AFI 2013 Dengan Tradisi Baru

01 November 2013
Suasana Press Gathering AFI 2013 di kawasan Kebayoran Baru Suasana Press Gathering AFI 2013 di kawasan Kebayoran Baru

Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2013 mengeliminasi sejumlah kategori penghargaan yang bersifat teknis seperti naskah terbaik dan penataan suara terbaik. 

 

"Dalam ajang AFI 2013,  penilaian lebih mengedepankan nilai atau makna dari sebuah film. Tim ahli dan pelaksana tidak ada lagi menilai film dari faktor teknis tapi value-nya," ujar Ketua Dewan Juri Totot Indarto di Jakarta. Totot menuturkan, AFI 2013  memang tidak ingin terjebak pada penilaian tim juri yang fokus pada sisi teknis dari sebuah film.  

Kegiatan yang didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini, bertujuan memberi penghargaan kepada karya film beserta seluruh unsur-unsurnya yang mengacu kepada muatan nilai budaya, kearifan lokal dan pembangunan karakter bangsa.

AFI 2013 memulai sebuah tradisi baru yang menempatkan film beserta unsur yang melingkupinya sebagai satu kesatuan. Dengan kata lain, AFI tidak hanya mengapresiasi film sebagai sebuah karya tapi juga memberikan penghargaan khusus kepada elemen-elemen yang sudah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan dunia perfilman.

Beberapa kategori yang akan diberikan seperti sebagai berikut:

Kategori Utama: Apresiasi Film Bioskop, Apresiasi Film Independen (cerita panjang nonbioskop), Apresiasi Film Animasi, Apresiasi Film Pendek, Apresiasi Film Anak, Apresiasi Film Pilihan Pemirsa (jajak pendapat). 

Kategori Monumental: Apresiasi Film Adi-Karya, Apresiasi Film Adi-Insani

Kategori Khsusus: Apresiasi Sutradara Perdana, Apresiasi Festival Film, Apresiasi Poster Film, Apresiasi Komunitas, Apresiasi Media Cetak, Apresiasi Media non-Cetak, Apresiasi Film Independen Karegori Pelajar, Apresiasi Film Independen Kategori Mahasiswa dan Apresiasi Lembaga Pendidikan.

Sementara itu,  tiga komunitas film bersaing dalam meraih penghargaan AFI 2013 untuk kategori Apresiasi Komunitas. Mereka adalah Cinema Lovers Community dari Purbalingga, Forum Lenteng (Jakarta) dan Pecinta dan Pembuat Film Denpasar (Bali).

"Salah satu segi apresiasi kepada para sineas adalah dengan menghargai bagian-bagian jaringan komunitas film yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Mereka layak dihargai," kata Totot Indarto lagi.

"Komunitas film mampu mengembangkan perfilman nasional sebagai sebuah produk budaya. Terlebih jika komunitas itu tidak hanya beraktivitas menonton saja tapi memproduksi, mendiskusikan dan mengembangkannya."

"Tim ahli sudah menyaring yang layak. Komunitas tersebut terpantau mengembangkan bukan hanya budaya nonton tapi juga membuat film. Ada pengembangbiakan dan atau membuat film secara swadaya baik untuk film dokumenter ataupun cerita," katanya.

Menurutnya, komunitas film di Indonesia ada dalam kisaran ratusan. "Dan secara kelembagaan mereka hidup setidaknya dalam lima tahun terakhir berkegiatan secara konsisten. Ini memberi kontribusi untuk perfilman nasional."

Sementara itu, dalam AFI 2013 tidak ada film independen pelajar dan mahasiswa yang masuk kriteria penghargaan kategori Apresiasi Film Independen Pelajar dan Apresiasi Film Independen Mahasiswa. Alasannya, salah satu standar tidak terpenuhi yaitu durasi film yang diharuskan setidaknya mencapai 15 menit.

Para peraih penghargaan AFI 2013 akan diumumkan pada Senin 04 November 2013 di Plaza Selatan, Komp. Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta (XPOSEINDONESIA/NS Sumber ANTARA FOTO : Wisnu Harisantoso)

 

 

 

Login to post comments