ini. “Terlebih,  ...betul  Anda tidak  berada di bawah instasi pemerintah?” tanya Wardiman masih tidak percaya.

Prof Masakatzu Tozu yang juga menjadi pembicara mengaku mendukung upaya dan kreativitas Anna Mariana, termasuk dalam hal mewujudkan lahirnya Hari Tenun dan Songket Nasional.

”Bersama Anna Mariana, saya siap untuk beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo. Ini penting guna menyelamatkan aset-aset budaya dan wastra tradisional milik Indonesia yang bagus dan tidak ada duanya di dunia, terutama  dalam hal corak dan keunikannya,” ucap Prof Masakatzu Tozu. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures

 

Login to post comments